Anda di halaman 1dari 32

EKG ACS (ACUTE CORONARY

SYNDROME)

BY :

CUTNAZARA
DEBY KURNIAWAN

NINA RIZKI FEBRIANA

RIFKI AHMAD NAUFAL


PETA KONSEP PEMBAHASAN

1. Pengenalan ACS (Acut Coroner


Syndrom)/sindrom koroner akut
2. Yang termasuk dalam penyakit ACS:
 Stemi
 Nstemi
 Angina pektoris
KENALAN DENGAN ACS

Istilah yang digunakan untuk menyebut


kondisi saat terjadi pengurangan mendadak
aliran darah ke jantung/menggambarkan
kejadian kegawatan pada pembuluh darah
koroner.
KENALAN LEBIH DALAM

Sindrom Koroner Akut (SKA) adalah gabungan gejala


klinik yang menandakan iskemia miokard akut, terdiri
dari :

 infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (ST


segment elevation myocardial infarction = STEMI)

 infark miokard akut tanpa elevasi segment ST ( non ST


segemnt elevation myocardial infarction = NSTEMI)

 angina pektoris tidak stabil (unstable angina pectoris =


UAP).
INFARK MIOKARD (MCI)
 nfark Miokard Akut  Klasifikasi Infark Miokard
adalah penyakit jantung  a. Infark Miokard
yang disebabkan oleh Subendokardial
sumbatan arteri koroner  Infark Miokard Subendokardial
terjadi akibat aliran darah
(Huddak & Gallo, 1997). subendokardial yang relatif
Sumbatan akut terjadi menurun dalam waktu yang lama
oleh karena adanya sebagai akibat perubahan derajat
penyempitan arteri koroner atau
aterosklerotik pada dicetuskan oleh kondisi-kondisi
dinding arteri koroner, seperti hipotensi, perdarahan dan
sehingga menyumbat hipoksia (Rendy & Margareth,
2012).
aliran darah ke jaringan b. Infark Miokard Transmural
otot jantung.  Pada lebih dari 90% pasien infark
miokard transmural berkaitan
dengan trombosis koroner.
Trombosis sering terjadi di daerah
yang mengalami penyempitan
arteriosklerosik. Penyebab lain
lebih jarang di temukan (Rendy &
Margareth, 2012).
STEMI

 ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah


rusaknya bagian otot jantung secara permanen
akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh
proses degeneratif maupun di pengaruhi oleh
banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri
dada, peningkatan enzim jantung dan ST elevasi
pada pemeriksaan EKG.
 Selama terjadi STEMI, dapat diamati
karakteristik perubahan morfologi EKG yang
berbeda-beda dalam jangka waktu tertentu, di
antaranya adalah:
NSTEMI

 NSTEMI adalah infark miokard akut tanpa


elevasi ST yang terjadi dengan mengembangkan
oklusi lengkap arteri koroner kecil atau oklusi
parsial arteri koroner utama yang sebelumnya
terkena aterosklerosis.
ANGINA PEKTORIS

 Angina pektoris adalah


suatu nyeri di daerah dada
yang biasanya menjalar ke
bahu dan lengan kiri yang
disebabkan oleh
menurunnya suplai
oksigen ke jantung.
UNSTA
ANGINA UNSTABLE BLE ANGINA

Angina unstable yaitu angina yang pola


gejalanya dapat berubah-ubah. Biasanya
terjadi pada malam hari, saat tidur. Angina
ini dapat terjadi lebih sering dan lebih berat
dibanding angina stable. Angina unstable
juga dapat terjadi dengan atau tanpa
aktivitas fisik, dan tidak membaik dengan
beristirahat atau obat-obatan.
ANGINA PEKTORIS TAK STABIL

 Angina tak stabil/ATS


Sindrom ATS telah lama dikenal sebagai gejala awal infark miokard
akut (IMA).
Terminologi ATS harus tercakup dalam kriteria penampilan klinis sbb :
 Angina pertama kali
angina timbul pada saat aktivitas fisik, baru pertama kali dialami
oleh penderita dalam periode 1 bulan terakhir.
 Angina progresif
angina timbul saat aktivitas fisik yang berubah polanya dalam 1
bulan terakhir, yaitu menjadi lebih sering, lebih berat, lebih lama,
timbul dengan pencetus yang lebih ringan dari biasanya dan tidak
hilang dengan cara yang biasa dilakukan. Penderita sebelumnya
menderita angina pektoris stabil.
GAMBARAN EKG PADA ANGINA TIDAK
STABIL DAN NSTEMI

 Pada gambaran EKG normal, gelombang T biasanya


positif pada sadapan (lead) I, II, dan V3 sampai dengan V6;
terbalik pada sadapan aVR; bervariasi pada sadapan III,
aVF, aVL, dan V1; jarang didapatkan terbalik pada V2.
Jika terjadi iskemia, gelombang T menjadi terbalik
(inversi), simetris, dan biasanya bersifat sementara (saat
pasien simptomatik). Bila pada kasus ini tidak didapatkan
kerusakan miokardium, sesuai dengan pemeriksaan CK-
MB (creatine kinase-myoglobin) maupun troponin yang
tetap normal, diagnosisnya adalah angina tidak stabil.
Namun, jika inversi gelombang T menetap, biasanya
didapatkan kenaikan kadar troponin, dan diagnosisnya
menjadi NSTEMI. Angina tidak stabil dan NSTEMI
disebabkan oleh trombus non-oklusif, oklusi ringan (dapat
mengalami reperfusi spontan), atau oklusi yang dapat
dikompensasi oleh sirkulasi kolateral yang baik.
 Gambaran khas berupa depresi segmen ST
lebih dari 0,5 mm (0,05 mV) pada dua atau lebih
sadapan yang bersesuaian atau inversi
gelombang T yang dalam dan simetris. Morfologi
depresi segmen ST biasanya datar atau
downsloping. Gambaran depresi segmen ST pada
angina tidak stabil atau NSTEMI bersifat sesaat
(transient) dan dinamis.
JENIS EKG

HIPER AKUT T
STEMI ELEVASI SEGMENT T
GELOMBANG Q

DEPRESI SEGMENT ST
NSTEMI
INVERSI GELOMBANG T

DEPRESI SEGMENT T
UNSTABLE ANGINA INVERSI GELOMBANG T
TIDAK ADA GELOMBANG Q
PERUBAHAN EKG PADA UA DAN NSTEMI
EVOLUSI EKG SELAMA STEMI
GELOMBANG T HIPERAKUT

 Pada periode awal terjadinya STEMI, bisa didapatkan


adanya gelombang T prominen. Gelombang T prominen itu
disebut gelombang T hiperakut, yaitu gelombang T yang
tingginya lebih dari 6 mm pada sadapan ekstremitas dan
lebih dari 10 mm pada sadapan prekordial. Gelombang T
hiperakut ini merupakan tanda sugestif untuk STEMI dan
terjadi dalam 30 menit setelah onset gejala. Namun,
gelombang T prominen ini tidak selalu spesifik untuk
iskemia.

DIAGNOSIS BANDING GELOMBANG T PROMINEN

1. SKA (biasanya besar dan lebar, disertai nyeri


dada dan gejala kardiovaskuler lainnya)
2. Variasi normal (didapatkan pada sadapan
prekordial tengah pasien usia muda)
3. Hiperkalemia (biasanya tidak disertai gejala
nyeri dada)
4. Perdarahan intrakranial (disertai pemanjangan interval
QT dan terdapat gelombang U)
5. Hipertrofi ventrikel kiri
6. LBBB (left bundle branch block)
GAMBARAN AWAL ELEVASI SEGMEN ST

 Jika oklusi terjadi dalam waktu lama dan derajatnya


signifikan (menyumbat 90% lumen arteri koroner),
gelombang T prominen akan diikuti dengan deviasi
segmen ST. Elevasi segmen ST menggambarkan adanya
daerah miokardium yang berisiko mengalami kerusakan
ireversibel menuju kematian sel (dapat diukur
berdasarkan peningkatan kadar troponin) dan lokasinya
melibatkan lapisan epikardial. Diagnosis STEMI
ditegakkan jika didapatkan elevasi segmen ST minimal 0,1
mV (1 mm) pada sadapan ekstremitas dan lebih dari 0,2
mV (2 mm) pada sadapan prekordial di dua atau lebih
sadapan yang ber-2,6 sesuaian. Elevasi segmen ST
merupakan gambaran khas infark miokardium akut
transmural, tetapi bisa ditemukan pula pada kelainan lain.
Pada kebanyakan kasus, untuk membedakan STEMI dari
kelainan lain biasanya tidak sulit, cukup dengan
memperhatikan gambaran klinisnya.
ELEVASI SEGMEN ST YANG KHAS (BERBENTUK
KONVEKS)

 Gelombang R mulai menghilang. Pada saat


bersamaan, mulai terbentuk gelombang Q
patologis. Gelombang Q patologis berhubungan
dengan infark transmural yang disertai dengan
adanya fibrosis pada seluruh dinding. Pada 75%
pasien, elevasi segmen ST yang khas ini
terbentuk dalam beberapa jam sampai beberapa
hari.
INVERSI GELOMBANG T

 Bila berlangsung lama dan tidak dilakukan


reperfusi arteri koroner, elevasi segmen ST
mulai menghilang kembali ke garis isoelektrik.
Bersamaan dengan itu, mulai timbul gambaran
inversi gelombang T. Gelombang T dapat
kembali normal dalam beberapa hari, minggu,
atau bulan.

MORFOLOGI SEGMEN ST KEMBALI NORMAL
Segmen ST biasanya stabil dalam 12 jam,
kemudian mengalami resolusi sempurna setelah 72
jam. Elevasi segmen ST biasanya menghilang
sempurna dalam 2 minggu pada 95% kasus infark
miokardium inferior dan 40% kasus infark
miokardium anterior. Elevasi segmen ST yang
menetap setelah 2 minggu berhubungan dengan
morbiditas yang lebih tinggi. Jika elevasi segmen ST
menetap selama beberapa bulan, perlu dipikirkan
kemungkinan adanya aneurisma ventrikel.
LETAK ANATOMIS SINDROM KORONER
AKUT
LOKALISASI INFARK BERDASARKAN LOKASI LETAK
PERUBAHAN EKG