Anda di halaman 1dari 17

Kelompok VII :

1. Alhanina Salsabila (1801005)

2. Annisa Chika Ayu I. (1801007)

3. Echa Saskia Azli (1801015)

4. Dinnia Akhwany (1801013)

5. Khafiza Shelna (1801021)

SEKOLAH TINGGI FARMASI RIAU

RIAU

2019
DIAGNOSIS
1) Bahan klinis:
Kerokan kulit, sputum dan bilas bronkus, cairan serebrospinal,cairan pleura,
dan darah, sumsum tulang, urin dan biopsi jaringan dari berbagai organ dalam.
2) Mikroskopik langsung:
a. Kerokan kulit harus diperiksa menggunakanKOH 10% dan tinta Parker
atau calcofluor white mounts;
b. Eksudat dancairan tubuh harus disentrifugasi dan sedimennya diperiksa
denganmenggunakan KOH 10% dan tinta Parker atau calcofluor white mounts,
c. Potongan jaringan harus diwarnai dengan PAS digest, Grocott’s
methenaminesilver (GMS) atau pewarnaan Gram.Histopatologi sangat berguna
dan merupakan satu dari cara yang paling penting untuk memperingatkan
laboratorium bahwa mereka mungkin menangani sesuatu yang berpotensi
sebagai patogen. Potongan jaringan menunjukkan sel seperti ragi yang besar,
dasarnya besar, kuncupunipolar, berdiameter 8-15 mikrometer. Perhatikan:
potongan jaringan perlu diwarnai dengan cara Grocott’s methenamine silver
untuk dapat melihat sel seperti ragi dengan jelas, yang seringkali sulit dilihat
pada sediaan H&E.
Interpretasi:
Peraturannya adalah, pemeriksaan mikroskopik langsung yang positif yang menunjukkan
karakteristik sel seperti ragi dari sediaan apapun harus dipandangsebagai sesuatu yang
signifikan.
3) Kultur:
Spesimen klinis harus diinokulasi ke dalam media isolasi primer seperti agar
dextrose Sabouraud dan agar infusi jantung otak ditambah dengandarah kambing 5%.
Interpretasi:
Kultur positif dari spesimen-spesimen diatas harus dikatakan signifikan.
PERINGATAN:
Kultur
Blastomyces dermatitidis
merupakan biohazard bagi petugas laboratorium dan harus ditangani dengan sangat hati-
hati pada kabine penanganan patogen yang tepat.
4) Serologi:
Tes serologi memiliki nilai yang terbatas dalam diagnosis Blastomikosis.
5) Identifikasi:
Pada morfologi mikroskopik yang lalu, konversi dari bentuk jamur ke bentuk ragi,
dan patogenitas binatang telah digunakan semuanya;meskipun demikian tes eksoantigen
sekarang merupakan metode pilihan untuk mengidentifikasi
Blastomyces dermatitidis
PENGOBATAN
Amphotericin B [0.5 mg/kg per hari selama 10 minggu] tetap
merupakan obat pilihan bagi pasien dengan infeksi akut yang
mengancam jiwa dan mereka dengan meningitis.Pasien dengan
kavitas paru dan lesi di tempat selain paru dan kulit
membutuhkanterapi yang lebih lama. Itraconazole oral [200
mg/hari untuk paling sedikit selama 3 bulan] adalah obat pilihan
bagi pasien dengan bentuk blastomikosis yang indolen;meskipun
demikian jika pasien lambat memberikan respon, dosis harus
ditingkatkanmenjadi 200 mg dua kali sehari. Pasien dengan
infeksi serius yang memberikanrespon terhadap terapi awal
dengan amphotericin, dapat diubah ke itraconazolesampai akhir
dari terapi mereka.Ketokonazole oral dapat digunakan, tetapi
agak kurang dapat ditoleransi.Flukonazole tampaknya kurang
efektif dibandingkan denganitraconazole atau ketoconazole.