Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG

DEMAM

Sukardi Sugeng Rahmad, SKp. MPH


Definisi

• Kejang demam atau febrile convulsion ialah


bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 38° C) yang disebabkan
oleh proses ekstakranium.

• Menurut Consensus Statement on Febrile


Seizures, kejang demam adalah bangkitan kejang
pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur
3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan
demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi
intrakranial atau penyebab tertentu.
• Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi
berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk dalam
kejang demam. Kejang demam harus dibedakan
dengan epilepsi yaitu yang ditandai dengan kejang
berulang tanpa demam. Pada saat mengalami kejang,
anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat,
kemudian kaku, dan memutar matanya.

• Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, nafas akan


terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari
biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal
kembali. Serangan kejang pada penderita kejang
demam dapat terjadi satu, dua, tiga kali atau lebih
selama satu episode demam. Jadi, satu episode kejang
demam dapat terdiri dari satu, dua, tiga atau lebih
serangan kejang
Klasifikasi Kejang Demam
1. Kejang demam sederhana (simple febrile
seizure) Adapun ciri-ciri kejang demam
sederhana antara lain :
– Berlangsung singkat (< 15 menit)
– Menunjukkan tanda-tanda kejang tonik dan atau
klonik. Kejang tonik yaitu serangan berupa
kejang/kaku seluruh tubuh. Kejang klonik yaitu
gerakan menyentak tiba-tiba pada sebagian
anggota tubuh.
– Kejang hanya terjadi sekali / tidak berulang dalam
24 jam.
2. Kejang demam kompleks (complex febrile
seizure) Adapun ciri-ciri kejang demam
kompleks antara lain :
– Berlangsung lama (> 15 menit).
– Menunjukkan tanda-tanda kejang fokal yaitu
kejang yang hanya melibatkan salah satu bagian
tubuh.
– Kejang berulang/multipel atau lebih dari 1 kali
dalam 24 jam.
Etiologi Kejang Demam

• Demam merupakan faktor pencetus terjadinya


kejang demam pada anak.
• Demam sering disebabkan oleh berbagai
penyakit infeksi seperti infeksi saluran
pernafasan akut, otitis media akut,
gastroenteritis, bronkitis, infeksi saluran
kemih, dan lain-lain. Setiap anak memiliki
ambang kejang yang berbeda. Kejang tidak
selalu timbul pada suhu yang paling tinggi.
• Pada anak dengan ambang kejang yang
rendah, serangan kejang telah terjadi pada
suhu 38°C bahkan kurang, sedangkan pada
anak dengan ambang kejang tinggi, serangan
kejang baru terjadi pada suhu 40°C bahkan
lebih.
Patofisiologi

• Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel


atau otak diperlukan energi yang didapat dari
metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme
otak yang terpenting adalah glukosa dan melalui
suatu proses oksidasi. Dalam proses oksidasi
tersebut diperlukan oksigen yang disediakan
melalui perantaraan paru-paru.
• Oksigen dari paru-paru ini diteruskan ke otak
melalui sistem kardiovaskular.
• Suatu sel, khususnya sel otak atau neuron
dalam hal ini, dikelilingi oleh suatu membran
yang terdiri dari membran permukaan dalam
dan membran permukaan luar. Membran
permukaan dalam bersifat lipoid, sedangkan
membran permukaan luar bersifat ionik.
Dalam keadaan normal membran sel neuron
dapat dengan mudah dilalui ion Kalium (K+)
dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium ( Na+ )
dan elektrolit lainnya, kecuali oleh ion Klorida
(Cl- ).
• Akibatnya konsentrasi K+ dalam neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar neuron
terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis
dan konsentrasi ion di dalam dan di luar neuron, maka
terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial
membran neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan
enzim Na-KATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran tadi dapat berubah
karena adanya : perubahan konsentrasi ion di ruang
ekstraseluler, rangsangan yang datang mendadak
seperti rangsangan mekanis, kimiawi, atau aliran listrik
dari sekitarnya, dan perubahan patofisiologi dari
membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
• Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1°C akan
mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15%
dan meningkatnya kebutuhan oksigen sebesar 20%.
Pada seorang anak usia 3 tahun, sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh sirkulasi tubuh,
dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%.

• Jadi kenaikan suhu tubuh pada seorang anak dapat


mengubah keseimbangan membran sel neuron dan
dalam waktu singkat terjadi difusi ion Kalium dan ion
Natrium melalui membran tersebut sehingga
mengakibatkan terjadinya lepas muatan listrik.
Lepasnya muatan listrik ini demikian besar sehingga
dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel
lain yang ada didekatnya dengan perantaraan
neurotransmitter sehingga terjadilah kejang.
Epidemiologi Kejang Demam

Distribusi Frekuensi Kejang Demam


• Distribusi Frekuensi berdasarkan Orang Penelitian
Lumbantobing, S.M., (1995) pada 297 bayi dan anak
yang menderita kejang demam menunjukkan bahwa
83,6% kejang demam pertama terjadi pada usia 1
bulan sampai 2 tahun. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Parmar, R.C., dkk (2001) di Department
of Paediatrics of A Tertiarycare Centre di kota
Metropolitan, India menunjukkan bahwa penderita
kejang demam lebih banyak diderita oleh anak laki-laki
55% dan pada anak perempuan 45%.
• Distribusi Frekuensi berdasarkan Tempat dan
Waktu Berdasarkan studi kohort yang dilakukan
oleh Huang, CC., dkk (1999) di kota Tainan,
Taiwan pada 11.714 neonatal dari oktober 1989 –
september 1991, setelah 3 tahun diikuti, 10.460
anak bersedia untuk mengikuti survei mengenai
kejang demam. Dari 10.460 anak, didapatkan 256
anak yang pernah menderita kejang demam,
sehingga diperoleh insidens kejang demam pada
anak di kota Tainan, Taiwan 2,4%. Berdasarkan
studi kohort yang dilakukan di Denmark selama
28 tahun (1 Januari 1977 - 31 Desember 2005)
pada bayi baru lahir sampai usia tiga bulan
pertama diperoleh insidensi kejang demam 3,3%.
Determinan Kejang Demam
Determinan kejang demam dibedakan
berdasarkan host, agent dan environment.
1.Host Faktor host yang menjadi determinan
terjadinya kejang demam:
– Umur Berdasarkan studi kasus kontrol yang
dilakukan Fuadi, A., dkk (2010) di RSUP dr. Kariadi
Semarang menunjukkan bahwa anak yang berusia
2 tahun. Penelitian Karimzadeh, P., dkk (2008) di
Mofid Children’s Hospital Iran menunjukkan
bahwa penderita kejang demam paling banyak
terjadi pada usia dua tahun pertama (13-24 bulan)
yaitu 39,8%.
- Jenis kelamin Berdasarkan penelitian Bessisso,
M.S., dkk (2000) di Qatar menunjukkan bahwa
kejang demam lebih banyak diderita oleh anak
laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan
dengan rasio 1,2 : 1, dimana anak laki-laki 128
orang (54,2%) dan anak perempuan 108 orang
(45,8%). Hasil penelitian Siddiqui, T.S., (2000) di
Department of Paediatrics, Hayat Shaheed
Teaching Hospital Peshawar diperoleh anak laki-
laki yang menderita kejang demam 55% dan anak
perempuan 45%.
- Riwayat kejang keluarga Berdasarkan studi kasus
kontrol yang dilakukan Fuadi, A., dkk (2010) di
RSUP dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa
anak yang memiliki keluarga dengan riwayat
kejang berisiko 4,5 kali untuk mengalami kejang
demam dibandingkan dengan anak yang tidak
memiliki keluarga dengan riwayat kejang.
Penelitian Karimzadeh, P., dkk (2008)
- Mofid Children’s Hospital Iran menunjukkan
bahwa dari 302 anak yang menderita kejang
demam, ada 28,8 % anak yang memiliki keluarga
dengan riwayat kejang demam. Penelitian Ridha,
N.R., dkk (2009)
- Berat badan lahir Berdasarkan penelitian
Vestergaard dkk (2002) di Denmark
didapatkan bahwa risiko kejang demam
meningkat secara konsisten dengan
penurunan berat badan ketika lahir. Bayi yang
lahir dengan berat badan 3999 gram risiko
untuk menderita kejang demam sebesar 1 kali
2. Agent Kejadian kejang demam dicetuskan
karena terjadinya kenaikan suhu tubuh di atas
normal (demam). Tinggi suhu tubuh pada saat
timbul serangan kejang disebut nilai ambang
kejang. Ambang kejang berbeda-beda untuk
setiap anak. Adanya perbedaan ambang
kejang ini menunjukkan bahwa ada anak yang
mengalami kejang setelah suhu tubuhnya
meningkat sangat tinggi sedangkan pada anak
yang lain, kejang sudah timbul walaupun suhu
meningkat tidak terlalu tinggi.
Penelitian Karimzadeh, P., dkk (2008) di Mofid
Children’s Hospital, diperoleh 302 kasus penderita
kejang demam dimana anak yang mengalami kejang
pada suhu ≤38,5°C ada 60,9%, sedangkan anak yang
mengalami kejang pada suhu >38,5°C ada 39,1%.
Demam yang terjadi pada anak biasanya
disebabkan oleh penyakit infeksi.

Penelitian Mahyar, A., dkk (2010) di Iran


menunjukkan bahwa anak yang menderita kejang
demam, demamnya paling banyak disebabkan oleh
infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) 53,8%, diikuti
dengan gastroenteritis 24,4%, otitis media akut 9%,
infeksi saluran kemih 6,4%, pneumonia 3,8% dan
lainnya 2,6%.
3. Environment Faktor lain yang memengaruhi
timbulnya kejang demam adalah faktor
lingkungan dengan sanitasi dan higiene yang
buruk serta pemukiman yang terlalu padat.
Kondisi ini mengakibatkan mudahnya agent
penyakit berkembang biak serta terjadi
penularan penyakit infeksi yang cepat.
Pemaparan agent penyakit juga dapat terjadi
pada saat anak kontak secara langsung dengan
anggota keluarganya yang sakit.
Komplikasi Kejang Demam
1. Kejang Demam Berulang
Faktor risiko:
• Usia anak < 15 bulan pada saat kejang demam
pertama
• Riwayat kejang demam dalam keluarga
• Kejang demam terjadi segera setelah mulai
demam
• Riwayat demam yang sering
• Kejang demam pertama merupakan kejang
demam kompleks.
2.Kerusakan Neuron Otak.
Kejang yang berlangsung lama (>15 menit)
biasanya disertai dengan apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi
otot yang akhirnya menyebabkan hipoksemia,
hiperkapnia, asidosis laktat karena metabolisme
anaerobik, hipotensi arterial, denyut jantung
yang tak teratur, serta suhu tubuh yang makin
meningkat sejalan dengan meningkatnya aktivitas
otot sehingga meningkatkan metabolisme otak.
3.Retardasi Mental, terjadi akibat kerusakan
otak yang parah dan tidak mendapatkan
pengobatan yang adekuat.
4.Epilepsi
Faktor risiko:
– Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara
kandung.
– Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas
sebelum kejang demam pertama.
– Kejang demam pertama merupakan kejang
demam kompleks.
5.Hemiparesis,
yaitu kelumpuhan atau kelemahan otot-otot
lengan, tungkai serta wajah pada salah satu
sisi tubuh. Biasanya terjadi pada penderita
yang mengalami kejang lama (kejang demam
kompleks). Mula-mula kelumpuhan bersifat
flacid, setelah 2 minggu timbul spastik.
Pencegahan Kejang Demam
1. Pencegahan Primordial Yaitu mencegah
munculnya faktor predisposisi pada anak dimana
belum tampak adanya faktor yang menjadi risiko
kejang demam.
Upaya pencegahan primordial dapat berupa:
– Penyuluhan kepada ibu yang memiliki bayi atau anak
tentang upaya untuk meningkatkan status gizi anak
sehingga meningkatkan daya tahan tubuhnya ,dapat
terhindar dari berbagai penyakit infeksi yang memicu
terjadinya demam.
– Menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan. Jika
lingkungan bersih dan sehat akan sulit bagi agent
penyakit untuk berkembang biak sehingga anak dapat
terhindar
2. Pencegahan Primer yaitu upaya awal pencegahan
sebelum seseorang anak mengalami kejang
demam. ditujukan kepada kelompok yang
mempunyai faktor risiko.
Upaya pencegahan ini dilakukan ketika anak
mengalami demam. Demam merupakan faktor
pencetus terjadinya kejang demam. Jika anak
mengalami demam segera kompres anak dengan
air hangat dan berikan antipiretik untuk
menurunkan demamnya meskipun tidak
ditemukan bukti bahwa pemberian antipiretik
dapat mengurangi risiko terjadinya kejang
demam.
3.Pencegahan Sekunder Yaitu upaya pencegahan yang
dilakukan ketika anak sudah mengalami kejang demam.
Tata laksana penanganan kejang demam pada anak
a. Pengobatan Fase Akut, prioritas utama adalah
menjaga agar jalan nafas tetap terbuka:
• Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan.
Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri,
tetapi dapat juga berlangsung terus atau berulang.
• Pengisapan lendir
• Pemberian oksigen harus dilakukan teratur, k/p
lakukan intubasi.
• Keadaan dan kebutuhan cairan, kalori dan
elektrolit harus diperhatikan.
• Suhu tubuh dapat diturunkan dengan kompres air
hangat dan pemberian antipiretik.
• Memberikan obat anti kejang. Obat yang diberikan
adalah diazepam secara IV, per rektal
Pencegahan sekunder (lanjutan)

b.Mencari dan mengobati penyebab Pada anak,


demam sering disebabkan oleh infeksi saluran
pernafasan akut, otitis media, bronkitis, infeksi
saluran kemih, dll.
Px penunjang : lumbal puncti, EEG
Pencegahan sekunder (lanjutan)

c. Pengobatan profilaksis terhadap kejang


demam berulang
– Profilaksis intermitten waktu demam dengan
antikonvulsan segera diberikan pada saat
penderita demam (suhu rektal lebih dari 38°C).
Pilihan obat harus dapat cepat masuk dan bekerja
ke otak. Obat yang dapat diberikan berupa
diazepam, klonazepam atau kloralhidrat
supositoria.
Pencegahan sekunder (lanjutan)
– Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari
dengan Indikasi:
• Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada
kelainan atau gangguan perkembangan neurologis.
• Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat
genetik pada orang tua atau saudara kandung.
• Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau
diikuti kelainan neurologis sementara atau menetap.
Kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari
12 bulan atau terjadi kejang multipel dalam satu
episode demam. Antikonvulsan profilaksis terus
menerus diberikan selam 1-2 tahun setelah kejang
terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama
1-2 bulan
• Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada
kelainan atau gangguan perkembangan neurologis.
• Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat
genetik pada orang tua atau saudara kandung.
• Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau
diikuti kelainan neurologis sementara atau menetap.
Kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari
12 bulan atau terjadi kejang multipel dalam satu
episode demam. Antikonvulsan profilaksis terus
menerus diberikan selam 1-2 tahun setelah kejang
terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama
1-2 bulan
4. Pencegahan Tersier.
Tujuan utama dari pencegahan tersier adalah
mencegah terjadinya kecacatan, kematian, serta
usaha rehabilitasi. Penderita kejang demam
mempunyai risiko untuk mengalami kematian
meskipun kemungkinannya sangat kecil. Selain
itu, jika penderita kejang demam kompleks tidak
segera mendapat penanganan yang tepat dan
cepat akan berakibat pada kerusakan sel saraf
(neuron). Oleh karena itu, anak yang menderita
kejang demam perlu mendapat penanganan yang
adekuat dari petugas kesehatan guna mencegah
timbulnya kecacatan bahkan kematian.
Diagnosis keperawatan dan perencanaan:
1.Hipertermi b.d, peningkatan metabolik,
viremia
Intervensi
– Mengatur Demam

– Mengobati Demam

– Manajemen Lingkungan

– Mengontrol Infeksi
2. Potensial komplikasi : kejang
Intervensi:
– Tentukan apa klien merasakan aura sebe-lum awitan aktivitas kejang.
Jika ya, beri-tahu tindakan pengamanan untuk diambil jika aura tersebut
dirasakan
– Bila aktivitas kejang terjadi, observasi dan dokumentasikan hal berikut
: Bila kejang mulai, Jenis gerakan, bagian tubuh yang terlihat, Perubahan
ukuran pupil dan posisi, Inkontinensia urine atau feses, Durasi
– Ketidaksadaran (durasi) perilaku setelah kejang, kelemahan, paralisis
setelah kejang, tidur setelah kejang (periode pasca-taktile) (progresi
aktivitas kejang dapat membantu dalam mengidentifikasi fokus
anatomik dari kejang)
– Berikan privasi selama dan sesudah aktivitas kejang
– Selama aktivitas kejang, lakukan tindakan untuk menjamin ventilasi
adekuat (misalnya dengan melepaskan pakaian). Jangan coba memaksa
jalan napas atau spatel lidah masuk pada gigi yang mengatup. (ge-rakan
tonik / klonik kuat dapat menye-babkan sumbatan jalan napas.
Pemasukan jalan napas paksa dapat menyebabkan cidera)
• Selama aktivitas kejang, bantu gerakan secara hati-hati
untuk mencegah cidera. Jangan coba membatasi
gerakan. (restrain fisik dapat mengakibatkan trauma
pada muskuloskeletal)
• Bila kejang terjadi saat klien sedang duduk, bantu
turunkan klien ke lantai dan tempatkan sesuatu yang
lunak dibawah kepalanya. (tindakan ini akan
membantu mencegah trauma)
• Jika kejang telah teratasi letakkan klien pada posisi
miring. (posisi ini membantu mencegah aspirasi sekret)
• Biarkan individu tidur setelah periode kejang, orientasi
lagi setelah bangun. (individu ini akan mengalami
amnesia, orientasi ulang akan membantu klien untuk
memperoleh rasa kontrol dan dapat menurunkan
ansietas)
• Jika orang tersebut berlanjut mengalami kejang
umum, lapor dokter dan awali tindakan :
Pertahankan jalan napas
Penghisapan jika diperlukan
Berikan oksigen melalui kanul nasal
Awali untuk pemberian infus
• Pertahankan tempat tidur pada posisi rendah
dengan pagar tempat tidur terpasang serta lapisi
pagar tempat tidur dengan kain (sebagai tindakan
hati-hati untuk mencegah bahaya jatuh atau
trauma)
• Jika kondisi klien kronis, evaluasi kebutuhan
penyuluhan tehnik penatalaksanaan diri sendiri
3.Resiko aspirasi b.d akumulasi sekret, muntah,
penurunan kesadaran
Intervensi:
a. Memonitor Respirasi
b. Membersihkan Jalan Nafas
c. Manajemen Jalan Nafas
d. Mencegah Aspirasi
e. Mengatur posisi
4.Risiko injuri / cedera b.d. adanya kejang,
hipoksia jaringan
Intervensi:
a. Manajemen Lingkungan
b. Manajemen kejang
c. Mengatur airway
d. Pencegahan kejang
5.Perfusi jaringan serebral tak efektif b.d.
hipovolemia, gangguan aliran vena dan arteri.
Intervensi:
a. Peningkatan perfusi cerebral
b. Monitoring Neurologik
6.Kecemasan (orang tua, anak) b.d. ancaman
perubahan status kesehatan, krisis situasional
Intervensi:
a. Menurunkan Cemas
b. Instruksikan pasien/keluarga menggunakan
teknik relaksasi (seperti tarik napas dalam,
distraksi, dll)
c. Kolaborasi pemberian obat untuk mengurangi
kecemasan