Anda di halaman 1dari 22

Monitoring dan Evaluasi

Kinerja

By
Agung Riyadi

1
Pengertian Monitoring dan Evaluasi

 Monitoring adalah suatu proses pengumpulan dan


menganalisis informasi dari penerapan suatu program
termasuk mengecek secara reguler untuk melihat apakah
kegiatan/program itu berjalan sesuai rencana sehingga
masalah yang dilihat /ditemui dapat diatasi(WHO)
 Evaluasi adalah suatu proses pengumpulan data menganalisis
informasi tentang efektifitas dan dampak dari suatu tahap atau
keseluruhan program . Evaluasi juga termasuk menilai
pencapaian program dan mendeteksi serta menyelesaikan
masalah dan merencanakan kegiatan yang akan
datang(WHO).

2
Tujuan Monitoring dan Evaluasi
 Memperoleh informasi tentang kegiatan apakah telah
dilaksanakan sesuai dengan rencana sehingga dapat
diberikan umpan balik.
 Untuk mempertanggung jawabkan tugas/kegiatan yang telah
dilakukan.
 Sebagai bahan untuk pengambilan keputusan dalam
pengembangan program/kegiatan.
 Untuk menentukan kompetensi pekerjaan dan meningkatkan
hubungan kinerja yang baik diantara pegawai dalam hal ini
perawat.
 Menghargai pengembangan staf dan memotivasi perawat ke
arah pencapaian kualitas yang tinggi.
 Meningkatkan kegiatan bimbingan dan konseling bagi
manajer.
 Mengidentifikasi kapasitas perawat untuk pengembangan.

3
Manfaat Monitoring dan Evaluasi

 Mengidentifikasi masalah keperawatan


 Mengambil langkah korektif untuk
perbaikan secepatnya
 Mengukur pencapaian sasaran/target

4
Prinsip-prinsip Monitoring dan Evaluasi

 Libatkan staf dalam perencanaan dan implementasi  rapat


dengan staf untuk memberi kesempatan mengerti konsep dan
ide-ide dan keuntungan self evaluasi menjadi berguna
 Ditetapkan area klinik yang akan di monitoring dan evaluasi
 Ditetapkan supervisor/ kordinator perawat yang akan
melakukan monitoring dan evaluasi
 Jelaskan bahwa monitoring dan evaluasi “bukan untuk mencari
kesalahan seseorang”  untuk melakukan upaya perbaikan
bersama-sama
 Gunakan temuan – temuan untuk merefleksikan keberhasilan
program dan dijadikan acuan untuk melakukan upaya-upaya
perbaikan/peningkatan

5
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan
Monitoring

 Monitoring kinerja klinis perawat berdasarkan indikator


kinerja klinis
 Indikator kinerja berdasarkan standar dan uraian tugas.
 Indikator kinerja klinis dipilih yang menjadi indikator kunci
 Indikator harus bersifat ; dapat diukur atau dinilai, dapat
dicapai, dan bersifat spesifik
 Dalam waktu tertentu dapat dilakukan perubahan
 Monitoring harus ditentukan bagaimana caranya, kapan
dimana, dan siapa yang akan memonitor serta harus
didokumentasikan.

6
LANGKAH-LANGKAH MONITORING
Perencanaan

– Merancang sistem monitoring yang spesifik: apa yang


akan dimonitor, tujuan apakah untuk memperoleh
infomasi rutin atau jangka waktu pendek? mengapa dan
untuk siapa yang melakukan Monev(user).
– Menentukan scope monitoring: luasnya area (RS,
puskesmas non TT)? apakah bersifat klinis atau service?
Siapa yang terlibat? Berapa lama monitoring akan
dilakukan?
– Memilih dan menentukan indikator yang akan
dimonitoring
– Menentukan sumber-sumber informasi, memilih metoda
pengumpulan data, seperti metoda observasi, interview
petugas, perawat, pasen atau rapid survey.

7
PELAKSANAAN MONITORING

 Mengumpulkan data dengan menggunakan instrumen


Monev
 Tabulasi data dan analisa data: membandingkan temuan
atau pencapaian aktual dengan perencanaan
 Temuan dalam monitoring: apakah ada penyimpangan, bila
ada perlu diidentifikasi masalah penyebabnya. Hasil temuan
di "feedback" kan kepada semua staf yang terlibat.
 Menggali penyebab dan mengambil tindakan perbaikan:
menggali penyebab terjadinya masalah, bisa jadi masalah
timbul dalam hal yang sudah familiar bagi perawat, misalnya
immunisasi cakupan turun. Bila penyebab telah diketahui,
check list immunisasi dipakai lagi. Rencana monitoring perlu
disusun jangka pendek untuk menjamin bahwa
tindakan/prosedure dilaksanakan sesuai standar (rencana)
serta memberi efek sesuai dengan harapan
8
MENENTUKAN KELANJUTAN MONITORING

 Menetapkan rencana tindak lanjut hasil


monitoring
 Upaya-upaya peningkatan atau penyelesaian
masalah (kalau ada penyimpangan
pelayanan keperawatan )

9
TIPE MONITORING

Monitoring Rutin :
 Kegiatan mengkompilasi informasi secara reguler
berdasarkan sejumlah indikator kunci. Jumlah
indikator dalam batas minimum namun tetap dapat
memberikan informasi yang cukup bagi manajer
untuk mengawasi kemajuan/perkembangan.
Monitoring rutin dapat dipergunakan untuk
mengidentifikasi penerapan program dengan atau
tanpa perencanaan

10
Monitoring jangka Pendek :

 Dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan biasanya


diperuntukkan bagi aktifitas yang spesifik. Seringkali
bila aktifitas atau proses-proses baru diterapkan,
manajer ingin mengetahui, apakah sudah diterapkan
sesuai rencana dan apakah sesuai dengan keluaran
yang diinginkan. Pada umumnya manajer
memanfaatkan informasi ini untuk membuat
penyesuaian dalam tindakan yang baru. Sekali
penerapan telah berjalan baik maka indikator kunci
dimasukkan kedalam monitoring rutin. Monitoring
jangka pendek diperlukan bila manajer menemukan
suatu masalah yang muncul berhubungan dengan
input atau pelayanan.
11
Untuk merancang sistem monitoring rutin atau jangka
pendek, beberapa hal perlu dipertimbangkan:

 Memilih indikator kunci yang akan dipergunakan


manajer;
 Hindari mengumpulkan data yang berlebihan agar
tidak menjadi beban staf.
 Berikan feedback pada waktu tertentu;
 Gunakan format laporan yang dapat dengan
mudah untuk menginterpretasikan data dan
tindakan.

12
SISTEM MONITORING KINERJA KLINIK
PERAWAT

Standar/SOP

Mengatasi
penyimpangan Umpan balik Uraian Tugas

DRK
Indikator
Cara monitoring
Kinerja klinik

Instrumen/ alat
monitoring

13
INSTRUMEN MONEV

DAFTAR TILIK
 Adalah daftar alat untuk mengecek, berisi nama subyek dan
beberapa hal/ciri yang akan diamati dari sasaran
pengamatan. Pengamat dapat memberi tanda cek (V) pada
daftar tersebut yang menunjukkan adanya ciri dari sasaran
pengamatan.
KUESIONER (DAFTAR PERTANYAAN)
 Adalah daftar pertanyaan yang sudah disusun dengan baik
sehingga responden (dalam angket dan interviewer dalam
wawancara) dapat memberi jawaban atau tanda pada
lembaran tersebut.

14
CATATAN ANEKDOTAL

 Adalah catatan-catatan mengenai tingkah laku


seseorang yang luar biasa sifatnya atau yang khas
dibuat oleh seorang pengamat atau atasan/pimpinan
organisasi. Pencatatan ini prinsipnya harus segera
mungkin dikala peristiwa itu terjadi atau segera setelah
peristiwa terjadi dan yang dicatat adalah ucapan atau
tingkah laku dari orang tersebut.

15
METODE PENILAIAN KINERJA

(1) Penilaian oleh atasan langsung (supervisor)


Adalah penilaian yang dilakukan oleh atasan termasuk
penyelia terhadap ruang lingkup tugas-tugas yang menjadi
tanggungjawab dan wewenang dari bawahannya
berdasarkan indikator yang sudah disepakati bersama.
(2) Penilaian mandiri (self assessment)
Adalah penilaian diri sendiri menekankan bahwa penilaian
kinerja seseorang dinilai oleh diri sendiri yang bertujuan
untuk mengembangkan diri individu itu sendiri dalam rangka
pengembangan organisasi.
(3) Kajian kesejawataan (Peer review)
Adalah penilaian yang dilakukan oleh teman sekerja dan
seprofesi dengan kemampuan yang sama mereka akan
menilai sejawatnya berdasarkan standar yang sudah
ditetapkan.
16
Langkah-Langkah mengatasi
penyimpangan

Identifikasi masalah
 Hasil dari monitoring dan evaluasi kinerja klinik
perawat berdasarkan pada indikator kinerja klinik
yang telah mereka sepakati. Metode yang
digunakan untuk melakukan monitoring dan
evaluasi kinerja klinik disesuaikan dengan kondisi
tempat kerja, berdasarkan hasil monitoring dan
evaluasi, selanjutnya diidentifikasi apakah ada
penyimpangan atau adanya masalah.

17
Umpan balik

 Kalau terjadi penyimpangan atau ada masalah,


misalnya pada klien yang memperoleh tindakan
infus terjadi pleibitis. Supervisor perlu memberikan
umpan balik (feed back) kepada perawat yang telah
melakukan tindakan tersebut. Umpan balik bukan
berarti mencari kesalahan seseorang, melainkan
tujuannya untuk menyampaikan hasil tindakan yang
telah dilakukan dan efek yang terjadi, sehingga
petugas yang melakukan kesalahan tersebut
menyadari atas tindakannya yang tidak sesuai
dengan standar, serta berupaya untuk melakukan
perbaikan di masa mendatang.

18
Rencana perbaikan.

 Setelah dilakukan umpan balik, supervisor atau pimpinan di


institusi sarana kesehatan perlu merencanakan upaya-upaya
perbaikan. Seperti contoh kasus plebitis tersebut di atas,
apabila di sarana kesehatan sering terjadi pleibitis pada
beberapa kasus, perlu disusun rencana perbaikan, dengan
menelusuri ; peralatan dan prasarana untuk tindakan infus,
kompetensi perawat dalam melakukan tindakan infus,
tersedianya protap/SOP. Apabila dilihat dari sarana dan
prasarana tidak ada kendala, kemungkinan perlu direncanakan
peningkatan keterampilan perawat untuk melakukan tindakan
infus.

19
Implementasi perbaikan

 Upaya perbaikan perlu dilakukan disesuaikan


dengan konsisi tempat kerja, untuk contoh kasus di
atas, meningkatkan keterampilan perawat dalam
melakukan tindakan infus, dapat dilakukan dengan
misalnya ; in-service training, pendampingan oleh
supervisor, atau bisa dilakukan dengan cara magang
di unit tertentu yang sering melakukan tindakan infus
misalnya di Instalasi Gawat Darurat di rumah sakit

20
Evaluasi
 Upaya perbaikan tidak memberikan makna apabila
tidak dilakukan evaluasi. Dalam kaitan ini perlu
dilakukan evaluasi terhadap upaya-upaya
perbaikan yang telah dilakukan.
Tindak lanjut
 Berdasarkan hasil evaluasi dapat ditetapkan
langkah lebih lanjut tindakan yang perlu dilakukan.

21
22