Anda di halaman 1dari 37

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN LESI

ENDODONTIK-PERIODONTAL

Pembimbing : Irma Ervina, drg., Sp. Perio(K)

Penyaji : Liliana (13060087)


Thivashini (130600213)
PENDAHULUAN
• Jaringan pulpa dan periodonsium memiliki hubungan
sangat erat dan berkaitan
• Kedua jaringan ini memiliki ikatan embrionik,
anatomis, dan fungsional karena berasal dari jaringan
ektomesenkimal.
• Lesi endo-perio ditandai dengan keterlibatan pulpa
dan penyakit periodontal pada gigi yang sama.
• Tiga jalan utama yang menghubungkan antara rongga
pulpa dan jaringan periodontal : tubulus dentinalis,
kanalis lateralis dan aksesoris, dan foramen apikal
• Lesi endo-perio sering ditemukan dan tidak jarang
masuk dalam kategori emergensi
• Kondisi pasien dapat berupa:
- abses disertai rasa sakit
- hipersensitif terhadap panas
- sakit saat diperkusi
- secara radiografi dapat dilihat adanya pelebaran
membran periodontal dan dapat dilihat adanya
radiolusensi pada daerah furkasi
- kemungkinan juga didapatkan kegoyangan gigi
• Diagnosis dari penyakit pulpa dan periodontal
kadang sulit namun sangat penting untuk
menegakkan diagnosis sehingga dapat dilakukan
perawatan yang tepat.
TINJAUAN PUSTAKA
LESI ENDODONTIK-PERIODONTAL
• Kondisi klinis yang melibatkan pulpa dan jaringan
periodontal dan dapat terjadi dalam bentuk akut atau
kronis.
• Apabila terjadi peristiwa traumatis atau iatrogenik, misal
fraktur atau perforasi akar, manifestasi yang paling
umum adalah abses disertai dengan rasa sakit.
• lesi endo-perio pada subjek dengan periodontitis,
biasanya menunjukkan perkembangan yang lambat dan
kronis tanpa gejala yang jelas.
• Tanda dan gejala umum lesi endo-perio:
- poket periodontal dalam yang mencapai atau
dekat dengan apeks
- respons negatif atau perubahan terhadap tes
vitalitas pulpa
- resorpsi tulang di daerah apikal atau furkasi
- nyeri atau nyeri spontan pada palpasi dan perkusi
- eksudat purulen
- mobilitas gigi
- saluran sinus dan perubahan warna gingiva dan
mahkota
Etiologi Lesi Endodontik-Periodontal
• Faktor etiologi pada penyakit periodontal
maupun pulpa umumnya adalah infeksi,
dimana terjadi pada dua lokasi :
1)permukaan luar akar pada penyakit
periodontal,
2)dinding internal (saluran) akar pada penyakit
pulpa

• Mikrobial yang sering berperan dalam proses


ini dapat berupa bakteri.
1) lesi karies yang mempengaruhi
pulpa dan selanjutnya
Lesi endodontik- mempengaruhi periodonsium,
periodontal yang 2) kerusakan periodontal yang
berhubungan dengan mempengaruhi saluran akar
infeksi endodontik dan 3) dipicu oleh keduanya secara
periodontal bersamaan.

ETIOLOGI
- perforasi akar (bisa terjadi
karena instrumentasi saluran
Lesi endodontik- akar dan preparasi untuk
periodontal yang restorasi)
berhubungan dengan - pengisian saluran akar yang
faktor trauma dan berlebihan
iatrogenik - kebocoran koronal
- resorpsi akar karena bahan
kimia
- medikamen intra-kanal
- fraktur akar vertikal.
Klasifikasi Lesi Endodontik-
Periodontal
Menurut Simon dkk., berdasarkan patologi
pada tahun 1972:
• Lesi endodontik primer
• Lesi periodontal primer
• Lesi endodontik primer dengan lesi
periodontal sekunder
• Lesi periodontal primer dengan lesi
endodontik sekunder
• Lesi true combined
Lesi endodontik primer
• Hanya terjadi perubahan
di dalam ruang pulpa
• Debridemen ruang pulpa
dan saluran akar dapat
menyembuhkan lesi
• Jika ada eksaserbasi akut
dari lesi apikal kronis, lesi
di drainase menuju ke arah
koronal melalui ligament
periodontal
Lesi periodontal primer
• Perubahan di periodonsium
disebabkan oleh bakteri patogen
periodontal
• Perawatan periodontal
diindikasikan
• Penyakit periodontal secara
bertahap menyebar di sepanjang
permukaan akar menuju apikal
• Secara klinis : terdapat poket
periodontal seringkali dengan
plak bakteri dan kalkulus
• Tes vitalitas pulpa : respon pulpa
yang normal
Lesi endodontik primer dengan lesi periodontal
sekunder
• Periodontitis apikalis
kronis karena nekrosis
pulpa dapat menjalar ke
arah koronal melalui
periodonsium menuju
servikal
• Kondisi ini menyerupai
periodontal abses, pada
kenyataannya lesi ini dari
saluran sinus dari apikal
gigi yang terbuka ke arah
ligamen periodontal
Lesi periodontal primer dengan lesi endodontik
sekunder
• Penyakit periodontal yang
tidak ditangani
• Ditandai dengan adanya
poket periodontal, yang
semakin lama menginvasi
pulpa melalui tubulus
dentin, kanal lateralis dan
asesoris atau foramen
apikal, dan menyebabkan
nekrosis pulpa dengan
arah apikal menuju kamar
pulpa
Lesi true combined
• Terjadi ketika nekrosis pulpa dan
penyakit periodontal berada
pada gigi yang sama, terjadi
secara bersamaan atau individu
• Secara klinis : nekrosis pulpa atau
kegagalan perawatan endodontik
dengan faktor lokal (plak dan
kalkulus), poket yang dalam dan
periodontitis
• Sulit untuk menentukan dari
mana awalnya lesi berkembang --
-> kerusakan dari dua jaringan ini
sudah sangat besar
• Secara radiografis, lesi mirip
dengan fraktur vertikal gigi
DIAGNOSIS
• Anamnesis = menanyakan riwayat pasien seperti riwayat
kesehatan umum dan riwayat kesehatan gigi pasien
• Pemeriksaan klinis dan radiografi
• Riwayat pasien penting untuk mengidentifikasi terjadinya
trauma, instrumentasi endodontik atau pasca preparasi
• Evaluasi radiografi dan pemeriksaan klinis anatomi akar
penting untuk menilai integritas akar dan menentukan
diagnosis banding
• Jika perforasi dan fraktur tidak teridentifikasi
pemeriksaan periodontal dengan mengukur kedalaman
poket, level perlekatan, perdarahan saat probing, pus,
mobiliti, vitalitas gigi dan tes perkusi
LESI ENDODONTIK PRIMER

•Adanya lesi karies yang besar, restorasi yang besar, erosi, retakan,
gigi dengan perawatan saluran akar yang buruk.
•Ada pembukaan saluran sinus.
•Rasa sakit yang tajam
•Derajat mobiliti yang tinggi pada gigi dengan fraktur akar dan gigi
yang mengalami trauma
•Gigi respon terhadap perkusi
•Tes vitalitas pulpa negatif atau memberi respon lambat
•Terdapat poket soliter yang dalam dan sempit
•Radiolusen di periapikal terlihat jelas di radiografi
•Nyeri saat mengunyah, terutama pada saat pelepasan tekanan
gigitan
LESI PERIODONTAL PRIMER

•Terdapat inflamasi gingiva / resesi gingiva sekitar


beberapa gigi, plak dan kalkulus subgingiva, abses
periodontal.
•Nyeri saat palpasi
•Mobiliti gigi awalnya pada gigi terlibat kemudian
secara menyeluruh
•Tes vitalitas pulpa positif
•Terdapat poket yang dalam dan lebar
•Saluran sinus pada aspek lateral akar
•Kehilangan tulang vertikal secara menyeluruh
LESI ENDODONTIK PRIMER DENGAN LESI PERIODONTAL
SEKUNDER
• Adanya pembentukan plak • Tes vitalitas pulpa negatif
pada margin gingiva---> • Saluran sinus pada apeks atau
gingivitis marginal dan daerah furkasi
eksudat • Adanya poket soliter yang luas, jika
• Adanya perforasi akar, fraktur, lesi periodontal disebabkan oleh
salah menempatkan post fraktur akar ---> poket soliter yang
• Rasa sakit yang sangat tajam, sempit dan dalam
kondisi kronis --> nyeri • Secara radiografi: lesi karies besar,
tumpul restorasi yang besar, retakan,
• Gigi respon terhadap perkusi radiolusen periapikal yang besar
pada gigi dengan perawatan saluran
• Sakit saat palpasi akar yang buruk
• Mobiliti pada gigi yang • Nyeri saat mengunyah, terutama
berkenaan pada saat pelepasan tekanan gigitan.
LESI PERIODONTAL PRIMER DENGAN LESI ENDODONTIK
SEKUNDER
• Terdapat plak, kalkulus • Mobiliti gigi secara
subgingiva, peradangan menyeluruh
gingiva di sekitar beberapa • Tes vitalitas positif pada gigi
gigi, pus dan eksudat, resesi dengan akar lebih dari satu
gingiva pada beberapa gigi • poket periodontal yang
atau secara menyeluruh, dan dalam dan lebar
terpaparnya akar gigi.
• Saluran sinus pada aspek
• Rasa sakit yang tumpul, lateral akar
kondisi akut ---> nyeri tajam
• Kehilangan tulang angular
• Gigi respon terhadap perkusi yang melebar secara koronal
• Sakit saat palpasi dan menyempit pada ujung
akar.
LESI TRUE COMBINED
• Terdapat plak, kalkulus, • Tes vitalitas negatif kecuali
periodontitis, pembengkakan pada gigi dengan akar lebih
gingiva pada satu atau lebih dari satu memberi respons
gigi, pus dan eksudat positif
• Rasa sakit yang tumpul, • Pada tepi pembengkakan,
kondisi akut rasa sakit akan probe dapat turun sampai ke
menjadi parah apek gigi.
• Gigi respon terhadap perkusi • Secara radiografi lesi tampak
• Sakit saat palpasi seperti fraktur akar vertikal
• Mobiliti pada gigi secara
menyeluruh. Derajat mobiliti
yang lebih tinggi pada gigi
yang terlibat
Perawatan Lesi Endodontik-
Periodontal
Lesi endodontik primer

•Sembuh setelah perawatan saluran akar


•Hasil perawatan endodontik dipengaruhi oleh keberadaan
mikroorganisme dalam sistem saluran akar
•Saluran sinus yang meluas ke sulkus gingiva atau ke daerah furkasi
akan hilang pada tahap awal apabila pulpa yang terinfeksi
disingkirkan dan saluran akar dibersihkan, dibentuk, dan diobturasi
dengan baik.
•Penempatan obat-obatan intrakanal seperti kalsium hidroksida
telah terbukti sangat efektif dalam penyembuhan lesi periapikal
yang besar
KALSIUM HIDROKSIDA

Secara biologis:
secara kimia: secara fisik:
- meningkatkan
- merusak membran - penghalang fisik yang
penyembuhan
sitoplasma mikroba mengisi ruang di dalam
jaringan keras
dengan aksi langsung kanal
periapikal dengan
ion hidroksil - mencegah masuknya
saluran yang
- menekan aktivitas bakteri ke dalam sistem
terinfeksi
enzim saluran akar serta
- menghambat resorpsi
- mengganggu membunuh
akar dan
metabolisme seluler mikroorganisme yang
merangsang
dan menghambat tersisa dengan menahan
penyembuhan
replikasi DNA dengan perkembangan substrat
periapikal setelah
membelah DNA dan membatasinya
trauma
untuk multiplikasi
Lesi periodontal primer

•Hanya dapat dirawat dengan terapi periodontal


•Prognosis tergantung pada keparahan penyakit periodontal,
keberhasilan terapi periodontal dan respons pasien
•Lesi periodontal primer harus dirawat dengan terapi fase
pemeliharaan terlebih dahulu
•Restorasi yang buruk dan developmental grooves yang
terlibat dalam lesi harus dihilangkan
•Apabila diperlukan bedah periodontal, harus dilakukan
setelah selesai terapi fase pemeliharaan
Lesi endodontik primer dengan lesi periodontal sekunder

•Melakukan perawatan endodontik terlebih dahulu dan diikuti dengan


terapi fase pemeliharaan
•Kunjungan berkala endodontik dilakukan dan pemberian medikamen
intrakanal ---> mengurangi peradangan serta mendukung
penyembuhan
•Hasil perawatan dievaluasi dalam 2-3 bulan
•Kemudian perawatan periodontal lebih lanjut harus dipertimbangkan
•Urutan perawatan ini memberikan waktu yang cukup untuk
penyembuhan jaringan dan penilaian kondisi periodontal serta
mengurangi risiko potensi masuknya bakteri dan produk sampingan
selama fase awal penyembuhan periodontal
• Juga dapat terjadi sebagai akibat tindakan iatrogenik seperti
perforasi atau fraktur akar selama perawatan saluran akar
atau penempatan pin atau post
• Bahan sealer perforasi akar ---> mineral trioxide aggregate,
semen zinc oxide-eugenol, glass inomer cement dan Vitremer
• Fraktur akar biasanya terjadi pada akar gigi yang telah dirawat,
seringkali dengan post dan mahkota
• Gigi yang berakar tunggal dengan lesi yang disebabkan oleh
fraktur akar vertikal ----> prognosis yang tidak ada harapan--->
diekstraksi
• Gigi molar dapat dirawat dengan reseksi atau hemiseksi akar
Perawatan lesi periodontal primer dengan lesi
endodontik sekunder dan lesi true combined
• Membutuhkan prosedur perawatan • Perawatan saluran akar
regeneratif endodontik dan periodontal
dilakukan terlebih dahulu
• Sebelum bedah, terapi periodontal
paliatif dan perawatan saluran akar harus
pada gigi yang
dilakukan membutuhkan reseksi akar
• Prognosis : buruk atau bahkan tidak ada • Akar gigi diisi sebelum
harapan, terutama pada lesi periodontal melakukan operasi
yang kronis dan parah serta bergantung
pada keberhasilan dari terapi periodontal • Prognosis pada gigi yang
• Amputasi akar, hemiseksi atau terpengaruh ditingkatkan
bikuspidisasi --> mengubah konfigurasi dengan meningkatkan
akar agar sebagian struktur akar dapat
diselamatkan
dukungan tulang dengan
• Mempertimbangkan faktor ; fungsi gigi,
melakukan guided tissue
pengisian pada akar, anatomi, regeneration (GTR)
restorabilitas, dukungan tulang di sekitar
akar yang sehat dan kepatuhan pasien
PANDUAN PERAWATAN LESI ENDO-PERIO
KESIMPULAN
• Lesi endodontik- periodontal adalah hubungan
patologis antara jaringan endodontik dan
periodontal pada gigi.
• Terjadi dalam bentuk akut atau kronis
• Harus diklasifikasikan sesuai dengan tanda dan
gejala yang akan berdampak pada prognosis dan
perawatan.
• Diperlukan pendekatan multi-disiplin untuk
menangani penyakit ini secara komprehensif,
karena tindakan dapat berupa perawatan
restoratif, endodontik, periodontal baik secara
terpisah maupun kombinasinya.
LAPORAN KASUS
• Pasien usia 36 tahun mengunjungi Dept Periodonsia
Keluhan:
- Nyeri pada gigi belakang kanan bawah dengan keluar pus sejak 1
bulan.
Pemeriksaan Intraoral:
- Abses periodontal pada gigi 46
- HPD menggunakan ProbeNabers = 4mm
- VPD menggunakan Probe UNC-15 = 8mm
- Adanya lesi furkasi derajat 2
- Electric pulp test = nonvital
Pemeriksaan Radiografi:
- Pelebaran ligamen periodontal
- radiolusen pada daerah furkasi
Preoperatif

HPD 4mm dengan Probe


Nabers
Radiografi menunjukkan keterlibatan
fukasi tingkat II
Rencana Perawatan:
1.Dilakukan perawatan endodontik terlebih
dahulu
2.Lakukan follow up selama 3 bulan
3.Bila tidak ada perubahan = bedah periodontal
DFDBA disertai membran GTR

Pada akhir bulan ke 3:


-Dilakukan IOPA = masih ada keterlibatan furkasi
-Tidak ada perubahan pada Ukuran jaringan lunak
Prosedur Bedah:
1.Asepsis dan sterilisasi area bedah
2.Anastesi area bedah menggunakan xylocaine dengan
Adrenalin 1:200.000
3.Insisi intrakrevikular dan vertikal
4.Singkap flap dengan ketebalan penuh sampai dasar furkasi
5.Degranulasi dan debridement secara menyeluruh
menggunakan kuret Gracey #13 dan 14
6.Lakukan Penskeleran dan penyerutan akar pada permukaan
akar yg cacat
7.Aplikasikan Decalcified freeze dried bone allograft (DFDBA)
dan distabilkan di area furkasi dengan membran guided tissue
regeneration (GTR - PERIOCOL)
8.Reposisi flap dan lakukan penjahitan dengan teknik
interrupted dengan benang nonresorbable.
Bone Graft dengan DFDBA dengan
membran GTR
• Instruksi Pasca Operasi:
- Pasien diedukasi kontrol plak yang tepat
- Obat kumur Chlorhexidine 0,12% digunakan 2
kali sehari selama 3 minggu
- Jahitan dilepas 10 hari pasca operasi
- Menyikat di lokasi bedah dengan sikat
postsurgical selama 2 minggu
- Pasien dijadwalkan datang kembali 1,3,6,dan 9
bulan
• Pasca Operasi 9 bulan:
- DFDBA dengan membran GTR menghasilkan
sejumlah besar tulang mengisi di daerah furkasi
- Kedalaman probing ditemukan berkurang 3 mm
- Radiografi pasca operasi menunjukkan
pengisian tulang pada cacat furkasi
- Ukuran jaringan lunak telah kembali normal