Anda di halaman 1dari 20

ILMU ANESTESI, TERAPI INTENSIF, DAN MANAJEMEN NYERI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
Makassar, 28 Agustus 2019

REFERAT
SEPSIS

Oleh:
Widya Kemalasari
11120172101

Pembimbing:
Dr. dr. H. Andi Salahuddin, Sp.An-KAR

PADA BAGIAN ILMU ANESTESI, TERAPI INTENSIF, DAN MANAJEMEN


NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019
Sumber Bacaan
 Irvan, Febyan, Suparto. Sepsis dan Tata Laksana Berdasar Guideline Terbaru. Departemen Anestesi dan Terapi
Intensif - Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta Tahun 2018.
 A. Guntur H, Khie Chen, Herdiman T Pohan. Buku penyakit dalam pada Bab 554 “Sepsis” dan Bab 556
“Penatalaksanaan Syok Septik”
 Mark E Nunnally and Arpit Patel. Sepsis – Whats new in 2019. www.co-anesthesiology.com
PENDAHULUAN

Terdapat sekitar 1,5 juta kasus sepsis yang bertanggung jawab terhadap 1 dari 3 kematian di
rumah sakit. Syok septik sering dihubungkan dengan motalitas yang tinggi sekitar 50%.
Walaupun penyembuhan sulit dilakukan, diagnosis dan terapi untuk sepsis terus menerus
dikembangkan. Selanjutnya kita akan membahas tentang refrensi terbaru tentang pemberian
terapi meliputi pengaturan cairan intravena (IV), penggunaan steroid, dan penggunaan obat-
obatan tambahan termasuk vitamin C, thamine, dan angiotensin II.
DEFINISI
Istilah sepsis berasal Pada tahun 1914, Hugo Dan pada bulan Oktober tahun 1994 European
dari bahasa yunani Schottmuller secara formal Society of Intensive Care Medicine
“sepo” yang artinya mendefinisikan “septicaemia” mengeluarkan suatu konsensus yang
membusuk dan sebagai penyakit yang dinamakan sepsis-related organ failure
dikenal dalam puisi disebabkan oleh invasi assessment (SOFA) score untuk
yang dibuat oleh mikroba ke dalam aliran menggambarkan secara kuantitatif dan
Homer (abad 18). darah. seobjektif mungkin tingkat dari disfungsi
organ.

Sepsis adalah adanya Syok Septik didefinisikan sebagai kondisi


respon sistemik Sepsis Berat adalah sepsis sepsis dengan hipotensi refrakter (tekanan
terhadap infeksi di disertai dengan kondisi darah sistolik <90 mmHg, mean arterial
dalam tubuh yang disfungsi organ, yang pressure < 65 mmHg, atau penurunan > 40
dapat berkembang disebabkan karena inflamasi mmHg dari ambang dasar tekanan darah
menjadi sepsis berat sistemik dan respon sistolik yang tidak responsif setelah diberikan
dan syok septik prokoagulan terhadap infeksi. cairan kristaloid sebesar 20 sampai 40 mL/kg).
ETIOLOGI
Penyebab dari sepsis terbesar
Pneumococci, Streptococci,
adalah bakteri gram (-) dengan
dan bakteri gram positif
presentase 60-70& kasus, yang
lainnya jarang menyebabkan
menghasilkan produk dapat
sepsis, dengan angka kejadian
menstimulasi sel imun. Sel
20-40% dari keseluruhan
tersebut akan terpacu untuk
kasus.
melepaskan mediator inflamasi.

Jamur oportunistik, virus


(dengue dan herpes) atau
protozoa (falciparum malariae)
dilaporkan dapat menyebabkan
sepsis, walaupun jarang.
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
Langkah Diagnosis

ANAMNESIS

Membantu menentukan apakah infeksi didapatkan dari komunitas atau nosokomial dan apakah pasien imunokompromise.
Rincian yang harus diketahui meliputi paparan pada hewan, perjalanan, gigitan tungau, bahaya di tempat kerja, penggunaan
alkohol, seizure, hilang kesadaran, medikasi dan penyakit dasar yang mengarahkan pasien kepada agen infeksius tertentu.

Beberapa tanda terjadinya sepsis meliputi:


- Demam atau tanda yang tak terjelaskan disertai keganasan atau instrumentasi.
- Hipotensi, oliguria atau anuria.
- Takipnea atau hiperpnea, Hipotermia tanpa penyebab jelas.
- Perdarahan.
Lanjutan...

PEMERIKSAAN FISIK
Perlu dilakukan pemeriksaan fisis yang menyeluruh. Pada semua pasien
neutropenia dan pasien dengan dugaan infeksi pelvis, pemeriksaan fisik harus
meliputi pemeriksaan rektum, pelvis, dan genital. Pemeriksaan tersebut
mengungkap abses rektal, perirektal, dan/ atau perineal, penyakit dan/atau abses
inflamasi pelvis, atau prostatitis.
Pemeriksaan Penunjang

Complete
Blood Count Biakan
(CBC)

X-Ray PCT
Penatalaksanaan

Stabilisasi Pasien
langsung & Pemberian Fokus infeksi
Resusitasi antibiotik yang Awal Harus
Ciaran adekuat Dieliminasi.

Vitamin C/
Steroid Angiotensin II
Tiamin

Terapi Suportif Glukosa Kontrol


Stabilisasi Pasien langsung

Kristaloid atau
ABC: Airway, koloid untuk
Breathmg, mempertahankan
Circulation stabilitas
hemodinamik
Pemberian antibiotik yang adekuat

Untuk pneumonia dapatan


komunitas biasanya digunakan 2
regimen obat. Biasanya sefalosporin Pneumonia nosokomial: Sefipim Infeksi abdomen: imipenem-
generasi ketiga (seftriakson) atau atau iminemsilastatin dan silastatin atau pipersilintazobaktam
keempat (sefepim) diberikan aminoglikosida dan aminoglikosida
dengan aminoglikosida (biasanya
gentamisin).

Infeksi abdomen nosokomial:


Kulit/ jaringan lunak: vankomisin
imipenem-silastatin dan Infeksi traktus urinaris:
dan imipenemsilastatin atau
aminoglikosida atau pipersilin- siprofloksasin dan aminoglikosida
piperasilin-tazobaktam.
tazobaktam dan amfoteresin B.

Infeksi CNS: vankomisin dan


sefalosporin generasi ketiga atau
Infeksi traktus urinaris nosokomial: Kulit/ jaringan lunak nosokomial:
meropenem. Infeksi CNS
vankomisin dan sefipim. vankomisin dan sefipim
nosokomial: meropenem dan
vankomisin
Fokus infeksi Awal Harus Dieliminasi.

Hilangkan benda asing. Salurkan eksudat purulen.


khususnya untuk infeksi anaerobik. Angkat organ
yang terinfeksi, hilangkan atau potong jaringan
yang gangren.
Steroid

SCCM terus merekomendasikan IV hidrokortison


untuk syok septik yang tidak responsif terhadap
resusitasi cairan.
Vitamin C/ Tiamin

Vitamin C dan tiamin menjadi pembahasan penting karena sebagai


terapi yang baru untuk sepsis. Vitamin C dianggap memainkan
peranan penting dalam pemeliharaan endotelium, penipisan dapat
menyebabkan kebocoran kapiler. Penggunaannya mungkin
bermanfaat pada luka bakar, trauma, dan sepsis. Tiamin (vitamin
B1) dalam penggunaannya, umum digunakan dalam sepsis.
Kekurangannya, dapat berkontribusi terhadap gangguan
metabolisme mitokondria, dan menyebabkan asidosis laktat.
Terapi Suportif

Drotrecogin alfa (protein C teraktifkan rekombinan, Zovant)


menurunkan risiko relatif kematian akibat sepsis dengan disfungsi
organ akut terkait (dikenal sebagai sepsis berat)
Glukosa Kontrol

Pada penderita sepsis sering terjadi peningkatan gula darah yang


tidak mengalami dan yang mengalami diabetes mellitus. Sebaiknya
kadar gula darah dipertahankan sampai dangan < 120 mg/dL
Dengan melakukan monitoring pada gula darah setiap 1-2 jam dan
dipertahankan minimal sampai dengan 4 hari.

Mencegah terjadinya stress ulcer dapat diberikan profilaksis


dengan menggunakan H2, broker protonpan inhibitor. Apabila
terjadi kesulitan pernapasan penderita memerlukan ventilator
dimana hal itu terssedia di ICU.
PENCEGAHAN

Gunakan trimetoprim- Berikan semprotan (spray)


Hindarkan trauma pada
sulfanetoksazol secara polimiksin pada faring posterior
permukaan yang biasanya
profilaktik pada penderita untuk mencegah pneumonia
dihuni bakteri gram negatif
leukimia. gram negatif nosokomial.

Sterilisasi flora aerobik


Untuk melindungi neonatus dari
lambung dengan polimiksin dan Lingkungan yang protektif bagi
sepsis strep grup B ambil
gentamisin dengan vankomisin pasien berisiko kurang berhasil
apusan (swab) vagina/rektum
dan nistatin efektif dalam karena sebagian besar infeksi
pada kehamiian 35 hingga 37
mengurangi sepsis gram negatif berasal dari dalam (endogen).
minggu.
pada pasien neutropenia.
TERIMA KASIH