Anda di halaman 1dari 42

FILARIASIS

PENYAKIT ENDEMIK
DI PAPUA BARAT

Y. Maryen, SKM,MPH.
Poltekkes Sorong
Pengertian
 Filariasis atau penyakit kaki gajah merupakan
penyakit menular yang disebabkan infeksi
cacing filaria yang hidup disaluran dan
kelenjar getah bening (limfe) dan ditularkan
berbagai jenis nyamuk.
 Menurut Heelan, J.S, et al., 2002), cacing filaria
yang menginfeksi manusia termasuk ordo
Filariata, superfamilia Filariodea. Cacing ini
menyebabkan infeksi pada manusia dengan
cara ditularkan oleh vektor nyamuk.
Penyebab
 Filariasis disebabkan oleh cacing filaria
yang menyerupai benang dengan jenis
Wuchereria bancrofti dan Brugia malayi yang
menyebabkan filariasis limfatik yang hidup
di manusia.
 Menurut Depkes (2006a) filariasis di
Indonesia disebabkan oleh tiga spesies
cacing filaria, yaitu : Wuchereria bancrofti,
Brugia malayi dan Brugia timori.
 Cacing ini tinggal di sistem limfatik, yaitu suatu
jaringan yang terdiri atas kelenjar dan
pembuluh limfe yang berfungsi
mempertahankan keseimbangan cairan antara
jaringan tubuh dan darah serta merupakan
komponen penting dalam sistem pertahanan
tubuh manusia. Parasit ini hidup selama 4 – 6
tahun, dan memproduksi berjuta-juta
mikrofilaria imatur yang bersirkulasi didalam
darah (WHO, 2000).
6 Tipe Cacing Filaria
 Wuchereria bancrofti tipe perkotaan
(urban)
◦ Ditemukan di daerah perkotaan seperti
Jakarta, Bekasi, Tangerang, Semarang,
Pekalongan dan sekitarnya. Memiliki
periodisitas nokturna dan ditularkan oleh
nyamuk Culex quinquefasciatus yang
berkembang biak di air limbah rumah tangga.
 Wuchereria bancrofti tipe pedesaan (rural)
 Wuchereria bancrofti tipe pedesaan (rural)
◦ Ditemukan di daerah pedesaan di luar Jawa,
terutama tersebar luas di Papua dan Nusa Tenggara
Timur. Mempunyai periodisitas nokturna dan
ditularkan oleh berbagai spesies nyamuk Anopheles.

 Brugia malayi tipe periodik nokturna


◦ Mikrofilaria ditemukan di darah tepi pada malam
hari dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles
barbirostis yang ditemukan didaerah persawahan.
 Brugia malayi tipe subperiodik nokturna
◦ Mikrofilaria ditemukan di darah tepi pada siang dan
malam hari, tetapi lebih banyak di temukan pada
malam hari. Nyamuk penularnya adalah Mansonia
spp yang ditemukan didaerah rawa.

 Brugia malayi tipe non periodik.


◦ Mikrofilaria ditemukan di darah tepi baik pada
malam maupun siang hari. Nyamuk penularnya
adalah Mansonia bonneae dan Mansonia uniformis
yang ditemukan di hutan rimba.
Lanjutan tipe cacing filaria
 Brugia timori tipe periodik nokturna
◦ Mikrofilaria ditemukan di darah tepi pada
malam hari. Nyamuk penularnya adalah
Anopheles barbirostis yang ditemukan di daerah
persawahan di Nusa Tenggara Timur dan
Maluku Tenggara.
Lingkaran hidup
 Menurut Rukmono et al.,(1983) lingkaran hidup
cacing filaria meliputi :
pengisapan mikrofilaria dari darah atau jaringan oleh
serangga pengisap darah;

metamorfosis mikrofilaria di dalam hospes perantara


serangga mula-mula membentuk larva rabditiform lalu
membentuk larva filariform yang infektif.

penularan larva infektif ke dalam kulit hospes baru


melalui proboscis serangga yang menggigit.
Lanjutan lingk. hidup
 Bila serangga menggigit hospes definitif, larva
akan meninggalkan ujung proboscis ke kulit dekat
lubang gigitan, lalu masuk ke tubuh melalui luka
tersebut. Sesudah menembus kulit melalui luka
gigitan, larva meneruskan perjalanan ke
pembuluh dan kelenjar limfe, tempat mereka
tumbuh sampai dewasa dalam waktu setahun.
Mikrofilaria berbentuk halus, tipis dengan inti-
intinya dan merupakan bentuk telur stadium
lanjut sehingga berwujud cacing yang dapat
bergerak aktif.
Lingkaran hidup microfilaria
AMP, antimicrobial peptide
Blood meal volume depends on the size of the mosquito and is around 2–4 microlitres.

(b) Microfilariae develop in the Microfilariae gain access to heamolymph and


thoracic muscles migrate to the thoracic muscles

Fat body
Third stage larvae migrate to Production of AMPs
the head and proboscis Melanization and encapsulation
responses
Haemocytes

(c) Larvae are injected into the


host during blood feeding Microfilariae move through
the oesophagus into the gut

(a) Mosquito takes a blood meal


and ingests microfilariae
Cara penularan
 Penularan filariasis dapat terjadi bila ada
tiga unsur, yaitu :
◦ Adanya sumber penularan, yaitu manusia atau
hospes reservoir yang mengandung
mikrofilaria dalam darahnya.
◦ Adanya vektor, yakni nyamuk yang dapat
menularkan filariasis
◦ Manusia yang rentan terhadap filariasis.
Proses penularan
 Seseorang tertular bila mendapat gigitan nyamuk yang
mengandung larva infektif (larva stadium 3 - L3).
Nyamuk tersebut mendapat mikrofilaria sewaktu
menghisap darah penderita atau binatang reservoir
yang mengandung mikrofilaria.

 Siklus penularan filariasis melalui dua tahap yaitu


perkembangan dalam tubuh nyamuk (vektor) dan tahap
perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan
reservoir. Berbeda dengan penularan pada malaria dan
demam berdarah, seseorang bisa terinfeksi filariasis
apabila mendapat gigitan nyamuk ribuan kali (Depkes,
2006a).
Masa Inkubasi
 Manifestasi inflamasi alergik mungkin timbul lebih
cepat yaitu sebulan setelah terjadi infeksi,
mikrofilaria belum ditemukan dalam darah hingga
3-6 bulan pada Brugia timori dan 6-12 bulan pada
Wucheria bancrofti (Chin, 2000).

 Manusia dapat menularkan penyakit filariasis


melalui nyamuk pada saat mikrofilaria berada pada
darah tepi, mikrofilaria akan terus ada selama 5-10
tahun atau lebih sejak infeksi awal. Nyamuk akan
menjadi infektif sekitar 12-14 hari setelah
menghisap darah yang terinfeksi (Depkes, 2006a).
Gejala Klinis
 Gejala klinis filariasis terdiri dari gejala
klinis akut dan kronis. Gejala klinis akut
berupa limfadenitis, limfangitis,
adenolimfangitis yang disertai demam,
sakit kepala, rasa lemah dan timbulnya
abses. Abses dapat pecah dan kemudian
mengalami penyembuhan dengan
meninggalkan jaringan parut, didaerah
lipatan paha dan ketiak ( Depkes,
2005).
Perjalanan penyakit
 Menurut Kurniawan (2001) dalam
perjalanan penyakitnya, filariasis bermula
dengan adenolimfangitis akuta berulang
dan berakhir dengan terjadinya obstruksi
menahun dari sistem limfatik.
 Perjalanan penyakit tidak jelas dari satu
stadium ke stadium berikutnya tetapi bila
diurut dari masa inkubasi, maka dapat
dibagi menjadi :
 Masa prepaten
◦ Masa prepaten adalah masa masuknya larva infektif
ke dalam tubuh sampai terjadinya microfilaremia
yang berkisar 3-7 bulan. Hanya sebagian saja dari
penduduk di daerah endemik yang menjadi
mikrofilaremik, dan dari kelompok ini pun tidak
semua menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa
kelompok ini termasuk kelompok yang
asimptomatik amikrofilaremik dan asimtomatik
mikrofilaremik.
 Masa Inkubasi
◦ Masa dimana masuknya larva infektif sampai
terjadinya gejala klinis berkisar antara 8-16 bulan.
 Gejala klinik akut
◦ Gejala klinik akut filariasis berupa limfadenitis, dan
limfangitis disertai panas dan malaise.
 Gejala menahun (kronik)
◦ Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah
serangan pertama berupa cacat fisik yang
mengganggu aktivitas serta membebani keluarga.
Pembuluh dan kelenjar getah bening
Pembuluh dan kelenjar limfe
Gejala Filariasis
Penderita Elephantiasis
Penderita Elephantiasis
Diagnosis
 Diagnosis klinis
◦ Diagnosis klinis ditegakkan melalui anamnesis yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
laboratorium. Diagnosis klinik penting dalam
menentukan akut dan menahunnya suatu kasus.

 Diagnosis parasitologik
◦ Dignosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya
mikrofilaria pada pemeriksaan darah tepi (jari) malam
hari. Pemeriksaan dapat dilakukan pada siang hari, 30
menit setelah diberi dietilkarmabasin 100 mg
 Diagnosis epidemiologik
◦ Endemistis filariasis suatu daerah ditentukan
dengan menentukan microfilarial rate (mf rate), Acute
Disease Rate (ADR) dan Chronic Disease Rate (CDR)
dengan memeriksa sedikitnya 10% dari jumlah
penduduk. Pendekatan praktis untuk menentukan
suatu daerah endemis filariasis, dapat melalui
penemuan penderita elaphantiasis.
Pengobatan
 Indonesia menetapkan eliminasi filariasis
sebagai salah satu program nasional
pemberantasan penyakit menular dengan
menerapkan dua strategi utama yaitu
memutuskan rantai penularan dengan
pengobatan massal didaerah endemis (Mf
rate > 1%) dan membatasi kecacatan
melalui penatalaksanaan kasus klinis
filariasis.
Lanjutan pengobatan
 Pengobatan massal menggunakan kombinasi
Dietilkarmabasin (DEC) 6 mg/kgBB,
Albendazol 400 mg dan Paracetamol 500 mg.
Pengobatan massal dilaksanakan serentak
terhadap semua penduduk tetapi untuk
sementara di tunda bagi anak beruasia < 2
tahun, ibu hamil, orang yang sedang sakit
berat, penderita kasus kronis filariasis dalam
serangan akut serta anak berusia < 5 tahun
dengan marasmus atau kwasiorkor (Depkes
(2006d)
Lanjutan
 Pengobatan massal hendaknya
menggunakan metode dosis bertahap
karena selain menghemat waktu menjadi 3
bulan, reaksi samping pengobatan tidak
jauh berbeda dengan dosis rendah, dan
minimal total dosis obat 2,494 mg
tercapai adanya penurunan sampai dengan
99,78% (Kardiningsih, 2001).
Upaya Pencegahan dan
Pemberantasan

 Upaya Pencegahan dan Pemberantasan


◦ Menurut Depkes (2006c) untuk
mencegah/memberantas ini pemerintah melakukan
gerakan eliminasi filariasis. Pelaksanaan eliminasi
filariasis di Indonesia dilakukan dengan menerapkan
Program Eliminasi Filariasis Limfatik Global dari
WHO, yaitu memutuskan rantai penularan filariasis
serta mencegah dan membatasi kecacatan.
Peran masyarakat dalam upaya
pencegahan dan pemberantasan
 Masyarakat diharapkan berperan serta dengan
cara :
◦ Memeriksakan diri kepada petugas kesehatan jika
kemungkinan adanya tanda dan gejala filariasis.
◦ Bersedia menelan obat secara teratur sesuai dosis
yang dianjurkan petugas kesehatan.
◦ Berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk
dengan cara :
 Tidur memakai kelambu
 Menutup lubang angin (ventilasi) rumah dengan kawat kasa
halus.
 Menggunakan obat anti nyamuk (bakar, oles, semprot)
 Menghilangkan tempat perindukkan nyamuk sehingga tidak
memungkinkan perkembangan nyamuk melalui gerakan PSN
(Pemberantasan Sarang Nyamuk).
Tujuan Pemberantasan Filariasis
 Program pemberantasan di Indonesia
dimaksudkan untuk :
 Menurunkan Acute Disease Rate (ADR)
 Menurunkan Microfilaria Rate (mf rate) < 1
%
 Mempertahankan Chronic Disease Rate
(CDR).
Epidemiologi Filariasis
 Menurut Gandahusada, et al (1998) penyakit
filariasis terutama ditemukan di daerah katulistiwa
dan merupakan masalah di daerah dataran rendah
tetapi kadang-kadang ditemukan di daerah bukit-
bukit yang tidak terlalu tinggi.

 Di Indonesia penyakit ini lebih banyak ditemukan


di daerah pedesaan dan yang terdapat di
perkotaan hanya W.bancrofti yang telah ditemukan
di kota Jakarta, Tangerang, Pekalongan, Semarang
dan mungkin di beberapa kota lainnya.
Penyebaran Filariasis
 Lebih dari 120 juta manusia telah terinfeksi, 40 juta
diantaranya mengalami cacat fisik, sehingga mereka
tidak mampu beraktifitas secara fisik . Sepertiga dari
orang yang terinfeksi tinggal di India, Afrika dan sisanya
terdapat di Asia Selatan, Pasifik dan Amerika. Negara-
negara tropis dan sub wilayah tropis dimana penyakit
ini didapatkan, prevalensi infeksinya cenderung
mengalami peningkatan (WHO, 2000).

 Daerah endemis terdapat dibanyak pulau di seluruh


Nusantara, seperti Sumatera dan sekitarnya, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua, dan masih
banyak daerah yang belum diselidiki.
Tingkat Endemisitas
 Penyebaran filariasis hampir di seluruh wilayah Indonesia, dan
umumnya daerah dataran rendah, terutama pantai, pedalaman,
persawahan, rawa-rawa dan hutan seperti di Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

 Tingkat endemisitas filariasis di Indonesia berdasarkan hasil


survei darah jari tahun 1999 masih tinggi dengan Microfilaria
rate (mf rate) 3,1% (Depkes, 2006a). Dan sejak tahun 2001 mf
rate tertinggi terdapat di Papua, Aceh, Maluku dan NTT
dengan kisaran antara 6,9 – 11,6 % (Depkes, 2004). Lokasi
yang endemis dengan rata-rata Microfilaria rate 3,1%, berarti 6
juta orang berisiko terinfeksi cacing filaria karena nyamuk
penularnya tersebar luas (Anonim, 2007).
 Walaupun telah dilakukan program pengobatan
masal dalam rangka eliminasi filariasis di Indonesia
sejak tahun 2002, namun demikian pada beberapa
daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan
Papua masih ditemukan beberapa kasus baru
penderita filariasis seperti yang terjadi di
Kabupaten Manokwari Propinsi Papua Barat.
Berdasarkan laporan kegiatan survei Filariasis dari
Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari
pada tahun 2007 yang dilaksanakan pada 5 (lima)
distrik yaitu Masni, Ransiki, Maripi, Sidey dan
Oransbari diketahui bahwa dari 2.455 penduduk
yang diperiksa 8,35% dinyatakan positif, atau rata-
rata mf ratenya 7,3.
Situasi Penyakit Filariasis menurut hasil survey pada
beberapa Distrik di Kabupaten Manokwari, 2007
Jumlah
Jumlah Jumlah yang mf rate
No. Distrik Kampung Jumlah Penduduk Penduduk
Positif diobati (%)
diperiksa

1. Masni Koyani 123 120 12 12 9,8


Masni 278 250 24 24 8,6
2. Ransiki Dembek 581 445 14 14 2,4
Tobou 433 334 18 18 4,2
3. Maripi Saumarin 124 120 13 13 10,5
Mupi 275 265 8 8 2,9
4. Sidey Saray 169 150 23 23 13,6
Kaironi 149 140 54 54 36,2
5. Oransbari Watariri 388 375 26 26 6,5
Moari 262 256 13 13 5,0

Jumlah 2792 2455 205 205 7,3


Penyebaran filariasis di Manokwari
Faktor risiko yang
berhubungan dengan kejadian
filariasis
 Menurut penelitian sebelumnya yang
dilakukan di beberapa tempat di Indonesia
diketahui bahwa kejadian filariasis
umumnya dihubungkan dengan faktor
risiko lingkungan, sosial budaya dan
ekonomi serta perilaku. Faktor-faktor
tersebut berperan terhadap penularan
filariasis dan bervariasi antara daerah yang
satu dengan daerah lainnya.
 Faktor sosial budaya dan ekonomi
◦ Sosial budaya dan ekonomi merupakan lingkungan yang timbul
sebagai akibat adanya interaksi antar manusia yang dilatar
belakangi oleh beberapa aspek seperti pekerjaan, pendidikan,
status ekonomi, adat istiadat, kebiasaan hidup penduduk.

 Perilaku.
◦ Perilaku secara biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme (mahluk hidup) yang bersangkutan. Perilaku manusia
pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.

◦ Tindakan atau perilaku yang berhubungan dengan pencegahan


penyakit filariasis
 tidur menggunakan kelambu,
 memasang kasa pada ventilasi rumah,
 tidak beraktivitas diluar rumah pada malam hari dan menjaga kebersihan
lingkungan.

◦ Presentasi tesis..........(lihat)