Anda di halaman 1dari 21

BAB I

Terjemah Al-Qur’an

 Sebelum masuk ke materi terlebih dahulu kita tahu atau


mengerti apa itu Al-Qur’an?.
 Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang berisi
firman-firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad melalui Malaikat Jibril dan diajarkan kepada
umatnya. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman bagi umat
manusia dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
 Al-Qur’an juga perlu diterjemahkan dalam berbagai
bahasa agar mudah dimengerti kaum muslim. Setiap kaum
muslim mengetahui sejarah pembukaan Al-Qur’an,
sehinggah tidak terjadi kesalahan dalam menyikapi sebuah
ayat dari Al-Qur’an. Hal ini yang menjadi tujuan dari
tulisan tentang terjemah Al-Qur’an. Kata terjemah dapat
di perguanakan pada dua arti terjemah harfiyah dan
terjemah tafsiriyah atau terjemah maknawiyah.
BAB II

A. Pengertian Terjemah Al-Qur’an


 Tarjamah atau dalam tradisi pengucapan Indonesia menjadi terjemah.
Dalam buku Manahil al-Irfan, karya al-Zarqani di jelaskan bahwa menurut
tinjauan bahasa, kata tejemah mengandung empat pengertian. Pertama
menyampaikan pembicaraan, kalam kepada orang yang belum
mengetahuinya. Kedua, menafsairkan pembicaraan, kalam dengan
menggunakan bahasa aslinya. Ketiga, menafsirkan pembicaraan, kalam
dengan bahasa yang lain yang bukan bahasa aslinya. Dalam Lisan al-Arab
dan kamus, dikatakan bahwa turjuman ialah mufasir kalam. Jadi
menerjemahkan suatu kalimat berarti menafsirkannya dengan bahasa lain.
Keempat, pemindaahan pembicaraan, kalam dari suatu bahasa kedalam
bahasa lain. Yang dimaksud ialah meminddahkannya dari suatu bahasa ke
dalam bahasa yang lain. Disebutkan dalam Lisan al-Arab alTurjumah atu al-
Tarjamah, jamaknya tarajim, berarti menerjemahkan kalam dengan maksud
memindahkannya dari satu bahasa ke bahasa lain. Yang dimaksud adalah
memindahkannya dari suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain.
 Selain ke empat pengertian di atas , pengertian
terjemah dapat dikaitkan dengan bebrapa istilah lain,
misalnya tarjamu al-bab, berarti judul bab terkait. Ada
pun istilah Tarjamatu Fulan berarti, biografi si Fulan,
yaitu menerangkan sejarah hidupnya, tarjamatu hadza
al-bab berarti, menerangkan maksud dari bab
tersebut.
1. Terjemah menurut ‘Urf
 Apa itu Urf ?.......
 Menurut buku Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Qur’an karya
Amroeni Drajat. Yang dimaksud dengan ‘Urf ialah
kebiasaan pembicaraan yang berlaku umum, bukan
kebiasaan dari kelompok atau kaum tertentu. Maksud ‘Urf
di dalam kajian ini ialah kebiasaan yang sudah di ketahui
semua orang.
 Jadi pengertian terjemah secara ‘Urf dapat disimpulkan
sebagai pengungkapan makna dari pembicaraan bahasa
tertentu kedalam bahasa lain dengan tetap menjaga
keselarasan makna dan maksudnya,
 Ada dua jenis terjemah menurut ‘Urf , yakni terjemah
Harfiyah dan terjemah Tafsiriyah. Terjemah Harfiyah ialah
proses menerjemah yang tetap menjaga keaslian dari segi
nazhm dan susunannya secara konsisten. Adapun terjemah
Tafsiriyah ialah proses terjemahan yang tidak begitu
terkait dengan nazhm dan susunan asli, namun lebih
menekan pada sisi kesamaan pesan yang terkandung di
dalamnya secara sempurna. Sebab itu, terjemah Tafsiriyah
di sebut juga dengan terjemah Maknawiyah. Dinamakan
dengan Tafsiriyah, karena lebih mengutamakan
pengungkapan makna dan maksud didalamnya dengan
bahasa yang lugas dan tegas, sehingga menyerupai tafsir.
 Yang dilakukan oleh seorang penerjemah dengan
menggunakan terjemah harfiyah ialah memahami setiap
kalimat asalnya, kemudian menggantinya dengan kalimat
disertai dalam bahasa lain, mengganti tiap kalimat demi
kalimat, sekalipun tidak jarang hal tersebut sering
mengaburkan makna yang dikandungnya dalam bahasa
aslinya, karena adanya perbedaan karakter bahasa asli dan
bahasa penerjemah.
 Sementara penerjemahan dengan terjemah tafsiriyah,
mendasarkan dengan makna asli dari suatu kalimat,
kemudian menuangkannya kedalam bahasa lain dengan
tetap menjaga pesan asalnya, tanpa terkait dengan arti kata
per kata, dan aturan bahasa aslinya.
2. Syarat-syarat yang Harus Dimiliki Penerjemah

 Seseorang yang bermaksud menjadi penerjemah,


diwajibkan memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut,
yakni:
1. Mengetahui bahasa asli dan bahasa penerjemahan.
2. Menegetahui karakteristik, kedua bahasa tersebut.
3. Menjaga ketepatan makna dan maksud secara
konsisten.
4. Menggunakan redaksi terjemah tertentu dari bahasa
aslinya.
3. Syarat-syarat Penerjemah Harfiyah
 Disamping persyaratan yang empat diatas, terdapat dua
syarat tambahan yang harus dimiliki penerjemah.
 Pertama, tersedianya perbendaharaan kata di dalam bahasa
penerjemahan yang seimbang dengan ragam kata yang
terdapat dalam bahsa aslinya, sehingga kemungkinan
terealisaikannya terjemahan harfiyah sepadan dengan
aslinya.
 Kedua, adanya keserupaan dalam perbendaharaan kata
ganti, kata sambung yang merangkai suatu kalimat dalam
susunan lengkap, baik keserupaan dalam hal partikel-
partikel kata dan posisinya
B. Hukum Terjemah Harfiyah
 Dalam buku Mabahits Fi Ulum Al-Qur’an karya Manna’
Al-Qaththan, Penerjemah Al-Qur’an dengan terjemah
harfiyah, betapun penerjemah memahami betul bahasa,
uslub-uslub dan susunan kalimatnya haram hukumnya dan
dipandang telah mengeluarkan Al-Qur’an dalam
keadaanya sebagai Qur’an. Sebab Al-Qur’an adalah
kalamullah yang diturukan kepada Rasul-Nya, merupakan
mukjizat dengan lafadz dan maknanya, serta membacanya
dipandang sebagai suatu ibadah.
C. Hukum Terjemah Maknawiyah
 Imam Syatibi menuturkan, menerjemahkan dengan
memperhatikan makna asli adalah mungkin, dari sinilah
dibenarkan menfsirkan Al-Qur’an dan menjelaskan makna-
maknanya kepada orang awam dan mereka yang tidak memiliki
pemahaman tentang maknanya. Cara demikian di perbolehkan
berdasarkan konsensus ulama islam. Dan konsensus ini menjadi
hujah bagi di benarkannya penerjemahnya makna asli Al-Qur’an.
 Namun demikian, terjemahan makna-makna asli itu tidak lepas
dari kerusakan karena suatu buah lafadz di dalam Al-Qur’an
terkadang mempunyai makna atau lebih yang diberikan oleh ayat.
Maka dalam keaddan demikian biasanya penerjemah hanya
mendatangkan satu lafadz yang sama dengan lafadzserupan
dengan lafadz Arab yang dapat memberikan lebih dari satu makna
itu.
 Terkadang Al-Qur’an menggunakan sebuah bahasa lafadz
dalam pengertian majaz (kiasan), maka hal demikian
penerjemahan hanya mendatangkan satu lafadz yang sama
dengan lafadz Arab dimaksud yang hakiki. Karena hal ini dan
hal ini maka terjadilah banyak kesalahan dalam penerjemahan
makna-makna Al-Qur’an.
 Pendapat yang dipilih oleh Syatibi sebelumnya yang
dianggapnya sebagai hujjah tentang kebolehan menerjemahkan
makna asli Al-Qur’an tidak lah mutlak. sebab sebagian ulama
membatasi kebolehan penerjemahan seperti itu dengan kadar
darurat dalam menyampaikan dakwah. Yaitu berkenaan dengan
tauhid dan rukun-rukun ibadah, tidak lebih dari itu. Sedang
bagi merekan yang ingin menambah pengetahuannya, di
perintahkan untuk mempelajari bahasa Arab.
D. Terjemah Tafsiriyah
 Dapat dikatakan, apabila para ulama islam melakukan
penafsiran Al-Qur’an, dengan cara mendatangkan makna
yang dekat, mudah dan kuat, kemudian penfsiran itu
diterjemahkan dengan penuh kejujuran dan kecermatan,
maka cara demikian dinamakan terjemah tafsir Al-Qur’an
atau terjemah tafsiriyah.
 Dengan demikian terjemah tafsiriyah adalah penafsiran
Al-Qur’an dengan cara mendatangkan makna yang dekat
mudah dan kuat. Hal ini yang dilakukan para ulama
dengan penuh kejujuran dan kecermatan.
 Usaha semacam ini tidak ada halangannya, karena Allah
mengutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan risalah
islam kepada seluruh umat manusia dengan segala bangsa
dan ras yang berbeda-beda
E. Hukum Membaca Al-Qur’an Dalam
Shalat Dengan Selain Bahasa Arab
 Pendirian para ulama dalam hal pembacaan Al-Qur’an dalam
shalat dengan selain bahasa Arab, terbagi atas dua madzab:
1. Boleh secara mutlak, atau di saat tidak sanggup
mengucapkan dengan bahasa Arab.
2. Haram, dan shalat dengan bacaan seperti itu tidak sah.
 Pendapat pertama adalah pendapat ulama madzab Hanifah.
Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia berpendapat,boleh
dan sah membaca Al-Qur’an dalam shalat dengan bahasa
Persia. Dan atas dasar ini, sebagian sahabat, muridnya
memperbolehkan pula membacanya dalam bahasa Turki, India,
dan bahasa lainnya.
 Dua orang murid Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad bi
Husain, membatasi hal tersebut dengan “dalam keadaan darurat”.
Mereka memperbolehkan bagi yang tidak mampu mengucapkan
bahasa Arab, membaca Al-Qur’an dalam shalat dengan bahasa
asing, tetapi tidak bagi yang tidak sanggup membacanya dengan
bahasa Arab. Diriwayatkan, Abu Hanifah telah mencabut kembali
“kebolehan secara mutlak” yang dinukil dari beliau tersebut.
 Pendapat kedua adalah pendapat Jumhur. Ulama madzab Hanafi,
Syai’i dan Hambali tidak membolehkan bacaan terjemahan Al-
Qur’an dalam shalat, baik yang mampu membaca bahasa Arab
maupun tidak, sebab Al-Qur’an adalah susunan perkataan dan
muljizat, yaitu kalamullah yang menurutnya sendiri berbahasa
Arab. Dan dengan menerjemahkannya hilangah mukjizatnya dan
ia bukan Al-Qur’an.
F. Urgensi Kekuatan Umat Islam Dalam
Menegakkan Islam Dan Bahasa Al-Qur’an
 Dari pembahasan sebelumnya diketuahui bahwa Al-
Qur’an tidak mungkin dan tidak boleh di terjemahkan
secara harfiyah dan terjemahan makna-makna asli
sekalipun dapat dilakukan pada beberapa ayat yang jelas
maknanya, tetapi tidak terlepas dari kerusakan.
 Kaum muslimin terdahulu berani menempuh segala
kesulitan dengan kejayaan Islam, dan menghadapi segala
bahaya demi tersebarnya agama Allah. Sementaran itu
bahasa Arab berjalan di belakang mereka kemana pun
mereka pergi mengibarkan panji-panji mereka dan
bertebaran di setiap lembah yang di injak kaki mereka.
 Namun pada masa belakangan, dibutuhkan bahasa-bahasa
asing untuk dapat menyebarkan Islam keseluruh santero dunia,
hal ini merupakan tuntutan logis dari kebutuhan ilmu dan
peradaban.
 Oleh karena itu berbicara tentang terjemah Al-Qur’an ini
merupakan fenomena kelemahan kedaulatannya. Sudah
sepantasnya kita mengarahkan pandangan untuk mencurahkan
kesungguhan kita dalam membentuk kedaulatan Al-Qur’an dan
mengokohkan pilar-pialrnya kebangkitannya atas dasar iman,
ilmu dan pengetahuan. Sebab hanya itu sajalah yang dapat
menjamin kekuasaan spiritual atas berbagai bangsa dan juga
dapat meng-arab-kan bahasa mereaka. Apabila islam
merupakan agama umat manusia seluruhnya maka bahasa pun
hendaknya demikian adanya, jika kita berusaha mewujudkan
kemuliaan yang ditentukan Allah bagi islam dan umatnya.
BAB III

A. Kesimpulan
 Berdasarkan pembahasa tetang Terjemah Al-Qur’an diatas adalah:
1. Terjemah disimpulkan sebagai pengungkapan makna dari pembicaraan bahasa
tertentu kedalam bahasa lain dengan tetap menjaga keselarasan makna dan
maksudnya.
2. Ada dua jenis terjemah menurut ‘Urf, yakni terjemah Harfiyah dan terjemah
Tafsiriyah atau di sebut juga dengan Terjemah Maknawiyah.
3. Penerjemah Al-Qur’an dengan Terjemah Harfiyah, betapun penerjemah memahami
betul bahasa, uslub-uslub dan susunan kalimatnya haram hukunya dan dipandang
telah mengeluarkan Al-Qur’an dalam keadaanya sebagai Qur’an. Sebab Al-Qur’an
adalah kalamullah yang diturukan kepada Rasul-Nya, merupakan mukjizat dengan
lafadz dan maknanya, serta membacanya dipandang sebagai suatu ibadah.
4. Imam Syatibi menuturkan, perjemahan Maknawiyah tidak mutlak boleh, sebab
sebagian ulama membatasi kebolehan penerjemahan seperti itu dengan kadar
darurat dalam menyampaikan dakwah.
5. terjemah tafsiriyah adalah penafsiran Al-Qur’an dengan cara mendatangkan makna
yang dekat mudah dan kuat.