Anda di halaman 1dari 41

K3 Listrik

Abdul Gofur Syam

Confidential Property of Schneider Electric


1. Tujuan Pelaksanaan K3

 Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan


dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan
produksi serta produktivitas Nasional;
 Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula
keselamatannya;
 Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan
effisien;
. lanjutan 1. Tujuan Pelaksanaan K3

 Untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera;


 Meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peransertanya dalam
pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan
keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan;
 Mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap
memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha.
2. Pendekatan K3
Pendekatan Hukum
> K3 merupakan ketentuan perundangan.
Pendekatan Ekonomi
> K3 mencegah kerugian.
> Meningkatkan produktivitas.
Pendekatan Kemanusiaan
> Kecelakaan menimbulkan penderitaan bagi sikorban / keluarganya.
> K3 melindungi pekerja dan masyarakat.
> K3 bagian dari Hak Asasi Manusia.
3. UU Nomor 1 Tahun 1970 dan Peraturan Pelaksanaannya
1. Pengertian tempat kerja
a. tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi sesuatu usaha.
b. adanya tenaga kerja yang bekerja disana.
c. adanya bahaya kerja di tempat itu.
Lanjutan UU Nomor 1 Tahun 1970

2. Ruang Lingkup Pelaksanaan K3


a. tempat kerja yang berasa di Wilayah hukum Republik Indonesia
b. Tempat kerja yang mempunyai sumber potensi bahaya
Lanjutan UU Nomor 1 Tahun 1970

3. Syarat keselamatan Kerja


dengan peraturan pemerintah dan peraturan menteri diatur pedoman untuk:
 mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
 meminimalisasi cidera dan kerugian
 menciptakan tempat kerja yang sehat dan selamat
 menciptakan pekerjaan yang sehat dan selamat
Lanjutan UU Nomor 1 Tahun 1970

4. Pola Pelaksanaan K3
Pelaksanaan K3 dilaksanakan secara menyeluruh di setiap kegiatan :
 perencanaan
 pembuatan/pemasangan
 pengangkutan, peredaran, perdagangan,
 pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan
Lanjutan UU Nomor 1 Tahun 1970

5. Pengawasan
Pengawasan K3 dilakukan oleh:
> Pengawas ketenagakerjaan
> Ahli K3
Lanjutan UU Nomor 1 Tahun 1970

6. Kewajiban Pengurus
 menjamin kesehatan pekerja
 memberikan pembinaan K3
 membentuk P2K3
 melaporkan kecelakaan kerja
 menjamin orang lain selain pekerja yang berada ditempat kerja
 menyediakan sarana K3 dan Alat pelindung diri
Lanjutan UU Nomor 1 Tahun 1970

7. Hak dan Kewajiban tenaga kerja


a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai
pengawas dan atau keselamatan kerja;
b. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan;
c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan
kesehatan kerja yang diwajibkan;
d. Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat-syarat
keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.
Lanjutan UU Nomor 1 Tahun 1970

8. Sanksi
 hukum denda dan kurungan
 tindakan pidana merupakan pelanggaran
Dasar hukum :

Undang undang No 1 tahun 1970


Pasal 2 ayat (1) huruf q

Keselamatan Kerja
(Ruang lingkup)
Setiap tempat dimana listrik
dibangkitkan, ditranmisikan,
dibagi-bagikan, disalurkan dan
digunakan

13
Dasar hukum :

Undang undang No 1 tahun 1970


Pasal 3 ayat (1) huruf q

Keselamatan Kerja
(Objective)

Dengan peraturan perundangan


ditetapkan syarat-syarat keselamatan
kerja untuk:
q. mencegah terkena aliran listrik berbahaya

14
1. Pendahuluan K3 Listrik
“ Selain mempunyai manfaat yang sangat besar dalam kehidupan manusia, listrik juga dapat
mengandung bahaya yang sangat potensial”
” Listrik merupakan sumber bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan luka bakar sampai
kematian ”.
” Mengenal dan dapat mengidentifikasi bahaya listrik sangat penting agar kecelakaan fatal
tidak terjadi ”.
Pada dasarnya bahaya listrik mengancam tiga hal yaitu:
 Mengancam keselamatan manusia dan ini merupakan kerugian yang tak ternilai
harganya.
 Ancaman bagi bangunan gedung beserta instalasinya.
 Ancaman terhadap isi bangunan termasuk perangkat listrik dan elektronik.
2. Sejarah Penerapan Standar Listrik

Sejarah Pemberlakuan AVE 1938, PUIL 1964, PUIL 1977, PUIL 1988, PUIL 2000,
PUIL 2011

 Diawali dengan Penerapan Standar yang berlaku di negara Belanda


 Pemberlakukan standar Belanda dengan peraturan Menteri bidang
ketenagakerjaan
 Penyusunan SNI berdasarkan standar Belanda
 Penyusunan SNI sesuai dengan Penerapan listrik di Indonesia
3. Peraturan Terbaru di Bidang Listrik
4. Standar Kelistrikan yang sebagai acuan

a.Standar Nasional Indonesia;


b.Standar Internasional; dan/atau
c.Standar Nasional Negara lain yang ditentukan oleh Pengawas
Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik.
5. Persyaratan K3 Listrik di Tempat Kerja

a. Ruang lingkup
pembangkitan listrik;
transmisi listrik;
distribusi listrik; dan
pemanfaatan listrik;
yang beroperasi dengan tegangan lebih dari 50 (lima puluh) volt arus
bolak balik atau 120 (seratus dua puluh) volt arus searah.
Lanjutan 5. Persyaratan K3 Listrik di Tempat Kerja

b. Tujuan Pelaksanaan K3 Listrik


• K3 bagi tenaga kerja dan orang lain
• Keamanan instalasi listrik
• Mendorong produktifitas
Lanjutan 5. Persyaratan K3 Listrik di Tempat Kerja

Perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, dan


pemeliharaan
• wajib mengacu kepada standar bidang kelistrikan dan ketentuan
peraturan perundang-undangan
• dilakukan oleh Ahli K3 bidang Listrik

Kewajiban keberadaan Ahli K3 bidang Listrik


• tempat kerja yang mempunyai pembangki lebih dari 200 kVa
Lanjutan 5. Persyaratan K3 Listrik di Tempat Kerja

Pemeriksaan Dan Pengujian


• wajib dilakukan pada perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, dan
pemeliharaan

• mengacu kepada standar bidang kelistrikan dan peraturan perundang-undangan

• dilakukan oleh Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik dan/atau Ahli K3 bidang


Listrik

• pelaksanannnya :

‒ sebelum penyerahan kepada pemilik/pengguna;

‒ setelah ada perubahan/perbaikan; dan

‒ secara berkala
Lanjutan 5. Persyaratan K3 Listrik di Tempat Kerja

Pengesahan
• Hasil pemeriksaan dan pengujian sesuai standar
• dilakukan oleh oleh Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik dan
Ahli K3 bidang Listrik pada PJK3
• diterbitkan oleh Dinas yang membidangi pengawasan ketenagakerjaan
provinsi
Lanjutan 5. Persyaratan K3 Listrik di Tempat Kerja

Pemeriksaan berkala
• 1 (satu) tahun sekali
Pengujian berkala
• 5 (lima) tahun sekali
Hasil pemeriksaan dan pengujian
• dilaporkan ke dinas yang membidnagi pengawasan
setempat
• sebagai bahan pembinaan dan penegakan hukum
Lanjutan 5. Persyaratan K3 Listrik di Tempat Kerja

Perlengkapan dan Peralatan tersertifikasi dari lembaga yang


berwenang :
• LMK atau
• lembaga lain yang diakui
Pengawasan norma listrik dilakukan oleh Pengawas Ketenagakerjaan
Sanksi : UU no 1 tahun 1970 dan UU no 13 tahun 2003
6. Kecelakaan yang terjadi di Industri
> Jatuh Dari Ketinggian
> Kejatuhan Benda
> Terantuk, Tersandung, Tergelincir
> Terjepit Diantara Benda
> Terlanggar, Tertubruk, Tertabrak, Tergilas Benda
> Terpotong
> Terkilir
> Terbakar Akibat/Berhubungan dengan Suhu / Korosif / Radiasi
> Paparan Bahan Kimia
> Kurang Oksigen
> Tersengat Arus Listrik
> Dan Lain Lain

Confidential Property of Schneider Electric | Page 26


7. Pengertian P3K

Adalah merupakan pertolongan pertama yang harus segera


diberikan kepada korban yang mendapatkan kecelakaan
atau penyakit mendadak dengan cepat dan tepat sebelum
korban dibawa ke tempat rujukan.
8. Maksud dan Tujuan P3K

P3K dimaksudkan :
Memberikan perawatan darurat pada korban, sebelum pertolongan
yang lebih lengkap diberikan oleh dokter atau petugas kesehatan
lainnya.
P3K diberikan untuk :
 Menyelamatkan nyawa korban;
 Meringankan penderitaan korban;
 Mencegah cedera/penyakit menjadi lebih parah;
 Mempertahankan daya tahan korban;
 Mencarikan pertolongan yang lebih lanjut.
9. Prinsip Dasar Tindakan Pertolongan

1. Pedoman tindakan Prinsip P-A-T-U-T


P = Penolong mengamankan diri sendiri lebih dahulu sebelum
bertindak
A = Amankan korban dari gangguan di tempat kejadian, sehingga
bebas dari bahaya.
T = Tandai tempat kejadian sehingga orang lain tahu bahwa di tempat
itu ada kecelakaan.
U = Usahakan menghubungi ambulan, dokter, rumah sakit atau yang
berwajib
T = Tindakan pertolongan terhadap korban dalam urutan yang paling
tepat.
Lanjutan 9. Prinsip Dasar Tindakan Pertolongan

2. Ciri-ciri gangguan
 Mengenali ciri-ciri gangguan pada korban;
 Gangguan Umum;
 Gangguan Lokal.
.
Lanjutan 9. Prinsip Dasar Tindakan Pertolongan

3. Kesiapan Fasilitas Pertolongan


o Personil;
o Buku petunjuk/buku pedoman P3K;
o Kotak P3K & kotak khusus dokter;
o Prinsip Dasar Tindakan Pertolongan;
o Ruang P3K;
o Alat angkut & transportasi;
o Alat perlidungan;
o Peralatan darurat.
10. Pemberian Pertolongan

1. Menilai situasi
a. Mengenali bahaya diri sendiri dan orang lain;
b. Memperhatikan sumber bahaya
c. Memperhatikan jenis pertolongan
d. Memperhatikan adanya bahaya susulan
Lanjutan 10. Pemberian Pertolongan

2. Mengamankan Tempat Kejadian


a) Memperhatikan penyebab kecelakaan;
b) Utamakan keselamatan diri sendiri;
c) Singkirkan sumber bahaya yang ada (putuskan aliran dan
matikan sumber);
d) Hilangkan faktor bahaya misal dengan menghidupkan exhaus
ventilasi, jauhkan sumber;
e) Singkirkan korban dengan cara aman dan memperhatikan
keselamatan diri sendiri (dengan alat pelindung).
Lanjutan 10. Pemberian Pertolongan

3. Memberikan pertolongan
a. Menilai kondisi korban dan tentukan status korban dan prioritas
tindakan. Periksa kesadaran, pernafasan, sirkulasi darah dan
gangguan lokal;
b. Berikan pertolongan sesuai status korban :
• Baringkan korban dengan kepala lebih rendah dari tubuh;
• Bila ada tanda henti nafas dan jantung berikan resusitasi
Jantung paru;
• Selimuti korban;
• Bila luka ringan obati seperlunya (luka bakar ringan).
• Bila luka berat carikan pertolongan ke RS/Dokter.
11. Gangguan Umum

1. Gangguan pernafasan (sumbatan jalan nafas, menghisap asap/gas


beracun, kelemahan atau kekejangan otot pernafasan).
2. Gangguan kesadaran (gegar/memar otak, sengatan matahari
langsung, kekurangan zat asam/oksigen).
3. Gangguan peredaran darah (perdarahan hebat, luka bakar yang
luas, rasa nyeri yang hebat, kekuarangan cairan tubuh secara
cepat, keadaan allergi atau tidak tahan obat).
12. Gangguan Lokal

1. Perdarahan atau luka yang disebabkan karena adanya pembuluh


darah terputus atau robek.
2. Patah tulang yang disebabkan karena adanya benturan atau
pukulan.
3. Luka bakar yang disebabkan karena panas kering, kontak dengan
aliran listrik, gesekan dari roda yang berputar, asam dan basa
kuat, panas yang basah.
13. Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Penyediaan Fasilitas

 Sifat Pekerjaan;
 Jumlah bahan/sumber bahaya;
 Pelayanan kesehatan terdekat;
 Lokasi tempat kerja;
 Jenis industri;
 Jumlah pekerja;
 Shift kerja;
 Ukuran dan lay out perusahaan.
14. Pengawasan Pelaksanaan P3K di Tempat Kerja

 Fasilitas :
• Kotak P3K.
• Isi kotak P3K.
• Buku pedoman.
• Ruang P3K.
• Perlengkapan P3K (alat perlindungan, alat darurat, alat angkut dan
transportasi).
 Personil :
 Penanggung Jawab : dokter pimpinan PKK, Ahli K3.
 Petugas P3K : Sertifikat pelatihan P3K ditempat kerja.
15. Pembinaan Pengawasan Pelaksanaan P3K di Tempat Kerja

Internal Perusahaan :
 Pengurus Perusahaan;
 Dokter Perusahaan/DPKTK;
 Ahli K3, Ahli K3 Kimia;
 Auditor Internal.
External Perusahaan :
 Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan;
 Auditor External.
16. Lockout / Tagout (LOTO)
Lockout / Tagout (LOTO), Disebut juga Prevention of Unexpected Start Up: adalah proses yang digunakan untuk
melindungi personel saat melakukan "pekerjaan" seperti pemeliharaan, perbaikan atau pemasangan pada peralatan, sistem,
fasilitas, atau entitas lain di mana ada potensi pelepasan tak terduga energi yang ada.

Fungsi LOTO:Mengamankan proses maintenance.

Log Out: Terdiri dari 3 bagian: Jenis Jenis Aplikasi LOTO


1. LOTO device.
2. Gembok (harus terbuat dari palstik).
3. Tagging

Confidential Property of Schneider Electric | Page 40