Anda di halaman 1dari 28

Kelompok 1

- Friska Gresya Silaen


- Fritania lawolo
- Gloria Narwasti Kiha
- Gusty Selwanus Leimera
Latar Belakang
Latar belakang (Umum)
– Pengaruh keluarga terutama orangtua sangat besar terhadap perkembangan
anak. Oleh John Bowlby, kedekatan orangtua dikenal dengan istilah attachment
parenting . Attachment parenting adalah satu cara yang berfokus pada
pemeliharaan hubungan antara orangtua dengan anak.
– Menjaga hubungan emosional dengan anak dipandang sebagai cara yang ideal
untuk membesarkan anak agar merasa aman, mandiri dan berempati, (Nilam
Suri, 2015).
– Banyak sekali sumbangan keluarga terutama orangtua terhadap
perkembangan anak, salah satunya sebagai bantuan dalam pemecahan
masalah ( Hurlock B. Elizabeth,1980).
Latar belakang masalah (khusus)

Peneliti mengamati banyak fenomena terjadi di antara mahasiswa terkhususnya


mahasiswa FON UPH, sebagian besar sering mengalami homesick, sulit beradaptasi
dengan lingkungan baru dan ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita.

Suicide

Self Cutting

Broken Home
Rumusan masalah

1. Mengapa mahasiswa FON UPH yang dekat dengan orangtua


cenderung memiliki koping stres yang adaptif ?

2. Mengapa mahasiswa FON UPH yang tidak dekat dengan orangtua


cenderung memiliki koping stres yang maladaptive ?

3. Bagaimana pengaruh kedekatan orangtua dengan mahasiswa FON UPH


terhadap mekanisme koping stres yang dimiliki ?

4. Bagaimana solusi terhadap mahasiswa FON UPH yang memiliki koping


stres maladaptif ?
Untuk mengetahui penyebab mahasiswa FON UPH yang dekat
1 dengan orangtua cenderung memiliki koping stres adaptif.

Untuk mengetahui hal yang bisa menjadi solusi bagi mahasiswa


2 FON UPH yang memiliki koping maladaptif.

Tujuan Untuk mengetahui seberapa besar dampak kedekatan orangtua


3 terhadap mekanisme koping stres yang dimiliki mahasiswa FON
UPH.

Untuk mengetahui hal yang bisa menjadi solusi bagi mahasiswa


4 FON UPH yang memiliki koping maladaptif.
Manfaat penelitian

 Penulis
– Diharapkan penulis mampu menganalisis perbedaan mekanisme koping stres yang
digunakan oleh mahasiswa FON UPH berdasarkan kedekatan dengan orangtua.
– Diharapkan penulis mampu memberikan solusi yang tepat bagi mahasiswa FON UPH yang
memilki mekanisme koping stress maladaptif.
 Pembaca atau khalayak umum
– Diharapkan pembaca dapat mengindentifikasi mekanisme koping stres yang dimiliki.
– Diharapkan pembaca dapat mengetahui pentingnya hubungan kedekatan orangtua dengan
mahasiswa terhadap mekanisme koping stres yang dimiliki.
– Diharapkan pembaca mampu mengembangkan mekanisme koping stres yang adaptif.
Landasan Teori
1. Teori Attachment Parenting
Kelekatan atau attachment adalah hubungan emosional yang
kuat. John Bowlby mendefinisikan hubungan emosional yang kuat
ataupun kedekatan antara orangtua dengan anak dengan istilah
attachment parenting.
Bowlby melakukan observasi antara manusia dan bayi primata yang
melalui serangkaian reaksi ketika dipisahkan oleh pengasuh utamanya.

Separation anxiety
3 Tahapan : Protest stage
Despair
Hasil observasi Bowlby dalam 2 asumsi dasar :

Pengasuh harus dapat


ikatan hubungan ->
diandalkan dan ditemukan,
diinternalisasi -> model
hadir bersama anak sehingga
1 dalam mental untuk 2
anak dalam masa
membentuk hubungan cinta
perkembangan merasa percaya
dan persahabatan anak
diri dan merasa aman.
Tahun 2004, Robin Edelstein dan rekan – rekannya melakukan penelitian
untuk melihat hubungan antara jenis kelekatan pada orang dewasa dengan
jenis kelekatan orangtua dan anak.

Orangtua yang suka menghindar akan menjadi kurang responsif dan kurang mendukung
saat anak menghadapi sebuah stressor, anak tersebut juga akan cenderung mengalami
distress selama proses penyuntikan dibandingkan dengan anak yang mempunyai dukungan
penuh dari orangtuanya.
study klasik yang dilakukan oleh Cindy Hazan dan Phil Shaver (1987),
menyimpulkan bahwa perbedaan tipe kelekatan awal akan membedakan jenis,
durasi dan kestabilan dari hubungan percintaan dimasa dewasa.
– jenis, durasi dan kestabilan dari hubungan percintaan pada masa dewasa.
1. orang-orang yang dulunya memiliki hubungan kelekatan yang baik dan aman
dengan pengasuhnya akan memiliki rasa percaya yang tinggi, kedekatan dan
emosi yang positif didalam hubungannya dengan orang lain.

2. orang dewasa yang dari awal tidak baik hubungan kelekatannya atau
mengalami pemisahan dalam hubungan kelekatan akan merasa lebih takut
dan kurangnya rasa percaya, rasa cemas dan adanya perasaan obsesi dalam
suatu hubungan.
menurut Diana Baumrind, ada 3 pola asuh orangtua :

1. Pengasuhan autoritarian, yaitu pola asuh orangtua yang bersifat tegas, memberi batasan,
hukuman, sedikit sekali interaksi verbal, cenderung cemas terhadap perbandingan sosial,
ketidakmampuan mengikuti kegiatan dan ketidakmampuan berkomunikasi.
2. Pengasuhan autoritatif, adalah pola asuh oangtua yang memberi kebebasan tetapi masih dalam
batasan dan pengendalian, remaja cenderung bersifat sadar diri dan tanggung jawab.
3. Pengasuhan permisif :
a. pengasuhan permisif tidak peduli ( permissive-indefferent parenting ), orangtua tidak ikut
campur dengan apapun yang dilakukan remaja, tidak memiliki kecakapan sosisal yang baik,
buruk dalam pengendalian diri dan tidak menggunakan kebebasan dengan bijak.
b. Pengasuhan permisif memanjakan ( permissive-indulgent parenting) adalah pola asuh dimana
orangtua tidak menuntut atau mengendalikan remaja namun sangat terlibat dengan apapun
yang dilakukan remaja. Remaja cenderung egois dan manja.
2. Teori Mekanisme Koping Stres

Dr. Frank Lawlis mendefinisikan stres sebagai keadaan dari


respon yang berlebihan. Stres sendiri ada dua jenis yaitu stres yang
baik dan stres yang buruk. (dalam buku The Stress Answer oleh Dr.
Frank Lawlis, 2008:150-151).

Stres adalah gairah dari tubuh dan pikiran dalam respon


terhadap stressor yang ada, ( Walt Schafer, 2005).
Menurut Walt Schafer ada tiga tipe stress, yaitu:
Pertama adalah respon secara netral terhadap stresor baik eksternal maupun
internal yang disebut neustress.
Kedua adalah distress dimana ketika keinginan untuk berespon terlalu tinggi atau
terlalu rendah.
Ketiga adalah positive stress yang melibatkan rasa ingin tahu yang besar sehingga
keinginan untuk berespon juga semakin besar dan bisa mengancam kesehatan,
produktivitas, kepuasan dan hubungan dan bermanfaat dalam hal – hal seperti
kemampuan berespon dengan cepat dalam keadaan darurat, tepat waktu, keluar
dari zona nyaman, dan menyadarkan potensi

Menurut Thoits (1994), sumber stres dapat dikategorikan menjadi 3 jenis yaitu :
1. Life events (peristiwa kehidupan)
2. Chronic strains (ketegangan kronis)
3. Daily hassles
Tahap – tahap dari mekanisme koping
1.Primary appraisal dari stressor
Membuat keputusan berdasarkan pengetahuan, untuk menilai apakah stressor
berbahaya untuk diri sendiri atau tidak. Jika menganggap sepele stres, maka koping
berhenti di tahap ini, namun jika menganggap stressor mengancam maka proses
koping berlanjut.
2.Secondary appraisal
Tahap dimana mulai mencari sumber – sumber untuk menghadapi stressor. Jika
sebelumnya stressor sudah pernah dihadapi, maka koping stres juga sama. Namun,
hal yang paling penting dalam tahap ini adalah seberapa bisa mengontrol situasi.

3.Coping
Mengambil tindakan yang menurut diri sendiri sesuai.Tahap ini melibatkan aksi dan
penyesuaian diri kemudian berpikir kembali tentang situasi stres.
Pilihan Mekanisme Koping

– Koping Adaptif : membantu individu menyelesaikan stres dan meminimalkan


kesulitan stres dan berujung pada penyelesaian dan penerimaan situasi
– Koping Maladaptif : membawa menuju pelarian diri, bukan pada pemecahan
masalah namun ketidakmampuan menghadapi masalah lalu mencari pelampiasan
atau pelarian pada hal-hal yang tidak membangun.
METODOLOGI PENELITIAN

Populasi dan sampel :


Tempat dan waktu penelitian: - Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa FON
− Penetapan tempat yang UPH cohort 2017 & 2018
dilakukan di FON UPH, - Banyak sample sebanyak 17 mahasiswa,
Karawaci, Kota Tangerang secara random sampling
Banten.
- Cohort 2017 (Laki-laki: 2 Responden,
− dilakukan pada tanggal 28 Perempuan: 6 responden).
Juni 2019 – 14 Juli 2019.
- Cohort 2018 (Laki-laki: 3 Responden,
Perempuan: 6 Responden).
Teknik perolehan data:
Dengan kuesioner pertanyaan (Kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup),
sebanyak 10 pertanyaan kuesioner.
6 pertanyaan pilihan ganda dengan pilihan jawaban (nomor 1,2,4, 5, ,6, dan 7).
4 pertanyaan isian dengan kebebasan menulis jawaban (nomor 3, 8, 9, dan 10).

Teknik Pengolahan Data:


Menggunakan dua Teknik: editing dan tabulating
Pembahasan
1. Mahasiswa FON UPH yang dekat dengan orangtua cenderung memiliki koping
stres yang adaptif
– Sering cemas atau takut kehilangan teman dan sahabat : 70,6 % ( Ya )
– Pola asuh orangtua autoritatif : 88,2 % ( Ya )
– Menceritakan masalah kepada orangtua : 58,9 % ( kadang-kadang )
– Orangtua masih sering memperlakukan seperti anak-anak : 47 % ( tidak )
– Aturan orangtua terkesan kuno : 70,6 % ( tidak )
– Tidak setuju dengan aturan orangtua : 76,5% ( membicarakannya )
– Sumber stres : akademik ( 52,9% ) dan keluarga ( 11,8 % )
Dari data apa yang dilakukan ketika stres, 16 dari 17 orang atau sekitar 94,15%
responden memilih melakukan koping stres yang adaptif seperti mendengarkan musik,
berdoa, berbicara dengan orangtua, menghadapi masalah, nonton, tidur, berpikir
positif dan melakukan hobi dan perasaan responden ketika melakukan koping stres
adaptif adalah merasa lebih tenang, nyaman, rileks dan siap menghadapi masalah.
Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa FON UPH yang dekat dengan orangtua
memiliki koping stres yang adaptif dan mampu berpikir jernih serta merasa lebih siap
menghadapi masalah.
2. Mahasiswa FON UPH yang
tidak dekat dengan orangtua
cenderung memiliki koping
stres yang maladaptif

- Pola asuh orangtua permisif tidak peduli :


5,9%
- Responden merasa kesal setelah bercerita
dengan orangtua
- Sumber stres : permintaan yang tidak
terpenuhi
- Respon : mendiami semua orang
- Perasaan yang dialami : merasa biasa saja
– Hasil ini menunjukkan bahwa benar sesuai dengan teori dan data hasil
kuesioner didapatkan bahwa mahasiswa FON UPH yang tidak dekat dengan
orangtua cenderung memiliki koping stres yang maladaptif.
3. Pengaruh kedekatan orangtua dengan mahasiswa FON
UPH terhadap mekanisme koping stres yang dimiliki

Pola asuh orangtua autoritatif : 88,2% (Ya)


Menceritakan masalah kepada orangtua : 58,9% (Kadang-kadang)
Perasaan lega,senang,tenang setelah menceritakan kepada orangtua : 82,3%
Merasa diperlakukan seperti anak-anak : 47% (tidak)
Merasa aturan orangtua terkesan kuno : 70,6% (tidak)
Tidak setuju dengan aturan orangtua : 76,5% (Membicarakannya)
– Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh kedekatan orangtua dengan
mahasiswa FON UPH terhadap mekanisme koping stres sangat besar. Semakin
dekat hubungan antara orangtua dengan mahasiswa FON UPH, semakin bagus
koping stres yang dimiliki atau cenderung memiliki koping stres adaptif
sedangkan semakin tidak adanya kedekatan antara orangtua dengan
mahasiswa FON UPH, maka cenderung memiliki koping stres maladaptif.
Solusi terhadap mahasiswa FON UPH
yang memiliki koping maladaptif.

Dari 17 orang responden, ditemukan satu orang responden memiliki


koping stres yang maladaptif dipengaruhi oleh kurangnya kedekatan dengan
orangtua dan pola asuh orangtua yang kurang tepat yaitu pola asuh permisif
tidak peduli. Saran dari peneliti, karena pola asuh tidak bisa diubah secara
instan apalagi ini berkaitan dengan orangtua sendiri, maka menurut peneliti
yang bisa dilakukan untuk mengubah koping stres maladaptif menjadi adaptif
adalah memanfaatkan atau memilih lingkungan yang dapat dijadikan sebagai
alternatif selain orangtua ataupun komunitas-komunitas dengan ruang
lingkup seperti keluarga. Jika tidak terbiasa bercerita dengan orang lain,
dapat menumpahkan perasaan lewat tulisan atau catatan pribadi agar dapat
menyalurkan perasaan atau stres sehingga tidak bertumpuk.
Dari keseluruhan responden yaitu mahasiswa FON UPH, kebanyakan
dengan pola asuh orangtua autoritatif sehingga koping stres juga bagus atau
adaptif. Kedekatan dengan orangtua seperti membicarakan masalah, orangtua
yang mendengarkan cerita, orangtua yang tidak menganggap mahasiswa FON
UPH seperti anak-anak dan anak yang tidak menganggap aturan orangtua
terkesan kuno serta memilih membicarakan jika ada aturan orangtua yang
tidak selaras dengan pemikiran mahasiswa FON UPH adalah hal yang benar-
benar menunjukan besar sekali pengaruh orangtuaterhadap karakter yang
menjadi indikator pemilihan koping stres mahasiswa FON UPH.
Ketidakdekatan dengan orangtua menimbulkan karakter yang kurang baik
seperti jika ada masalah cenderung mendiami seorang yang dapat diartikan
jika mahasiswa FON UPH dengan koping maladaptif suka memendam apa
yang dirasakan.
SARAN