Anda di halaman 1dari 10

ERLANGGA PRATAMA NASIR

M011191226
 Menjelaskan dengan tepat karakteristik dan perbedaan
sistem campuran: larutan, koloid dan suspensi
 Mengetahui cara menyatakan konsentrasi dan
menggunakan satuan-satuan konsentrasi: persen,
normalitas, molaritas, molalitas, fraksi mol, ppm,
formalitas
 Menjelaskan karakteristik sifat koligatif larutan
 Mengetahui sifat khas partikel koloid dan cara
pembuatan sistem koloid
Pelarut adalah zat/komponen, umumnya berwujud cair yang
jumlahnya lebih banyak sedangkan zat terlarut adalah zat/komponen baik
yang berwujud gas, cair maupun padatan yang jumlahnya lebih kecil
sehingga terbentuk larutan homogen. Larutan yang pelarutnya berwujud
padatan dan zat terlarutnya juga berwujud padatan disebut paduan,
misalnya kuningan merupakan larutan yang terdiri atas seng dan tembaga.
Meskipun larutan dapat mengandung banyak komponen tetapi pada
kesempatan ini hanya dibahas larutan yang mengandung dua komponen
yaitu larutan biner. Komponen dari larutan biner yaitu zat terlarut dan
pelarut.
Contoh Larutan Biner

Zat terlarut Pelarut Komponen


 Gas Gas Udara, semua campuran gas
 Gas Cair Karbondioksida dalam air
 Gas Padat Hidrogen dalam platina
 Cair Cair Alkohol dalam air
 Cair Padat Raksa dalam tembaga
 Padat Padat Perak dalam platina
 Padat Cair Garam dalam air
Yang dimaksud dengan kelarutan adalah nilai batas kemampuan
pelarut dalam volume tertentu (biasanya 1 dm3) untuk melarutkan zat
terlarut pada suhu 25oC, tekanan 1 atm yang menghasilkan larutan
homogen (Sistem yang homogen).
Jumlah zat telarut dalam larutan atau dalam pelarut pada volume/berat
tertentu itu disebut konsentrasi. Berdasarkan nilai konsentrasi itu larutan
dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu larutan encer dan pekat.
Khusus untuk keadaan dimana tidak terdapat batas kelarutan zat
terlarut misalnya larutan etanol dalam air atau sebaliknya, maka larutan
encer adalah larutan yang berat (volume) zat terlarut lebih kecil daripada
setengah berat (volume) pelarutnya sedangkan larutan dikatakan pekat bila
berat (volume) zat terlarut sama atau lebih besar daripada setengah berat
(volume) zat pelarutnya dan maksimum sama dengan zat pelarutnya.
Pada pembicaraan masalah larutan itu timbul permasalahan yaitu (1)
bagaimana menyatakan perbandingan antara zat terlarut dan pelarut, (2)
wujud senyawa, zat atau komponen pembentuk larutan tidak sama, (3)
jumlah maksimum zat terlarut dalam jumlah tertentu pelarut yang masih
dapat membentuk larutan homogen, (4) jumlah zat terlarut yang dinyatakan
sebagai massa, mol, massa ekuivalen, massa formula. Namun demikian,
sebelum membicarakan masalah konsentrasi larutan perlu dijelaskan
terlebih dahulu masalah massa ekuivalen.
Massa ekuivalen adalah massa dalam satuan gram suatu
zat/senyawa/unsur yang diperlukan untuk memberikan atau bereaksi
dengan satu mol proton (H+) sedangkan pada reaksi redoks yang dimaksud
dengan massa ekuivalen adalah massa dalam satuan gram suatu
zat/senyawa/unsur yang diperlukan untuk memberikan atau menerima satu
mol elektron.
Untuk menyatakan perbandingan antara zat terlarut dan pelarut dalam
larutan homogen, ada beberapa cara yaitu dinyatakan dalam: (1). (%), (2).
M (Molaritas), (3). m (Molalitas), (4). N (Normalitas) (5). Fraksi mol (X),
(6). ppm, dan (7). Formalitas (F). Masalah tersebut akan dibahas secara
rinci berikut ini.

a) Presentase
Ada beberapa kriteria untuk menyatakan jumlah zat terlarut dalam
satuan persen yaitu: % b/b, % b/v, % v/b, atau % v/v. Jadi, zat terlarut
maupun pelarut dapat diukur volume maupun massanya bergantung pada
wujud maupun kepraktisan mengukurnya. Oleh sebab itu, dalam
menyatakan % larutan itu hendaknya dicantumkan sistemnya yaitu, b/b,
bb/v, v/b, atau v/v.
Contoh :
Larutan natrium klorida 5% (b/v), ini berarti 5 gram NaCl padat
dilarutkan dan larutannya dijadikan 100mL. demikian juga alkohol 5%
(v/v),. Tetapi untuk pemakaian yang lebih eksak sebaiknya dipakai persen
(b/b). Per definisi yang dimaksud dengan % b/b disini adalah: Garam
dalam 100gram larutan.

b) Molaritas (M)
Molaritas atau molar disingkat dengan M, didefinisikan sebagai
jumlah mol zat terlarut setiap volume tertentu (1 dm3) larutan. Secara
sederhana, molar dinyatakan sebagai berikut: