Anda di halaman 1dari 20

Maulana Cahaya W

Mohammmad Iqbal H
Muhamad Abdul Aziz
Muhammad Bagir
Muroj Maulana C.
APA BIODIESEL ITU ?

Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran


mono--alkyl ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai
sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel dan
terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak
sayur atau lemak hewan.
APA PERBEDAAN BIODIESEL DENGAN
SOLAR ?
BIODIESEL
• Biodiesel terbuat dari minyak sayuran, minyak goreng daur
ulang, dan lemak berbagai hewan.
• Prosedur pembuatan biodiesel melibatkan proses kimia yang
memisahkan gliserin dari lemak hewan atau dari berbagai
minyak sayuran seperti kedelai dan jagung.
• Proses ini membutuhkan penggunaan metanol atau etanol,
serta katalis seperti natrium hidroksida.
• Setelah gliserin berhasil dipisahkan, maka akan tertinggal
substansi yang dikenal sebagai metil ester (nama kimia untuk
biodiesel).
• Gliserin sebagai produk sampingan lantas digunakan dalam
pembuatan sabun dan produk lainnya.
• Di samping itu, katalis yang digunakan juga bisa digunakan
kembali (didaur ulang).
APA PERBEDAAN BIODIESEL DENGAN
SOLAR ?
SOLAR
• Solar merupakan sumber energi tak terbarukan dan merupakan bahan
bakar utama kendaraan bermesin diesel.
• Solar diperoleh dari minyak bumi setelah melalui proses pemisahan, konversi,
dan pemurnian.
• Pada proses pemisahan, minyak mentah mengalami proses yang dikenal
sebagai distilasi fraksional.
• Setelah ini, senyawa yang berbeda dalam minyak mentah lantas dipisahkan
satu sama lain tergantung pada titik didih masing-masing.
• Senyawa yang memiliki titik didih tinggi berada dibagian bawah kolom,
sementara senyawa dengan titik didih rendah tetap berada di atas.
• Dengan cara ini, minyak mentah lantas disuling untuk menghasilkan
berbagai produk seperti gas propana, bensin, solar, dan minyak pelumas.
• Karena prosedur distilasi tidak menghasilkan cukup solar, proses konversi
diperlukan untuk memecah fraksi minyak mentah yang lebih berat untuk
menghasilkan lebih banyak solar.
• Langkah terakhir adalah pemurnian, dimana kelebihan sulfur dalam solar
dihilangkan dengan bantuan katalis dan hidrogen.
BIODIESEL VS SOLAR

 1. Pembakaran biodiesel 75% lebih bersih daripada solar.


 2. Emisi karbon dioksida biodiesel relatif rendah (sekitar 78% lebih rendah dari
solar) sehingga tidak berkontribusi signifikan pada pemanasan global.
 3. Biodiesel memiliki sifat pelarut (pelumas) sehingga bisa turut membersihkan
bagian-bagian mesin diesel dari berbagai kotoran. Jelaga pembakaran yang
dihasilkan biodiesel juga lebih sedikit dibandingkan solar.
 4. Biodiesel membuat mesin lebih mudah distarter dan berjalan lebih mulus akibat
angka cetane yang lebih tinggi.
 5. Biodiesel menghasilkan lebih sedikit jelaga, karbon monoksida, hidrokarbon
tidak terbakar, serta sulfur dioksida.
 6. Bahan bakar ini tidak beracun dan bisa diuraikan oleh lingkungan.
 7. Biodiesel bisa digunakan untuk mengurangi efek tumpahan minyak bumi yang
mencemari perairan.
 8. Mesin diesel lebih tua, terutama yang dibuat sebelum tahun 1992, mungkin
mengalami masalah saat menggunakan biodiesel konsentrasi tinggi akibat
tersumbatnya filter bahan bakar dan kerusakan komponen karet pada mesin.
BIODIESEL VS SOLAR

 1. Solar termasuk bahan bakar fosil yang menyumbang polusi udara dan
berbagai masalah kesehatan.
 2. Sebagai bahan bakar fosil, pembakaran solar melepaskan sejumlah besar
karbon dioksida ke atmosfer sehingga berkontribusi terhadap pemanasan
global.
 3. Solar tidak memiliki sifat pelumasan pada mesin.
 4. Solar memiliki angka cetane lebih rendah dibandingkan biodiesel
sehingga kurang efisien.
 5. Solar dikenal melepaskan emisi sulfur tinggi yang sangat berbahaya bagi
lingkungan.
 6. Dibandingkan biodiesel, solar lebih mudah diperoleh di hampir semua
SPBU.
 7. Solar bisa digunakan untuk mesin diesel model apapun serta keluaran
tahun berarapun.
Biodiesel merupakan kandidat yang paling baik untuk
menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi
transportasi utama dunia, karena biodiesel merupakan
bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel
petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual
dengan menggunakan infrastruktur zaman sekarang.

Kenapa harus biodiesel ?


Penggunaan dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat,
terutama di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, meskipun dalam
pasar masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar.
Pertumbuhan SPBU membuat semakin banyaknya penyediaan
biodiesel kepada konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan
yang menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar. Lalu dengan
berbagai kelebihan yang di dapatkan dengan menggunakan
biodiesel ini kita dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan
memperbaiki kualitas bahan bakar.
1. Saring Minyak (nabati/hewani)
2. Dipanaskan hingga 55℃
3. Mencampurkan 1.8 Gr NaOH kedalam
100 Ml Methanol
4. Mencampur larutan dan diaduk 30-60
Menit di suhu 50 − 55℃
5. Pindahkan campuran dan diamkan
6. Lapisan atas akan terbentuk Biodiesel,
Lapisan bawah akan terbentuk Gliserin
7. Pisahkan Biodiesel dan panaskan 5 Menit
dengan suhu diatas 70℃ untuk menguapkan
etanol
8. Lakukan proses pencucian dengan
menambahkan 750 Ml air dengan tambahan
asam cuka dan asam phospat.
9. Lakukan proses mixing dan diamkan selama
30 – 60 Menit
10. Setelah menunggu, pisahkan Biodiesel yang
terletak di bagian atas botol, sedangkan
dibagian bawah mengandung sabun dan
gliserin
11. Jadilah Biodiesel
Pada skala kecil dapat dilakukan dengan bahan minyak goreng 1 liter
yang baru atau bekas. Methanol sebanyak 200 ml atau 0.2 liter. Soda api
atau NaOH 3,5 gram untuk minyak goreng bersih, jika minyak bekas
diperlukan 4,5 gram atau mungkin lebih. Kelebihan ini diperlukan untuk
menetralkan asam lemak bebas atau FFA yang banyak pada minyak
goreng bekas. Dapat pula mempergunakan KOH namun mempunyai
harga lebih mahal dan diperlukan 1,4 kali lebih banyak dari soda. Proses
pembuatan; Soda api dilarutkan dalam Methanol dan kemudian
dimasukan kedalam minyak dipanaskan sekitar 55 oC, diaduk dengan
cepat selama 15-20 menit kemudian dibiarkan dalam keadaan dingin
semalam. Maka akan diperoleh biodiesel pada bagian atas dengan warna
jernih kekuningan dan sedikit bagian bawah campuran antara sabun dari
FFA, sisa methanol yang tidak bereaksi dan glyserin sekitar 79 ml. Biodiesel
yang merupakan cairan kekuningan pada bagian atas dipisahkan dengan
mudah dengan menuang dan menyingkirkan bagian bawah dari cairan.
Untuk skala besar produk bagian bawah dapat dimurnikan untuk
memperoleh gliserin yang berharga mahal, juga sabun dan sisa methanol
yang tidak bereaksi.
Referensi
• An Overview of Biodiesel and Petroleum Diesel Lifecycles, May 1998, Sheehan, et
al. NREL (60pp pdf file)
• Business Management for Biodiesel Producers, January 2004, Jon Von Gerpen,
Iowa State University under contract with the National Renewable Energy
Laboratory (NREL)(210pp pdf file)
• Energy balances in the growth of oilseed rape for biodiesel and of wheat for
bioethanol, June 2000, I.R. Richards
• Life Cycle Inventory of Biodiesel and Petroleum Diesel for Use in an Urban Bus,
1998, Sheehan, et al. NREL (314pp pdf file)
• Algae - like a breath mint for smokestacks, January 11, 2006, Mark
Clayton, Christian Science Monitor
• Tyson, R.L. "2006 Biodiesel Handling and Use Guide Third Edition" (PDF).
• Biodiesel's Bright Future from the July–August issue of THE FUTURIST magazine.
• http://www.amazine.co/26971/bahan-bakar-diesel-7-perbedaan-antara-biodiesel-
solar/
• https://id.wikipedia.org/wiki/Biodiesel