Anda di halaman 1dari 9

JOURNAL READING

Pembimbing
dr. Nelly Y. Tan Rumpaisum, Sp.S

Christian Manoe
Esra Tabhita Siboro
Neny H. Asmodiasih

SMF NEUROLOGI
RSUD DOK II JAYAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
CENDERAWASIH
JAYAPURA 2019
ABSTRAK

Seorang wanita berusia 70 tahun menderita perdarahan


pada bagian depan hipotalamus yang menyebabkan Sindrom
Horner ipsilateral, sebagai satu-satunya manifestasi
neurologis fokal. Ini adalah kasus kedua dengan perdarahan
hipotalamus yang dilaporkan membuat Sindrom Horner.
Karena Sndrom Horner adalah satu-satunya manifestasi,
konfirmasi menggunakan tetes apraklonidin topika adalah
petunjuk penting untuk mengetahui lokasinya.
 Seorang wanita berusia 70 tahun tampak
bingung terhadap suaminya dan jatuh di kamar
mandi beberapa menit kemudian. Beberapa
minggu sebelumnya, dia telah didiagnosa
dengan Meningoencephalitis Herpes-Zoster
dan diobati dengan Acyclovir intravena dengan
pemulihan status mental yang membaik.
 CT dan MRI otak dilakuakn pada musim gugur
menunjukkan adanya perdarahan intrakranial akut yang
berpusat di sebelah kanan hipotalamus anterior dengan
ekstensi ke ventrikel ketiga (Gambar 1).

Gambar 1 Corona (A) dan Axial (B) CT Prekontras, dan Axial Fluid –atenuated pemulihan MRI
(C) dilakukan pada musim gugur menunjukkan perdarahan di hipotalamus anterior kanan dengan
rproduk darah di ventrikel ketiga
 Angiografi CT kepala dan leher negative. Perdarahan
dikaitkan dengan perkembangan yang mendasari adanya
anomali vena yang diidentifikasi pada otak saat MRI 1
bulan sebelumnya (Gambar 2).
 Pasien telah diperiksa oleh spesialis THT untuk keluhan
pusing 3 hari sebelumnya tanpa menyebutkan gejala ptosis
atau anisokoria. Suami pasien telah mengetahui saat
pertama terjadi ptosis pada kelopak mata atas.

 Dua puluh empat jam setelah jatuh, pasien merasa bingung


dan sedikit somnolen dengan pupil anisocoria dan ptosis
pada kelopak mata kanan atas.
 Dalam kegelapan, pupil diukur 2,5 mm di mata kanan dan
4 mm di mata kiri, keduanya berkonstriksi dengan cepat
dan antara kedua mata terhadap cahaya penlight langsung
yang dipegang sekitar 1 kaki dari mata. Semua aspek
pemeriksaan oftalmologi dan neurologis normal.
 Tiga puluh menit setelah pemberian apraclonidine 0,5% 2
tetes secara perlahan pada setiap mata, pupil kanan
diukur 5,5 mm dan pupil kiri diukur 4 mm dalam
kegelapan.
 Apraclonidine juga mengangkat kelopak mata kanan.
Obat ini tidak berpengruh pada posisi dari kelopak mata
kiri
 Ini adalah kasus kedua dari pemberian topikal
Apraclonidine pada pasien dengan Sindrom Horner yang
disebabkan oleh perdarahan hipotalamus.
 Kauh dan Bursztyn melaporkan pasien dengan Sindrom
Horner dari perdarahan talamus yang dikonfirmasi oleh
tes Apraclonidine 0,5% topikal ditunjukkan dalam 96 jam
setelah timbulnya gejala.
 Kasus kami memiliki tes Apraclonidine positif dalam 24
jam setelah onset gejala.
 Sampai pada laporan saat ini, masa laten terpendek yang
dilaporkan antara onset gejala pada Sindrom Horner
(batang otak) dan tes Apraclonidine positif adalah 3 hari.
Tes ini melibatkan pasien dengan infark dosolateral
pontomedullary.