Anda di halaman 1dari 224

PENGANTAR

HUKUM PAJAK
Pokok Bahasan
1. Perkembangan Perpajakan Di Indonesia
2. Sumber penerimaan negara
3. Pajak dan Hukum Pajak
4. Asas dan yurisdiksi pemungutan pajak
5. Penggolongan jenis pajak dan sistem pemungutan pajak
6. Penafsiran dalam hukum pajak
7. Tarif dan Dasar Pemungutan Pajak
8. Utang Pajak
9. Penagihan Pajak
10. Peradilan Administrasi pajak
11. Tindak pidana di bidang perpajakan
12. Kesadaran dan kepatuhan kewajiban
APBN

3
Perkembangan perpajakan Indonesia
Sejak Tahun 1983 S/D
Sekarang

Sejak Proklamasi S/D Tahun 1983

Jaman Kolonial S/D Kemerdekaan

Jaman Kerajaan
Jaman Kerajaan
Bagaimana ciri pemungutan pajak jaman kerajaan..?

1. Raja bertugas memelihara keamanan dan


kesejahteraan
2. Pemberian Upeti dalam bentuk natura,
padi, ternak, dll
3. Upeti bersifat rutin >> “ajeg”
4. Kerajaan membutuhkan biaya utk
mempertahankan kekuasaannya
5. Tata pemungutan tidak di atur & sangat
sederhana
Jaman Kolonial S/D Kemerdekaan
1. UU No 12 Tahun 1947  Pajak Radio
2. UU No 14 Tahun 1947  Pajak
Pembangunan
3. UU Darurat No 12 Tahun 1952  Pajak
Peredaran Sebutkan pajak
4. Ord Pajak Peralihan 1944 (Stbl 17)  Ord jaman kolonial..!
Pajak Pendapatan 1944
5. Ord Pajak Upah (Stbl. 611)
6. Ord Pajak Rumah Tangga (Stbl 13)
7. Ord Pajak Kendaraan Bermotor (Stbl
718)
8. Ord Bea Balik Nama (Stbl 291)
9. Ord Pajak Potong (Stbl 671)
10. Aturan Bea Materai 1921 (Stbl No 498) Maaf tuan, saya
11. Ord Successie 1901 (Stbl No 471) orang baru...;(
12. Ord Pajak Kekayaan 1932 (StblNo 405)

Pasal II, Aturan Peralihan, UUD 1945 jo.UU No 4


Tahun 1952 MASIH DIBERLAKUKAN setelah
Indonesia MERDEKA

Ordonansi  Peraturan Pemerintah/Peraturan Kerajaan, Staatsblad  Lembaran Negara


1.Penghapusan PERATURAN
2.Penggantian NAMA
3.Perubahan Status menjadi Pajak Daerah

• UU Pajak Penjualan 1951  UU No 2 Tahun 1968


• UU No 21/1959  Pajak Deviden  UU No 10/1967 Pajak atas Bunga Dividen dan
Royalty (PBDR)
• UU No 19/1959  Penagihan Pajak Negara dengan Surat Paksa
• UU No 74/1958  Pajak Bangsa Asing
• UU No 27/1959  Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
• UU No 8/1967  Tata Cara Pemungutan PPd. PKk & PPs (Tata Cara MPS-MPO)
VOC - Ordonansi Succesie 1901
 Landrente Hindia Belanda - Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908
 Berbagai - Versponding Warde 1920
Inggris - Aturan Bea Meterai 1921
Ordonansi - Ordonansi Bea Balik Nama 1924
 Pajak Tanah
- Ordonansi Pajak Kekayaan 1932
- Ordonansi Pajak Upah 1934
- Ordonansi PKB1934
- Ordonansi Pajak Potong 1936

Jaman Kerajaan
 UPETI

Kolonial 1945

By gathoe
UUDRT No.36/1950 jo. UU No.4/1952
UU Pajak Deviden (21/1959)
 1 Jan 1951 UU PPSP (19/1959)
- UU Pajak Radio /1947 UU BBNKB (27/1959)
- UU Pajak Pembangunan/1947 Pajak Bangsa Asing (74/1958)
- UU Darurat Pajak Peredaran /1952 Tata Cara Pemungutan PPd, PKk
- Ordonansi Succesie 1901 & PPs (MPS/MPO) (8/1967)
- Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908
- Versponding Warde 1920 UU No. 12/1956
- Aturan Bea Meterai 1921  Penyerahan Pajak
- Ordonansi Bea Balik Nama 1924 Negara kpd Daerah
- Ordonansi Pajak Kekayaan 1932
- Ordonansi Pajak Upah 1934
- Ordonansi PKB1934
- Ordonansi Pajak Potong 1936

UU No.12/1947 Pajak Radio UU Pajak Penjualan/1951


UU No. 14/1947 Pajak Pembangunan

1950 1983

By gathoe
1983 UU No.16/2000 Perubahan KUP
UU No. 6/1983 KUP UU No.17/2000 Perubahan PPh
UU No.7/1983 PPh UU No.18/2000 Perubahan PPN
UUNo.8/1983 PPN & PPn.BM UU No.19/2000 Perubahan PPSP
 Tax Reform I UU No. 20/2000 Perubahan BPHTB
UU No. 34/200 Perubahan PDRD
 Self Assesment
 Tax Reform II UU No.36/2008Perubahan PPh
UU No. 12/1985 PBB
UU No.13/1985 BM
 IPEDA  PBB UU No. 16/2009 Perubahan KUP
UU No. 42 2009 Perubahan PPN
UU No. 28/2009 Perubahan PDRD
UU No. 19/1997 PPSP
UU No. 21/1997 BPHTB
UU No. 7/1991 Perubahan PPh UU No. 18/1997 PDRD

UU No. 9/1994 Perubahan KUP UU No. 28/2007 Perubahan KUP


UU No. 10/1994 Perubahan PPh
UU No. 11/1994 Perubahan PPN UU No. 14/2002 Pengadilan Pajak
UU No. 12/1994 Perubahan PBB
1983 2000 2011

By gathoe
UU No. 6/ 1983
UU No. 12/1985
UU No. 9/ 1994
UU No. 12/1994 UU No. 16/2000
Ketentuan
Umum & UU No. 28/2007
Tata Cara UU No. 16/2009
Perpajakan
(KUP) UU No. 8/1983
Pajak
Pajak Bumi
Pertambah
&
an Nilai UU No. 8/1984
Bangunan
(PPN & PPn
(PBB)
BM)
UU No. 11/1994
Sejak UU No. 18/2000
tahun
1983 -
UU No. 42/2009
UU No. 13/1985
sekarang

Bea Pajak
Penghasilan
Meterai (PPh)
UU No. 7/1983
Penagihan UU No. 7/1991
Pajak UU No. 10/1994
dengan
Surat Paksa UU No. 17/2000
UU No. 19/1997 (PPSP)
UU No. 36/2008
Kedudukan Hukum Pajak
Dalam Sistem Hukum Di
Indonesia
Pengertian Pajak
Iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-
undang (dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat
kontraprestasi yang langsung dapat ditunjukkan dan
digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
(Prof. Dr. Rochmat Sumitro, SH)

Iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dapat


dipungut oleh Penguasa berdasarkan norma-norma
hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang
dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan
umum.
(Dr. Soeparman Soemahamidjaja)
Prof. Dr. P.J.A. Adriani

Iuran kepada negara (dapat


dipaksakan) yang terutang yang oleh
yang wajib membayarnya menurut
peraturan dengan tidak mendapat
prestasi kembali yang dapat ditunjuk
& gunanya adalah untuk membiayai
pengeluaran umum berhubungan
dengan tugas negara untuk
menyelenggarakan pemerintahan
Prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terhutang kepada
Penguasa (menurut norma-norma yang ditetapkan secara umum),
tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk
menutup pengeluaran-pengeluaran umum.
(Dr. N.J. Feldmann)

Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi


atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(Pasal 1 angka 1 UU KUP)
Apa saja unsur-unsur pajak
• Pembayaran pajak harus berdasarkan UU
• Sifatnya dapat dipaksakan;
• Tidak ada kontraprestasi (imbalan) yang
langsung dapat dirasakan oleh pembayar
pajak;
• Pemungutan pajak dilakukan oleh negara
baik oleh pemerintah pusat maupun daerah;
• Pajak digunakan untuk membiayai
pengeluaran pemerintah bagi kepentingan
masyarakat umum;
HUKUM PAJAK
Pasal 23A
Pajak dan pungutan lain
yang bersifat memaksa
untuk keperluan negara
diatur dengan undang-
undang

22
Pengertian Hukum
Mas..mas..
Hukum itu apa..?

"Noch suchen die Juristen eine


Definition zu ihrem Begriffe von Recht“
(masih juga para sarjana hukum
mencari cari suatu definisi tentang
hukum)
Pengertian Hukum

tidak mungkin memberikan


suatu definisi tentang
apakah yang disebut
Hukum karena tidak
mungkin untuk
mengadakannya yang
sesuai dengan kenyataan
Pendapat Para Sarjana...
» Prof. Mr Paul Scholten  Hanyalah siapa yang
berkali-kali belajar menimbang pendapat hukum yang
satu terhadap pendapat hukum yang lainnya, dengan
menginsafi bahwa dalam hukum kedua-duanya pendapat
itu ada juga sesuatu yang dapat dibenarkan, hanya dialah
yang menjadi Sarjana Hukum

» Drs.E.Utrecht, SH  Hukum itu adalah himpunan


peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-
larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat
dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu

» S.M. Amin, SH  Kumpulan peraturan-peraturan


yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi itu disebut
hukum dan tujuan hukum itu adalah mengadakan
ketatatertiban dalam pergaulan manusia, sehingga
keamanan dan ketertiban terjaga
UNSUR-UNSUR HUKUM

1. Peraturan mengenai tingkah laku


manusia dalam pergaulan masyarakat
2. Peraturan itu diadakan oleh badan-
badan resmi yang berwajib
3. Peraturan itu bersifat memaksa
4. Sanksi terhadap pelanggaran
peraturan tersebut adalah tegas
Pengertian Hukum Pajak

Hukum Pajak/Fiskal
 Keseluruhan peraturan yang
meliputi wewenang pemerintah,
untuk mengambil kekayaan
seseorang dan menyerahkannya
kembali kepada masyarakat
dengan melalui Kas Negara
 Bagian dari Hukum Publik
 Mengatur hubungan hukum antar
negara dan orang atau badan yang
berkewajiban membayar pajak
Pengertian Hukum Pajak

Hukum Pajak/Fiskal
 Kumpulan peraturan-peraturan
yang mengatur hubungan antara
pemerintah sebagai pemungut
pajak dan rakyat sebagai pembayar
pajak
 Bagian dari hukum: TUN, HTN,
Pidana, Perdata
Kedudukan Hukum Pajak

Prof. Adriani
 berdiri sendiri terlepas dari HTUN
 mempunyai tugas yang bersifat lain daripada hukum administratif
 digunakan sebagai alat untuk menentukan politik perekonomian dan
mempunyai istilah-istilah tersendiri di bidang perpajakan
Pembagian Hukum Pajak

Hukum Pajak Material


 Objek
 Subjek
 Tarif
 Timbulnya

Hukum Pajak Formal


 Cara Hukum Pajak Material menjadi
kenyataan
 Pendaftaran
 Pembukuan
 Pemeriksaan
 Penagihan
 Hak dan kewajiban Wajib Pajak
 Penyidikan
 Sanksi
Pembagian Hukum Pajak

Hukum Pajak Material


 UU No. 7 Tahun 1983 tentang PPh, diubah
terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008
 UU No. 8 Tahun 1983 tentang PPN & PPnBM,
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009
 UU No. 12 Tahun 1985 tentang PBB, diubah
dengan UU No. 12 Tahun 1994
 UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai

Hukum Pajak Formal


 UU No. 6 Tahun 1983 tentang KUP, diubah
terakhir dengan UU No. 16 Tahun 2009
 UU No. 19 Tahun 1997 tentang PPSP, diubah
dengan UU No. 19 Tahun 2000
 UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan
Pajak
Hubungan Hukum Pajak-Hukum Perdata

 Hukum Pajak mencari dasar kemungkinan


pemungutan pajak atas dasar peristiwa
(kematian, kelahiran), keadaan (kekayaan),
perbuatan (jual beli, sewa menyewa) yang diatur
dalam Hukum Perdata
 Ketentuan dalam Hukum Pajak mengesampingkan
ketentuan dalam Hukum Perdata (Lex specialis
derogat lex generale)
Hubungan Hukum Pajak-Hukum Pidana
Sanksi pidana terhadap pelanggaran atau
kejahatan di bidang perpajakan yang
diancam baik dalam KUHP maupun UU Pajak
a.Rahasia jabatan Ps 322 KUHP vs Ps 41
KUP
b.Pemalsuan surat Ps 263 KUHP vs Ps 39 (1)
hr f KUP

KUHP  mengancam tindak pidana di


bidang Perpajakan
 PNS menerima suap/hadiah/pemberian
 Ps 209, 418, 419 KUHP
 Sanksi pegawai pajak  Ps 36A KUP
FUNGSI PAJAK

• BUDGETAIR
• REGULEREND
• REDISTRIBUSI
• DEMOKRASI
FUNGSI PAJAK

INDONESIA

BUDGETER PENERIMAAN NEGARA

REGULAIR MENGATUR PEREKONOMIAN UNTUK


PERTUMBUHAN LEBIH CEPAT

DEMOKRASI PENJELMAAN KEKELUARGA &


KEGOTONG ROYONGAN RAKYAT
TARIF PROGRESIF : GOL MAMPU
REDISTRIBUSI DIKENAKAN TARIF YG LEBIH TINGGI
BEBERAPA MACAM PUNGUTAN DI INDONESIA
Beberapa Macam Pungutan
Di Indonesia

Pajak Retribusi Sumbangan


Pengertian Pajak
Pasal 1 angka 1 UU KUP:
• Kontribusi wajib kepada negara
yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang
• bersifat memaksa berdasarkan UU
• dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung, dan
• digunakan untuk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat
Ciri-Ciri Pengertian Pajak
1. dipungut berdasarkan UU serta aturan
pelaksanaannya
2. tidak dapat ditunjukkan adanya kontra
prestasi individual oleh pemerintah
3. Pajak dipungut oleh Negara
4. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran
Pemerintah, yang bila dari
pemasukkannya masih terdapat
surplus, dipergunakan untuk
membiayai public investment
5. mempunyai tujuan yang tidak
budgeter  mengatur
Fungsi Pajak

• BUDGETAIR:
alat/sumber untuk memasukkan uang
dari masyarakat ke Kas Negara

• REGULER:
alat untuk mengatur atau untuk
mencapai tujuan tertentu di bidang
poleksosbudhankam
Sumbangan

• Menurut Brotodihadjo. (1982 : 6),


sumbangan mengandung pikiran,
• bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
prestasi Pemerintah tertentu, tidak
• boleh dikeluarkan dari kas umum. Karena
prestasi itu tidak ditunjukan kepada
• penduduk seluruhnya, melainkan hanya
untuk sebagian tertentu saja. Oleh
• karena itu maka hanya golongan tertentu
dari penduduk yang diwajibkan
• membayar sumbangan ini, misalnya
Sumbangan Wajib Pemeliharaan Prasarana
• Jalan, Pening Sepeda.
Retribusi

 Pembayaran kepada Negara yang dilakukan oleh mereka yang


menggunakan jasa Negara
 Si pembayar mendapat kontraprestasi langsung
 Pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian
ijin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
Pemda untuk kepentingan orang pribadi atau badan (Ps 1 angka 1
UU PDRD)
PNBP

• Adalah penerimaan yang diperoleh


Instansi Pemerintah (Departemen
dan Lembaga Non-Departemen).
• Misalnya: Penerimaan dari
pendaftaran ciptaan.Penerimaan
dari permintaan hak paten,denda
tilang,biaya perkara dll
Pengertian

 Bea
 Cukai
Asas-asas
pemungutan pajak
Asas-asas pemungutan pajak

Aristoteles  Rhetorica
• Hukum bertugas membuat
adanya keadilan
• Keadilan  relatif
• Keadilan pajak dapat ditempuh
dengan mengusahakan
pemungutan pajak secara
umum dan merata

R. Santoso Brotodihardjo, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, hal.26


Tujuan Hukum
Lambertus Johannes van Apeldoorn (1886-1979)

pengaturan kehidupan masyarakat


secara adil dan damai dengan
mengadakan keseimbangan antara
kepentingan-kepentingan yang
dilindungi sehingga tiaptiap orang
mendaat apa yang menjadi haknya
masing-masing sebagaimana
mestinya
Tujuan Hukum
Fungsi hukum  menjamin
keteraturan (kepastian) dan ketertiban

Tujuan hukum  tidak bisa


dilepaskan dari tujuan akhir hidup
bermasyarakat yang tidak dapat
dilepaskan dari nilai-nilai dan falsafah
hidup yang menjadi dasar hidup
bermasyarakat itu  akhirnya
bermuara pada keadilan

Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH, LLM


dan Dr. B. Arief Sidharta, SH
Asas-Asas Pemungutan Pajak Hukum

The Four Maxim


1. Asas Equality  keseimbangan
dengan kemampuan atau asas keadilan
dan didefinisikan bahwa pemungutan
pajak yang dilakukan harus adil, sesuai
dengan kemampuan dan penghasilan
wajib pajak, tanpa memihak- mihak dan
diskriminatif

2. Asas Certainty  kepastian


hukum dimana setiap pungutan pajak
yang dilakukan harus berdasarkan UU dan
tidak boleh ada penyimpangan
Asas-Asas Pemungutan Pajak Hukum

The Four Maxim


3. Asas Convinience of
Payment  pajak dipungut saat
wajib pajak berada di saat yang baik dan
sedang bahagia, misalnya saat baru
menerima penghasilan atau
memperoleh hadiah

4.Asas Eficiency  biaya


pemungutan pajak dilakukan seefisien
mungkin sehingga tidak terjadi biaya
administratif pemungutan pajak lebih
besar daripada penerimaan pajak itu
sendiri
Asas-Asas Pemungutan Pajak Hukum

1. Asas Politik Finansial  Asas


politik financial berarti pemungutan pajak yang
dilakukan oleh negara harus memadai sehingga
dapat membiaya pembangunan dan
mendorong perekonomian negara

2. Asas Ekonomi  Asas ini


mengemukakan bahwa penentuan objek pajak
harus tepat sasaran, seperti pada penetapan
pajak pendapatan dan pajak barang mewah

3. Asas Keadilan  Pemungutan pajak


harus berlaku secara umum, adil dan tidak
diskriminatif
Adolph Wagner
(25 March 1835 – 8 November 1917)
Asas-Asas Pemungutan Pajak Hukum

4.Asas Administrasi  mengatur


segala permasalah yang berhubungan dengan
perpajakan seperti bagaimana cara membayar
pajak, besar biaya pajak dan dimana tempat
membayar pajak

5. Asas Yuridis  segala pungutan pajak


harus dilakukan berdasarkan UU

Adolph Wagner
(25 March 1835 – 8 November 1917)
Asas-Asas Pemungutan Pajak Hukum
W.J Langen
1. Asas Daya Pikul  penyesuaian besar pungutan pajak terhadap
penghasilan wajib pajak. Seorang yang berpenghasilan besar maka akan
membayar pajak yang lebih besar juga daripada wajib pajak yang
berpenghasilan lebih kecil

2.Asas Manfaat  pajak yang dipungut harus benar- benar


dimanfaatkan untuk pembangunan dan kepentingan umum

3.Asas Kesejahteraan Rakyat  digunakan sebesar- besarnya


untuk mensejahterakan rakyat

4.Asas Kesamaan  setiap wajib pajak diberlakukan sama dalam hal


tarif pemungutan pajak

5.Asas Beban Sekecil- kecilnya  Pemungutan pajak tidak boleh


memberatkan wajib pajak, maka dari itu nilai yang dikenakan harus rendah
jika dibandingkan dengan nilai objek pajak itu sendiri
Asas-asas
pemungutan pajak
1. Asas-asas Menurut Falsafah Hukum
a. Teori Asuransi
b. Teori Kepentingan
c. Teori Gaya Pikul
d. Teori Bakti
e. Teori Gaya Beli
2. Asas Yuridis
3. Asas Ekonomis
4. Asas Finansial
R. Santoso Brotodihardjo, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, hal.29-42
Asas-Asas Menurut Falsafah Hukum

1. Teori Asuransi
2. Teori Kepentingan
3. Teori Bakti/ Kewajiban
Mutlak
4. Teori Gaya Beli
5. Teori Gaya Pikul
6. Teori Pancasila
Asas-Asas Menurut Falsafah Hukum

Teori Asuransi
• Pembayaran pajak = Pembayaran premi
• Masyarakat seakan mempertanggungjawabkan
keselamatan dan keamanan jiwanya kepada
negara

TEPATKAH INI?
Asas-Asas Menurut Falsafah Hukum

TEORI
KEPENTINGAN
 Negara melindungi kepentingan
jiwa & harta benda warganya
 Lebih memperhatikan pembagian
beban pajak yang harus dipungut
 Besarnya pajak = besar
kepentingan WP yang dilindungi
Asas-Asas Menurut Falsafah Hukum

Teori Bakti/ Kewajiban Mutlak


• Negara merupakan satu kesatuan,
yang di dalamnya setiap WN
terikat (Organische Staatsleer)
• Negara memberi hidup kepada
warganya, maka dapat
membebani warganya dengan
kewajiban-kewajiban

PAJAK SEBAGAI BUKTI TANDA BAKTI


MASYARAKAT KE NEGARA
Asas-Asas Menurut Falsafah Hukum

TEORI GAYA BELI


• Tidak mempersoalkan asal mula Negara
memungut pajak hanya melihat ke efeknya
& memandang efek yang baik sebagai
keadilan
• Pajak untuk pneyelenggaraan kepentingan
masyarakat Pajak lebih dititikberatkan pada
fungsi mengatur
• Fungsi pemungutan pajak = pompa
• Mengambil gaya beli dari masyarakat untuk
negara dan menyalurkannya kembali ke
masyarakat
Asas-Asas Menurut Falsafah Hukum

TEORI GAYA PIKUL


 Tiap orang dikenakan pajak dengan
bobot yang sama (adil) sesuai gaya pikul
dengan ukuran besarnya penghasilan &
pengeluaran seseorang
 Prof. W.J. de Langen: asas kenikmatan
 Ir. Mr. A.J.Cohen Stuart: gaya pikul =
Jembatan
Asas-Asas Menurut Falsafah Hukum

TEORI PANCASILA
• sifat kekeluargaan dan gotong royong Pajak adalah salah satu bentuk
gotong royong yang tidak perlu dipersyaratkan
• Gotong royong/pajak tidak lain dari pengorbanan setiap anggota
keluarga (anggota masyarakat) untuk kepentingan keluarga
(bersama) tanpa mendapatkan imbalan
• pungutan pajak dapat dibenarkan karena pembayaran pajak
dipandang sebagai uang yang tidak keluar dari lingkungan
masyarakat tempat wajib pajak hidup.
Asas-asas
pemungutan pajak

Asas Yuridis
• Hukum Pajak harus memberi jaminan hukum yang
perlu untuk menyatakan keadilan yang tegas, baik
untuk Negara maupun untuk warganya
• Psl 23A Amandemen Keempat UUD 1945 “pajak
dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
keperluan negara diatur dengan UU
• UU Perpajakan

R. Santoso Brotodihardjo, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, hal.29-42


Sumber-Sumber Hukum
1. Hukum Materiil
 Mengapa hukum itu
mengikkat?
 Apa sumber (kekuatan)
hukum hingga mengikat
atau dipatuhi manusia?

2. Formil
 Dimanakah kita bisa dapatkan
atau temukan aturan-aturan
hukum yang mengatur
kehidupan kita?
Asas-asas
pemungutan pajak

Sumber Hukum Materiil:


• Filosofis
• Sosiologis
• Yuridis:
1.Syarat Keadilan
2.Syarat Yuridis/ Aspek hukum
3.Syarat Ekonomis
4.Syarat Finansial
Sumber-Sumber Hukum
Landasan Filosofis
• merupakan pertimbangan atau alasan
yang menggambarkan bahwa peraturan
yang dibentuk mempertimbangkan
pandangan hidup, kesadaran, dan cita
hukum yang meliputi suasana kebatinan
serta falsafah bangsa Indonesia yang
bersumber dari Pancasila dan
Pembukaan UUDasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945
Sumber-Sumber Hukum
Landasan Sosiologis
• merupakan pertimbangan atau
alasan yang menggambarkan
bahwa peraturan yang
dibentuk untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat dalam
berbagai aspek

• Sesungguhnya menyangkut
fakta empiris mengenai
perkembangan masalah dan
kebutuhan masyarakat dan
negara
Sumber-Sumber Hukum
Landasan Yuridis
• merupakan pertimbangan atau alasan yang
menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk
mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan
hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada,
yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin
kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat
• menyangkut persoalan hukum yang berkaitan dengan
substansi atau materi yang diatur sehingga perlu dibentuk
Peraturan Perundang-Undangan yang baru
• Beberapa persoalan hukum itu, antara lain, peraturan yang
sudah ketinggalan, peraturan yang tidak harmonis atau
tumpang tindih, jenis peraturan yang lebih rendah dari
Undang-Undang sehingga daya berlakunya lemah,
peraturannya sudah ada tetapi tidak memadai, atau
peraturannya memang sama sekali belum ada
Materi Yang Diatur UU

1. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-


Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan
Undang-Undang;
3. pengesahan perjanjian internasional tertentu;
4. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; dan/atau
5. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat.

Pasal 10 ayat (1) UU No. 12 Tahun 2011


Materi Yang Diatur

• Perpu = Undang-Undang
• PP  untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana
mestinya
• Perpres  diperintahkan oleh Undang-Undang, materi
untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah, atau materi
untuk melaksanakan penyelenggaraan kekuasaan
pemerintahan
• Perda Provinsi dan Kabupaten/Kota  dalam
rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas
pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah
dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-
undangan yang lebih tinggi
Asas-asas
pemungutan pajak
Asas Ekonomis
• Secara Mikro: pajak mengurangi penghasilan
individu, yang tidak ada imbalannya, sehingga
mengurangi harta wajib pajak. Pajak merupakan
beban rakyat.
• Pajak digunakan sebagai alat untuk menentukan
politik perekonomian, maka politik pemungutan
pajaknya harus diusahakan tidak:
1. menghambat lancarnya produksi dan
perdagangan.
2. menghalang-halangi rakyat dalam usahanya
menuju kebahagiaan dan jangan sampai
merugikan kepentingan umum
Asas-asas
pemungutan pajak

Asas Finansial
Sesuai dengan fungsi budgetair, maka sudah tentu
bahwa biaya-biaya untuk mengenakan dan
memungut pajak harus sekecil-kecilnya,
dibandingkan dengan pendapatannya
Asas-asas
pemungutan pajak

Cara Pemungutan Pajak


a. Asas domisili
b. Asas sumber
c. Asas kebangsaan (asas
natonaliteit)
PEMBAGIAN DAN CARA PEMUNGUTAN
PAJAK
Apa saja jenis
pajak yang Anda
ketahui..?
PEMBAGIAN PAJAK
Pajak

Golongan Wewenang Sifat

Langsung Pusat Subjektif

Tidak Langsung Daerah Objektif


Pajak PEMBAGIAN PAJAK

Golongan

Administratif: dikenakan secara


berulang-ulang
Langsung
Ekonomis: tidak dapat dialihkan

Tidak Administratif: dikenakan satu kali


Langsung Ekonomis: dapat dialihkan
Pajak PEMBAGIAN PAJAK

Wewenang
•PPh
•PPN & PPn BM
•Bea Meterai
Pusat •PBB

 BPHTB
 Pajak Kendaraan Bermotor
Daerah Pajak Hotel dan Restoran
PEMBAGIAN PAJAK
Pajak Daerah
PEMBAGIAN PAJAK
Pajak Daerah
Pajak Kenderaan
Pajak Rokok
Bermotor

PAJAK
PROPINSI
Pajak Air BBN
Permukaan Kenderaan
Bermotor

PBB
Kenderaan
Bermotor
Pajak Kabupaten/Kota
1. Pajak Hotel 7. Pajak Parkir
2. Pajak Restoran 8. Pajak Air Tanah
3. Pajak Hiburan 9. Pajak Sarang Burung
4. Pajak Reklame Walet
5. Pajak Penerangan 10.Pajak Bumi dan
Jalan Bangunan Pedesaan
6. Pajak Mineral Bukan dan Perkotaan
Logam dan Batuan 11.Bea Perolehan Hak
atas Tanah Dan Ba-
ngunan
81
3 (tiga) jenis Retribusi Daerah:

• Jasa umum
• Jasa usaha
• Perizinan tertentu

82
Golongan retribusi – psl 108

 Retribusi jasa umum


◦ Jasa yg diberikan Pemda utk tujuan kept & kemanfaatan
umum serta dpt dinikmati oleh org pribadi/badan
 Retribusi jasa usaha
◦ Jasa yg disediakan pemda dg menganut prinsip komersial krn
pd dasarnya dpt disediakan swasta
 Retribusi perijinan tertentu
◦ Keg tertentu pemda dlm rangka pemberian ijin kpd org
pribadi/badan yg dimaksudkan utk pembinaan, pengaturan,
pengendalian, pengawasan keg, pemanfaatan ruang,
penggunaan SDA, brg, prasarana, sarana, fasilitas guna
melindungi kept umum & kelestarian lingkungan
83
DAFTAR RETRIBUSI DAERAH

1. Retribusi Jasa Umum

1. Retribusi Pelayanan Kesehatan


2. Retribusi Persampahan/Kebersihan
3. Retribusi KTP dan Akte Capil
4. Retribusi Pemakaman/Pengabuan Mayat
5. Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum
6. Retribusi Pelayanan Pasar
7. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
8. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran
9. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta
10. Retribusi Pengolahan Limbah Cair
11. Retribusi Penyedotan Kakus
12. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang
13. Retribusi Pelayanan Pendidikan
14. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi
2. Retribusi Jasa Usaha

1. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah


2. Retribusi Pasar Grosir/Pertokoan
3. Retribusi Tempat Pelelangan
4. Retribusi Terminal
5. Retribusi Tempat Khusus Parkir
6. Retribusi Tempat Penginapan/ Pesanggrahan/Villa
7. Retribusi Rumah Potong Hewan
8. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan
9. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga
10. Retribusi Penyeberangan di Air
11. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah
3. Retribusi Perizinan Tertentu

1. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan


2. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman
Beralkohol
3. Retribusi Izin Gangguan
4. Retribusi Izin Trayek
5. Retribusi Izin Usaha Perikanan
Pajak PEMBAGIAN PAJAK
 memperhatikan keadaan/kondisi WP
penetapan pajaknya harus ada alasan yang
Sifat 
obyektif yang berhubungan dengan keadaan
materialnya (gaya pikul)

Subjektif  pada awalnya melihat obyeknya (benda,


keadaan, perbuatan atau peristiwa yang
menyebabkan timbulnya kewajiban
membayar, kemudian dicari subyeknya
(orang atau badan hukum) yang
bersangkutan langsung, dengan tidak
Objektif mempersoalkan apakah subyek ini
berkediaman di Indonesia atau tidak
 tidak dipengaruhi oleh keadaan subjek
pajaknya
• Berdasarkan tempat tinggal WP
• sumber penghasilan
• kewarganegaran

Asas
Domisili
• Berdasarkan sumber • Berdasarkan pada
penghasilan kewarganegaran
• Domisili • sumber penghasilan
• Kewarganegaran Cara • domisili
Pemungutan
Pajak

Asas Asas
Sumber Kebangsaan
ASAS APA
YANG DIANUT INDONESIA
WORLD WIDE INCOME
Pasal 4 ayat (1) UU
PPh
“yang menjadi objek pajak
adalah penghasilan, yaitu setiap
tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun
dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan
Wajib Pajak yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk
apa pun”.
Sistem Pemungutan
Dan Tarif Pajak
 Sistem : sekelompok pendapat/ peristiwa/ kepercayaan dsb
yang disusun & diatur baik-baik
 SISTEM PERPAJAKAN:
cara bagaimana mengelola utang pajak yang terutang oleh
Wajib Pajak dapat mengalir ke kas negara
 NORMAN NOVAK
Sistem perpajakan suatu negara terdiri dari 3 unsur:
• Tax Policy
• Tax Law
• Tax Administration
Sistem Pemungutan

 Sistem Pemungutan Pajak


a. Withholding tax system
b. Self assessment system
c. Official assessment system

 Tarif Pajak
a. Tarif tetap
b. Tarif proporsional
c. Tarif progresif
d. Tarif degresif
Sistem Pemungutan

Withholding tax system


a. Kewenangan pada pihak ketiga,
selain Fiskus dan WP, untuk
menentukan besarnya pajak
terutang
b. Memotong atau memungut
suatu prosentase tertentu
misalnya 20%, 15%, 10%, 5%
terhadap jumlah pembayaran
atau transaksi yang dilakukannya
dengan penerima penghasilan
WP
Sistem Pemungutan

Withholding tax system

Provisional Final

dapat tidak dapat


diperhitungkan diperhitungkan
Sistem Pemungutan

Self assessment
system
 Kewenangan pada WP untuk
menentukan sendiri besarnya
pajak terutang
 WP aktif menghitung,
menyetor & melapor
 Fiskus tidak ikut campur,
hanya mengawasi
Sistem Pemungutan

Konsekuensi Self assessment


 Tanggung jawab pemungutan pajak
sepenuhnya pada WP
 Kemungkinan terjadinya perlawanan berupa
Tax Avoidance atau Tax Evasion
 Peran penting DJP pada kemampuannya
untuk melaksanakan fungsi pengawasan dan
penegakan hukum atas terjadinya segala
bentuk penyimpangan pemenuhan kewajiban
perpajakan baik berupa pelanggaran
administratif maupun pidana
Sistem Pemungutan

Official assessment
system
 Kewenangan pada fiskus untuk
menentukan besarnya pajak
terutang
 Wajib Pajak pasif
 Utang pajak timbul setelah ada
surat ketetapan pajak
Official Self Witholding
Assessment Assessment System

♣ Wewenang berada  Wewenang berada


ditangan Wajib Pajak  Wewenang berada
ditangan pemerintah
untuk menentukan di pihak ketiga yang
(fiskus) untuk menen-
pajaknya sendiri ditetapkan oleh
tukan besarnya pajak
 Wajib pajak bersifat Peraturan Perpajakan
yang terutang
aktif (menghitung, untuk melaksanakan
pemotongan
♣ Wajib Pajak bersifat memperhitungkan,
membayar dan dan pemungutan
pasif.
melaporkan sendiri pajak
(hanya menunggu)
besarnya pajak yang
 Utang pajak timbul
♣ Utang pajak timbul harus dibayar)
 Utang pajak timbul tanpa menunggu surat
setelah dikeluarkan
tanpa menunggu surat ketetapan pajak
surat ketetapan pajak
oleh fiscus ketetapan pajak
SISTEM OFFICIAL ASSESSMENT
Pajak Provinsi :
• Pajak Kendaraan Bermotor
• Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
• Pajak Air Permukaan
Pajak Kabupaten/Kota:
• Pajak Reklame
• Pajak Air Tanah
• Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

Tata Cara Pemungutan , Pasal 96 UUPDRD


SELF ASSESSMENT SYSTEM
Pajak Provinsi :
• Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
• Pajak Rokok
Pajak Kabupaten/Kota:
• Pajak Hotel
• Pajak Restoran
• Pajak Hiburan
• Pajak Penerangan Jalan
• Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
• Pajak Parkir
• Pajak Sarang Burung Walet
• Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
CARA(STELSEL) PEMUNGUTAN PAJAK

 Stelsel
 Fiktif  PPh ps 25
 Riil  PPh ps 21, 23
 Campuran  PPh ps 29
Sistem Perpajakan
Apa Yang Diterapkan Di
Indonesia?
Penafsiran Hukum

• Kodifikasi membuat hukum


menjadi beku, statis, dan sukar
berubah

• Hakim yang harus menegakkan


hukum di tengah-tangah
masyarakat yang bersifat
dinamis sehingga perlu
penafsiran hukum
Pasal 10 ayat (1) UU No. 48 Tahun
2009
• Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa,
mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan
dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas,
melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.
Note:
Ketentuan ini mengisyaratkan kepada hakim apabila
suatu peratura perundang-undangan belum jelas atau
belum mengaturnya, hakim harus menyelesaikan
perkara tsb. Hakim harus berperan untuk menentukan
apa yg merupakan hukum, sekalipun peraturan tidak
dapat membantunya.
Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009

• Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali,


mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum
dan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat.
Penafsiran Hukum

1. tata bahasa (grammatikal)  berdasarkan pada bunyi


ketentuan UU, dengan berpedoman pada arti kata dalam kalimat UU

2. sahih (autentik, resmi)  arti kata-kata itu sebagaimana yang


diberikan oleh pembentuk UU  Penjelasan UU
Penafsiran Hukum
3. Historis  diselidiki berdasarkan sejarah terjadinya hukum tersebut
dari memori penjelasan, laporan perdebatan di DPR, surat menyurat
antara menteri dengan komisi DPR, naskah akademis

4. Sistematis (dogmatis)  menilik susunan yang berhubungan


dengan bunyi pasal-pasal lainnya baik dalam UU itu maupun dengan UU
yang lain
Penafsiran Hukum

5. Nasional  sesuai tidaknya dengan


sistem hukum yang berlaku

6. Teleologis (sosiologis) 
mengingat maksud dan tujuan UU,
kebutuhan dan keadaan masyarakat
berubah, sedangkan bunyi UU sama

7. Ekstensip  memperluas arti kata-


kata dalam peraturan itu sehingga suatu
peristiwa dapat dimasukkan
Penafsiran Hukum

8. Restriktif  membatasi
(mempersempit) arti kata-kata dalam
peraturan itu

9. Analogis  memberi ibarat (kiyas) pada


kata-kata tersebut sesuai dengan asas
hukumnya, sehingga suatu peristiwa yang
sebenarnya tidak dimasukkan, lalu
dianggap sesuai dengan bunyi peraturan
tersebut

10. a contrario (pengingkaran) 


perlawanan pengertian antara soal yang
dihadapi dan soal yang diatur dalam suatu
pasal UU
• prosentase tertentu atau nilai tertentu
yang ditetapkan secara pasti dalam
peraturan perundang-undangan
perpajakan, yang digunakan untuk
menentukan besarnya pajak yang
terutang
• Fungsi:
1. Sarana untuk menghitung pajak.
2. Menentukan besarnya pajak yang
terutang.
3. Menjaga terciptanya keadilan
Tarif Tetap
• tarif pajak yang besar nominalnya
tetap tanpa memperhatikan
jumlah yang dijadikan dasar
pengenaan pajak
• Contoh: Bea Meterai untuk cek &
bilyet giro
Tarif Proporsional
(Sebanding)
• tarif yang menggunakan persentase
tetap tanpa memperhatikan jumlah
yang dijadikan dasar pengenaan
pajak.
• Contoh Tarif PPN 10%.
Tarif Progresif
• tarif pajak yang
persentasenya semakin besar
jika dasar pengenaan
pajaknya meningkat

• Contoh: Tarif PPh


Tarif Degresif
• tarif pajak yang persentasenya semakin
menurun jika dasar pengenaan pajaknya
meningkat
Utang Pajak dan
Daluwarsa Utang Pajak
Lahirnya Utang Pajak
• Rochmat Sumitro  Utang yang
timbul secara khusus karena NEGARA
(KREDITUR) terikat dan tidak dapat memilih
secara bebas siapa yang akan dijadikan
DEBITUR-nya, seperti dalam Hukum Perdata.

• Subekti  Perikatan2 yg lahir dari UU


saja adalah perikatan-perikatan yg timbul
oleh hubungan kekeluargaan. Perikatan yg
lahir dari UU karena perbuatan dpt
dibedakan lagi menjadi 2  yang
diperbolehkan & yang melanggar hukum

• Pasal 1352 KUH Perdata 


Perikatan-perikatan yang dilahirkan demi
undang-undang, timbul dari undang-undang
sahaja, atau dari undang-undang sebagai
akibat perbuatan orang”
Saat Lahirnya Utang Pajak
• AJARAN FORMAL 
Utang Pajak timbul karena UU
pada saat di keluarkan surat
ketetapan pajak oleh Dirjen
Pajak

• AJARAN MATERIAL
Utang Pajak timbul dengan
sendirinya karena pada saat
yang ditentukan oleh UU
sekaligus dipenuhi Syarat
Subjek & Syarat Objek
Urgensi Saat Lahirnya Utang Pajak
Seberapa penting sihhh menentukan saat
timbulnya utang pajak itu ??

Rochmat Sumitro
1. Pembayaran / Penagihan
2. Pemasukan surat keberatan
3. Penentuan bermula dan
berakhirnya jangka waktu
daluwarsa
4. Menerbitkan SKP & SKPT
Urgensi Lahirnya Utang Pajak
Hapusnya Utang Pajak

1. Pembayaran “Pasal 1381


2. Penawaran pembayaran yang
diikuti dengan penitipan KUH Perdata”
3. Pembaharuan Utang
4. Kompensasi Utang
5. Pencampuran Utang
6. Pembebasan Utang
7. Musnahnya barang yang
terutang
8. Pembatalan, atau batal demi
huklum
9. Dipenuhi syarat batal
10. Daluwarsa
Hapusnya Utang Pajak

1. Pembayaran
2. Kompensasi Utang
“Hal yg dapat 3. Pembebasan Utang
menghapuskan 4. Pembatalan
5. Daluwarsa
Perikatan Pajak”
Daluwarsa
Penagihan Pajak
Suatu batasan waktu yg ditentukan o/
UU bahwa fiskus TIDAK mempunyai hak
lagi untuk melakukan PENAGIHAN
terhadap UTANG PAJAK wajib pajak

KEPASTIAN HUKUM
“Pasal 22 UU No. 16
Tahun 2009 tentang
KUP”
Ayat (1) :
Daluwarsa Hak untuk melakukan penagihan pajak,
termasuk bunga, denda, kenaikan dan
Penagihan Pajak biaya penagihan pajak, daluwarsa
setelah melampaui 5 (lima) tahun
terhitung sejak penerbitan STP, SKPKB
serta SKPKBT, dan SK Pembetulan, SK
Keberatan, Putusan Banding serta
Putusan PK.
“Pasal 22 UU No. 16
Tahun 2009 tentang
Ayat (2) :
KUP” Daluwarsa penagihan pajak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
tertangguh apabila :
a. Diterbitkan Surat Teguran dan
Surat Paksa
b. Ada pengakuan utang dari WP
langsung/tidak langsung
c. Diterbitkan SKPKB (Ps.13 ayat 5)
atau SKPKBT (Ps. 15 ayat 4)
Serangkaian tindakan
PP melunasi utang pajak dan biaya penagihan
Menegur/ memperingatkan, melaksanakan PSS,
memberitahukan SP, pencegahan, penyitaan,
penyanderaan, menjual barang sitaan
Pasal 18 Dasar Penagihan

STP , SKPKB, SKPKBT , dan Surat Keputusan


Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan
Dasar penagihan pajak Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak
yang masih harus dibayar bertambah,
merupakan dasar penagihan pajak. Termasuk
STPPBB, SKBKB, SKBKBT dan STB

pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi


Utang Pajak administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan.
yang tercantum dalam SKP /sejenisnya

Biaya penagihan pajak adalah biaya pelaksanaan


Biaya Penagihan SP, SPMP , Pengumuman Lelang, Pembatalan
Lelang dan biaya lainnya .

Ps.1 ayat (8) dan ayat ( 11) UU no.19/1997 stdd UU No.


19/2000
Dasar penagihan pajak
 STP, SKPKB, SKPKBT, dan SKPb, SKKb, PutBan, yang
menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.
(Pasal 18 ayat (1) UU KUP )

 Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT), Surat


Ketetapan (SKP), dan Surat Tagihan Pajak (STP)

(Pasal 12 UU PBB)

 Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar (SKBKB), Surat


Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT), STB.
(Pasal 14 ayat (1) UUBPHTB)
Pasal 18 STP, SKPKB, SKPKBT, dan Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Dasar penagihan pajak Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, serta Putusan Peninjauan
Kembali, yang menyebabkan jumlah
pajak yang masih harus dibayar
* Penambahan sesuai PMK
PMK 24/PMK.03/2008 stdd bertambah, merupakan dasar
85/PMK.03/2010 penagihan pajak.
* Termasuk STPPBB, SKBKB, SKBKBT
dan STB

Pasal 22 Peraturan Pemerintah No. 74/2011


PMK. 145/PMK.03/2012 (tidak mengatur)

• Dalam hal SKPKB atau SKPKBT rusak, tidak terbaca, hilang, atau tidak diketemukan lagi, Dirjen Pajak
karena jabatannya, dapat menerbitkan kembali SKPKB/SKPKBT sebagai pengganti asli
• mempunyai kedudukan hukum yang sama dengan asli.
PEJABAT kepala KPP Madya, termasuk Kepala KPP di lingkungan Kanwil DJP
Jakarta Khusus, dan Kepala KPP WP Besar, yang meliputi PPh dan
85/PMK.03/2010 PPN/PPn BM

Kepala KPP Pratama Penagihan PPh. PPN/PPnBM, PBB

pajak yang masih harus dibayar


termasuk sanksi administrasi berupa
Utang Pajak
bunga, denda atau kenaikan. yang
tercantum dalam surat ketetapan pajak
atau surat sejenisnya

Pasal 1 angka 8. UU No. 19/1997 stdd


UU No. 19/2000
Pasal 101 (2)

SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat


Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
Dasar penagihan pajak Keberatan dan Putusan Banding yg
menyebabkan jumlah yg harus dibayar
bertambah

pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi


Utang Pajak administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan.
yang tercantum dalam SKP /sejenisnya

Biaya penagihan pajak adalah biaya pelaksanaan


Biaya Penagihan SP, SPMP , Pengumuman Lelang, Pembatalan
Lelang dan biaya lainnya .

Ps.1 (8, 11) UU no.19/1997


Dasar
penagihan SURAT TAGIHAN RETRIBUSI

pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi


Utang Pajak administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan.
yang tercantum dalam SKP /sejenisnya

Biaya penagihan pajak adalah biaya pelaksanaan


Biaya Penagihan SP, SPMP , Pengumuman Lelang, Pembatalan
Lelang dan biaya lainnya .

Ps.1 (8, 11) UU no.19/1997


PEJABAT
KADISPENDA

pajak yang masih harus dibayar


termasuk sanksi administrasi berupa
Utang Pajak
bunga, denda atau kenaikan. yang
tercantum dalam surat ketetapan pajak
atau surat sejenisnya

Pasal 1 . 8. UU NO. 19/1997


DALUWARSA PENAGIHAN

PAJAK setelah melampaui waktu 5 (lima)


DAERAH tahun terhitung sejak saat
terutangnya pajak

• diterbitkan Surat Teguran dan/atau


Surat Paksa;
tertangguh
• ada pengakuan utang pajak, baik
langsung maupun tidak langsung.
• Wajib Pajak melakukan tindak pidana
di bidang perpajakan.
DALUWARSA PENAGIHAN

Pasal 167 UU setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun


PDRD sejak saat terutangnya Retribusi, kecuali
Wajib Retribusi melakukan tindak pidana
di bidang Retribusi daerah

• Diterbitkan Surat Teguran;


• pengakuan utang Retribusi dari Wajib
tertangguh Retribusi, baik langsung maupun tidak
langsung
JURUSITA PAJAK

1. Tupoksi dan wewenang JSP


2. Syarat pengangkatan JSP
2. Pengangkatan dan Pemberhentian Jurusita Pajak

• Pelaksana tindakan penagihan pajak


• Diangkat oleh pejabat
• Persyaratan fisik , mental dan profesional
• Wilayah kerja = wilayah Pejabat
• sumpah jabatan
• Syarat pengangkatan:
• Alasan pemberhentian
ALUR DAN JADWAL
PELAKSANAAN PENAGIHAN PAJAK

Dasar Hukum :
UU KUP
UU PPSP  UTANG
PAJAK &
PP No 74 Tahun 2011 Langsung, BIAYA
PMK No 24/PMK.03/2008 Ekspedisi/ PENCABUTAN PENAGIHA
Pos,
kurir dgn SITA` N
bukti kirim
 PUTUSAN
PENGADIL
LUNAS AN
7 SURAT 21
SP
2X24 SPMP/ Barang
SKP har hari jam PENYITAAN 14 HARI TDK Bergerak
TEGURAN
SKPKB 1X
LUNAS
i
SKPKBT Jatuh


SPMP
PENGUMUMAN
JURUSITA + 2 SAKSI
dll tempo  PARATE  BAP SITA
LELANG
EXECUTIE  BRG BERGERAK &
 DIBERITAHU BRG TDK
KAN OLEH BERGERAK
JURUSITA  BRG YG DISITA Barang Tdk
DILARANG: Bergerak
PAJAK 14
 DIPINDAHTANGANK 2X
 DIBUAT BAP AN hari
SP  DISEWAKAN
 DIPINJAMKAN
 DISEMBUNYIKAN
 DIHILANGKAN
PELAKSANAAN
 DIRUSAK LELANG
 PENYITAAN ATAS
REK. BANK & EFEK
PENGUMUMAN DI
PEMBLOKIRAN PENCEGAHAN PENYANDERAAN SYARAT:
MEDIA MASA
 UTANG PAJAK ≥ Rp100 jt
 DIRAGUKAN ITIKAD BAIK
JANGKA WAKTU:
6 BLN DPT DIPERPANJANG MAX 6
BLN
AKIBAT:
UTANG PAJAK TDK HAPUS &
PENAGIHAN TETAP
DILAKSANAKAN
* KEP / IJIN MENKEU
Peradilan Administrasi
KEDUDUKAN MAHKAMAH AGUNG
Pasal 20
(1) Mahkamah Agung merupakan pengadilan
negara tertinggi dari badan peradilan yang
berada di dalam keempat lingkungan
peradilan
Kekuasaan kehakiman RI

Kekuaasaan
kehakiman

MA MK

UMUM MILITER AGAMA TUN


Pasal 27 ayat (1) UU No. 48 Tahun
2009
• pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam
salah satu lingkungan peradilan yang berada di
bawah Mahkamah Agung. Penjelasan ketentuan
pasal ini menyebutkan bahwa yang dimaksud
pengadilan khusus antara lain adalah pengadilan
anak, pengadilan niaga, pengadilan hak asasi
manusia, pengadilan tindak pidana korupsi,
pengadilan hubungan industrial, dan pengadilan
perikanan yang berada di lingkungan peradilan
umum, serta pengadilan pajak yang berada di
lingkungan peradilan tata usaha negara.
Peradilan vs pengadilan
• Pengadilan merujuk pada badan, sedangkan
peradilan menunjuk pada fungsinya.
Pengadilan ditujukan kepada badan atau
wadah yang memberikan peradilan,
sedangkan peradilan menunjukkan kepada
proses untuk memberikan keadilan dalam
rangka penegakan hukum
Unsur peradilan administrasi murni
Rochmat Soemitro
• Adanya suatu aturan hukum yang abstrak yang
mengikat umum, yg dapat diterapkan pada suatu
persoalan
• Adanya suatu perselisihan hukum yg konkrit
• Adanya para pihak yang terdiri dari minimal 2
pihak
• Adanya suatu aparatur peradilan yg berwenang
memutuskan perselisihan
• Adanya hukum formal dalam rangka menerapkan
hukum dan menemukan hukum untuk menjamin
ditaatinya hukum material.
Unsur lainnya
• Yang memutus sengketa adalah hakim
• Penelitian terbatas pada rechtsmatigheid
keputusan administrasi
• Hanya dapat meniadakan keputusan administrasi
atau bila perlu memberi hukuman denda uang,
tetapi tidak membuat putusan lain yg
menggantikan keputusan administrasi yg pertam
• Terikat pada pertimbangan fakta-fakta dan
keadaan pada saat diambilnya keputusan
administrasi dan atas hal itu dipertimbangkan
rechtsmatigheid
Unsur peradilan tidak murni
• Yang memutuskan perkara dalam beroep adalah instansi yg
hierarki lebih tinggi atau instansi lain dari yang memberikan
keputusan tingkat pertama
• Tidak saja meneliti doelmatigheid, tetapi juga berwenang
meneliti rechtsmatigheid
• Dapat mengganti, mengubah, atau meniadakan keputusan
administrasi yg pertama
• Dapat memperhatikan perubahan keadaan sejak
diambilnya keputusan, bahkan juga dapat memperhatikan
perubahan yang terjadi selama prosedur berjalan.
• Badan yng memutuskan dapat di bawah pengaruh badan
lain, walapun badan itu di luar hierarki.
Sejarah badan peradilan pajak
• Staatsblad tahun 1915 No.707 tanggal 11
Desember 1915 yaitu Ordonnantie Tot Regeling
van Het Beroep in Belastingzaken (Peraturan
Banding Pajak);
• Staatsblad tahun 1927 No.29 yaitu tot regeling
van het beroep in belastingzaken atau Majelis
Banding Urusan Pajak;
• UU No. 17/1997 tentang BPSP (Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak)
• UU No. 14/2002 tentang Pengadilan Pajak
POKOK-POKOK PERTIMBANGAN
PEMBENTUKAN PENGADILAN PAJAK
I. PEMBANGUNAN NASIONAL
a. Negara RI adalah negara Hukum
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
b. Bertujuan mewujudkan kehidupan negara
dan bangsa yang adil dan sejahtera, aman,
tentram dan tertib dan menjamin
kedudukan hukum yang sama bagi warga
masyarakat
POKOK-POKOK PERTIMBANGAN
PEMBENTUKAN PENGADILAN PAJAK
c. Untuk mencapai tujuan tersebut,
pembangunan nasional dilaksanakan
secara berkesinambungan dan
berkelanjutan serta merata di seluruh
tanah air.
d. Memerlukan biaya besar, yang harus digali
terutama dari kemampuan sendiri.
POKOK-POKOK PERTIMBANGAN
PEMBENTUKAN PENGADILAN PAJAK
II. Pembiayaan Pembangunan
a. Dalam rangka kemandirian, penerimaan
pajak sebagai sumber utama pembiayaan
negara dan pembangunan.
b. Memerlukan peningkatan peran
masyarakat dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya.
c. Peningkatan kesadaran dan pemahaman
akan mengakibatkan jumlah pembayar
meningkat.
POKOK-POKOK PERTIMBANGAN
PEMBENTUKAN PENGADILAN PAJAK

III. Sengketa Pajak


a. Meningkatnya pembayar pajak dan
pemahaman hak dan kewajiban.
b. Jumlah sengketa meningkat.
c. Perlu penyelesaian yang adil dengan
prosedur cepat,murah dan sederhana.
d. MPP sudah tidak sesuai lagi dengan
kebutuhan dalam menyelesaikan
sengketa pajak
DASAR PEMBENTUKAN PENGADILAN PAJAK

* Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 5 (1) dan


Pasal 20 (1)

* UU. No. 6 Tahun 1983 tentang KUP


sebagaimana telah diubah dengan UU No. 16
Tahun 1994
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
1. Kompetensi Absolut
PENGADILAN PAJAK adalah badan peradilan
pajak yang mempunyai tugas memeriksa dan
memutus sengketa pajak berupa :
a. Banding terhadap keputusan pejabat
berwenang;
b. Gugatan terhadap pelaksanaan peraturan
perundang-undangan perpajakan di
bidang penagihan.
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
2. Sifat Putusan
Putusan PENGADILAN PAJAK mempunyai
kekuatan eksekutorial dan kedudukan
hukum yang sama dengan putusan
pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap, dengan kepala
putusan “DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA”
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
3. Upaya Hukum
Pengajuan banding atau gugatan ke
PENGADILAN PAJAK merupakan upaya
hukum terakhir bagi pembayar pajak dan
putusannya tidak dapat digugat ke peradilan
umum atau Peradilan Tata Usaha Negara.
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
4. Kompetensi Relatif
Dengan Undang-undang ini untuk
pertama kali dibentuk PENGADILAN PAJAK
yang berkedudukan di ibukota negara,
dan dengan kuasa Undang-undang ini
dapat dibentuk lagi PENGADILAN PAJAK
yang tingkatnya sama di ibukota negara
dan tempat lain yang pelaksanaannya
diatur dengan Keputusan Presiden.
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
5. Pembinaan
Pembinaan organisasi, administrasi, dan
keuangan PENGADILAN PAJAK dilakukan oleh
Departemen Keuangan.
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
6. Jangka Waktu Penyelesaian Sengketa
Untuk memberikan pelayanan yang baik
dan kepastian hukum, kepada pemohon
banding atau penggugat, serta
pemeriksaan sampai dengan pelaksanaan
putusan PENGADILAN PAJAK ditetapkan
jangka waktunya. Apabila putusan
ditetapkan, banding atau gugatan
dikabulkan, sedangkan apabila syarat-
syarat formal pengajuan banding atau
gugatan tidak dipenuhi, banding atau
gugatan tidak dapat diterima.
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
7. Syarat Banding
Salah satu persyaratan formal pengajuan
banding adalah jumlah pajak yang
disengketakan dalam keputusan yang
dibanding harus dilunasi, dan apabila
banding dikabulkan sebagin atau
seluruhnya, kepada pemohon banding
diberikan imbalan bunga sebesar 2%
sebulan untuk selama-lamanya 24 bulan
atas kelebihan pembayaran pajak.
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
8. Syarat Gugatan
Salah satu syarat gugatan adalah melunasi biaya
pendaftaran

9. Syarat Anggota
Anggota PENGADILAN PAJAK adalah tenaga
professional, yaitu sarjana yang mempunyai
keahlian di bidang perpajakan yang dalam
melaksanakan persidangan dibantu oleh
Sekretaris Sidang
ARAH DAN TUJUAN PEMBENTUKAN
PENGADILAN PAJAK
10. Hukum Acara
Pemeriksaan dengan acara cepat dapat
dilakukan oleh Majelis atau oleh anggota
Tunggal.
11. Pemeriksaan
Berdasarkan pada sifat kerahasiaan
perpajakan, pemeriksaan oleh
PENGADILAN PAJAK dilakukan dalam
sidang tertutup.
12. Pelaksanaan Putusan
Putusan PENGADILAN PAJAK langsung
dapat dilaksanakan tanpa memerlukan
lagi keputusan pejabat yang berwenang,
kecuali undang-undang mengatur lain.
KEDUDUKAN
PENGADILAN PAJAK adalah badan peradilan
pajak sebagaimana dimaksud dalam UU No.
6/1983 tentang KUP sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 9/1994 (pasal 2)
TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 3

Untuk pertama kali PENGADILAN PAJAK dibentuk di


Ibukota negara

Apabila dipandang perlu PENGADILAN PAJAK yang


tingkatannya sama dapat dibentuk di ibukota
negara dan ditempat lain

Pelaksanaan pembentukan diatur dengan


keputusan Presiden
DI TEMPAT KEDUDUKAN

DI TEMPAT LAIN
DALAM DAERAH
HUKUMNYA
TINDAK PIDANA DIBIDANG
PERPAJAKAN
TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN
Unsur-unsur Tindak Pidana Di Bidang Perpajakan :
1. Unsur Subyek
Pelaku perbuatan pidana : Setiap orang
a. Orang pribadi
b. Badan hukum (Pengurus, Wakil, Kuasa & Pegawai WP)
Termasuk : * yang menyuruh
* yang turut serta melakukan
* yang menganjurkan
* yang membantu melakukan
2. Unsur Perbuatan
a. Memenuhi rumusan Pasal 38, 39, 39A, 41A, 41B, 41 C dan 43 KUP
b. Memenuhi rumusan Pasal 24,25 PBB, 13,14 BM, 41A PPSP
c. Perbuatan tersebut diancam dengan sanksi pidana
d. Perbuatan tersebut dilakukan di bidang perpajakan
3. Unsur Akibat
Dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara
4. Unsur Kesalahan
a. Kealpaan
b. Kesengajaan
PASAL-PASAL YANG MENGATUR
TINDAK PIDANA PERPAJAKAN

UU KUP UU PBB UU BM UU PPSP


Ps. 38,
39,39A, 41, Ps. 24, Ps. 13,
14 Ps. 41A
41A, 41B, 25
41C, 43
KETENTUAN PIDANA DALAM UU KUP

Tindak Pidana (Alpa) bukan yang pertama


Pasal 38 kali

Tindak Pidana (Sengaja)


Pasal 39 Pengulangan
Percoban

Alpa
Pasal 40 Daluwarsa
Sengaja
Pasal 41 Tipid Rahasia Jabatan Delik Aduan

Pasal 41A Tipid Tidak Melaksanakan Pasal 35

Pasal 41B Tipid Menghalangi/Mempersulit DIK

Pasal 43 Penyertaan Tipid Ps 38, Ps 39 dan Ps 39A


Penyertaan Tipid Ps 41A dan Ps 41B
TAMBAHAN KETENTUAN PIDANA DALAM UU
KUP
Pasal 39 A Menggunakan/menerbitkan
faktur, bukti potput, ssp tidak
sesuai transaksi sebenarnya

NON PKP menerbitkan faktur

Pasal 41C Tipid tdk melaksanakan Pasal 35 A

Tipid penyalahgunaan data dan


Informasi perpajakan
PASAL 38

A L PA

Tidak menyampaikan SPT


Menyampaikan SPT tidak benar atau tidak lengkap
atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar
(bukan untuk pertama kali)

AK I BAT
Dapat menimbulkan kerugian
pada pendapatan Negara

SANKSI PIDANA
* Kurungan maksimal satu tahun, atau
* Denda maksimal dua kali
PASAL 39

SENGAJA - [ Pasal 39 Ayat (1) ]


•Tidak mendaftarkan diri
•Menyalahgunakan NPWP/NPPKP
•Tidak menyampaikan SPT
•Menyampaikan SPT yang isinya tidak benar/tidak lengkap
•Menolak untuk dilakukan pemeriksaan
•Memperlihatkan pembukuan palsu/dipalsukan
•Tidak menyelenggarakan/memperlihatkan/meminjamkan pembukuan
•Tidak menyimpan buku, catatan, dokumen cfm psl 28 ayat (11)
•Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong/dipungut

AK IBAT
Dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan Negara

SANKSI PIDANA
Penjara minimal 6 Bulan maksimal 6 Tahun
dan
Denda Minimal 2 Kali maksimal 4 Kali jumlah pajak yang terutang / kurang dibayar
PASAL 39

PENGULANGAN
Pasal 39 Ayat (2) KUP

Ancaman Pidana (Pasal 39 Ayat (1))


dilipatkan dua

Dengan syarat belum lewat satu tahun


selesai menjalani pidana, melakukan lagi
Tindak Pidana
PASAL 39
Pasal 39 Ayat (3) KUP

P E R C O B AA N
 Menyalah gunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP
atau NPPKP.
 Menyampaikan SPT dan/atau keterangan yang isinya tidak
benar atau tidak lengkap.

( Dalam rangka mengajukan restitusi atau kompensasi atau


pengkreditan pajak)

SANKSI PIDANA
Pidana Penjara Minimal 6 Bulan Maksimal 2 Tahun
dan
Denda Minimal 2 Kali Maksimal 4 Kali
jumlah restitusi atau kompensasi atau pengkreditan pajak
PASAL 39 A

SENGAJA

 Menerbitkan dan/atau menggunakan Faktur pajak,


bukti potput, dan atau SSP yg tdk berdasarkan transaksi
sebenarnya

 Menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan


sebagai PKP

SAN K SI

Penjara minimal 2 Tahun maksimal 6 Tahun


Serta
Denda Minimal 2 Kali Maksimal 6 Kali jumlah faktur pajak atau Potput atau SSP
DELIK ADUAN
Pasal 41

PEJABAT PEJABAT/SESEORANG

ALPA Sengaja
Tidak memenuhi kewajiban meraha- Tidak memenuhi/menyebabkan
siakan segala sesuatu yang diketahui tidak terpenuhinya kewajiban
/diberitahukan kepadanya oleh WP. merahasiakan segala sesuatu yang
karena jabatannya ( seperti tersebut diketahui/diberitahukan kepada
dalam Pasal 34 KUP. ) nya oleh WP. karena jabatanya
(seperti tsb. dalam Pasal 34 KUP.)

SANKSI
SANKSI ~ Pidana penjara selama-lama
~ Pidana kurungan selama-lamanya nya dua tahun, dan
satu tahun, dan ~ Denda setinggi-tinggnya
~ Denda setinggi-tingginya Rp 50.000.000,00
Rp 25.000.000,00
Pasal 41 A

SETIAP ORANG (YANG TERIKAT PASAL 35)


YANG DENGAN SENGAJA

• Tidak memberikan keterangan atau bukti atau


• Memberikan keterangan atau bukti yang
tidak benar.

SANKSI
 Pidana Kurungan Maksimal 1 Tahun
dan
 Denda paling banyak Rp 25.000.000,00
Pasal 41 B
SETIAP ORANG yang dengan sengaja

Menghalangi atau Mempersullit Penyidikan Tindak


Pidana di Bidang Perpajakan

SAN KS I

Pidana penjara paling lama


Tiga tahun
dan
denda paling banyak Rp 75.000.000,00
Pasal 41 C

SETIAP ORANG YANG DENGAN SENGAJA

PERBUATAN SANKSI

KURUNGAN 1 TAHUN atau DENDA Rp. 1 M


TIDAK MEMENUHI PASAL 35 (1)

MENYEBABKAN TDK TERPENUHINYA PASAL KURUNGAN 10 BLN atau DENDA


35 (1) Rp. 800 JUTA

KURUNGAN 10 BLN atau DENDA


TDK MEMBERI DATA/INFO YG DIMINTA DJP
Rp. 800 JUTA
CFM. PASAL 35 A (2)

MENYALAHGUNAKAN DATA/INFO PAJAK KURUNGAN 10 BLN atau DENDA


SHG ADA KERUGIAN NEGARA Rp. 800 JUTA
Pasal 43
PENYERTAAN
KUHP KUP
Pasal 55 PASAL 43 :

Dipidana sebagai pembuat suatu perbuatan (1) Ketentuan sebagaimana pasal 39 dan
pidana : 39A berlaku juga bagi wakil, kuasa,
-Yang Melakukan pegawai dari wajib pajak atau pihak lain
-Yang Menyuruh Melakukan yang menyuruh melakukan, turut serta
-Yang turut serta melakukan melakukan, menganjurkan, membantu
-Yang Menganjurkan melakukan tindak pidana

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 41A dan 41B berlaku juga
Pasal 56
bagi yang menyuruh melakukan, yang
Dipidana sebagai pembantu suatu kejahatan : menganjurkan atau yang membantu
-Yang sengaja memberi bantuan pada waktu melakukan tindak pidana di bidang
kejahatan dilakukan perpajakan.
-Yang sengaja memberi kesempatan atau sarana
atau keterangan utk melakukan kejahatan
TERSANGKA
PASAL 38, 39, 39A UU KUP

BARANG SIAPA WAJIB PAJAK

WAKIL ( Pasal 32(1),(2),(4))


KUASA (Pasal 32(3))
PEGAWAI WAJIB PAJAK
PIHAK LAIN :
-Yang Menyuruh PASAL 43 Ayat (1)
-Yang Turut Serta
-Yang Menganjurkan
-Yang Membantu Melakukan
UPAYA DJP DALAM PENEGAKAN HUKUM

• Sosialisasi peraturan perpajakan terutama yang terkait dengan tindak


pidana perpajakan
• Reformasi Organisasi DJP, Penyidikan hanya dilakukan oleh KPDJP dan
Kanwil DJP, sehingga pelaksanaan penyidikan dapat lebih terfokus
• Meningkatkan upaya penegakan hukum melalui Penyidikan terhadap
kasus tindak pidana perpajakan untuk memberi efek jera (deterrent effect)
bagi wajib pajak sehingga peraturan perpajakan dapat ditaati secara
voluntary compliance
• Publikasi terhadap hasil penyidikan yang telah dilaksanakan
AZAS OPORTUNITAS DALAM UU KUP
Kewenangan Penghentian Penyidikan

JAKSA AGUNG
PENYIDIK Pasal 44 B
Pasal 44 A
Untuk kepentingan penerimaan negara
atas permintaan Menkeu, Jaksa Agung
dapat menghentikan penyidikan tindak
pidana di bidang perpajakan paling lama
dalam jangka waktu 6 bulan sejak
tanggal surat permintaan
DALAM HAL :
DENGAN SYARAT
-Tidak cukup bukti Setelah WP melunasi pajak yang tidak
-Bukan Tindak Pidana atau kurang di bayar atau tidak
-Daluwarsa seharusnya dikembalikan, ditambah de-
ngan sanksi administrasi berupa denda
-Tersangka Meninggal Dunia sebesar empat kali jumlah pajak yang
tidak atau kurang dibayar, atau yang
tidak seharusnya dikembalikan.
Siapa yang BERWENANG
melakukan Penyidikan atas
TINDAK PIDANA
PAJAK ?

PPNS DJP

Kecuali
Ps 13 UU BM  POLRI
KEWENANGAN PENYIDIK
Pasal 44 ayat (2) UU KUP

a) Menerima, mencari, f) Meminta bantuan tenaga ahli;


mengumpulkan dan meneliti g) Menyuruh berhenti dan/atau
keterangan /laporan agar menjadi melarang seseorang meninggalkan
lebih lengkap & jelas; ruangan atau tempat pada saat
b) Meneliti, mencari & mengumpul pemeriksaan, memeriksa identitas
kan keterangan mengenai orang orang/dokumen;
pribadi / badan; h) Memotret seseorang;
c) Minta keterangan dan bahan bukti i) Memanggil orang untuk didengar
dari orang pribadi atau badan; keterangan dan diperiksa sebagai
d) Memeriksa buku/catatan dan tersangka atau saksi;
dokumen lain; j) Menghentikan penyidikan dan/ atau
e) Melakukan penggeledahan untuk k) Melakukan tindakan lain yang perlu
mendapatkan bahan bukti; untuk kelancaran penyidikan
menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Kepatuhan WP Dan Perlawanan
Terhadap Pemungutan Pajak
Kepatuhan WP

• Wajib Pajak  memenuhi semua kewajiban


perpajakan dan melaksanakan hak
perpajakannya

• Kepatuhan Formil  WP memenuhi


kewajiban perpajakan secara formal sesuai
dengan ketentuan dalam UU Perpajakan

• Kepatuhan materiil  WP secara


substantive memenuhi semua ketentuan
materiil perpajakan sesuai dengan isi atau jiwa
UU Perpajakan
Perlawanan Pajak

• Pajak dipandang sebagai sesuatu


yang membebani sehingga perlu
dihindari
• Penghindaran pajak atau
perlawanan terhadap pajak
adalah hambatan-hambatan yang
terjadi dalam pemungutan pajak
sehingga mengakibatkan
berkurangnya penerimaan kas
negara
Perlawanan Pajak
Perlawanan Pasif
 Perlawanan yang inisiatifnya bukan
dari Wajib Pajak itu sendiri tetapi
terjadi karena keadaan yang ada di
sekitar Wajib Pajak itu
 Hambatan-hambatan tersebut berasal
dari struktur ekonomi, perkembangan
moral, intelektual penduduk, dan
teknik pemungutan pajak itu sendiri
Perlawanan Pajak
Perlawanan Aktif
 Perlawanan aktif adalah perlawanan
yang inisiatifnya berasal dari Wajib
Pajak itu sendiri.

 Merupakan usaha dan perbuatan yang


secara langsung ditujukan terhadap
fiskus dan bertujuan untuk
menghindari pajak atau mengurangi
kewajiban pajak yang seharusnya
dibayar
Perlawanan Pajak
Perlawanan Aktif
 Perlawanan aktif adalah perlawanan
yang inisiatifnya berasal dari Wajib
Pajak itu sendiri.

 Merupakan usaha dan perbuatan yang


secara langsung ditujukan terhadap
fiskus dan bertujuan untuk
menghindari pajak atau mengurangi
kewajiban pajak yang seharusnya
dibayar
Perlawanan Pajak

Perlawanan Aktif
1. Penghindaran Pajak (Tax
Avoidance)
2. Pengelakan Pajak (Tax
Evasion)
3. Melalaikan Pajak
Perlawanan Pajak
Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)
 suatu skema transaksi yang
meminimalkan beban pajak
dengan memanfaatkan
kelemahan-kelemahan dalam
ketentuan perpajakan suatu
negara

 WP tidak secara jelas melanggar


UU sekalipun kadang-kadang
dengan jelas menafsirkan UU
tidak sesuai dengan maksud dan
tujuan pembuat UU
Perlawanan Pajak
Pengelakan Pajak (Tax Evasion)
1. Menahan Diri  WP tidak melakukan sesuatu yang
dapat dikenai pajak. Contoh: Tidak merokok agar
terhindar dari cukai tembakau.

2. Pindah Lokasi  Memindahkan lokasi usaha atau


domisili dari lokasi yang tarif pajaknya tinggi ke loksi yang
tarif pajaknya rendah. Contoh: Di Indonesia, diberikan
keringanan bagi investor yang ingin menanamkan
modalnya di Indonesia Timur.

3. Yuridis  memanfaatkan kekosongan atau ketidak


jelasan UU yang memberikan dasar potensial
penghindaran pajak secara yuridis. Celah undang-undang
merupakan dasar potensial penghindaran pajak secara
yuridis
Perlawanan Pajak
Pengelakan Pajak (Tax Evasion)

suatu skema memperkecil pajak yang


terutang dengan cara melanggar
ketentuan perpajakan secara illegal.
Contoh: Tidak melaporkan penjualan atau
memperbesar biaya dengan cara fiktif
Perlawanan Pajak

Melalaikan Pajak
menolak membayar pajak
yang telah ditetapkan dan
menolak memenuhi
formalitas-formalitas yang
harus dipenuhi oleh WP
PAJAK
INTERNASIONAL

196
Pengertian Pajak Internasional

Prof. Mr. H. J. Hofstra


merupakan keseluruhan peraturan hukum yang
membatasi wewenang suatu negara untuk memungut
pajak dari hal-hal internasional. Batasan yang
dikemukakan Hofstra lebih menekankan pada
kewenangan suatu negara atau yuridiksi suatu negara
dalam hal memungut pajak yang materinya berkaitan
atau berhubungan dengan negara-negara lain (dalam
arti orang-orang asing yang bukan warga negara suatu
negara).
Prof.Dr. PJA Adriani

Suatu kesatuan hukum. Ia mengupas problem


ketentuan pemajakan orang-orang luar negeri dan
penghindaran pajak berganda serta traktat yang
dicakup oleh UU Perpajakan nasional.
Prof. Rochmat Soemitro

adalah hukum pajak nasional yang terdiri dari kaedah,


baik berupa kaedah-kaedah nasional maupun kaedah-
kaedah yang berasal dari traktat antarnegara dan dari
prinsip atau kebiasaan yang telah diterima baik oleh
negara-negara di dunia, untuk mengatur soal-soal
perpajakan dan di mana dapat ditunjukan adanya
unsur-unsur asing, baik mengenai subjeknya maupun
mengenai objeknya. Ia mengemukakan bahwa pajak
internasional terdiri dari norma-norma nasional yang
diterapkan pada hubungan internasional.
Pengertian P3B

• Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)


adalah perjanjian internasional di bidang
perpajakan antar kedua negara guna menghindari
pemajakan ganda agar tidak menghambat
perekonomian kedua negara dengan prinsip saling
menguntungkan antar kedua negara dan
dilaksanakan oleh penduduk antar kedua negara
yang terlibat dalam perjanjian tersebut.
Tujuan

a. Tidak terjadi pemajakan berganda yang


memberatkan ikim dunia usaha;
b.Peningkatan investasi modal dari luar negeri ke
dalam negeri;
c. Peningkatan sumber daya manusia;
d.Pertukaran informasi guna mencegah pengelakan
pajak;
e.Kedudukan yang setara dalam hal pemajakan
antar kedua negara.
Asas utama yang dijadikan landasan untuk
mengenakan pajak adalah:

• Asas domisili atau azas kependudukan;


• Asas Sumber;
• Asas Nasionalitas atau asas kewarganegaraan

202
pengertian negara sumber dan negara domisili

• Misalkan Tuan Teungku Fahri yang bertempat tinggal di Malaysia


memiliki saham perusahaan PT Manohara yang berkedudukan di
Indonesia. Pada tahun 2009 PT Manohara membagikan dividend kepada
para pemegang sahamnya, termasuk Tuan Tengku Fahri yang
mendapatkan dividen Rp1.000.000.000,-.
• Dividen tersebut dibayarkan oleh badan hukum yang berkedudukan di
Indonesia (PT Manohara). Dengan demikian negara sumber dalam hal
ini adalah Indonesia. Sementara itu, pemilik penghasilan dividend
tersebut adalah Tengku Fahri yang bertempat tinggal di Malaysia.
Dengan demikian, Malaysia disebut negara domisili dalam kasus ini.

203
Metode hak pemajakan di berbagai negara, untuk
menghindari pemajakan berganda, antara lain:

a. Metode Pemajakan Unilateral


Metode ini mengatur bahwa negara Republik
Indonesia mempunyai kekuatan hukum
mengatur masyarakat atau badan
internasional dan ditetapkan sepihak oleh
negara Indonesia sendiri.

204
b. Metode Pemajakan Bilateral
Metode ini dalam penghitungan pengenaan
pajaknya harus mempertimbangkan perjanjian
kedua negara (Tax Treaty). Indonesia
menerapkan jumlah pajak terutang penduduk
asing atau badan internasional dua negara yang
telah mengadakan perjanjian. Justru peraturan
perpajakan Indonesia tidak berlaku bilamana
terdapat Tax Treaty.

205
c. Metode Pemajakan Multilateral
Metode ini didasarkan pada konvensi
internasional yang ketentuan atau ketetapan
atau keputusan yang dihasilkan untuk
kepentingan banyak negara yang
ditandatangani oleh berbagai negara, misalnya
Konvensi Wina, mis. Organisasi internasional
tidak dikenakan pajak

206
KEDUDUKAN HUKUM P3B

 P3B adalah perjanjian antara negara-negara


yang berdaulat sesuai dengan hukum
internasional,
 Negara-negara yang membuatnya wajib
memastikan bahwa P3B dapat diterapkan
dalam hukum domestiknya:
 Terdapat dua aliran dalam menerapkan P3B di
dalam negeri: Monistic Principle dan Dualistic
Principle.

207
207
KEDUDUKAN HUKUM P3B
Monistic Principle:
 Hukum internasional dan Hukum nasional menjadi hukum
domestik dan Hukum Nasional tunduk kepada Hukum
Internasional (”doctrine of incorporation”),
 Treaty yang telah disepakati dapat segera diberlakukan (”self
executing”),
 Treaty secara otomatis menjadi bagian hukum domestik,
 Tidak perlu diundang-undangkan
 Negara-negara yang menerapkan, seperti: Perancis, Jepang,
Luxemburg, Belanda, Portugal, Spanyol, Switzerland.
 Beberapa negara mensyaratkan prosedur formal di tingkat
eksekutif, contoh: Indonesia, Austria, Belgia, Jerman, USA.

208
KEDUDUKAN HUKUM P3B

Dualistic Principle:
 Hukum internasional terpisah dari Hukum nasional,
 Agar dapat diberlakukan Treaty harus dijadikan hukum
domestik terlebih dulu melalui proses legislasi
(”doctrine of transformation”),
 Beberapa negara yang menerapkan: Australia, Canada,
Denmark, India, Israel, New Zealand, Norwegia, Swedia,
UK

209
PROSES PEMBERLAKUAN P3B
Negosiasi
Negara X Indonesia
Ratifkasi Disepakati: Ratifikasi
Pemarafan 
Penanda-
tanganan

Instrumen Ratifikasi
Instrumen Ratifikasi: Pertukaran:
treaty enters
Berupa Peraturan
Melalui Parlemen?
into force Presiden
Hanya Eksekutif?
atau self-executing?

Treaty menjadi bagian


hukum domestik
Treaty
Berlaku
efektif

210
Dasar Hukum
- Pasal 11 UUD 1945
Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian
dengan negara lain.
- Pasal 32A UU PPh
Pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian
dengan pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran
pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak."
KEDUDUKAN P3B DI HADAPAN UU PPH

Pasal 32A UU PPh:


Pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian dengan
pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran pajak
berganda dan pencegahan pengelakan pajak.“
• Kedudukan tax treaty: lex specialis dari UU PPh.
(Penjelasan Pasal 32 A UU PPh)

• Bila terjadi perbedaan pengaturan antara UU PPh


dan tax treaty, maka ketentuan dalam tax treaty
yang diberlakukan (”Tax Treaty Superceeding
Domestic Tax Laws”).

212
KEDUDUKAN P3B DI HADAPAN UU PPH

“Vienna Convention on the Law of Treaties 1969” (VCLT):


Article 26: “Pacta sunt servanda”
Every treaty in force is binding upon the parties to it and must be
performed by them in good faith.

Article 27: Internal law and observance of treaties


A party may not invoke the provisions of its internal law as
justification for its failure to perform a treaty.

213
KEDUDUKAN P3B DI HADAPAN UU PPH

“Vienna Convention on the Law of Treaties 1969” (VCLT):


Article 31: General rule of interpretation
(1) A treaty shall be interpreted in good faith in accordance with the
ordinary meaning to be given to the terms of the treaty in their
context and in the light of its object and purpose;
Catatan:
RI tidak meratifikasi VCLT, namun menerapkan konvensi tersebut
sebagai “International Customary Law”

214
KEDUDUKAN P3B DI HADAPAN UU PPH
UU No.24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional:
Pasal 1 ayat (1):
Perjanjian Internasional adalah perjanjian, dalam bentuk dan
nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang
dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di
bidang hukum publik;
Pasal 1 ayat (2):
Pengesahan adalah perbuatan hukum untuk mengikatkan diri
pada suatu perjanjian internasional dalam bentuk ratifikasi
(ratification), aksesi (accession), penerimaan (acceptance) dan
penyetujuan (approval);

215
KEDUDUKAN P3B DI HADAPAN UU PPH
UU No.24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional:
Pasal 4 ayat (1):
Pemerintah Republik Indonesia membuat perjanjian
internasional dengan satu negara atau lebih, organisasi
internasional, subjek hukum internasional lain berdasarkan
kesepakatan; dan para pihak berkewajiban untuk
melaksanakan perjanjian tersebut dengan itikad baik.

216
• Metode Penghindaran Pajak Berganda adalah:
a. Pembebasan/Pengecualian;
b. Kredit Pajak;
c. Metode Lainnya.

217
Metode Penghindaran Pajak Berganda

a. Pembebasan/pengecualian (exemption)
 Subject exemption, ditentukan dlm Psl 3 UU PPh
 Object, income exemption atau full exemption,
pajak luar negeri tidak perlu dikenakan pajak
lagi seperti PPh Final
 Pembebasan pajak (tax exemption) atau
exemption with progression, kerugian dari luar
negeri diperhitungkan untuk mengurangi pajak
dlam negeri.
b. Kredit pajak (tax credit)
Menghitung kembali penghasilan dari luar negeri dan pajak
terutang di negera domisili. Pajak yang telah di bayar
diluar negeri dapat mengurangkan pajak terutang di
negara domisili.
c. Metode Lainnya
 Pembagian pajak (tax sharing) – membagi pajak terutang antara negara
sumber dg negara domisili
 Pembagian hak pemajakan (division of taxing power) – Penentuan tarif
maksimum yang diperoleh wajib pajak LN.
 Pengurangan tarif (reduction of the rate) – Pengurangan tarif atas
penghasilan luar negeri, sehingga tarif pajak terutang dalam negeri
dengan tarif umum, dan pajak terutang luar negeri tarifnya dikurangi
misal pengurangan tarifnya 25% atau 50%.
• Model Perjanjian Penghindaran Pajak
Berganda:
a. Model OECD (Organization for Economic
Cooperation and Development);
b.Model UN (United Nation);
c. Model Indonesia (Gabungan antara model
OECD dan UN).

221
STATUS P3B INDONESIA
Status P3B Indonesia:
Telah berlaku efektif : 58 negara

222
DAFTAR P3B INDONESIA YANG BERLAKU EFEKTIF: 58 Negara

Australia RRC Prancis


Bangladesh Uni Emirat Arab Jerman
Brunei Darussalam Vietnam Hungaria
India Algeria Italia
Jepang Kanada Luxemburg
Jordan Mesir Belanda
Korea Utara Mauritius (dihentikan) Norwegia
Korea Selatan Mexico Polandia
Kuwait Seychelles Rumania
Malaysia Afrika Selatan Rusia
Mongolia Sudan Slovakia
New Zealand Tunisia Spanyol
Pakistan Amerika Serikat Swedia
Philippines Venezuela Switzerland
Qatar Austria Turki
Saudi Arabia Belgia Ukraina
Singapura Bulgaria United Kingdom
Srilangka Ceko Uzbekistan
Syria Denmark
Taiwan Finlandia
Thailand

223
SELESAI

224