Anda di halaman 1dari 59

UNDANG-UNDANG

NO. 1 TAHUN 1970


TENTANG
KESELAMATAN KERJA
Lembaran Negara No. 1 Tahun 1970
(Tambahan Lembaran Negara No. 1918)
SEJARAH PERATURAN
KESELAMATAN KERJA

 Undang Undang tentang perawatan kesehatan dan moral pekerja


pabrik pada tahun 1802 diamandemen pada tahun 1833 dan
menghendaki adanya suatu instansi pengawasan dari
pemerintah.
 Undang Undang Pabrik (Factory Act) 1844 : kewajiban
pengawasan mesin, penyediaan pengaman dan kewajiban
melaporkan kecelakaan kerja yang terjadi.
 Pada tahun 1841 di Prancis dikeluarkan peraturan tentang
perlindungan tenaga kerja anak dalam industri yang
mempergunakan tenaga mekanik, ini merupakan cikal bakal UU
yang mengatur secara tegas keselamatan kerja yg dikeluarkan
pada tahun 1893.
 Rusia pada tahun 1845 SE. Pengawasan kesehatan kerja di
pabrik.
 Tahun 1853 pemerintah Jerman membuat UU yang
memberikan kewenangan pemerintah untuk mengawasi K3
anak di pusat2 industri, disusul pada tahun 1869 dibuat
ketentuan umum perlindungan pekerja terhadap kecelakaan
kecelakaan dalam industri dan PAK.
 Di Jerman pula pada tahun 1872 dikeluarkan sistem
pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja , Pada tahun
1878 dikeluarkan UU tentang Pengawasan Pabrik di seluruh
negara bagian Jerman. Pada Tahun 1884 dibuat peraturan
tentang asuransi kecelakaan kerja.
 Di Belgia pada tahun 1810 dikeluarkan UU mengenai tambang,
peleburan logam dan jenis usaha yang sama.
PERKEMBANGAN PENGATURAN K3 DI INDONESIA

 Pada Tahun 1847 Pemerintah Hindia Belanda membuat aturan


yang bertujuan untuk melindungi *tenaga kerja dari bahaya
kebakaran yang ditimbulkan oleh pesawat uap.
* tenaga kerja belanda yang bekerja di perush2 wilayah
jajahan belanda
 Tahun 1905 pemerintah mengeluarkan peraturan keselamatan
kerja Staatsblad No. 521 (VR 1905) kemudian diperbaharui di
tahun 1910 dgn Staatsblad No. 406
DASAR HUKUM
UUD 1945 Pasal 27 ayat (2)
“Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.”

UU. No. 14 tahun 1969


Tentang ketentuan pokok ketenagakerjaan
Pasal 9 : Tiap tenaga kerja berhak mendapatkan atas keselamatan,kesehatan,
kesusilaan, pemeliharaan moral kerja, serta perlakuan yang sesuai
dengan martabat dan moral agama.
Pasal 10 : Pemerintah membina norma perlindungan tenaga kerja yang meliputi
Norma keselamatan kerja, Norma kesehatan kerja dan Higiene
perusahaan, Norma kerja dan Pemberian ganti rugi, perawatan dan
rehabilitasi dalam kecelakaan kerja

UU NO. 1 TAHUN 1970


Tentang
Keselamatan Kerja
DASAR HUKUM
UUD 1945 Pasal 27 ayat (2)
“Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.”

UU. No. 13 tahun 2003


Tentang Ketenagakerjaan
Pasal 89 : (1.a) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan
atas keselamatan dan kesehatan kerja.
(2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan
produktivitas kerja yang optimal diselengarakan upaya keselamatan dan
kesehatan kerja

UU NO. 1 TAHUN 1970


Tentang
Keselamatan Kerja
Latar Belakang dikeluarkannya
UU No.1 tahun 1970
Sebelum dikeluarkanya Undang-Undang No.1 tahun 1970 di
Indonesia sebenarnya sudah terdapat peraturan yang mengatur
tentang keselamatan kerja yaitu Veiligheids Reglement (VR) Stbl.
406 tahun 1910 sebagai warisan dari pemerintah HIndia Belanda,
perkembangan yang terjadi di masyarakat, peraturan tersebut dinilai
tidak sesuai lagi dan perlu diadakan perubahan.
Hal-hal yang mendasar tentang ketidaksesuaian dimaksud antara
lain meliputi :

a. Veiligheids Reglement Stbl.406 tahun 1910 (VR) dinilai tidak


sesuai dengan perkembangan peraturan perlindungan tenaga
kerja yaitu dengan berlakunya UU No. 14/1969 dimana dalam
peraturan tersebut dinyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak
mendapat perlindungan atas keselamatan dan kesehatannya.
b. Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja tidak hanya
terbatas pada tenaga kerja yang bekerja di pabrik dan
bengkel saja sebagaimana diatur dalam VR, akan tetapi
setiap orang yang berada di tempat kerja berhak mendapat
perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerjanya.

c. Teknik, teknologi dan penerapannya, industrialisasi,


administrasi pemerintah dan kondisi serta situasi tenaga
kerja telah berkembang pesat. Di dalam beberapa hal VR
tidak mampu menampung perkembangan tersebut.
d. Sifat represif dan polisional pada VR dinilai kurang sesuai dan
kurang mendukung perkembangan ekonomi pada umumnya
dan penggunaan sumber-sumber produksi serta
penanggulangan kecelakaan pada khususnya, serta alam
negara Indonesia yang merdeka berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.

Perbedaan UU No. 1 tahun 1970 dan VR Stbl.406 tahun 1910 bila


dibandingkan antara UU No.1 tahun 1970 dengan VR Stbl.406 tahun
1910 maka terdapat beberapa perbedaan yang bersifat prinsip antara
lain :
a. Perluasan ruang lingkup ;
b. Perubahan pengawasan represif menjadi preventif ;
c. Perumusan teknis yang lebih tegas ;
d. Penyesuaian tata usaha ;
e. Tambahan pengaturan tentang pembinaan K3 bagi managemen dan TK ;
f. Pengaturan mendirikan P2K3 ;
g. Tambahan pengaturan tentang retribusi.
Bagian-bagian Undang-Undang No. 1 tahun 1970

Seperti halnya peraturan perundang-undangan lainnya maka UU No. 1 tahun


1970 mempunyai bagian-bagian pokok sebagai berikut :
a. Pembukaan, berisi pertimbangan-pertimbangan dikeluarkannya UU
No.1 tahun 1970 dan dasar hukumnya. Di dalam pertimbangan
sebenarnya telah tersirat tujuan dari upaya Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, yaitu sebagai aturan untuk menjamin hak tenaga
kerja mendapatkan perlindungan atas keselamatan dalam
melakukan pekerjaan, juga keselamatan orang lain yang berada di
tempat kerja, disamping menjamin setiap sumber produksi agar
dapat dipergunakan secara aman dan efisien.

b. Batang tubuh, berisikan ketentuan materinya yang dikelompokan dalam


10 bab dan 14 pasal.

c. Penutup, berisikan ketentuan tentang sanksi dan pasal peralihan. Bagian


ini terdiri dari 1 bab dan 4 pasal.
 PP
 Permenaker 04/87 &
 Kepmenaker 04/95 02/92
PJK3 02/89 P2K3 &
 Instruksi Menaker Instalasi Ahli K3
Penyalur
 SKB Menaker & Men Petir
PU 05/85
01/80 K3
Pswt
pada
Angkat konstruksi
186/1999 09/2010
Angkut Operator
Penanggu
langan Pswt
Kebakara Angkat &
n Angkut
UU
04/85
Pswt
No.1/70 04/80
Tenaga & APAR
Produksi

Ins/M/B/9
7 K3 SKB 174
Penanggu
02/82 01/82 & 104 / 86
langan K3
Kebakara
kwalifikasi Bejana Konstruksi
Juru Las
n Tekan
UU No.1 tahun 1970

OBJEK PERLINDUNGAN : a. Tenaga Kerja


b. Orang Lain
c. Sumber Produksi

SUSUNAN : 11 BAB
: 18 PASAL
: 33 AYAT
SISTIMATIKA :
UU NO.1 TAHUN 1970

BAB I. ISTILAH
II. RUANG LINGKUP
III. SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA
IV. PENGAWASAN
V. PEMBINAAN
VI. PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
VII. KECELAKAAN
VIII. KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA
IX. KEWAJIBAN BILA MEMASUKI TEMPAT KERJA
X. KEWAJIBAN PENGURUS
XI. KETENTUAN PENUTUP
 Pasal 1 ayat (1) :

“ Tempat Kerja” ialah tiap ruangan atau lapangan baik tertutup


maupun terbuka, bergerak, tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau
yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha
dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya,
sebagaimana dirinci dalam pasal 2. Termasuk tempat kerja adalah
semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang
merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat
kerja tersebut.

Penjelasan praktis :
Ciri-ciri tempat kerja pada dasarnya adalah tempat bekerja, dimana
terdapat 3 unsur pokok yaitu adanya tenaga kerja, adanya bahaya
kerja dan dilakukan suatu usaha.
Tenaga kerja disini tidak harus sehari-hari berada atau bekerja
dalam tempat kerja yang bersangkutan (sewaktu-waktu memasuki
ruangan untuk mengontrol, menyetel, menjalankan dan lain-lain).

Pengertian usaha disini tidak selalu mempunyai motif ekonomi atau


keuntungan, tetapi dapat juga merupakan usaha sosial.
 Pasal 1 ayat (2) :

Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin


langsung suatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri.

Penjelasan Praktis :

Ciri-ciri pengurus, adalah mempunyai kewajiban dan bertanggung


jawab terhadap pelaksanaan semua ketentuan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di tempat kerjanya.

Pengurus dalam pengertian umum adalah pucuk pimpinan suatu tempat


kerja yang berdiri sendiri.
 Pasal 1 ayat (3) :
Pengusaha adalah :
a. Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik
sendiri dan untuk keperluan itu menggunakan tempat kerja.
b. Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan
suatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu menggunakan
tempat kerja ;
c. Orang atau badan hukum yang di Indonesia mewakili orang atau
badan hukum termaksud pada (a) dan (b), jikalau yang diwakili
berkedudukan di luar Indonesia.

Penjelasan Praktis :

Pengertian pengusaha, adalah lain dengan pengertian pengurus.


Sebagaimana telah dijelaskan di atas yaitu kalau pengurus adalah
pimpinan tempat kerja sedangkan pengusaha adalah orang atau badan
hukum yang memiliki atau mewakili pemilik suatu tempat kerja. Bisa saja
pengusaha dan pengurus suatu tempat kerja adalah satu orang, yaitu
terutama pada perusahaan-perusahaan berskala kecil.
 Pasal 1 ayat (4) :

“Direktur adalah Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja


untuk melaksanakan Undang-Undang ini.”

Penjelasan Praktis :

Pengertian Direktur, dinyatakan cukup jelas seperti tertulis pada bunyi


ayat ini, tetapi untuk menghindarkan penafsiran yang keliru perlu
dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam prakteknya yang disebut Direktur
adalah Direktur Jendral Pembinaan Hubungan Industrial dan
Pengawas Ketenagakerjaan.
 Pasal 1 ayat (5) :

“Pegawai Pengawas” adalah pegawai teknis bekeahlian khusus


dari Depnaker yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.

Penjelasan Praktis :

Berkeahlian Khusus, artinya menguasai pengetahuan dasar dan praktis


pada bidang keilmuan yang menyangkut perlindungan keselamatan dan
kesehatan kerja dalam mengantisipasi bahaya kerja karena mesin,
peralatan, lingkungan dan lain-lain.

Keahlian Khusus yang dimaksud misalnya ahli K3 listrik, ahli K3


Pesawat Uap, ahli K3 radiasi, ahli K3 kimia, ahli K3 Penyelaman, ahli
K3 Kesehatan Kerja, yang hanya dapat diperoleh melalui proses
pendidikan. Oleh karena itu untuk dapat menjadi pegawai pengawas
harus terlebih dahulu mengikuti pendidikan tertentu.
Dalam perkembangannya, pengawas keselamatan dan kesehatan
kerja merupakan bagian atau spesialisasi tersendiri dari sistem
pengawasan ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Menaker No. 03 tahun 1984.
 Pasal 1 ayat (6) :

Ahli Keselamatan Kerja adalah tenaga teknis berkeahlian


khusus dari luar Depnaker yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga
Kerja untuk mengawasi ditaatinya Undang-undang ini.

Penjelasan Praktis :

Rumusan pengertian Ahli Keselamatan Kerja, pada ayat tersebut


tercakup juga Ahli Kesehatan Kerja.

Dari rumusan tersebut perlu dimengerti bahwa untuk pengawasan


terhadap pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1970, Disnaker dapat
melibatkan tenaga teknis dari luar Disnaker, baik yang berada di
instansi/lembaga pemerintah maupun swasta yang memenuhi
persyaratan, sebagaimana ditetapkan didalam Permen Tenaga Kerja
No. 02/MEN/1992.
Latar belakang pemikiran atau konsep tersebut adalah karena Disnaker
tidak mungkin mampu membentuk pegawai pengawas dalam jumlah
maupun kemampuan dalam berbagai bidang keahlian seperti contoh
diatas tadi sesuai dengan perkembangan teknologi, walaupun
pengawasan terhadap pelaksanaan UU No. 1 tahun 1970 dapat
dilakukan oleh tenaga dari luar Disnaker, namun Kebijaksanaan
Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja tetap berada pada Menteri
Tenaga Kerja.

Catatan :

Didalam ayat (5) dan (6) disebutkan bahwa yang mengangkat baik
pegawai pengawas maupun ahli keselamatan kerja adalah Menaker,
akan tetapi dalam pelaksanaannya diangkat oleh Dirjen Binawas sesuai
keputusan Mentri Tenaga Kerja, Trasmigrasi dan Kopersi No. Kep.
599/MEN/SJ/D/1979.
Untuk dapat ditunjuk sebagai ahli keselamatan dan kesehatan kerja
harus memenuhi persyaratan berpendidikan sarjana, sarjana muda atau
sederajat dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Sarjana dengan pengalaman kerja sesuai dengan bidang keahliannya
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun
2. Sarjana Muda atau sederajat dengan pengalaman kerja sesuai
dengan bidang keahliannya sekurang-kurangnya 4 tahun.
(Permenaker No.02/Men/1992 Pasal 3)
Keputusan penunjukan ahli keselamatan dan kesehatan kerja tidak
berlaku apabila :
a. Pindah tugas ke perusahaan atau instansi lain
b. Mengundurkan diri
c. Meninggal dunia

Dapat dicabut apabila :


a. Tidak memenuhi peraturan perundang undangan keselamatan dan
kesehatan kerja.
b. Melakukan kesalahan dan kecerobohan sehingga meninbulkan
keadaan berbahaya
c. Dengan sengaja dan atau kekhilafannya menyebabkan terbukanya
rahasia suatu perusahaan/instansi yang karena jabatannya wajib utuk
dirahasiakan.
 Pasal 2 ayat (1) :

Yang diatur oleh Undang-Undang ini adalah keselamatan kerja


dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di
permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang berada di
dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Penjelasan Praktis :

Didalam ayat ini ditetapkan ruang lingkup UU No.1 tahun 1970, yaitu
tempat kerja dimanapun berada, selama dalam wilayah kekuasaan
negara Republik Indonesia, baik milik swasta,perseorangan atau badan
hukum maupun milik pemerintah, yang memenuhi kriteria seperti tersebut
dalam pasal 1 ayat (1).
Tempat kerja tersebut mencakup semua tempat kegiatan
usaha baik yang bersifat ekonomis maupun sosial. Tempat
kerja yang bersifat sosial seperti ;

a. Bengkel tempat untuk pelajaran praktek ;


b. Tempat rekreasi
c. Rumah Sakit ;
d. Tempat ibadah ;
e. Tempat berbelanja dan pusat hiburan.
 Pasal 2 ayat (2) :
Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat
kerja dimana : ( huruf a s.d. r ) :
a. Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat perkakas, peralatan atau instalasi yang
berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau peledakan.
b. Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut atau disimpan bahan atau barang yang dapat
meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi.
c. Dikerjakan pembagunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran rumah, gedung atau
bangunan lainnya termasuk bangunan pengairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya
atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan.
d. dst

Penjelasan Praktis :
Ayat ini merinci jenis tahapan kegiatan dalam tempat-tempat kerja yang
termasuk pengertian tempat kerja sebagaimana dimaksud ayat (1) yaitu butir
a s.d. r dimana di dalamnya terdapat bahaya kerja yang berhubungan
dengan :

1. Keadaan mesin/ alat/ pesawat/ bahan


2. Lingkungan kerja
3. Sifat pekerjaan
4. Cara kerja
5. Proses produksi
 Pasal 2 ayat (3) :

Dengan peraturan perundangan dapat ditunjuk sebagai tempat kerja,


ruang-ruang atau lapangan lainnya yang dapat membahayakan
keselamatan atau kesehatan yang bekerja dan yang berada di
ruangan atau lapangan itu dan dapat dirubah rincian tersebut dalam
ayat (2).

Penjelasan Praktis :

Ayat ini memberikan kemungkinan untuk mengatur tempat kerja selain yang
telah ditetapkan dan mempunyai ciri-ciri di atas dalam penetapan ruang
lingkup UU No. 1 Tahun 1970 ini.

Sebab dimungkinkan untuk waktu yang akan datang ditemukan tempat kerja
baru selain yang terinci pada ayat (2).
 Pasal 3 ayat (1) :

Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat


keselamatan kerja untuk :
a. mencegah dan mengurangi kecelakaan
b. mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
c. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
d. ……. S.d. r

Penjelasan Praktis :

Ayat ini berisikan arah dan sasaran yang akan dicapai melalui persyaratan-
persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan pelaksanaan UU No. 1 tahun
1970 yaitu butir (a s.d. r) yang bilamana diambil intisarinya adalah untuk
mewujudkan tujuan keselamatan dan kesehatan kerja.
Tujuan K3 adalah :

1. Agar tenaga kerja dan setiap orang yang berada di tempat


kerja selalu dalam keadaan sehat dan selamat.
2. Agar sumber sumber produksi dapat dipakai dan dijalankan
secara efisien.
3. Agar proses produksi dapat berjalan secara lancar.
 Pasal 3 ayat (2) :

Dengan peraturan perundangan dapat diubah rincian seperti


tersebut dalam ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknik dan teknologi.

Penjelasan Praktis :

Ayat ini merupakan usaha yang memungkinkan untuk menambah rincian


dari apa yang telah ditetapkan pada ayat (1) sesuai dengan perkembangan
teknik dan teknologi serta penemuan-penemuan baru di kemudian hari.
 Pasal 4 ayat (1) :

Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat


keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan,
pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan,
pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan
bahan, barang produk teknis dan aparat produksi yang
mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.

Penjelasan Praktis :

Ayat ini menegaskan bahwa syarat atau ketentuan keselamatan dan


kesehatan kerja ditetapkan sejak tahap perencanaan, pembuatan,
pemakaian.

Dari ayat ini pula terlihat sifat preventif UU ini dan merupakan salah satu
perbedaan yang bersifat prinsipil bila dibandingkan dengan UU yang
digantikannya.
 Pasal 4 ayat (2) :

Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi


suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas dan
praktis yang mencakup bidang konstruksi, bahan, pengolahan dan
pembuatan, perlengkapan alat-alat perlindungan, pengujian dan
pengesahan, pengepakan atau pembungkusan, pemberian tanda-
tanda pengenal atas bahan, barang, produk teknis dan aparat
produksi guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri,
keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan
umum.

Penjelasan Praktis :

Ayat ini menjelaskan isi dari setiap ketentuan atau syarat keselamatan dan
kesehatan kerja yaitu akan berisi prinsip-prinsip teknis ilmiah yang mengatur
tentang konstruksi, bahan dan lain sebagainya.
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pola penerapan K3
Psl 4

Pemeriksaan/ Pemeriksaan/ Test


perhitungan pengujian
teknis Berkala

-Pemasangan
-Pembuatan - Pemakaian
-dll
- Peredaran
Perencanaan
- Pengangkutan

Pengesahan Pengesahan Termasuk


gambar rencana Pemakaian produk
dari Luar
Negeri
 Pasal 4 ayat (3) :

Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti


tersebut dalam ayat (1) dan (2), dengan peraturan perundangan
ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan mentaati syarat-
syarat keselamatan tersebut.

Penjelasan Praktis :

Ayat ini merupakan kekecualian ayat (1) dan (2) apabila terjadi
perkembangan-perkembangan di kemudian hari.
 Pasal 5 ayat (1) :
Direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap Undang-Undang
ini, sedangkan para pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja
ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya
Undang-Undang ini dan membantu pelaksanaannya

Penjelasan Praktis :

Ayat ini menjelaskan tugas pokok Direktur yaitu sebagai pelaksana umum
UU No. 1 tahun 1970 dan tugas pokok pegawai pengawas serta ahli
keselamatan kerja yaitu mengawasi langsung terhadap ditaatinya UU ini dan
peraturan pelaksananya.

 Pasal 5 ayat (2) :


Wewenang dan kewajiban direktur, pegawai pengawas dan ahli
keselamatan kerja dalam melaksanakan UU ini diatur dengan
peraturan perundangan.
 Pasal 6 :

(1) Barang siapa tidak dapat menerima keputusan direktur dapat


mengajukan permohonan banding kepada Panitia Banding.
(2) Tata cara permohonan banding, susunan panitia banding dan lain-
lainnya ditetapkan oleh menteri Tenaga Kerja.
(3) Keputusan Panitia Banding tidak dapat dibanding lagi.

Penjelasan Praktis :
Pasal ini mengatur tentang Panitia Banding yaitu sebagai upaya hukum dan
mekanisme penyelesaian persoalan apabila pengurus tempat kerja tidak
dapat menerima putusan direktur .

Keputusan Panitia Banding tidak dapat diajukan banding lagi artinya


mengikat.

Susunan Panitia Banding akan ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja .


 Pasal 7 :

Untuk pengawasan berdasarkan Undang-Undang ini pengusaha


harus membayar retribusi menurut ketentuan-ketentuan yang akan
diatur dengan peraturan perundangan.

Penjelasan Praktis :

Pasal ini mengatur kewajiban pengusaha untuk membayar retribusi yaitu


sejumlah uang sebagai imbalan jasa pengawasan yang dilakukan oleh
pemerintah.

(Perda Kota Bandung No. 19 Tahun 2002 tentang Retribusi


Ketenagakerjaan) *

* Tidak diberlakukan.
 Pasal 8 ayat (1) :

Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi


mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan
diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat
pekerjaan yang diberikan padanya.

Penjelasan Praktis :
Ayat ini menetapkan kewajiban pengurus untuk memeriksakan kesehatan
badan, kondisi mental dan kesehatan fisik baik secara awal bagi tenaga
kerja yang baru diterimanya ataupun dipindahkan ke tempat/bagian lain.

Ayat ini menghendaki penyesuaian kemampuan fisik dan mental tenaga


kerja dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk mendapatkan
produktivitas yang tinggi dan menghargai harkat dan martabat tenaga kerja.
Permenakertrans No. Per. 02/Men/1980

Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja ditujukan agar tenaga


kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan yang
setinggi tinginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan
mengenai tenaga kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang
akan dilakukan sehingga keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja yang bersangkutan dan tenaga kerja lainnya dapat terjamin.
 Pasal 8 ayat (2) :

Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang


berada di bawah pimpinannya, secara berkala pada dokter yang
ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan oleh Direktur.

Penjelasan Praktis :

Ayat ini menjelaskan disamping untuk mengetahui kemampuan fisik dan


mental tenaga kerja, pemeriksaan kesehatan secara berkala ini juga
bertujuan untuk mendeteksi secara dini timbulnya penyakit akibat kerja.

Ketentuan ini juga menunjukkan sifat preventif dari UU ini dan menjamin
adanya usaha perlindungan di bidang kesehatan dilakukan secara
profesional dan bertanggung jawab.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala dimaksudkan untuk
mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja sesudah
berada dalam pekerjaannya, serta menilai kemungkinan
adanya pengaruh pengaruh dari pekerjaan seawal mungkin
yang perlu dikendalikan dengan usaha usaha pencegahan.
 Pasal 8 ayat (3) :

Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan


peraturan perundangan.

Penjelasan Praktis :

Pengujian kesehatan terutama untuk pemeriksaan kesehatan baik awal


maupun secara berkala dilakukan sesuai dengan lingkungan tempat kerja
dimana tenaga kerja tersebut akan ditempatkan.
 Pasal 9 ayat (1) :
Pengurus diwajibkan menunjukan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja
baru tentang :
a. kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam
tempat kerjanya.
b. semua pengaman dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam
tempat kerjanya.
c. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan.
d. cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.

Penjelasan Praktis :

Kewajiban pengurus untuk melakukan pembinaan terhadap tenaga kerja


baru yaitu menunjukan dan menjelaskan 4 (empat) hal pokok tersebut diatas
yang harus dipahami, diketahui dan dilaksanakan oleh tenaga kerja yang
baru diterima sebelum dipekerjakan.
 Pasal 9 ayat (2) :
Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan
setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat
tersebut diatas.

Penjelasan Praktis :

Inti dari ayat ini adalah pengurus tidak dapat mempekerjakan tenaga kerja
yang baru diterima sebelum tenaga kerja yang bersangkutan memahami 4
hal dimaksud dalam ayat (1).

 Pasal 9 ayat (3) :


Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga
kerja yang berada di bawah pimpinannya dalam pencegahan kecelakaan
dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan
kesehatan kerja, pula dalam pemberian pertolongan pertama pada
kecelakaan.
Penjelasan Praktis :
Pengurus juga wajib melakukan pembinaan bagi tenaga kerjanya secara
berkala tentang :
a. pencegahan kecelakaan
b. pemadaman kebakaran
c. pertolongan pertama pada kecelakaan
d. Hal-hal lain dalam rangka peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja
di tempat kerjanya.

 Pasal 9 ayat (4) :


Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan
ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang
dijalankannya.

Penjelasan Praktis :

Inti dari ayat ini adalah pengurus harus terus secara berkesinambungan
untuk melaksanakan usaha-usaha atau kegiatan-kegiatan yang dapat
meningkatkan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat
kerja.
 Pasal 10 ayat (1) :
Menteri Tenaga Kerja berwenang membentuk Panitia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja guna mengembangkan
kerjasama, saling pengertian dan partisipasi efektif dari
pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat
kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban dibidang
keselamatan dan kesehatan kerja, dalam rangka melancarkan usaha
berproduksi.

Penjelasan Praktis :

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan kepentingan dan kewajiban


semua pihak, khususnya pengurus dan tenaga kerja. Menteri berwenang
membentuk P2K3 pada tempat-tempat kerja tertentu, sebagai wadah guna
memperkembangkan kerjasama, saling pergertian dan partisipasi efektif dari
pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan
kewajiban bersama di bidang keselamatan dan kesehatan kerja, serta dalam
rangka melancarkan usaha produksi.
 Pasal 10 ayat (2) :
Susunan P2K3, tugas dan lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga
Kerja.

Penjelasan Praktis :

Dalam ayat ini disebutkan bahwa susunan, tugas dan lain-lainnya yang
berkaitan dengan P2K3 akan ditetapkan oleh Menaker.
Untuk itu telah diatur dalam Peraturan Menteri sebagaimana tersebut
diatas, No. 04/Men/1987.

 Pasal 11 ayat (1) :

Pengurus wajib melaporkan setiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat


kerja yang dipimpinnya, pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga
kerja
Proses: Pembentukan P2K3
Permen No. 04/Men/1987 - Pasal 3

Organisasi P2K3 yang efektif harus tersusun dari perwakilan perusahaan


dan sejumlah karyawan / pekerja.

• Susunan Keanggotaan P2K3 :


– Unsur Pengusaha/Pengurus
– Unsur Pekerja
• Susunan Pengurus P2K3 :
- Ketua
- Sekretaris
- Anggota

• Persyaratan Sekretaris P2K3 :


• AHLI K3 dari Perusahaan Ybs

Ketua P2K3 seyogyanya adalah top manajemen disuatu tempat kerja atau sekurang-
kurangnya manajemen yang terdekat dengan pimpinan puncak, sedang Sekretaris
P2K3 adalah tenaga profesional K3 yaitu manajer K3 atau ahli K3.
 Pasal 11 ayat (2) :

Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai


termaksud dalam ayat (1) diatur dengan peraturan perundangan.

Penjelasan Praktis :

Pasal ini menetapkan kewajiban pengurus untuk mencatat dan


melaporkan kecelakaan yang membawa korban dan terjadi ditempat
kerja yang dipimpinnya.
Namun demikian untuk upaya pencegahan kecelakaan yang serupa
maka pengurus juga diwajibkan mencatat dan menganalisa kecelakaan-
kecelakaan yang tidak membawa korban manusia disamping kecelakaan
yang membawa korban.
 Pasal 12 :

Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja
untuk :

a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas


dan atau ahli keselamatan dan kesehatan kerja.
b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.
c. Memenuhi dan mentaati semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja
yang diwajibkan.
d. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat-syarat
keselamatan dan kesehatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang
diwajibkan, diragukan olehnya, kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan
oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat
dipertanggungjawabkan.
e. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan
dan kesehatan kerja yang diwajibkan.
Penjelasan Praktis :

Didalam pasal ini secara jelas dan tegas diatur kewajiban dan hak tenaga
kerja. Oleh karena itu, apabila tenaga kerja tidak melaksanakan
kewajibannya atau mentaati syarat-syarat keselamatan dan kesehatan
kerja dapat dikenakan sanksi hukum sesuai dengan pasal 15 Undang-
undang No. 1 tahun 1970.

 Pasal 13 :
Barangsiapa akan memasuki suatu tempat kerja, diwajibkan mentaati
semua petunjuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan memakai alat-
alat perlindungan yang diwajibkan.

Penjelasan Praktis :

Menetapkan bahwa siapapun dalam hal ini orang lain selain tenaga
kerja akan memasuki suatu tempat kerja harus mentaati dan
melaksanakan ketentuan yang berlaku bagi tempat kerja tersebut,
termasuk pemakaian alat pelindung diri yang diwajibkan.
 Pasal 14 ayat (2) :

Pengurus diwajibkan :
a. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua
syarat keselamatan kerja yang diwajibkan, sesuai Undang-Undang ini dan
semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang
bersangkutan, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca dan
menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan dan kesehatan
kerja.
b. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinya, semua gambar
keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya,
pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk
pengawas atau ahli keselamatan dan kesehatan keja.
c. Menyediakan secara cuma-cuma, semua alat perlindungan diri yang
diwajibkan pada tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya dan
menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut,
disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai
pengawas atau ahli keselamatan dan kesehatan kerja.
Penjelasan Praktis :

Pasal ini menetapkan kewajiban pengurus untuk secara tertulis


menempatkan Undang-Undang No.1 tahun 1970 dan peraturan-peraturan
lain dan gambar-gambar keselamatan dan kesehatan kerja yang sesuai
dengan jenis dan sifat pekerjaan pada tempat kerja yang bersangkutan.
Bahan-bahan tersebut dimaksudkan sebagai bahan pembinaan dan
peringatan bagi siapapun yang berada ditempat kerja tersebut, disamping
itu pengurus wajib menyediakan alat perlindungan diri secara cuma-cuma
bagi siapapun yang memasuki tempat kerja.

 Pasal 15 ayat (1) :


Pelaksanaan ketentuan tersebut pada pasal-pasal diatas diatur lebih lanjut
dengan peraturan perundangan.
Penjelasan Praktis :

Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa sebagian besar ketentuan yang ada
didalam Undang-Undang No.1 tahun 1970 masih bersifat pokok yang masih
perlu diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan.
 Pasal 15 ayat (2) :

Peraturan Perundangan tersebut pada ayat (1) dapat memberikan ancaman


pidana.
Penjelasan Praktis :

Menetapkan sanksi bagi pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 1 tahun


1970 dan peraturan pelaksanaannya, yaitu :
a. Hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan, atau
b. Denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).

 Pasal 15 ayat (3) :


Tindak pidana tersebut adalah pelanggaran.

Penjelasan Praktis :

Adalah mengklasifikasikan pelanggaran dimaksud sebagi tindakan pidana


pelanggaran.
 Pasal 16 :

Pengusaha yang mempergunakan tempat-tempat kerja yang sudah ada


pada waktu Undang-Undang ini mulai berlaku wajib mengusahakan didalam
satu tahun sesudah Undang-Undang ini mulai berlaku , untuk memenuhi
ketentuan-ketentuan menurut atau berdasarkan Undang-Undang ini.

Penjelasan Praktis :

Pasal ini diwajibkan kepada pengusaha untuk memenuhi ketentuan Undang-


Undang No. 1 tahun 1970 paling lama (satu) tahun setelah Undang-Undang
No. 1 tahun 1970 diundangkan, yaitu tanggal 12 Januari 1970.

 Pasal 17 :

Selama peraturan perundangan untuk melaksanakan ketentuan dalam


Undang-Undang ini belum dikeluarkan, maka peraturan dalam bidang
keselamatan kerja yang ada pada waktu undang-undang ini berlaku, tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.
Penjelasan Praktis :

Merupakan pasal yang mengatur tentang peralihan yaitu memberlakukan


kembali semua peraturan perundangan yang telah ada selama tidak
bertentangan dengan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ini, antara lain :
a. Peraturan Khusus.
b. Undang-Undang dan Peraturan Uap.
c. Undang-Undang dan Peraturan Petasan
d. Undang-Undang dan Peraturan Rel Industri.
e. Undang-Undang dan Peraturan Timah Putih Kering.

 Pasal 18 :
Undang-Undang ini disebut “Undang-Undang Keselamatan Kerja.”

Penjelasan Praktis :

Menetapkan nama pemyebutan dari Undang-Undang No. 1 tahun 1970,


yaitu Undang-Undang Keselamatan Kerja dan mulai berlaku pada hari
diundangkannya dalam lembaran negara R.I. No. 1 tanggal 12 Januari
1970.