Anda di halaman 1dari 41

TERAPI KORTIKOSTEROID

DAN ALDOSTERON

BY
V.M.Endang Sri Purwadmi Rahayu
PENDAHULUAN

Kortokosteroid pertamakali dipakai


untuk pengobatan pada tahun 1949 oleh
Hence et al untuk pengobatan
rheumatoid arthritis
DEFINISI

Kortikosteroid adalah hormon yang


diproduksi dan disekresikan oleh bagian
korteks kelenjar adrenal. Sekresi hormon
kortikosteroid dikontrol oleh pelepasan
kortikotropin hipofisis (ACTH). Hormon
kortikosteroid disintesis dari kolesterol.
KLASIFIKASI

Terdapat 2 hormon kortikosteroid yang


di sekresikan:
 Glukokortikoid (kortisol)
 Mineralokortikoid (aldosteron)
GLUKOKORTIKOID

Sintesis dan sekresi kortisol diregulasi


secara ketat oleh sistem saraf pusat, dan
sensitif terhadap umpan balik negatif
oleh kortisol dan glukokortikoid sintetik
(eksogen) dalam peredaran. Pada orang
dewasa normal tanpa stres, disekresikan
10-20 mg kortisol setiap hari. Laju
sekresinya berpuncak pada dini hari dan
sesudah makan.
Di dalam plasma, kortisol terikat pada
protein dalam peredaran. Kebanyakan
kortisol dimetabolisasi di hati.
GLUKOKORTIKOID SINTETIK Biasanya
disintesis dari asam folat yang didapat
dari ternak atau steroid sapogenin yang
ditemukan pada tanaman.
MINERALOKORTIKOID

Aldosteron, laju sekresinya dipengaruhi


oleh berbagai keadaan seperti stimulasi
oleh ACTH, aktivitas angiotengsin, serta
variasi independen antar sekresi
aldosteron-kortisol. Deoksikortikosteron
(DOC) dalam keadaan normal,
disekresikan dalam jumlah sekitar 200
mcg/hari.
Pengendalian sekresinya dikendalikan oleh
ACTH. Sekresi DOC (Deoksikortikosteron)
dapat meningkat pada kondisi
abnormal. Fludrokortison merupakan
mineralokortikoid yang paling banyak
digunakan. Mempunyai aktivitas retensi
garam yang kuat dan efek anti-inflamasi
yang berarti walaupun digunakan dalam
dosis yang sedikit.
KEGUNAAN

 GLUKOKORTIROID
mempengaruhi metabolisme karbohidrat
dan protein, Hormon ini disentesis dalam
sel-sel zona fasikulata dan zona
retikularis yang mengatur metabolisme
karbohidrat. Sekresi dipengaruhi oleh
ACTH (Adreno Corticotropin Hormon).
Cont ....

 MINERALOKORTIKOID
mempunyai aktivitas menahan garam
dan disintesis dalam sel-sel zona
glomerulosa yang mengatur
keseimbangan elektrolit. Sekresi
dipengaruhi oleh kadar mineral (Na+ dan
K+) dan volume plasma.
SEDIAAN OBAT

 Glukokortikoid kerja singkat hingga


sedang : Hydrocortisone, Corisone,
Prednisone (Lexacort), Prednisolone,
Methylprednisolone
 Glukokortikoid kerja intermediate :
Triamcinolone, Paramethasone,
Fluprednisolone
Cont ....

 Glukokortikoid kerja lama:


Betamethasone Dexamethasone
 Mineralokortikoid : Fludrocortisone ,
Desoxycorticosterone acetate, contoh
nama paten.
MEKANISME KERJA

Berinteraksi dengan protein reseptor spesifik


pada jaringan yang menjadi target untuk
mengatur perilaku gen terhadap
kortikosteroid, dan mengubah kadar
susunan protein yang disintesis oleh
jaringan yang menjadi target tersebut.
Adanya proses pengubahan yang dilakukan
sehingga terjadi penundaan sebelum khasiat
dari kortikosteroid muncul, dan akan terlihat
beberapa jam setelah penggunaan.
Cont ....

Cepat lambatnya reaksi kortikosteroid juga


dipengaruhi oleh kemampuan
menghantarkan khasiat oleh reseptor yang
terikat pada membran sel yang menjadi
target.
INDIKASI FARMAKOLOGIS

Reaksi alergi ke derma angio neurotik,


asma, sengatan lebah, dermatitis kontak,
reaksi obat, rinitis alergika, penyakit
serum, urtikaria.
Kelainan vaskular kolagen artritis sel
raksasa, lupus eritematosus, sindrom
jaringan ikat campuran, polimiositis,
polimialgia reumatika, artritis rematoid,
arteritis temporalis.
Cont ....

Penyakit mata uveitis akut, konjungtivitis


alergika, koroiditis, neuritis optika.
Penyakit saluran cerna, penyakit
peradangan usus, sprue nontropis,
nekrosis hati subakut.
Kelainan hematologik anemia hemolitik
akuisita, purpura alergika akut,
leukemia, anemia hemolitik autoimun,
purpura trombositopenik idiopatik,
multipel mieloma.
Cont ....

Inflamasi sistemik sindrom distres


pernapasan akut (terapi
berkesinambungan dengan dosis sedang
mempercepat perbaikan dan
menurunkan mortalitas). Infeksi sindrom
distres pernapasan akut, sepsis, sindrom
inflamasi sistemik.
Cont ....

Gangguan peradangan tulang dan sendi


artritis, bursitis, tenosinovitis.
Kelainan neurologik edema serebrum
(deksametason dosis besar diberikan
pada penderita pasca operasi otak untuk
meminimalkan edema serebrum pada
masa pasca perasi), multipel sklerosis.
Transplantasi organ pencegahan dan
terapi penolakan organ (imunosupresi).
Cont ....

Penyakit paru pneumonia aspirasi, asma


bronkiale, pencegahan sindrom gawat napas
janin, sarkoidosis.
Kelainan ginjal sindrom nefrotik.
Penyakit kulit dermatitis atopik, dermatosis, liken
simplek skronik (neuro dermatitis terlokalisasi),
mikosis fungoides, pemfigus, dermatitis seboroik,
xerosis.
Penyakit tiroideks oftalmus maligna, tiroiditis sub
akut, lain-lain hiperkalsemia, mountain sickness.
EFEK SAMPING
1. Peningkatan berat badan
Penggunaan steroid meningkatkan nafsu
makan. Peningkatan berat badan
bervariasi pada setiap orang. Selain itu,
steroid juga menyebabkan penumpukan
lemak tubuh di tempat-tempat yang
tidak diinginkan yaitu; wajah (moon
face), leher bagian belakang (buffalo
hump) dan perut.
Cont ....
2. Peningkatan gula darah
Steroid memiliki kecenderungan untuk
meningkatkan kadar gula dalam darah. Pada
kebanyakan orang, hal ini bukanlah masalah
berarti. Pada pasien diabetes, orang-orang
dengan berat badan berlebih, wanita hamil dan
mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan
diabetes, kenaikan gula darah adalah hal yang
berisiko. Kenaikan gula darah ini umumnya
sembuh ketika dosis steroid berkurang atau
dihentikan. Semua pasien yang diberi steroid
harus melakukan tes gula darah secara berkala.
Cont ....

3. Osteoporosis
Setiap hari sel-sel tulang yang lama akan
mati dan akan digantikan oleh sel tulang
yang baru. Steroid mempercepat
kematian sel tulang dan memperlambat
pembentukan sel tulang baru yang
menyebabkan penurunan kepadatan
tulang (osteoporosis).
Cont ....
4. Masalah kulit
Steroid dapat menyebabkan jerawat pada
wajah, dada dan punggung. Pasien dengan
steroid juga sering menjadi mudah memar,
bahkan hanya dengan sedikit trauma. Masalah
kulit lain termasuk penyembuhan luka menjadi
lebih lambat, kemerahan pada wajah, stretch
mark, keringat malam dan peningkatan rambut
wajah. Pasien dengan steroid harus menjaga
kulit mereka agar tetap bersih dan terlindungi
serta hindari trauma kulit termasuk kulit yang
terbakar akibat paparan matahari.
Cont
5. Gangguan pencernaan
Steroid dosis tinggi dapat menyebabkan iritasi
sistem pencernaan bagian atas. Peradangan
yang terjadi pada permukaan lambung disebut
gastritis. Jika semakin parah, dapat terjadi ulkus
peptikum. Ulkus terutama terjadi pada pasien
yang memiliki riwayat ulkus atau secara teratur
mengkonsumsi obat anti-inflamasi lain seperti
aspirin atau obat untuk arthritis. Pada kasus
yang ringan, ranitidin dapat membantu.
Jika Anda terus-menerus merasa mual atau
perih di lambung, hubungi dokter anda.
Cont ....
6. Suasana hati yang tidak stabil
Anda mungkin merasa gembira tanpa alasan
yang jelas, kesulitan tidur di malam hari. Di lain
waktu, mungkin ada perasaan cemas atau
kurang konsentrasi. Umumnya anda akan
merasa lelah dan sendu untuk beberapa hari
setiap kali dosis prednison sedang diturunkan.
Perubahan ini akan mereda setelah obat
dihentikan. Dalam beberapa kasus, mungkin
diperlukan obat untuk mencegah kegelisahan
atau antidepresan untuk sementara waktu. Jika
terjadi insomnia, cobalah untuk tidur siang di
sore hari.
Cont .....
7. Perubahan pada mata
Dosis tinggi steroid atau penggunaan jangka
panjang steroid dapat menyebabkan dua
masalah mata yaitu katarak dan glaukoma.
8. Perubahan sistem kekebalan tubuh
Salah satu cara kerja steroid adalah dengan
melemahkan sistem kekebalan tubuh. Anda
tidak boleh divaksinasi selama mengkonsumsi
steroid terutama vaksin polio. Pada sejumlah
kecil pasien yang mengkonsumsi steroid dapat
terjadi infeksi jamur pada mulut (thrush) atau
vagina. Namun umumnya hal tersebut dapat
diatasi dengan terapi.
KOMPLIKASI LAIN

Komplikasi ulkus peptikum adalah efek


samping lain yang berat dari penggunaan
kortikosteroid. Timbul rasa mual, pusing, dan
penurunan berat badan pada beberapa
penderita. Hipomania atau psikosis akut
dapat terjadi, terutama pada penderita yang
mendapat kortikosteroid dosis besar.
Pengunaan kortikosteroid kerja- intermediet
dan kerja-lama dapat menimbulkan depresi
dan katarak sub kapsular posterior.
Cont ...

Peningkatan tekanan intraokular, hipertensi


intra kranial jinak, dan juga sering terjadi
induksi glaukoma. Pada pemberian
hidrokortison dosis 45 mg/m2/hari, terjadi
retardasi pertumbuhan pada anak. Ini
disebabkan karena glukokortikoid kerja-
intermediet dan kerja-lama memilikipotensi
untuk menekan pertumbuhan yang lebih
besar dari pada kortikosteroid alamiah
dengan dosis yang sama.
Cont ....
Jika diberikan dengan dosis/jumlah yang lebih
besar dari pada jumlah fisiologis, steroid
seperti kortison dan hidrokortison, yang
mempunyai efek mineralokortikoid, dapat
menyebabkan retensi berlebih pada natrium
dan hilangnya kalium pada cairan dalam
tubuh. Dapat menimbulkan alkalosis
hipokloremik hipokalemik pada penderita
dengan fungsi kardiovaskular dan ginjal yang
normal, yang berujung pada peningkatan
tekanan darah.
Cont ....

Terjadi edema pada pengguna dengan


hiponatremia, penyakit ginjal, atau
penyakit hati. Pada penderita penyakit
jantung, sedikit retensi natrium dapat
menyebabkan gagal jantung.
Retensi = penahanan / penyimpanan,
Retardasi = perlambatan (retard)
Cont ....

SUPRESI ADRENAL. Penggunaan


kortikosteroid lebih dari 2 minggu atau
peningkatan dosis penggunaan
kortikosteroid pada seseorang dengan
trauma kecelakaan atau bedah mayor
dapat menyebabkan stres ringan sampai
berat. Pengurangan dosis maupun
pemakaian harus dilakukan secara
bertahap.
Cont ....

Jika dosis dikurangi terlalu cepat pada penderita


yang mendapat glukokortikoid untuk kelainan
tersebut dapat menimbulkan kembali bahkan
meningkatkan intensitas gejala supresi adrenal
seperti anoreksia, mual/muntah, penurunan
berat badan, letargi, sakit kepala, demam,
nyeri sendi/otot, dan hipotensi postural dan
menunjukkan adanya ketergantungan
terhadap glukokortikoid.
KONTRA INDIKASI
Agenkortikosteroid harus digunakan sangat
hati-hati pada penderita ulkus peptikum,
penyakit jantung, atau hipertensi dengan
gagal jantung, penyakit infeksi tertentu
seperti varisela dan tuberkulosis, psikosis,
diabetes, osteoporosis, atau glaukoma.
Terjadi pula gangguan terhadap fungsi ginjal,
prematur pada neonatus (penggunaan oleh
ibu hamil), hipersensitif terhadap komponen
obat, dan gangguan psikologis.
PENANGANAN

 Penanganan yang disarankan untuk saat ini


pada pasien yang mendapatkan efek
samping kortikosteroid adalah dengan
melakukan penurunan konsumsi dosis
kortikosteroid secara perlahan-lahan
(tapering off).
 Jika timbul diabetes, diobati dengan diet dan
insulin. Sering pasien yang resisten dengan
insulin, namun jarang berkembang menjadi
ketoasidosis.
Cont ....

 Pada umumnya penderita yang diobati


dengan kortikosteroid seharusnya diberi
diet protein tinggi, dan peningkatan
pemberian kalium serta rendah natrium
seharusnya digunakan apabila
diperlukan
Sediaan obat Kortikosteroid jangka
(singkat/intermedia/lama)

Merupakan lama efek / khasiat timbul


dalam pengkonsumsian obat
kortikosteroid”.
Retardasi pertumbuhan pada Anak

Efek Samping dari penggunaan obat


Kortikosteroid berlebih / jangka wkt
lama pada anak2, itu salah satunya
adalah menghambat kerja / sekresi GH
(growth hormon), jadi secara ‘otomatis’
terhambatnya GH = pertumbuhan
terhambat / retardasi.
Efek samping Mineralokortikoid
menyebabkan retensi berlebih

Efek Samping dari penggunaan obat


kortikosteroid berlebih / jangka wkt
lama, dalam hal ini Mineralokortikoid,
dapat berdampak pada kekurangan
garam dalam tubuh, karena sudah
diretensi berlebih oleh mineralokortikoid.
Itu sebabnya bisa terjadi hipokloremik,
hiponatremik, hipokalemik.
Stries sebagai efek samping

Strie, tanda2 fisik biasa terlihat pada ibu2 yg


sudah pernah melahirkan. Namun, pada
pengguna kortikosteroid, hal ini terjadi
akibat penurunan masa otot karena miopati
penyusutan otot, karena efekdari
glukokortikoid, menyebabkan jaringan ikat
antara kulit (integumen) dg otot (myo)
menjadi terlepas / putus, sehingga
menyebabkan strie tadi sbg wujud yg
tampak dari luar
Kortikosteroid disalah gunakan oleh Atlit +
dalam campuran Jamu

Kortikosteroid, terutama Glukokortikoid


memiliki cara kerja untuk memodifikasi
sintesis energi lewat peningkatan
metabolisme dlm tubuh. Inilah yg
dimanfaatkan oleh atlit agar dapat lebih
berstamina dan kuat dalam menjalani
latihan fisik / perlombaan, “Sedangkan
sebagai campuran jamu untuk menimbulkan
efek segar kembali, menghilangkan capek”
Namun, pemanfaatan seperti diatas sangat
tidak baik, karena dapat menimbulkan
ketagihan yg menuju pada efek samping.
THANK FOR YOUR
ATTENTION
Any Question??