Anda di halaman 1dari 20

PENGEMBANGAN OBAT

TRADISIONAL
Kelompok 3:
1. Arinri Misnangin (1601011011)
2. Artha Putri Napitupulu (1601011012)
3. Artika Mentari (1601011013)
4. Diki Rahman (1601011045)
5. Dila Andani (1601011046)
6. Diyah Nur Novitasari (1601011047)
PENGERTIAN OBAT TRADISIONAL
 Obat tradisional adalah bahan atau ramuan
bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau
campuran dari bahan-bahan tersebut, yang
secara tradisional telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman.
PERBEDAAN OBAT TRADISIONAL DENGAN
OBAT MODERN
PENGGOLONGAN OBAT TRADISIONAL
 Menurut peraturan Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (Badan POM) Indonesia, obat bahan alam di
Indonesia atau yang lebih dikenal dengan obat
tradisional dikelompokkan menjadi 3 golongan, yaitu:
 Jamu adalah sediaan obat herbal indonesia yang
keamanan dan khasiatnya telah diketahui secara
turun temurun berdasarkan pengalaman
(empiris). Bentuk sediaan jamu sebagaimana
asalnya yaitu serbuk, pil, cairan dan sejenisnya.

 Obat Herbal Terstandar adalah sediaan obat


bahan alam yang telah dibuktikan keamanan
dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji
praklinis, dan bahan bakunya telah
terstandarisasi.

 Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam


yang telah dibuktikan keamanan dan
khassiatnya secara ilmiah dengan uji praklinis
dengan hewan percobaan dan telah melalui uji
klinis pada manusia serta bahan baku dan
produknya telah terstandarisasi.
TAHAPAN PENGEMBANGAN OBAT
TRADISIOANL
 Seleksi
 Uji praklinik, terdiri atas uji toksisitas dan uji
farmakodinamik
 Standarisasi sederhana, penentuan identitas dan
pembuatan sediaan terstandar
 Uji klinik
SELEKSI
 Sebelum memulai penelitian, perlu dilakukan
pemilihan jenis obat tradisional yang akan
diteliti dan dikembangkan.
 Jenis obat tradisional yang diprioritaskan untuk
diteliti dan dikembangkan adalah:
 Diharapkan berkhasiat untuk penyakit yang
menduduki urutan dalam angka kejadiannya
(berdasarkan pola penyakit)
 Berdasarkan pengalaman berkhasiat untuk penyakit
tertentu
 Merupakan alternatif jarang untuk penyakit
tertentu, seperti AIDS dan kanker
UJI PRAKLINIK
 Uji praklinik dilakukan secara invitro dan invivo pada
hewan coba untuk melihat toksisitas dan efek
farmakodinamiknya.
 Bentuk sediaan dan cara pemberian pada hewan coba
disesuaikan dengan rencana pemberian pada manusia.
 Menurut pedoman pelaksanaan uji klinik obat tradisioal
WHO menganjurkan pada dua spesies.
 Uji farmakodinamik pada hewan coba digunakan untuk
memprediksi efek pada manusia, sedangkan uji toksisitas
dimaksudkan untuk melihat keamanannya.
 Uji toksisitas dibagi menjadi uji toksisitas akut, subkronik,
kronik dan uji toksisitas khusus yang meliputi uji
teratogenesis, mutageneis, dan karsinogenesis.
 Uji toksisitas akut dimaksudkan untuk menentukan
LD50 (lethal dose50) yaitu dosis yang mematikan 50%
hewan coba, menilai berbagai gejala toksik, spektrum
efek toksik pada organ dan cara kematian.
 Uji LD50 perlu dilakukan untuk semua jenis obat
yang akan diberikan pada manusia. Untuk pemberian
dosis tunggal cukup dilakukan uji toksisitas akut.
 Pada uji toksisitas kronik, obat diberikan selama
enam bulan atau lebih. Ujitoksisitas subkronik dan
kronik bertujuan untuk mengetahui efek samping
toksik obat tradisional pada pemberian jangka lama
 Uji toksisitas khusus dilakukan secara selektif bila
 Obat tradisional berisi kandungan zat kimia yang potensial
menimbulkan efek khusus seperti kanker dan cacat
bawaan.
 Obat tradisional potensi digunakan oleh perempuan usia
subur.
 Obat tradisional secara epodemilogi diduga terkait dengan
penyakit tertentu misalnya kanker.
 Obat digunakan secara kronik
 Penelitian farmakodinamik obat tradisional bertujuan
untuk meneliti efek farmakodinamik dan menelusuri
mekanisme kerja dalam menimbulkan efek obat
tradisional tersebut.
 Penelitian dilakukan secara invitro dan invivo pada
hewan coba. Cara pemberian obat tradisional yang
diuji dan bentuk sediaan disesuaikan dengan cara
pemberiannya pada manusia.
 Hasil secara invitro dan invivo pada hewan coba
hanya dapat dipakai untuk perkiraan kemungkinan
efek pada manusia.
STANDARISASI SEDERHANA
 Pada tahap ini dilakukan standarisasi simplisia,
penetuan identitas dan menentukan bentuk sediaan
yang sesuai.
 Bentuk sediaan obat tradisional sangat
mempengaruhi efek yang ditimbulkan. Bahan segar
berbeda efeknya dibandingkan dengan bahan yang
telah dikeringkan.
 Proses pengolahan seperti direbus, diseduh dapat
merusak zat aktif tertentu yang bersifat termolabil.
Contoh tanaman obat yang mengandung minyak atsiri
atau glikosisa tidak boleh dibuat dalam bentuk decoct
karena termolabil.
 Demikian pula prosedur ekstraksi sangat
mempengaruhi efek sediaan obat herbal yang
dihasilkan.
 Ekstrak yang diproduksi dengan jenis pelarut yang
berbeda dapat memiliki efe terapi yang berbeda
karena zat aktif yang terlarut berbeda. Contoh: daun
jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) memiliki 3
jenis kanadungan kimia yang diduga berperan untuk
pelangsinga yaitu tanis, musilago, alkaloid. Ekstraksi
yang dilakukan dengan etanol 95% hanya melrutkan
alkaloid dan sedikit tanin, sedangkan ekstraksi
dengan air atau etanol 30% didapatkan ketiga
kandungan kimia daun jati belanda yaitu tanis,
musilago dan alkaloid tersari dengan baik.
UJI KLINIK
 Untuk dapat menjadi fitofarmaka maka obat
tradisional harus dibuktikan khasiat dan
keamanannya melalui uji klinik.
 Uji klinik pada manusia hanya dapat dilakukan
apabila obat tradisional tersebut telah terbukti
aman dan berkhasiat pada uji praklinik.
TAHAPAN UJI KLINIK
 Uji klinik tahap I, dilakukan pada sukarelawan sehat,
untuk menguji keamanan dan tolerabilitas obat
tradisional.
 Uji klinik tahap II awal, dilakukan pada pasien dalam
jumlah terbatas tanpa pembanding.
 Uji klinik tahap II akhir, dilakukan pada pasien
jumlah terbatas dengan pembanding.
 Uji klinik tahap III, duji klinik definitif.

 Uji klinik tahap IV, pasca pemasaran untuk


mengamati efek samping yang jarang atau yang
lambat timbulnya
UJI KLINIK OBAT TRADISIONAL
 Kurangnya uji klinik yang dilakukan terhadap obat
tradisional antara lain karena:
 Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan uji
klinik
 Uji klinik hanya dapat dilakukan bila obat tradisional
telah terbukti berkhasiat dan aman pada uji praklinik
 Perlunya standarisasi bahan yang diuji
 Sulitnya menentukan dosis yang tepat karena penentuan
dosis berdasarkan dosis empiris, selain itu kandungan
kimia tanaman tergantung pada banyak faktor
 Kekuatiran produsen akan hasil yang negatif terutama
bagi produk yang telah daku dipasaran
CONTOH OBAT YANG BERASAL DARI
TANAMAN HERBAL
KRITERIA PENGGUNAAN OBAT
TRADISIONAL
 Ketepatan Bahan, tanaman obat terdiri dari beberapa
spesies yang kadang sulit dibedakan (memiliki
kemiripan) sehingga harus dapat diidentifikasi.
 Ketepatan Dosis, penggunaan takaran obat harus
pasti (dalam stuan gram).
 Ketepatan Waktu Penggunaan, contoh: ekstrak kunyit
dipercaya dapat meringankan dismenorea tetapi jika
penggunaan diawal kehamilan dapat menyebabkan
keguguran.
 Ketepatan Cara Penggunaan, tanaman obat
mengandung banyak zat berkhasiat didalamnya
sehingga membutuhkan perlakuan yang berbeda
dalam penggunaannya.
 Ketepatan Pemilihan Obat untuk Indikasi Tertentu,
terdapat banyak jenis zat aktif pada tanaman obat
yang memiliki indikasi masing-masing, sehingga
penggunaan harus tepat berdasarkan zat aktif dan
indikasinya. Contoh: alkaloid pada daun tapak dara
bermanfaat dalam pengobatan diabetes, tetapi
terdapat zat aktif vinblastin yang menyebabkan
penurunan leukosit.