Anda di halaman 1dari 33

FORENSIK

PENENTUAN UMUR, JENIS


KELAMIN, GOLONGAN DARAH
DAN SIDIK BIBIR
Ali Zainal 2014 11 008
Alifah Zahrah 2014 11 009
Alilla Amani Dewi 2014 11 010
Andiya Mauliddinna 2014 11 016
Atika Putri Novianti 2014 11 025
Bell Kinsky 2014 11 0
Chairunnisa Lisselly 2014 11 0
Chita Anindya 2014 11 0
Dhana Permatasari 2014 11 0
Diah Puspitasari 2014 11 0
Dyah Munsyi Aulia 2014 11 053
Ershalita Febiani 2014 11 060
IDENTIFIKASI
MANUSIA

 Dapat dilakukan dengan


pemeriksaan pada gigi geligi.
 Gigi dapat terjaga dalam lingkungan
yg baik walupun manusia telah lama
meninggal
Identifikasi manusia
dilakukan dengan cara

• Menggunakan sampel penelitian yang terdiri dari


60 gigi dibagi menjadi 4 grup dibawah kondisi
lingkungan dan waktu berbeda.
• Gigi kemudian dibelah menjadi longitudinal di
bagian buccolingual sepanjang garis midline.
• Setiap gigi diperiksa utk menentukan : umur dari garis
segmental.
• Pulpa yg telah dibagi 2 diperiksa utk menentukan :
gender & gol. darah
Estimasi usia gigi, dapat menggunakan metode
morfologi, radiografi, histologis, dan biokimia
untuk memeriksa perubahan usia pada gigi.

Namun, pemeriksaan garis incremental pada sementum


gigi dpt digunakan sebagai petunjuk yang lebih pasti
utk menentukan perubahan usia pd gigi

Identifikasi gender Metode Polymerase Chain


Reaction (PCR)
Metode PCR memerlukan DNA sejumlah
beberapa nanogram saja.

Merupakan cara yg cocok & sensitif utk


digunakan jika jumlah sampel barang bukti
yang diambil di TKP sangat kecil dan
kemungkinan mengalami degradasi.(Marks
dkk. 1996).
Diskrit dan konstituen utamanya adalah gen
Amelogenin, perkembangan enamel nya unik
dan mengandung konsentrasi tinggi dari prolin,
glutamin, leusin, dan histidin.
 Terdapat 2 gen amelogenin pada manusia, satu
dari kromosom X dan yang satu lagi dari
kromosom Y.

 Gen amelogenin adalah gen turunan, homolog


terletak pada Xp22.1-Xp22.3 dan Yp 11.

 Perbedaan pada pattern dari kedua gen


ini cukup memadai untuk digunakan
sebagai penentu seks.

 Pada penelitian ini digunakan AMELGen untuk


mengidentifikasi gender.
IDENTIFIKASI GOLONGAN DARAH

Melakukan
pengelompokan darah
dengan  Prosedur Distribusi zat ABO dari
Penyerapan Elusi dinding rongga pulpa ke tepi
(dirancang oleh Vittorio dentin, dan di enamel secara
Siracusa pada tahun bertahap akan menurun 
1923) krn lebih sedikit difusi
antigen dari darah dan saliva.
Teori sedimentasi
infus menggambarkan
antigen dari saliva,
akan masuk ke
jaringan gigi.
Sehingga, pd penelitian TUJUAN PENELITIAN :
ini digunakan 3
untuk mengetahui umur,
parameter di bawah air, jenis kelamin, dan
dalam lingkungan yang golongan darah ABO
normal berada dalam pada individu dengan
jangka waktu antara 2 menggunakan sebuah
hari dan 6 minggu gigi.
setelah ekstraksi gigi,
memastikan hasil dari
lalu diambil informasi lingkungan yang
yg lengkap dari gigi berbeda, dan untuk
menggali informasi lebih,
selagi mengawetkan
Akan membantu jika jaringan lain utk
data utk identifikasi penyidikan lebih lanjut
individu kurang
PERAN DNA DALAM
IDENTIFIKASI GIGI

Pada gigi, DNA ditemukan dalam


jaringan pulpa, dentin, sementum,
ligamen periodontal dan tulang
alveolar. Karena resistensi jaringan
keras gigi terhadap tindakan
lingkungan seperti perendaman,
trauma atau dekomposisi, maka
jaringan pulpa adalah sumber DNA
yang sangat baik.
Rongga mulut adalah sumber DNA yang
kaya dan tidak invasif, dan dapat
digunakan untuk identifikasi individu
dan untuk menyediakan informasi yang
dibutuhkan dalam proses hukum.

Jika jar. pulpa


Sampel jaringan pulpa
tdk ada atau sdh
dikumpulkan dalam tiga cara :
di endodontik
maka dentin
menghancurkan bagian gigi.
atau sementum
(dipelopori o/ Sweet dan
Hildebrand). digunakan
Pemotongan secarahorisontal untuk ekstraksi
atau vertikal. DNA.
Melalui akses endodontic.
1. Penentuan usia
a. Gustafson  orang pertama yg mempublikasi metode penentuan usia
melalui gigi

Berdasarkan 6 kriteria yang berhubungan dengan perubahan jaringan


keras gigi yang terus berkembang seiring dengan
• bertambahnya usia,
• pemakaian bidang oklusal,
• lapisan dentin sekunder dan tersier,
• ketebalan sementum,
• tingkat resorpsi akar,
• panjang transparansi akar, dan ketinggian gingival attachment.
b. Lamendin et al.  teknik untuk memperkirakan usia orang dewasa menggunakan
gigi berakar tunggal

Dua parameter yang terkait dengan usia:


• resesi gingiva
• transparansi akar (tdk terlihat pd usia <20th,
disebabkan oleh pembentukan deposit hidroksiapatit
dalam tubulus dentin).

c. Dermirjian et al  evaluasi tingkat mineralisasi gigi mandibula

Penetapan nilai setiap gigi dari A sampai H tergantung pada tingkat


perkembangannya. Hal ini kemudian diikuti oleh penetapan skor menurut
jenis kelamin individu. Terakhir nilai dari setiap gigi ditambahkan dan
dibandingkan dengan tabel konversi untuk menetapkan usia kronologis
subjek.
d. Mohite et al.  perubahan radiologi dan histologis yang terjadi pada tulang rahang
bawah

Foramen mental sebagai acuan, ramus mandibula terlihat


memanjang seiring bertambahnya usia proses ini menjadi lebih
berangsur-angsur setelah usia 50 tahun dengan penurunan
prosesus alveolaris yang diukur dalam arah kraniocaudal

e. Metode lain

didasarkan pada superposisi lapisan semen gigi, dimana usia


kronologis individu terkait dengan jumlah lapisan semen yang
diendapkan dan usia erupsi gigi
Gustafon

Memperkirakan usia berdasarkan 6 kriteria berhub dg


perub jar. keras gigi dengan bertambahnya usia:

 Pemakaian bidang oklusal

 Lapisan dentin sekunder & tersier

 Ketebalan sementum

 Tingkat resorpsi akar

 Panjang transparansi
Lamendin et al.

• Memperkirakan usia orang dewasa menggunakan


gigi berakar tunggal.

• Melibatkan pengukuran dua parameter yang


terkait dengan usia:

resesi
gingiva transparansi akar (hanya
terlihat >20 tahun) 
Mengukur panjang maksimum
transparansi pada permukaan
vestibular akar
Czermak et al.

Mencari lokasi terbaik untuk menghitung


lapisan sementum pada mikroskopik,
berdasar perolehan gambar yang
dimediasi perangkat lunak
Dermirjian et al.

• Melibatkan evaluasi tingkat mineralisasi gigi mandibula


 dengan penetapan nilai setiap gigi dari A sampai H dari
tingkat perkembangannya.

• Hal ini diikuti oleh penetapan skor menurut jenis kelamin


individu.

• Terakhir, nilai setiap gigi ditambah dan dibandingkan dgn


tabel konversi untuk menetapkan usia kronologis subjek.
Mohite et al. (16).
• Mempelajari perubahan
radiologi dan histologis
yang terjadi pada tulang
rahang bawah • Aktivitas osteoblastik
menurun seiring
• Radiologis  foramen bertambahnya usia,
mental dijadikan acuan, dengan perluasan sistem
ramus mandibula terlihat kanal Haversian sekunder
memanjang seiring
bertambahnya usia • Jumlah konsentrat lamina
setiap osteon menurun
seiring bertambahnya
usia, terutama setelah usia
50 tahun.
Rugoscopy
Rugoscopy adalah teknik identifikasi
berdasarkan penelitian dan analisis
jumlah, bentuk, panjang, arah dan pola
penggabungan palatal ridges atau rugae
(rugosities).
Tabel dibawah menunjukkan klasifikasi rugae yang diusulkan oleh Lysell dan
dimodifikasi secara posterior oleh Thomas dan Kotze
Rugae palatal  daerah anatomis, kerutan atau
lipatan yang terletak di bagian anterior palatum,
tepat berada di posterior gigi anterior atas dan
papila insisivus, pada kedua sisi dari garis midline.

Rugae palatal  daerah anatomis, kerutan


atau lipatan yang terletak di bagian anterior
palatum, tepat berada di posterior gigi
anterior atas dan papila insisivus, pada
kedua sisi dari garis midline.
Dipelajari sebagai metode identifikasi sebanding dengan sidik jari

a. Curved
b. Wavy
c. Straight
d. undetermine
Tiga kondisi yang mempersulit
identifikasi berdasarkan rugae
palatal :

perubahan ketinggian rugae,

terdapat ridge yang datar atau tidak terlalu menonjol,

tidak adanya uncomplicated patterns


Cheiloscopy
Melibatkan penilitian mengenai serangkaian
elevasi dan depresi yang membentuk pola
karakteristik pada bibir yang dikenal sebagai sidik
bibir.

Dengan cara yang sama seperti


sidik jari, sidik bibir bersifat :

Permanen Konstan

Unik
Renaud, yang menggambarkan 10 jenis sidik bibir yang ditandai oleh
huruf A sampai J huruf kapital untuk bibir atas dan huruf kecil untuk
bibir bawah
Metode Pengambilan Pola
Sidik Bibir
Menggunakan :
kertas karton tipis dan pewarna bibir, lateks, scotch tape,
fotografi, bahan cetak gigi, kaca preparat, dan fingerprint
hinge lifter.

Berdasarkan hasil pengambilan sidik bibir, pengambilan sidik


bibir yang paling mudah dilakukan yaitu dengan
menggunakan kertas karton tipis dan hasil yang didapatkan
cukup jelas
Penentuan Dalam
Identifikasi Individu
Kondisi bibir dalam keadaan
terbuka, tersenyum, dan
mengecup tetap
menghasilkan pola yang unik
pada setiap individu.

Meskipun masih kontroversi,


pola sidik bibir masih dapat
digunakan sebagai metode
alternative identifikasi individu
karena polanya sangat unik
Penentuan Jenis Kelamin
Rugae palatal dapat dianggap sebagai pelengkap
identifikasi terhadap jenis kelamin

Menurut Thomas, Kotze dan Kapali dkk menganalisa jumlah, panjang,


bentuk, dan kemudian menggabungkan pola dari rugosititas palatal.
menemukan bahwa rugae yang konvergen umum nya di temukan pada
wanita, sedangkan morfologi ridge sirkular lebih sering ditemukan pada
pria.

Perbedaan gender juga diamati dalam hal jumlah dan panjang rugae,
meskipun signifikan stastik nya tidak tercapai.
Sherfydhin dalam penelitian menggunakan gigi caninus,
mencatat perbedaan yang signifikan secara statistik pada gigi
caninus bawah, yang terlihat lebih sempit pada perempuan.
Studi lain menemukan ukuran mahkota dan tuberculus
carabelli lebih besar pada pria.

Alternatif lain untuk penentuan


gender yaitu melibatkan
analisa pada jaringan pulpa
untuk menentukan keberadaan
kromosom X.
Morfologi sidik bibir juga dapat membantu
dalam menentukan jenis kelamin. Dalam
konteks ini, perempuan lebih sering
menyajikan pola vertikal atau berbentuk
kontur intersected pada lip print, sementara,
pola retikular lip print lebih sering ada pada
laki-laki (Fig. 2). perbedaan anatomi tengkorak
antara lelaki dan perempuan juga dapat
membantu.

Tempurung kepala laki-laki secara signifikan


lebih besar, lebih tebal dan lebih berat, dan
kapasitas nya lebih besar dibandingkan
tempurung kepala pada wanita, yang pada
tulang nya lebih lunak dan mempunyai tl.
crest dan protuberances yang lebih kecil.
Gigitan Manusia
Sebagai Metode untuk
Mengidentifikasi
Agresor

• Tanda gigitan manusia dapat ditemukan di seluruh bagian


tubuh manusia. Pada wanita tanda gigitan manusia umumnya
ditemukan pada daerah payudara dan kaki akibat adanya
kekerasan seksual, sedangkan pada pria tanda gigitan sering
ditemukan di daerah lengan dan bahu.

• Diameter dari tanda gigitan manusia bervariasi antara 25-40


mm. Bagian yang diamati adalah di daerah kontusi yang
terdapat tanda gigitan. Perdarahan ekstravaskular di sebabkan
oleh tekanan dari gigitan pada jaringan langsung mengarah ke
bagian dalam dari pinggir tanda gigitan.
• Ciri-ciri dental yang penting dapat meliputi fraktur, gigi
rotasi, atrisi, malformasi kongenital, dll. Temuan fisik dan
biologi dapat menghilangkan bukti dari gigitan
sebenarnya, maka dari itu harus di dokumentasikan
secepatnya. Saliva yang terdapat pada kulit saat
penggigitan juga harus diambil, umumnya menggunakan
tehnik cotton swab. Saliva yang sudah mengering akan
sulit untuk di temukan, dan harus dilakukan amylase test
untuk mengidentifikasi adanya saliva.

• Impression yang tepat harus didapatkan dari permukaan


gigitan untuk mengetahui semua irregularitas yang di
hasilkan dari tekanan gigi pada kulit, direkomendasikan
penggunaan vinyl polysiloxane, polyether atau bahan
impression lainnya untuk memperoleh cetakan dari
protesa cekat.