Anda di halaman 1dari 87

HUKUM PERIKATAN

Kopel : HKK 612304


Dosen Pengajar : Dr. M. Fakih, S.H., M.S.
Aprilianti, S.H., M.H.
Dwi Pujoprayitno, S.H., M.H.
Torkis Lumban Tobing, S.H., M.H.
Nila Nargis, S.H., M.H.
Sepriadi Adhan, S.H., M.H.
Yulia Kusumawardani, S. H., L.Lm
Dewi Septiana, S.H.
Selvia Oktaviana, S.H., M.H.
Dita Febrianto, S.H., M.H.
Zulfikar, S.H., M.H
Ruang Kuliah : D2, D3, B2, B3.
Pembagian Kelas:
1. Gedung D2:

2. Gedung D3:

3. Gedung B2 :

4. Gedung B3 :
Literatur/Buku-Buku Wajib:
1. Hukum Perikatan (perikatan Pada Umumnya), oleh: J. Satrio.
2. Hukum Perikatan yang Lahir dari Undang-Undang (Bagian Pertama),
oleh; J. Satrio.
3. Hukum Perikatan yang Lahir dari Undang-Undang (Bagian Kedua), oleh;
J. Satrio.
4. Hukum Perikatan yang Lahir dari Perjanjian (Bagian Pertama), Oleh:
J. Satrio.
5. Hukum Perikatan yang Lahir dari Perjanjian (Bagian Kedua),Oleh:
J. Satrio.
6. Hukum Perikatan, Oleh: Abdulkadir Muhammad.
7. Hukum Perdata Indonesia, Oleh: Abdulkadir Muhammad.
8. Perjanjian Baku dalam Praktik Perusahaan Perdagangan, Oleh:
Abdulkadir Muhammad.
9. Dasar-dasar Hukum Perikatan, Oleh: Purwahid Patrik.
10.Hukum Perhutangan (Bagian A), Oleh Sri Soedewi Masjchoen Sofwan.
11.Hukum Perhutangan (Bagian B), Oleh Sri Soedewi Masjchoen Sofwan.
12.Hukum Tentang Perikatan (dalam Teori dan Yurisprudensi), Oleh: Van der
Burgh.
13.Hukum Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Oleh: Kartini Muljadi dan
Gunawan Wijaja.
14.Memahami Prinsip Keterbukaan (Aanvullend Recht) dalam Hukum
Perdata, oleh Gunawan Wijaja.
15.Hukum Perjanjian, Oleh Wirjono Projodikoro.
16.Hukum Perjanjian, Oleh: Subekti.
17.Aneka perjanjian, Oleh: Subekti.
18.Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, Oleh: Riduan Syahrani.
19.Hukum Kontrak Perancangan Kontrak, Oleh: Ahmadi Miru.
20.Hukum Kontrak (Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak), Oleh: Salim, H.S.
21.Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Oleh: Salim, H.S.
ISTILAH & PENGERTIAN PERIKATAN

PENGATURAN & SUMBER HK PERIKATAN

KETENTUAN UMUM & KHUSUS

SUBYEK & OBYEK PERIKATAN


VAN
VERBINTENISSEN
MACAM-MACAM PERIKATAN

PRESTASI & WANPRESTASI

PENGERTIAN KERUGIAN

KEADAAN MEMAKSA (OVERMACHT/FORCE


MAJEURE) & RISIKO
KONSEP DASAR PERIKATAN,
PERJANJIAN DAN PERSETUJUAN

• PERIKATAN: VERBINTENIS

• PERJANJIAN: OVEREENKOMS (CONTRACT)

• PERSETUJUAN: TOESTEMMING
PERBUTAN
VERBINTENIS (JUAL BELI,
HIBAH)

MENGIKAT KRN KEJADIAN


PERIKATAN
PERISTIWA HK LAHIR, MATI

HUBUNGAN HK KEADAAN,
(RECHSVERHOUDING) (PEKARANGAN
BERDAMPINGAN)
Hubungan hukum tsb minimal 2 pihak, yaitu;
1. kreditur (berpiutang)  berhak menuntut prestasi
2. debitur (berhutang)  berkewajiban untuk memenuhi prestasi

HUBUNGAN HK
(RECHSVERHOUDING)

RIGH & OBLIGATION RIGHT & OBLIGATION

P
R
E
S K
D T R
E A E
B S D
I I I
T
T
O
O
R
R
MEMBERI SESUATU

PRESTASI PASAL
MRPK OBYEK BERBUAT SESUATU 1234
PERIKATAN BW

TIDAK BERBUAT SESUATU


PERJANJIAN
(Ps.1313 BW)

UU SAJA
PERIKATAN (Ps.104,625
BW)

PERBUATAN
UNDANG- MRT HK
UNDANG (Ps.1354,
(Ps. 1325 UU & 1359 BW)
BW) PERBUATAN
MANUSIA
(Ps.1353 PERBUATAN
BW) MELAWAN
HK (Ps.1365
BW)
KONSEP & PENGERTIAN HK PERJANJIAN

SYARAT SAHNYA & MOMENTUM TERJADINYA PERJANJIAN

KETENTUAN UMUM DLM HK PERJANJIAN

AKIBAT PERJANJIAN

HK PERJANJIAN BERAKHIRNYA PERJANJIAN

PENAFSIRAN PERJANJIAN

PENYUSUNAN, STRUKTUR & ANATOMI PERJANJIAN

PERJANJIAN KHUSUS/BERNAMA (NOMINAAT)

POLA PENYELESAIAN SENGKETA DI BIDANG PERJANJIAN


ISTILAH &
PENGERTIAN
HK PJJ

TEMPAT
PENGATURAN
HK PJJ
KONSEP &
PENGERTIAN
PERJANJIAN SISTEM
PENGATURAN
HK PJJ

ASAS HK
PERJANJIAN

SUMBER HK
PERJANJIAN
ISTILAH & PENGERTIAN PJJ

SYARAT SAHNYA & JENIS-JENIS PERJANJIAN


MOMENTUM TERJADINYA
PERJANJIAN

SYARAT-SYARAT SAHNYA PJJ

MOMENTUM TERJADINYA PJJ

BENTUK-BENTUK PERJANJIAN

FUNGSI PERJANJIAN

BIAYA DALAM PEMBUATAN PJJ


??? $$ $$$?

PENAWARAN

PENERIMAAN
PENAWARAN

PENERIMAAN

PERSETUJUAN

KEWAJIBAN HAK
TOESTEMMING

PERIKATAN
(VERBINTENIS)
PERIKATAN

PERJANJIAN UNDANG-UNDANG
HUKUM PERIKATAN

1. Diatur dl BK III BW & tdk ada definisi ttg perikatan &


merpakan bagian dr hk harta kekayaan (vermogenrecht).
2. Buku III menganut sistem terbuka (asas kebebasan
berkontrak) yg dibatasi pasal 1337 dan 1245 BW & mrpkn
hk pelengkap
3. Perikatan mrt doktrin: hubungan hk dlm lapangan harta
kekayaan antara 2 orang/lebih dimana yg satu berhak atas
sesuatu & yg lain berkewajiban atas sesuatu (bedakan dg
perikatan di luar suasana hukum)
4. Subyek dlm perikatan dikenal istilah kreditur dan debitur.
Kreditur mempunyai sifat aktif thd debitur yg pasif yg tdk
mau penuhi hak & kwjbnnya (seperti gugat kepengadilan).
5. Kreditur orngnya tertentu misalnya A meminjamkan uang
pada B, maka piutang tsb atas nama A penyerahannya
melalui Cessie. Namun bisa saja kreditur suatu saat berganti
dengan cara dibuat surat pengakuan hutang (aan order)
penyerahannya dg endossemen (promes) atau penyerahan
atas bawa (aan toender) penyerahan dari tangan ketangan
(cek).
6. Debitur juga tertentu, hutang-hutang yang dipindahkan hrs
seizin kreditur.
7. Obyek perikatan adalah suatu prestasi, debitur wajib
berprestasi, kreditur berhak atas prestasi.
8. Wujud prestasi: memberi sesuatu (memberi benda/barang),
berbuat sesuatu (buat pagar/lukisan), tdk berbuat sesuatu
(tdk buat pagar yg merusak pemandangan)
7. Sahnya perikatan:
a. Obyek/prestasi hrs tertentu
b. Obyek hrs diperbolehkan, tdk boleh bertentangan dg uu,
kesusilaan & tibum.
c. Obyek dpt dinilai dg sejumlah uang (vermogen)
d. Obyek harus mungkin
8. Berkaitan dg obyek perikatan dikenal istilah Schuld dan
haftung. Schuld mrpkn kewajiban debitur kpd kreditur
(wajib bayar utang), Haftung: membiarkan brng milik
debitur diambil kreditur baik seluruh/sebagian untuk
membayar hutang.
9. Kreditur mempunyai eksekusi riil, yaitu: kreditur dpt paksa
debitur unk memenuhi prestasinya, kreditur dpt menuntut
kpd hakim untuk memeksa debitur penuhi prestasi.
10. Kalau kreditur tdk dpt melakukan eksekusi riil, kreditur dpt
menuntut kpd debitu berupa: ganti kerugian, uang paksa dan
pemutusan perjanjian.
11. Eksekusi riil dimungkinkan dlm prestasi memberi sesuatu, tetapi
untuk prestasi berbuat sesuatu dan kalau prestasinya tidak
melekat pd debitur (pelukis), maka eksekusi riil tdk
dimungkinkan.
12. Debitur yang tdk memenuhi kewajiban dapat berupa kesalahan
(wanprestasi) & tdk ada kesalahan (overmacht/force majeure)
13. Ada 3 unsur kesalahan debitur:
a. Perbuatan dpt disesalkan
b. Debitur tdk dpt menduga adanya akibat (secara obyektif:
manusia normal umumnya dpt menduga akibatnya & scr
subyektif seorang ahli dpt menduga akibatnya.
c. Dapat dipertanggungjawabkan (debitur dlm keadaan cakap)
14. Luasnya kesalahan debitur: kesengajaan (perbuatan diketahui
dan dikehendaki) dan kelalaian (tidak mengetahui ttp hanya
mengetahui adanya kemungkinan bahwa akibatnya akan terjadi.

15.Wanprestasi (cidera janji):


a. Bentuknya: debitur tdk penuhi prestasi sama sekali (tdk
mampu), lambat melakukan prestasi (masih mampu berprestasi),
berprestasi tetapi tidak tepat atau keliru.
b. Akibat wanprestasi: ganti kerugian, benda obyek perikatan sejak
saat tdk dipenuhinya kewajiban menjadi tanggung jawab debitur,
dapat dilakukan pembatalan/pemutusan perjanjian.
c. Hak kreditur thd debitur yg wanprestasi: menuntut
pembatalan/pemutusan pjj, pemenuhan pjj, penggantian
kerugian, menuntut pembatalan & penggantian kerugian,
menuntut pemenuhan & penggantian kerugian.
16. Debitur dinyatakan wanprestasi apabila sudah ada pernyataan
lalai (somasi, ingebrekestelling), fungsi somasi adalah:
merupakan upaya hk untuk menentukan kapan saat terjadinya
wanprestasi.

17. Pernyataan lalai mrpkn pemberitahuan kreditur kpd debitur yg


menerangkan kapan selambat-lambatnya debitur pebuhi
prestasi.

18. Kapan somasi diperlukan:


a. Pada saat debitur sama sekali tdk penuhi prestasi somasi tdk
diperlukan, kreditur langsung minta ganti rugi.
b. Debitur terlambat atau keliru berprestasi somasi diperlukan.

19. Kerugian umumnya diganti dg sejumlah uang. Kerugian


menurut pasal 1243, 1244 BW adalah biaya (konten), rugi
(schaden) dan bunga (interessen), kerugian dpt berupa materiil
dan immateriil.
Syarat-syarat penggantian kerugian (pasal 1247, 1248 BW):
1. Kerugian yg dpt/seharusnya dpt diduga lebih dulu sewaktu
dibuatnya perikatan. Misalnya Belanda pesan bawang merah dari
Cekoslovakia supaya dikirim ke Hamburg. Pembeli tidak mau
membayar hingga perlu dijual di Jerman. Karena perbedaan mata
uang maka penjual menderita kerugian (dpt diduga lebih dulu).
2. Hubungan sebab akibat:
a. teori conditio sine quanon dari Von Buri (suatu akibat dpt
ditimbulkan oleh rangkaian peristiwa yg mrpknsebab dari akibat
tersebut), contoh A pesan taksi pk 7.00 taksi baru tiba pukul 7.30,
dan A terlambat untuk naik pesawat, kemudian A naik travel ke
Jakarta, diperjalanan terjadi kecelakaan dan A dirawat di RS
selama 7 hari.
b. Teori adequaat dari Von Kries: peristiwa dpt jadi sebab unk
timbulnya akibat bila peristiwa itu mrt pengalaman manusia
normal memang dpt menimbulkan akibat. Menurut teori ini
orang yang melakukan perbuatan melawan hukum hanya
bertanggungawab untuk kerugian, yang selayaknya diharapkan
sebagai akibat dari perbuatan melawan hukum.
Keadaan memaksa (overmacht):

1. Debitur tdk penuhi prestasi krn tdk ada kesalahan maka


berhadapan dg overmacht yg tdk dpt dipertanggungjawabkan.

2. Ada 3 syarat overmacht: hrs ada halangan untuk penuhi


kewajiban, halangan terjadi bukan krn kesslahan debitur, tdk
disebabkan oleh keadaan yg menjadi risiko dari debitur.

3. Akibat overmacht:
a. Kreditur tdk dpt minta penuhi prestasi (overmacht sementara
sampai berakhirnya overmacht).
b. Gugur kewajiban untuk ganti kerugian (ps 144, 1245 BW)
c. Pihak lawan tdk perlu minta pemutusan pjj (ps. 1266 BW tdk
berlaku, pts hkm tdk perlu).
d. Gugurnya kewajiban prestasi dr pihak lawan.
Adanya overmacht maka perikatan berhenti berlakunya, bukan berarti
menjadi lenyap, perikatan tetap ada hanya berhenti berlakunya. Kalau
overmacht sdh tdk ada maka perikatan berlaku lagi (overmacht
sementara).

Teori ttg overmacht dibagi menjadi 2 yaitu:


1. Overmacht mutlak/obyektif: pemenuhan prestasi yang tidak
mungkin dilaksanakan oleh semua orang (misalnya A berprestasi
seekor kuda sebelum diserahkan kuda tsb disambar petir hingga
mati).
2. Overmacht relatif/subyektif: pemenuhan prestasi tdk dapt
dilakukan oleh debitur sendiri (misalnya debitur akan berprestasi
ketika harga melambung)

Yang harus membuktikan adanya overmacht adalah debitur.


RISIKO

Risiko selalu berhubungan erat dg overmacht, siapa yg hrs bertanggung


gugat, siapa yg harus menanggung risiko atas kejadian dalam
overmacht.

Bentuk overmacht:
1. Dpt seluruh prestasi atau sebagian (sebagaian rusak/terbakar).
2. Dapat tetap, debitur tdk dpt melakukan prestasi sama sekali
(musnah semua). Overmacht dpt sementara tetapi setelah normal
harga untuk berprestasi sudah mengalami invlasi.
3. Overmacht yg tetap untuk pjj sepihak (hibah, pinjam pakai) risiko
ada pada kreditur (ps 1237, 1245, 1444 BW).
4. Overmacht utk pjj timbal balik (jual beli) maka pjj gugur demi
hukum. Kerugian dibagi dua kreditur tdk akan terima prestasi dan
debitur tdk akan terima kontra prestasi.
Peristiwa yg mungkin timbulkan overmacht: UU, sumpah krn terpaksa,
perbuatan pihak ketiga, sakit, pemogokan buruh.
KONSEP & PENGERTIAN HK PERJANJIAN

SYARAT SAHNYA & MOMENTUM TERJADINYA PERJANJIAN

KETENTUAN UMUM DLM HK PERJANJIAN

AKIBAT PERJANJIAN

HK PERJANJIAN BERAKHIRNYA PERJANJIAN

PENAFSIRAN PERJANJIAN

PENYUSUNAN, STRUKTUR & ANATOMI PERJANJIAN

PERJANJIAN KHUSUS/BERNAMA (NOMINAAT)

POLA PENYELESAIAN SENGKETA DI BIDANG PERJANJIAN


ISTILAH &
PENGERTIAN
HK PJJ

TEMPAT
PENGATURAN
HK PJJ
KONSEP &
PENGERTIAN
PERJANJIAN SISTEM
PENGATURAN
HK PJJ

ASAS HK
PERJANJIAN

SUMBER HK
PERJANJIAN
HUKUM PERJANJIAN (HUKUM KONTRAK)

A.Istilah & Pengertian Hk Perjanjian


Hk kontrak = contract law, overeenskomsrecht,
bedakan antara perikatan (Verbintenis),
perjanjian (Overeenskom) dan persetujuan
(Toestemming).
B.Unsur-unsur dlm hk perjanjian/kontrak
1. adanya kaedah hk (tertulis/tdk tertulis)
2. adanya subyek hk (kreditur dan debitur)
3. adanya prestasi
4. adanya kesepakatan
5. adanya akibat hukum
Pra-
??? $$
kontraktual $$$?
Post-
kontraktual

PENAWARAN

PENERIMAAN

PERIKATAN
(VERBINTENIS)
Tempat pengaturan hk perjanjian
• Hk pjj diatur dalam KUHPdt BK III terdiri atas 18 Bab dan 631
Pasal. Mulai Ps 1233-1864.
• Di NBW (Niew Burgerlijk Wetboek) diatur dlm BK IV Van
Verbintenissen, mulai Ps 1269-1901 NBW.
• Hal-hal yg diatur dlm BK III BW, meliputi, al: perikatan pd
umumnya, perikatan yg lahir dari pjj, hapusnya perikatan,
jual beli, tukar menukar, sewa menyewa, pjj unk melakukan
pekerjaan, persekutuan, badan hk, hibah penitipan barang,
pinjam pakai, pinjam meminjam, pemberian kuasa,
penangungan utang & perdamaian.
• Pjj yg diatur dlm BK III tsb mrpkan pjj khusus/bernama (pjj
Nominaat). Di luar KUHPdt dikenal kontrak production
sharing, joint venture, kontrak karya, leasing, hire purchase,
franchise, sewa rahim dll. Pjjj tsb disebut pjj Innominaat.
Sistem pengaturan hk kontrak/perjanjian
• Sistem hk pjjj mrpkn sistem terbuka (open
system): orng bebas buat pjj baik yg sdh/blm
diatur dlm uu (Ps 1338 (1) BW: “alle wettiglijk
gemaakte overeenkomsten strekken dengenen
die dezelve hebben aangegaan tot wet”)
• Kebebasan dlm Ps 1338 (1) meliputi: bebas
membuat/tdk membuat pjj, bebas adakan pjj dg
siapapun, bebas tentukan isi, pelaksanaan &
persyaratan pjj sera bebas tentukan bentuk pjj
(tertulis/lisan).
Asas hk perjanjian/kontrak
• Asas “kebebasan berkontrak” (isi Pjj, Ps 1338 (1) BW: scr
historis lahir dari prinsip individualisme, di sini pengusaha
tidak dibenarkan turut campur dlm sosial ekonomi, shg
lahir ungkapan exploitation de homme par l’homme.
Melalui perkembangnnya hk kontrak sdh banyak diatur
oleh penguasa.
• Asas “Konsensualisme” (lahirnya Pjj): bhw salah satu syarat
sahnya pjj adanya kesepakatan para pihak (Ps 1320 (1)
BW). Artinya pjj tdk dibuat scr formal tetapi konsensual.
• Asas Pacta Sunt Servanda/kepastian hukum yg
berhubungan dg akibat hk. Asas ini menetapkan bahwa
hakim/pihak ketiga hrs menghormati & tdk boleh
intervensi substansi kontrak (kontrak layaknya sbg uu)
Asas hk perjanjian/kontrak
• Asas Itikad Baik (Goede Trouw): Ps 1338 (3): “Pjj
hrs dilaksanakan dg itikad baik. Asas ini
menetapkan bahwa para pihak dlm
melaksanakan isi kontrak hrs bdsrkn
kepercayaan/keyakinan dan kemauan yg baik.
• Asas Kepribadian (Personalitas): bhw seseorng yg
akan buat kontrak hanya unk kepentingan dirinya
saja. Ps 1315 BW: “pada umumnya orang tdk
dapat mengadakan pjj selain unk dirinya”. Ps
1340 BW: “pjj hanya berlaku pd para pihak yg
membuatnya”.
Pengertian Perjanjian/Kontrak
• Pjj diatur dlm Ps 1313 BW: “suatu perbuatan hk
dg mana satu pihak atau lebih mengikatkan
dirinya thd satu orng atau lebih”.
• Rumusan Ps 1313 BW: tdk jelas krn setiap
perbuatan dpt disebut sbg pjj, tdk tampak asas
konsensualisme, dan bersifat dualisme.
• Menurut doktrin (teori lama): “Pjj mrpkn
perbuatan hk berdasarkan kata sepakat unk
menimbulkan akibat hk”. Teori baru (Van Dunne):
“suatu hub hk antara dua pihak/lebih
berdasarkan kt sepakat unk menimbulkan akibat
hk”.
Pengertian Perjanjian/Kontrak

• Ada tiga tahapan dlm membuat pjj menurut


teori baru:

PRACONTRACTUAL CONTRACTUAL POSTCONTRACTUAL

PENAWARAN & PERSESUAIAN KEHENDAK PELAKSANAAN


PENERIMAAN ANTAR PARA PIHAK PERJANJIAN
Syarat Sahnya Perjanjian
• Ps 1320 BW atau Ps 1365 NBW ada 4 syarat:
1. Kesepakatan (Toesteming): adanya persesuaian
pernyataan kehendak, melalui 5 cara:
a. Bahasa yg sempurna & tertulis/lisan
b. Bahasa tdk sempurna tapi diterima oleh lawan
c. Bahasa isyarat
d. Diam/membisu
2. Kecakapan Bertindak : cakap lakukan perbuatan
hk. Cakap adalah orng yg sudah dewasa 21 tahun
3. Adanya Obyek tertentu : obyek pjj adalah prestasi
4. Adanya Causa yg Halal: causa yg tdk halal bertentangan dg
uu, kesusilaan dan ketertiban umum.
Syarat sah perjanjian
• Paksaan (dwang)  takut • Ps. 1330 jo 330.
akan ancaman (dilarang oleh • Belum dewasa
UU) • Dibawah pengampuan
• Khilaf (dwaling) orang, • Badan hukum
barang, negosiasi, konsep
• PT
• Penipuan (bedrog) 
• Yayasan
serangkaian bohong
• Koperasi
• Peyalahgunaan keadaan
Sepakat Cakap

Suatu Suatu
hal sebab • Causa, Uu tdk
tertentu (oorzaak) menyebut
yang causa halal
Obyeknya halal ttp disebut
hrs tertentu:
causa yg
berupa
terlarang
prestasi
Syarat sah perjanjian
Dapat Dibatalkan
Syarat Syarat
subyektif subyektif

Sepakat Cakap

Suatu Suatu
hal sebab • Causa,
tertentu (oorzaak)
yang
Syarat halal Syarat
Obyektif Obyektif

Batal demi Hukum


Tiga Unsur Perjanjian
1. Unsur yg mutlak hrs ada agar pjj menjadi sah :
Essentialia. Syarat sahnya meliputi: sepakat,
cakap, obyek trt, kausa yg halal.
2. Unsur yg lazimnya melekat pd pjj: Naturalia, di
sini mrpkn unsur yg melekat/pembawaan dr
suatu pjj, misalnya: pjj jual beli penjual hrs
menjamin thd cacat tersembunyi.
3. Unsur yg harus dimuat/disebut secara tegas dlm
pjj: Accidentalia, misal: ttg tempat tinggal yg
dipilih dlm penyelesaian sengketa pjj.
American Law Contract
(syarat sahnya kontrak)
1. Offer and Acceptance (adanya penawaran &
penerimaan.
2. Metting o the Minds (persesuaian kehendak):
cacat kehendak krn adanya: Fraud (penipuan),
Mistake (kesalahan), Durress (Paksaan), Undu
Influence (Peyalahgunaan keadaan)
3. Consideration (prestasi)
4. Competent Parties & Legal Subject Matter
(kemampuan hk para pihak dan pokok
persoalan yang sah)
Momentum Terjadinya Perjanjian/Kontrak
1. Teori Pernyataan (Uitingstheorie): kesepakatan terjadi saat
pihak yg menerima penawaran menyatakan bhw ia
menerima penawaran tsb.
2. Teori Pengiriman (Verzendtheorie): kesepakatan terjadi bila
yg menerima penawaran mengirim telegram/facsimile/e-
mail.
3. Teori Pengetahuan (Vernemingstheorie): kesepakatan terjadi
bila pihak yg menawarkan mengetahui adanya acceptatie
(penerimaan) ttp penerimaan tsb belum diterimanya (tdk
diketahui scr langsung.
4. Teori Penerimaan (Ontvangstheorie): kesepakatan terjadi
pada saat pihak yg menawarkan menerima langsung jawaban
dr pihak lawan.
Ada Tiga Teori ttg Ketidaksesuaian antara
Kehendak & Pernyataan
1. Teori Kehendak (Wilstheorie): pjj terjadi bila ada
persesuaian antara kehendak & pernyataan.
2. Teori Pernyataan (Verklaringstheorie): kehendak
mrpkn sikap batin yg tdk diketahui orng lain, yg
menyebabkan terjadinya pjj adalah pernyataan.
3. Teori Kepercayaan (Vertrouwenstheorie): tdk
setiap pernyataan menimbulkan pjj, ttp
pernyataan yg menimbulkan kepercayaan saja yg
melahirkan pjj.
Bentuk-Bentuk Perjanjian/Kontrak
1. Perjanjian Tertulis:
a. Pjj di bawah tangan yg ditandatangani oleh para
pihak. Pjj disini hanya mengikat para pihak dlm
pjj & tdk punya kekuatan mengikat pihak ketiga.
jika pihak ketiga menyangkal maka pihak2 dlm
pjj hrs dpt membuktikan.
b. Pjj dg saksi notaris unk melegalisir tanda tangan
para pihak. Fungsi notaris hanya melegalisir
kebenaran ttd para pihak. Jika salah satu pihak
menyangkal isi pjj tsb maka ia hrs membuktikannya.
c. Pjj yg di buat di hadapan dan oleh notaris dlm bentuk
akta notariil (akta yg dibuat dihadapan pjbt yg ber-
wenang). Misal: notaris,camat, PPAT & mempunyai
kekuatan bukti sempurna.
2. Perjanjian Tidak Tertulis/Lisan: Pjj di sini dibuat secara
lisan oleh para pihak (cukup kesepakan para pihak)
Fungsi kontrak secara yuridis memberi kepastian hk, secara ekonomis
menggerakan sumber daya dari nilai yang rendah menjadi nilai yg lebih
tinggi

contract
Klasifikasi Perjanjian
1. Pjj sepihak & dua pihak: Pjj sepihak pjj yg wajibkan
salah satu pihak unk berprestasi (hibah, hadiah).Pjj
dua pihak artinya keduabelah pihak hrs saling
berprestasi (jual beli, sewa-menyewa, tukar-
menukar).
2. Pjj bernama (Nominaat & terbatas) & tdk bernama
(Innominaat & tdk terbatas).
3. Pjj Obligator & Kebendaan: Pjj obligator pjj yg
menciptakan hak & kwjbn (jual beli). Pjj kebendaan
unk mengalihkan hak milik (jual beli, hibah, tukar
menukar). Ttp pjj sewa-menyewa, pinjam, pakai &
gadai hanya alihkan penguasaan benda (bezit).
Klasifikasi Perjanjian
4. Pjj Konsensual & Real: Pjj konsensual terjadi baru
dlm taraf menimbulkan hak & kwjbn bagi para pihak.
Tujuan pjj tercapai bila ada realisasi hak & kwjbn
masing-masing tsb. Pjj real adalah pjj yg terjadinya
itu sekaligus realisasi tujuan pjj, yaitu pengalihan hak
(jual beli brg bergerak, pjj penitipan & pinjam pakai).
5. Pjj unk kepentingan pihak ketiga, al: ahli waris,
orang yg memperoleh hak & orng2 pihak ketiga
(misal: A bertindak untuk dan atas nama PT Gono
Gini atau seorang ayah yg mengasuransikan anaknya
yg msh duduk di SD).
Akibat Hukum Pjj yang Sah

1. Berlaku sebagai UU
2. Tidak dapat dibatalkan sepihak,
kecuali ada alasan pembatalan
sepihak mrt UU (Ps 1571, 1587,
1814, 1817 BW).
3. Dilaksanakan dengan itikad baik (to
goeder trow, in good faith)
Pelaksanaan Perjanjian
1. Kewajiban pokok (fundamental essencial/prestasi),
pelengkap (formal procedural/pembayaran), diam-diam
(cacat tersembunyi).
2. Pembayaran: dg jaminan/borg, jenis mata uang/alat bayar
(cek, BG dlsb).
3. Penyerahan benda, Ps 1477 BW penyerahan pd pjj jual beli
hrs dilakukan ditempat benda yg dijual itu berada, kecuali
dipjjkan lain. Ps 1476 BW biaya penyerahan jadi beban
penjual, biaya pengambilan jadi beban pembeli, jika tdk
diperjanjikan.
4. Klausula “Eksonerasi”, klausula ini adalah untuk
membatasi tanggung jawab debitur (barang yg sudah dibeli
tdk dpt dikembalikan, perubahan harga dpt berubah
sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan, dlsb)
• EKSONERASI Membebaskan seseorang atau badan usaha dari
suatu tuntutan atau tanggung jawab.” (pengecualian
kewajiban/tanggung jawab dalam perjanjian)
• Pembatasan atau larangan klausula eksonerasi diatur dalam
Pasal 18 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (“UUPK”). Dalam UUPK ini klausula eksonerasi
merupakan salah satu bentuk “klausula baku” yang dilarang
oleh UU tersebut.
• Dalam penjelasan Pasal 18 ayat (1) UUPK menyebutkan tujuan
dari larangan pencantuman klausula baku yaitu bahwa
larangan ini dimaksudkan untuk menempatkan kedudukan
konsumen setara dengan pelaku usaha berdasarkan prinsip
kebebasan berkontrak. Karena pada dasarnya, hukum
perjanjian di Indonesia menganut asas kebebasan berkontrak
(Pasal 1338 KUHPerdata).
Contohnya dalam praktik perbankan. Sebelum adanya UUPK, pemberikan
kredit, bank mencantumkan syarat sepihak (ada klausula bahwa Bank
sewaktu-waktu diperkenankan untuk merubah (menaikan/menurunkan)
suku bunga pinjaman (kredit) yang diterima oleh Debitur, tanpa
pemberitahuan atau persetujuan dari debitur terlebih dahulu)

Dengan adanya UUPK klausula demikian pada perjanjian kredit Bank, maka
perjanjiannya DAPAT DIMINTAKAN PEMBATALAN oleh Debitur. Ketentuan
ini sepenuhnya bertujuan untuk melindungi kepentingan konsumen
(debitur) pengguna jasa perbankan.

Klausula baku ini juga kita jumpai dalam tiket pesawat maupun karcis
parkir. Dalam beberapa kasus, Pengadilan telah menyatakan pencantuman
klausula baku dalam tiket pesawat maupun karcis parkir adalah batal demi
hukum:
- MA Tetap ‘Larang’ Pengelola Parkir Terapkan Klausula Baku,
- Putusan Delay Pesawat Lion Air Dieksekusi
- Air Asia Kalah Lawan Konsumen
Standar Kontrak (Kontrak Baku)

• Standar kontrak mrpkn pjj yg telah ditentukan & telah


dituangkan dlm bentuk formulir, ditentukan sepihak
terutama pihak ekonominnya yg kuat thd ekonomi lemah.
• Ciri-ciri standar kontrak:
a. Isinya ditetapkan sepihak (ekonominya kuat).
b. Debitur tdk ikut tentukan isi pjj.
c. Terdorong oleh kebutuhan, debitur terpaksa
terima pjj tsb.
d. Bentuk tertentu (tertulis).
e. Dipersiapkan secara massal & kolektif.
Struktur & Anatomi Kontrak
1. Bagian Pendahuluan: Nama Kontrak/Singkatan
a. Sub-bagian Pembuka Tgl Kontrak yg dibuat
Tempat dibuat & dittdnya
kontrak
b. Sub-bagian identitas para pihak (komparisi):
- Para pihak hrs disebutkan scr jelas.
- orng yg menandatangani hrs disebutkn
kasitasnya sbg apa.
- Pendefinisian pihak2 yg terlibat dlm kontrak
c. Sub-bagian penjelasan (premis): mengapa pihak2
mengadakan kontrak.
Struktur & Anatomi Kontrak
2. Bagian Isi:
a. Klausula definisi: definisi unk keperluan kontrak.
b. Klausula Transaksi: transaksi yg akan dilakukan,
hrs diatur ttg obyek yg akan dibeli & bayarnya.
c. Klausula Spesifik: hal-hal yg spesifik dlm suatu
transaksi.
d. Klausula Ketentuan umum: ttg domisili, penyele-
saian sengketa, pilihan hk, pemberitahuan, dll
Struktur & Anatomi Kontrak
3. Bagian Penutup:
a. Sub-bagian kt penutup (closing): “Pjj tsb
dibuat & ditandatangani oleh pihak2 yg
memiliki kapasitas untuk itu.
b. Sub-bagian penempatan tanda tangan:
tempak pihak2 menandatangani pjj/kontrak
dg menyebutkan pihak yg terlibat dlm kontrak
nama jelas orang yg menandatangani kontrak
dan jabatannya.
Penafsiran dlm Pelaksanaan Perjanjian
• Ps 1342 BW, bila kata2 dlm pjj sdh jelas tdk perlu penafsiran (misalnya 1
ton beras bukan 2 ton gabah).
• Penafsiran meliputi:
1. Maksud para pihak: ( baju tidur, dilihat kebiasaan, iklim para pihak yg
buat pjj).
2. Menungkinkan janji dilaksanakan: (beras cianjur, beras rojo lele, di sini
mutunya sama).
3. Kebiasaan setempat: (sarapan pagi: meliputi nasi goreng/roti bakar,
bukan yg lain)
4. Hubungan pjj keseluruhan: (makanan pokok, dlm bag lain ditulis nasi,
makanan pokok dimaksud adalah nasi).
5. Penjelasan dg menyebut contoh: (pjj ini meliputi juga jual beli
hasil bumi misalnya kopi, jadi hasil bumi bukan hanya kopi).
6. Tafsiran berdasarkan akal sehat (common sense) misal penjual setuju
menyediakan getah karet murni. Getah karet yang diserahkan tsb
dengan kadar air 5% dan ini mrpkn standar kemurnian.
ISTILAH & PENGERTIAN PJJ

SYARAT SAHNYA & JENIS-JENIS PERJANJIAN


MOMENTUM TERJADINYA
PERJANJIAN

SYARAT-SYARAT SAHNYA PJJ

MOMENTUM TERJADINYA PJJ

BENTUK-BENTUK PERJANJIAN

FUNGSI PERJANJIAN

BIAYA DALAM PEMBUATAN PJJ


DWANG/DURRESS
DWANG/DURRESS
DWALING/
MISTAKE
BEDROG/FRAUD
UNDUE INFLUENCE/MISBRUIK VAN
OMSTANDIGHEDEN

MR. RICH

MRS. POOR

EKONOMI PHISIKOLOGI
Perbuatan Melawan Hukum
(Onrechtmatige daad)
• PMH diatur dlm Pasal 1365 BW/1401 NBW: “setiap perbuatan
melawan hk yg mengakibatkan kerugian pd org lain, mewajibkan
org yg krn kesalahannya menimbulkan kerugian itu, mengantikan
kerugian tsb”.
• Unsur-unsur PMH:
1. perbuatan itu hrs melawan hk (onrechtmatig)
2. perbuatan hrs menimbulkan kerugian
3. perbuatan hrs dilakuan dg kesalahan
4. antara perbuatan & kerugian yg timbul hrs ada hub
kausal
Empat syarat tsb hrs dipenuhi, bila tdk terpenuhi tdk dapat
digolongkan sbg onrechtmatige daad/PMH)
Onrechtmatige daad

Sebelum Pts HR 31 Jnuari


1919: PMH hanya dalam
perbuatan POSITIF dlm arti
sempit (Ps 1365/positif &
1366/negatif)
Perbuatan
(daad)
Setelah Pts HR 31 Januari 1919
PMH diperluas mencakup
perbuatan negatif & tdk
berbuat (1365/positif-negatif,
1366/berbuat atau tidak
berbuat
PMH: suatu perbuatan yg
melanggar hak orng lain atau jika
org berbuat bertentangan dg
kewajiban hknya sendiri

Perbuatan hrs melanggar hak


orang lain/bertentangan dg
Pandangan HR kewajiban hknya sendiri yg
terhadap PMH diberikan oleh UU (Wet)
sebelum 1919
Melanggar hk (onrechmatig) hrs
melanggar UU (onwetmatig)

Melalui tafsiran tsb banyak


kepentingan masyarakat
dirugikan
Historis Putusan HR ttg
Onrechtmatige daad

Perusahaan mesin jahit


SINGER yg sudah
diperbaiki
(singernaaimachine Mij)
Kasus Pertama

Merugikan agen singer (Singer


Manufacturing Co.), digugat
melalui 1406, tetapi ditolak
HR: tdk ada kwjbn UU bagi
pemilik toko
Kasus kedua (Zutphense
Juffrouw Arrest)

Zutphense
Waterleiding

HR menolak
gugatan PMH
krn tdk ada
pelanggaran UU
Kasus ketiga : Lindenbaum-Cohen Arrest (Drukkers Arrest)

VS

Lindenbaum Cohen
gugat

Pd tk pertama (Arrondissement rectsbank) gugatan


Lindenbaum diterima, namun Cohen banding ke Gerechtshof
& memenangkan Cohen. Kemudian Lindebaum ajukan kasasi
ke HR & dimangkan oleh HR
Telah meninggalkan faham sempit
(legisme/melanggar hukum=melanggar UU

Penafsiran arti luas: PMH adalah


Penafsiran HR berbuat/tidak berbuat yg melanggar hak org
31 Januari 1919 lain /bertentangan dg kewajiban hk org yg
thd PMH berbuat itu sendiri /bertentangan dg
(Lindenbaum- kesusilaan /sikap hati-hati sbg mana
Cohen Arrest) kepatutan dlm masyarakat thd diri atau
benda milik orng lain

Unsur kesusilaan telah masuk dlm lapangan


hk , shg perbuatan yg bertentangan dg
kesusilaan /kesopanan dpt digugat melalui
1365 BW
Bertentangan dg kewajiban hk
si pelaku

Melanggar subyektif hak


Dinamika PMH orang lain
setelah kasus
Lindenbaum VS
Cohen 31 Januari Melanggar kaedah tata susila
1919

Bertentangan dg asas
kepatutan, ketelitian serta sikap
hati-hati yg harus dimiliki
seseorang dlm pergaulan
masyarakat
Ganti Kerugian dalam PMH

• Kerugian meliputi materiil/imateriil, Kerugian


umumnya diganti dg sejumlah uang. Kerugian
menurut pasal 1243, 1244 BW adalah biaya
(konten), rugi (schaden) dan bunga
(interessen).
• Kerugian akibat wanprestasi mrt ps 1246 -1248
BW tdk dpt diterapkan secara langsung pada
PMH, ttp dapat diterapkan secara analogi
Kesalahan, Kelalaian dlm PMH
• Kesalahan mrt 1365 BW dlm arti kesengajaan sampai
kelalaian.
• Orang yg melakukan kesalahan hrs dpt
dipertanggungjawabkan:
tanggung jawab: verantwoordelijkheid,responsibility
tanggung gugat: aansprakelijkheid, liability
dipertangunggjawabkan: toerekenbaarheid, accountability
• Dpt dipertanggungjawabkan artinya org yg berbuat sdh
dewasa , sehat akalnya & tdk di bwah pengampuan.
T.Jawab thd
perbuatan
T.Jawab yg dilakukan orang lain
orng lain & brg2 di
bawah
pengawasannya T.Jawab thd brg dlm
Pasal 1367 (1) BW pengawasannya

T.Jawab
PMH Perbuatan thd Korban
tubuh & jiwa pembunuhan dpt
manusia 1370 BW ganti kerugian

PMH thd nama Tuntutan


baik penghinaan unk
(Penghinaan Ps memulihkan
1372-1330 BW) nama baik
Bus Bintang-bus Indah Perbuatan oleh orng yg
menjadi tanggungannya
scr umum (contoh pejabat)

Orng tua & wali thd anak


yg blm dewasa 1367 (2)
T.Jawab thd
BW (ontoh kasus AQJ)
perbuatan orang
lain Majikan & karyawan 1367
(3) BW (dokter –rmh sakit)

Guru thd muridnya,


kepala tukang thd
tukangnya 1367 (4) BW
T. Jawab thd brng pada
umumnya 1367 (1) BW

T.Jawab thd brg


T. Jawab thd binatang
dlm
1368 BW
pengawasannya

T. Jawab Pemilik thd


gedung 1369 BW
Perbuatan yg krn kesalahannya
menimbulkan kerugian 1365 BW

Hubungan Teori Adequate Veroorzaking


Kausal (Von Kries): teori sebab Akibat :
antara perbuatan & kerugian
harus ada hubungan langsung
Sukarela tanpa mengharapkan imbalan

Tanpa Kuasa (inisiatif sendiri tanpa


perintah baik tertlulis/lisan)

Mewakili Urusan Orng lain, bukan


kepentingan pribadinya
Perwakilan
Sukarela Dengan atau tanpa sepengetahuan
(Zaakwarneming) orng yg diwakili kepentingannya

Meneruskan & menyelesaikan sampai


ong tsb dpt mengurus sendiri

Bertindak menurut hukum (karena


perikatannya bersumber dari UU)
Perikatan terjadi krn UU

Perikatan tdk berhenti jika


pihak yg berkepentingan
Zaakwarneming
meninggal dunia

Tidak dikenal upah krn


sukarela, kecuali penggantian
Perbedaan biaya

Perikatan terjadi krn Pjj

Lastgeving Perikatan berhenti jika


(Pemberian Kuasa) pemberi kuasa meninggal
Penerima kuasa berhak atas
upah krn dipjjkan
Pembayaran yg ditujukan unk melunasi
suatu utang, tetapi ternyata tdk ada
utang

Pembayaran yg telah dilakukan dpt


Pembayaran diruntut kembali (Conditio Indebiti)
Tanpa Hutang misal: bayar pajak ternyata tdk ada
(Onvershuldigde pajak, kantor pajak wajib
Betaling) 1359 mengembalikan
BW
Ps 1359 BW memberi kepastian hk ,
bhw orang yg memperoleh kekayaan
tanpa hak harus dikembalikan.
Berbeda kalau sukarela misalnya
hadiah
Pembayaran/Penyerahan barang

Penawaran Pembayan Tunai diikuti Penitipan

Pembaharuan Utang (Novasi), dapat Novasi


Obyektif/Novasi Subyektif (aktif maupun pasif)
Perjumpaan Utang (Kompensasi)
Hapusnya Percampuran Utang (Konfusio)
Perikatan
(Berakhirnya Musnahnya Benda yang terutang
Kontrak)
Karena Pembatalan
Berlaku Syarat Batal
Daluarsa
Jangka Waktu berakhir, kesepakatan para pihak,
adanya putusan Pengadilan
Contoh Berakhirnya Perikatan
1. Pembayaran: utang dibayar atau benda di serahkan.
2. Penawaran pembayaran diikuti penitipan: debitur
menawarkan pembayaran melalui notaris/juru sita lalu
kreditur menolak pembayaaran tsb, maka debitur
menitipkan pembayaran tsb pd panitera PN untuk
disimpan.
3. Novasi : utang lama diganti utang baru (novasi obyektif),
bila debiturnya yg diganti (novasi subyektif pasif)
sebaliknya kalau krediturnya (novasi subyektif aktif).
4. Kompensasi: utang pitang debitur-kreditur scr timbal
balik diperhitungkan. A utang pd B 5 jt, ternyata
sebelumnya B juta utang pd A sebesar 4 jt.
5. Percampuran hutang (konfusio): terjadi krn
kedudukan kreditur & debitur jadi satu. A sbg
ahli waris mempunyai utang pd B sbg pewaris,
lalu A meninggal dan B menerima warisan
termasuk utang atas dirinya.
6. Pembebasan utang: kreditur dg tegas (hrs ada
alat buti) menyatakan tdk menghendaki lagi
prestasi dari debitur dan melepaskan haknya.
7. Musnahnya brg terutang: hilangnya brng di sini
bukan krn kesalahan debitur (overmacht).
8. Pembatalan: dengan cara mengajukan
pembatalan khusus bagi yang dpt dibatalkan.
9. Berlakunya syarat batal: syarat ini hanya
ditentukan oleh keduabelah pihak, bila syarat
tsb dilanggar perikatan menjadi batal. A
mengadakan pjj sewa gedung dg B, bahwa
selama pjj berlangsung A tidak boleh
menyewakan kembali gedung tsb, tetapi A
melanggar syarat tsb & perikatan menjadi batal.
10. Daluarsa: daluarsa untuk dibebaskan dr suatu
perikatan (evtinctieve verjaring: 30 tahun),
sedangkan untuk memperoleh hak milik
(acquisitive verjaring: 20 th hrs ada alas hak, 30
th tanpa alas hak).

Anda mungkin juga menyukai