Anda di halaman 1dari 14

PENGELOLAAN

METODE
PEMBELAJARAN
DAN ADULT
LEARNING
DENGAN
MODEL
BELAJAR PBL
Annisa Maulani A.
Johanes Paulus P.
M. Yudi Harahap
Putri Rahmadhani
Sari Rahmayani
Wirda Biladi
DEFINISI PROBLEM BASED
LEARNING
Problem Based Learning adalah lingkungan belajar
yang didalamnya menggunakan masalah untuk
belajar, yaitu sebelum pembelajaran mempelajari
suatu hal, mereka diharuskan mengidentifikasi
suatu masalah, baik yang dihadapi secara nyata
maupun telaah kasus.

PBL dapat juga didefinisikan sebagi sebuah


metode pembelajaran yang didasarkan pada
prinsip bahwa masalah (problem) dapat
digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan
atau mengintegrasikan ilmu (knownledge) baru.
Sikap dan keterampilan umum
yang perlu dikembangkan
dalam PBL di antaranya:
1. Kerja sama tim
2. Ketua kelompok
3. Mendengarkan
4. Menghargai pendapat
teman
5. Berpikir kritis
6. Belajar mandiri dan
menggunakan berbagai
sumber
7. Kemampuan presentasi
TAHAP-TAHAP DALAM PBL
Untuk dapat memperoleh hasil yang diharapkan,
maka terdapat langkah-langkah yang dilakukan
dalam metode PBL, yaitu:
1. Identifikasi masalah
2. Eksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki
3. Menetapkan hipotesis
4. Identifikasi isu-isu yang dipelajari
5. Belajar mandiri
6. Re-evaluasi dan penerapan pengetahuan
baru terhadap masalah
7. Pegkajian dan refleksi
PENULISAN SKENARIO DALAM
PBL
PBL bisa berhasil jika scenario yang digunakan
berkualitas tinggi.Pada sebagian besar kurikulum PBL,
fakultas tujuan pembelajaran dengan cermat. Menurut
Dolman et al. (1997) ada beberapa langkah yang bisa
dilakukan dalam membuat scenario yang efektif, yaitu
sebagai berikut:
1. Tujuan pembelajaran yang dicapai oleh mahasiswa
setelah mereka mempelajari scenario seharusnya
konsisten dengan tujuan pembelajaran dari fakultas.
2. Masalah yang diberikan seharusnya sesuai dengan
tahapan kurikulum dan tingkat pemahaman
mahasiswa.
3. Scenario menarik bagi mahasiswa atau relevan
dengan praktik di masa depan.
4. Ilmu-ilmu dasar harus dimasukkan dalam konteks
scenario klinik untuk mendorong integritas
pengetahuan.
5. Scenario seharusnya mengandung petunjuk
(cluei) guna memberi stimulus diskusi dan
memotivasi mahasiswa untuk mencari
penjelasan dari isu-isu yang dipresentasikan.
6. Masalah seharusnya benar-benar terbuka
sehingga diskusi tidak berhenti di tengah jalan.
7. Scenario seharusnya mendorong partisipasi
mahasiswa dalam mencari informasi dari
berbagai referensi.
PERAN PARTISIPASI DALAM PBL
Peran Partisipan dalam 2. Tutor
tutorial PBL (Norman dan a. Memotivasi semua
Schmidt, 2000), yaitu: anggota kelompok
untuk berpartisipasi
1. Notulen
b. Membantu ketua dalam
a. Mencatat poin-poin diskusi yang dan yang
yang dibuat oleh dinamis dan waktu yang
kelompok tersedia
b. Membantu c. Memeriksa
keleompok notulendalam
membuat catatan yang
mengungkapkan tepat
pemikiannya d. Memastikan kelempok
c. Mencatat sumber – mencapai
sumber yang pembelajaran tujuan
digunakan dalam e. Memeriksa
kelompok. pemahaman
f. Menilai kinirja.
3. Ketua 4. Anggota kelompok
a. Memimpin keleompok a. Mengikuti langkah-
melalui proses langkah yang
b. Memotivasi anggota ditetapkan
untuk berpartisipasi
b. Berpartisiipasi dalam
c. Mempertahan
diskusi
kedamisan keleompok
c. Mendengarkan dan
d. Memastikan
sesuaiwaktu yang menghargaipendap
ditetapkan at teman
e. Memastikan d. Memberikan
keleompok pertanyaan terbuka
mengerjakan tugas e. Menganalisi semua
yang ditentukan tujuan
f. Memastikan notulen pembelajaran
dapat mengikuti dan
f. Berbagai informasi
membuat catatan
yang akurat dengan yang lain.
KELEBIHAN DALAM PBL
a. PBL berpusat pada mahasiswa: memotivasi pembelajaran
aktif, meningkatkan pemahaman dan menstimulus
seseorang untuk terus belajar selama hidupnya.
b. Kompetensi umum: PBL memfasilitasi mahasiswa untuk
mengembangkan sikap dan keterampilan umum yang
dikehendaki di masa mendatang.
c. Integrasi: PBL memfasilitasi integrasi kurikulum inti.
d. Motivasi: PBL menyenangkan bagi tutor dan mahasiswa
serta prosesnya melibatkan mahasiswa dalam proses
pembelajaran.
e. Pembelajaran mendalam: PBL meningkatkan pemahaman
mandala (mahasiswa berinteraksi dengan bahan-bahan
pembelajaran, menghubungkan konsep dengan aktivitas
sehari-hari, dan meningkatkan pemahaman mahasiswa).
f. Pendekatan konsruktif: mahasiswa aktif berdasarkan
pengetahuan dan membangunkan kerangka konseptual
dari pengetahuan tersebut.
KEKURANGAN DALAM PBL
a. Tutor yang tidak dapat mengajar: tutor merasa nyaman
dengan metode tradisional sehingga kemungkinan PBL
akan terasa membosankan dan sulit.
b. Sumber daya manusia: lebih banyakstaf yang terlibat
dalam proses tutorial.
c. Sumber-sumber lain: sebagian besar mahasiswa
memerlukan akses pada perpustakaan yang sama dan
internet secara bersamaan pula.
d. Model peran: kemungkinan mahasiswa mengalami
kekurangan akses pada dosen yang berkualitas dimana
dalam kurikulum tradisional memberikan kuliah dalam
kelompok besar.
e. Informasi berlebihan: mahasiswa kemungkinan tidak
yakin dengan seberapa banyak belajar mandiri yang
diperlukan dan informasi apa yang relevan dan
berguna.
EVALUASI DALAM PBL
Untuk mengetahui apakah metode PBL berhasil atau
tidak, maka dilakukan proses evaluasi/penilaian.
Dalam pembelajaran yang berorientasi pada proses,
terdapat dua komponen pokok yang perlu
diperhatikan dalam proses evaluasi, yaitu:
a. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa
b. Proses belajar yang dilakukan mahasiswa
Tutor memberikan umpan balik atau menggunakan
prosedur penilaian formatif dan sumatif sesuai dengan
aturan penilaian dari fakultas. Hal ini juga membantu
dalam mempertimbangkan penilaian kelompok
secara keseluruhan.
CONTOH SKENARIO DALAM
PBL
Eric, anak usia 18 bulan, di bawa kebagian
gawat darurat pada pukul 16.30 oleh
ibunya. Ia muntah-muntah dan mengalami
diare selama 48 jam terakhir. Ia juga
demam dan wajahnya kemerahan dan
lemah. Ia baru saja dimasukkan ke unit
Anak. Anda adalah perawat yang
memasukkan ke unit tersebut. Ia tidak mau
di lepas dari ibunya dan menangis saat
anda mendekatinya.