Anda di halaman 1dari 22

KELOMPOK TAX AMNESTY

PERPAJAKAN 1

Nabila Aprilia 11170820000008


Lidya Herman 11170820000022
Siti Anita Nurhasanah 11170820000035
Muhammad Sofwan Hidayah 11170820000087

Perhitungan PPh 21/26


Pokok Pembahasan
 Mengetahui perhitungan PPh Pasal 21/26 untuk pegawai tetap,
 Mengetahui perhitungan PPh Pasal 21/26 untuk pegawai tetap yang
menerima THR dan Bonus,
 Mengetahui perhitungan PPh 21/26 untuk pegawai tetap yang
dipindahtugaskan, meninggal dalam tahun berjalan
 Mengetahui perhitungan PPh 21/26 untuk pegawai tidak tetap atau
tenaga kerja lepas,
 Mengetahui cara penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21/26.
Pengertian PPh Pasal Pajak Penghasilan sehubungan dengan
21/26 pekerjan atau jabatan, jasa dan kegiatan
yang dilakukan Subjek Pajak Orang Pribadi.

PPh Pasal 21
Penghasiilan berupa:
• Gaji
• Upah
• Honoranium
• Tunjangan, dan
• Pembayaran lain dengan dama/bentuk apapun
Subjek Pajak Dalam
Negeri

PPh Pasal 26 Subjek Pajak Luar Negeri


1. Mengetahui perhitungan PPh Pasal
21/26 untuk pegawai tetap,
Contoh Soal :
Bambang Yuliawan pegawai pada perusahaan PT Yasa Buana, menikah tanpa anak,
memperoleh gaji sebulan Rp 2.000.000,00.
PT Yasa Buana mengikuti program Jamsostek, premi Jaminan Kecelakaan Kerja
dan Premi Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-
masing 0,50% dan 0,30% dari gaji.
PT Yasa Buana menanggung iuran Jaminan Hari Tua setiap bulan sebesar 3,70%
dari gaji sedangkan Bambang Yuliawan membayar iuran Jaminan Hari Tua sebesar
2,00% dari gaji setiap bulan.
Disamping itu PT Yasa Buana juga mengikuti program pensiun untuk pegawainya.
PT Yasa Buana membayar iuran pensiun untuk Bambang Yuliawan ke dana
pensiun, yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, setiap bulan
sebesar Rp 100.000,00, sedangkan Bambang Yuliawan membayar iuran pensiun
sebesar Rp 50.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21
Gaji sebulan Rp 2,000,000
Jawab : Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 10,000
Premi Jaminan Kematian 6,000
Penghasilan Bruto 2,016,000
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x 2,016,000 Rp 100,800
2. Iuran pensiun 50,000
3. Iuran Jaminan Hari Tua 40,000
Rp 190,800
Penghasilan Neto sebulan Rp 1,825,200
Penghasilan Neto setahun
12 x 1,825,200 Rp 21,902,400
PTKP Setahun
WP Sendiri Rp 15,840,000
Tambahan WP Kawin Rp 1,320,000
Tanggungan
Rp 17,160,000
Pengh. Kena Pajak setahun Rp 4,742,400
Pembulatan 4,742,000
PPh Pasal 21 setahun
5% x 4,742,000 Rp 237,100
PPh Pasal 21 sebulan
237,100 : 12 Rp 19,758
2. Mengetahui perhitungan PPh Pasal 21/26 untuk
pegawai tetap yang menerima THR dan Bonus,

Contoh Soal:

Joko Qurnain (tidak kawin) bekerja pada PT. Qolbu Jaya dengan
memperoleh gaji sebesar Rp. 2.500.000,- sebulan. Setiap bulan
Joko membayar iuran pen siun ke dana Pensiun yang pendiriannya
telah disahkan oleh Menkeu sebesar Rp. 60.000. Dalam tahun
yang bersangkutan, Joko menerima bonus sebesar Rp. 5.000.000,-.
Perhitungan PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut :
a. PPh 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun)
Gaji setahun = 12 x Rp. 2.500.000,- Rp.30.000.000,-
Bonus Rp. 5.000.000,-
Penghasilan bruto setahun Rp. 35.000.000,-
Pengurangan :
- Biaya jabatan = 5% x Rp. 35.000.000,- = Rp. 1.750.000,-
- Iuran Pensiun = 12 x Rp. 60.000,- = Rp. 720.000,-
Rp. 2.470.000,-
Penghasilan neto setahun Rp. 32.530.000,-
PTKP setahun:
WP sendiri Rp. 24.300.000,-
PKP Setahun Rp 8.230.000,-
PPh Pasal 21 Terutang : 5% x Rp. 8.230.000,- Rp. 411.500,

b. PPh 21 atas Gaji Setahun


Gaji setahun = 12 x Rp. 2.500.000,- Rp.30.000.000,-
Pengurangan :
- Biaya jabatan = 5% x Rp. 30.000.000,- = Rp. 1.500.000,-
- Iuran Pensiun = 12 x Rp. 60.000,- = Rp. 720.000,-
Rp. 2.220.000,-
Penghasilan neto setahun Rp. 27.780.000,-
PTKP setahun:
WP sendiri Rp. 24.300.000,-
PKP Setahun Rp 3.480.000,-
PPh Pasal 21 Terutang : 5% x Rp. 3.480.000,- Rp. 174.000,

c. PPh 21 atas Bonus


PPh 21 atas gaji dan Bonus – Pph 21 atas Gaji = Rp. 411.500 – Rp. 174.000 = Rp. 237.500,-
3. Perhitungan PPh 21/26 untuk pegawai tetap yang
dipindahtugaskan

Contoh Soal:

Sura Agul Agul pada tahun 2012 bekerja sebagai seorang


management trainee pada kantor pusat sebuah perusahaan yang
berkedudukan di Makassar, dengan memperoleh gaji sebulan Rp
5.350.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp
115.000,00. Di awal bulan November, Sura dipindahkan ke
kantor cabang di Merauke sehingga memperoleh tambahan
penghasilan berupa tunjangan transportasi senilai Rp
2.150.000,00. Jika Senapati telah menikah dan memiliki dua
orang anak, bagaimanakah penghitungan PPh 21 di masing –
masing lokasi dan di akhir bulan Desember?
Gaji pokok 5,350,000
Penghasilan bruto per bulan 5,350,000
(Biaya jabatan) (267,500)
(Iuran dana pensiun yang dibayar karyawan) (115,000) (382,500)
Penghasilan netto per bulan 4,967,500
Penghasilan netto setahun 59,610,000
(PTKP)
WP sendiri (15,840,000)
Status kawin (1,320,000)
Tanggungan dua anak (2,640,000) (19,800,000)
Penghasilan Kena Pajak 39,810,000
Pajak terutang setahun
5% x 39,810,000 1,990,500 Rp1,990,500.00
Pajak terutang per bulan Rp165,875.00
Perhitungan di lokasi kedua

Gaji pokok 5,350,000


Tunjangan transportasi 2,150,000
Penghasilan bruto per bulan 7,500,000
(Biaya jabatan) (375,000)
(Iuran dana pensiun yang dibayar karyawan) (115,000) (490,000)
Penghasilan netto per bulan 7,010,000
Penghasilan netto setahun 84,120,000
(PTKP)
WP sendiri (15,840,000)
Status kawin (1,320,000)
Tanggungan dua anak (2,640,000) (19,800,000)
Penghasilan Kena Pajak 64,320,000
Pajak terutang setahun
5% x 50,000,000 2,500,000
15% x 14,320,000 2,148,000 Rp4,648,000.00
Pajak terutang per bulan Rp387,333.33
Perhitungan PPh pasal 21/26 meninggal dalam
tahun berjalan

Contoh kasus:

Lewis Oshea (K/3) mulai bekerja Mei 2014 dan meninggal/berhenti bekerja
sejak Juni 2016 (kehilangan kewajiban pajak subjektif). Selama tahun 2016
menerima gaji perbulan Rp. 15.000.000,00 .
Hitunglah PPh pasal 21!
Gaji selama 5 bulan

5 x 15.000.000 Rp 75.000.000

Pengurangan:

Biaya Jabatan 5% x 75.000.000= 3.750.000 Rp 500.000

Penghasilan neto selama 5 Rp 74.500.000


bulan
Jumlah penghasilan neto 12/5 x 74.500.000 Rp 178.800.000
disetahunkan
PTKP setahun
- Untuk Wajib Pajak Sendiri 54.000.000

- Tambahan karena menikah 4.500.000

-tambahan 3 orang anak 13.500.000 Rp 72.000.000

Penghasilan Kena Pajak Rp 106.800.000


setahun
PPh Pasal 21 Terutang

5% x 50.000.000 2.500.000

15% x 56.800.000 8.520.000 Rp 11.020.000

PPh Pasal 21 terutang 5/12 x 11.020.000 Rp 4.591.666


4. Mengetahui perhitungan PPh 21/26 untuk pegawai tidak
tetap atau tenaga kerja lepas
Kasus #1
Naryo adalah seorang pegawai tidak tetap yang bekerja di salah satu pabrik.
Dia bekerja untuk pabrik tersebut selama 15 hari dan menerima upah harian
sebesar Rp175.000 per hari.
Bagaimana perhitungan PPh 21 Naryo?

Kesimpulan:
Perhitungan di atas menerangkan bahwa tidak adanya PPh
Pasal 21 yang harus dibayarkan oleh Naryo.
Kasus #2
Bahar bekerja sebagai tenaga lepas di suatu perusahaan.
Pada bulan Agustus 2017 dia hanya bekerja untuk 22 hari dan
mendapatkan gaji sebesar Rp225.000 per hari.
Mari hitung besarnya PPh 21 yang harus dibayarkan oleh Bahar
sebagai pegawai tidak tetap.

Kesimpulan:
PPh 21 terhutang yang harus dibayarkan
Bahar pada bulan Agustus 2017 adalah
sebesar Rp82.500.
5. Mengetahui cara penyetoran dan pelaporan PPh
Pasal 21/26.

Penyetoran Pajak dapat


dilakukan di Bank atau di
Kantor Pos dengan
menggunakan Surat
Setoran Pajak
Kewajiban selanjutnya adalah
melaporkan SPT Masa PPh Pasal 21
dengan dilampiri SSP lembar ke tiga.

Bentuk SPT Masa PPh


Pasal 21/26 terdiri dari:

1. 1721 : Induk SPT 2 halaman,


2. 1721-I : Daftar buku Pemotong PPh Pasal 21 dan
Pasal 26 untuk pegawai pensiun dan Penerima
Pensiun Berkala,
3. 1721-II : Daftar Perubahan Pegawai Tetap,
4. 1721-T : Daftar Pegawai Tetap atau Penerima
Pensiun Berkala, saat diberlakukannya SPT masa
ini atau untuk Wajib Pajak baru saat pertama kali
Melaporkan SPT Masa
Karena SPT ini merupakan SPT Masa PPh
Pasal 21, maka wajib melapirkan formulir
1721-T