Anda di halaman 1dari 87

Pemicu 1

Imunologi
Putri Ayuningtyas 405120125
Learning Objectives
Mampu menjelaskan:
1. Definisi, struktur, dan klasifikasi virus
2. Patofisiologi terjadinya infeksi virus
3. Mekanisme respon imun pada virus
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi imun
5. Prosedur diagnostik
6. Penatalaksanaan
7. Pencegahan infeksi virus
8. Penyebab pembesaran kelenjar limfe
LO 1

DEFINISI, STRUKTUR, DAN


KLASIFIKASI VIRUS
Definisi
• Virus merupakan mikroorganisma autonom yg terdiri dari
protein dan suatu asam nukleat (DNA/RNA).
• Virus tidak memiliki struktur selular ataupun proses
metabolik independen.
• Virus mereplikasi diri dengan jalan mengeksploitasi sel
hidup melalui transfer gen virus pada asam nukleat host.
(vagabond genes).
• Virus dapat menginfeksi tanaman, hewan, dan manusia.
Sifat Virus
Sifat-sifat khusus virus menurut Lwoff Home dan Tournier
(1966) adalah:
• Bahan genetik virus terdiri dari RNA atau DNA
• Struktur virus sangat sederhana, yaitu terdiri dari
pembungkus yang melindungi asam nukleat
• Virus mengadakan reproduksi hanya dalam sel hidup dan
tdk mengadakan kegiatan metabolisme jika berada di
luar sel hidup
• Virus tdk mempunyai informasi genetik untuk sintesis
energi berpotensi tinggi
• Virus tidak membelah diri dgn cara pembelahan biner
• Asam nukleat partikel virus yang menginfeksi sel mengambil alih
kekuasaan dan pengawasan selaras dgn proses sintesis asam
nukleat dan protein virus
• Virus yang menginfeksi sel mempergunakan ribosom sel hospes
untuk keperluan metabolismenya
• Komponen-komponen utama virus dibentuk secara terpisah dan
baru digabung di dlm sel hospes tdk lama sebelum dibebaskan
• Selama berlangsungnya proses pembebasan, beberapa partikel
virus mendapat selubung luar yang mengandung lipid protein dan
bahan-bahan lain yg sebagian berasal dari sel hospes
• Partikel virus lengkap disebut virion dan terdiri dari inti asam
nukleat yang dikelilingi lapisan protein yang bersifat antigenik yg
disebut kapsid
Struktur Virus
Struktur Virus
• Capsid: pembungkus virus, yang menlindungi genom/ asam nukleat
• Capsomere: morfologik unit yang terlihat pada mikroskop elektron,
capsomer terikat satu sama lain dengan ikatan kovalen membentuk
kapsid
• Genome: Inti,bahan genetik,terdiri dari As Nukleat sebagai DNA /
RNA.
• Envelope: membran yang mengandung lipid, yang mengelilingi
partikel virus. Pada envelope terdapat glycoprotein.
• Nucleocapsid: kompleks protein- asam nukleat, yang membentuk
viral genom
• Virion: partikel virus yang komplit
– Pada beberapa virus, (ex : papillomavirus, picornavirus), virion identik
dengan nucleocapsid.
– Pada virion yang lebih rumit (ex : herpesvirus, orthomyxovirus),
mengandung nucleocapsid dan envelop.
Klasifikasi virus
Berdasarkan Tempat Hidupnya:
• Virus bakteri (bakteriofage)  virus yang menggandakan
dirinya sendiri dengan menyerbu bakteri.
• Virus tumbuhan  parasit pada sel tumbuhan
– Contoh: Tobacco Mozaic Virus (TMV) dan Beet Yellow
Virus (BYV).
• Virus hewan  parasit pada sel hewan.
– Contoh: virus Poliomylitis, virus Vaccina, dan virus
Influenza
Klasifikasi virus
Berdasarkan Punya Tidaknya Selubung Virus:

• Virus yang memiliki selubung atau sampul (enveloped


virus)
– memiliki nukleokapsid yang dibungkus oleh membran.
– Membran terdiri dari dua lipid dan protein, (biasanya
glikoprotein). Membran ini berfungsi sebagai struktur yang
pertama-tama berinteraksi.
– Contoh: Herpesvirus, Corronavirus, dan Orthomuxovirus.

• Virus yang tidak memiliki selubung


– Hanya memiliki capsid (protein) dan asam nukleat (naked virus).
– Contoh: ReTovirus, Papovirus, dan Adenovirus.
Klasifikasi virus
3. Berdasarkan Tropisma dan Cara Penularan
Kelompok Uraian Singkat
Virus Enterik Penularan terjadi secara fekal-oral
Replikasi terjadi di saluran cerna dan biasanya tidak menimbulkan infeksi
sistemik
Termasuk : rotavirus, reovirus, enterovirus, coronavirus, calicivirus, adenovirus
Virus Hepatotropik Penularan dapat terjadi dengan berbagai cara infeksi virus menimbulkan gejala
utama kelainan fungsi hati
Dapat digolongkan di sini : virus hepatitis dan virus demam kuning
Virus hepatotropik dan enterik sering disebut virus viserotropik
Virus Pernafasan Penularan terjadi melalui inhalasi bahan terkontaminasi
Replikasi terjadi di saluran pernafasan dan tidak menyebabkan infeksi sistemik
Termasuk : orthomyxovirus, paramyxovirus, pneumovirus, rhinovirus,
adenovirus
Virus Tumorigenik Penularan terjadi melalui cara kontak fisik yang erat, per injectionum / dengan
cara lain
Virus menyerang jenis sel tertentu dan sering menimbulkan infeksi persisten
Suatu saat sel terinfeksi mengalami transformasi dan mungkin berubah jadi
karsinoma
Klasifikasi virus
3. Berdasarkan Tropisma dan Cara Penularan
Kelompok Uraian Singkat
Virus yang punya kemampuan tumorigenik sekalipun diantaranya
hanya terbukti pada biantang : papovavirus, Epstein-Barr virus,
human T cell lymphotrophic virus I dan II, virus hepatitis B dan C,
virus herpes, adenovirus

Virus Neurotropik Penularan terjadi melalui berbagai cara


Replikasi virus terjadi tidak hanya di jaringan saraf tetapi
manifestasi klinik utama terjadi pada fungsi susunan saraf
Termasuk dalam golongan ini : virus poliomyelitis, virus ensefalitis
B Jepang
Virus Dermatotropik Penularan terjadi melalui cara kontak / cara lain
Replikasi virus dapat terjadi di berbagai tempat tapi manifestasi
klinik utama terjadi di jaringan mukokutan
Termasuk kelompok ini : herpes virus, papovavirus, adenovirus,
poxvirus
Klasifikasi virus
Berdasarkan Bentuk Dasarnya:
• Virus bentuk Ikosahedral
– Bentuk tata ruang yang dibatasi oleh 20 segitiga sama sisi, dengan sumbu
rotasi ganda
– Contoh: virus polio dan adenovirus.
• Virus bentuk Heliks
– Menyerupai batang panjang, nukleokapsid merupakan suatu struktur yang
tidak kaku dalam selaput pembungkus lipoprotein yang berumbai dan
berbentuk heliks, memiliki satu sumbu rotasi.
– Pada bagian atas terlihat RNA virus dengan kapsomer, misalnya virus influenza,
TMV.
• Virus bentuk kompleks.
– Struktur yang amat kompleks dan pada umumnya lebih lengkap dibanding
dengan virus lainnya.
– Contoh: virus pox (virus cacar) yang mempunyai selubung yang menyelubungi
asam nukelat.
DNA Virus
DNA Virus

Double Stranded Single Stranded Complex

Envelop Nonenvelop Envelop Nonenvelop

Circular Linear

Herpesviridae Papovaviridae Adenoviridae Parvoviridae Poxviridae &


Hepadnaviridae
RNA Virus
RNA Virus

Single strand Single strand Double strand


positive negative

Envelop Nonenvelop Envelop Nonenvelop

Togaviridae Picornaviridae Orthomyxoviridae Reoviridae


Coronaviridae Caliciviridae Paramyxoviridae
Retroviridae Rhabdoviridae
Bunyaviridae
Arenaviridae
Filoviridae
Famili Bentuk Diameter Selub Simetri Jumlah
(nm) ung kapsid kapsomer
Virus DNA Parvoviridae Sferis 20 - Ikosahedral 32
Papoviridae Sferis 45-55 - Ikosahedral 72
Adenoviridae Sferis 70-80 - Ikosahedral 252
Herpesviridae Sferis 150 + Ikosahedral 162
Poxviridae Brickshaped 100x240x + Ikosahedral -
300
Virus RNA Picornaviridae Sferis 20-30 - Ikosahedral 60
Flaviridae Sferis 40-60 + Ikosahedral -
Togaviridae Sferis 60-70 + Ikosahedral -
Bunyaviridae Sferis 90-100 + Helik -
ArenaViridae Sferis 85-120 + Helik -
Coronaviridae Sferis 80-120 + Helik -
Retroviridae Sferis 100-120 + Helik -
Orthomyxoviridae Sferis/filamentosa 80-120 + Helik -
Paramyxoviridae Sferis/filamentosa 100-200 + Helik -
Rhabdoviridae Sferis seperti peluru 70-80 + Helik -
Reoviridae Sferis 50-80 - Ikosahedral -
LO 2

PATOFISIOLOGI TERJADINYA INFEKSI


VIRUS
Patogenesis Penyakit Virus
1. Virus masuk ke dalam pejamu
Bisa melalui permukaan tubuh, jarum suntik, transfusi
darah, transplantasi organ maupun vektor.
2. Kontak dan masuk ke dalam sel pejamu
3. Replikasi di dalam sel pejamu
Beberapa virus bereplikasi di tempat masuk virus dan
menyebabkan penyakit pada waktu yang bersamaan
serta tidak menyebar ke seluruh tubuh.
Beberapa virus menyebar jauh dari tempat masuk
virus dan bereplikasi di sana. Contoh: enterovirus
Patogenesis Penyakit Virus
4. Penyebaran virus
Yang paling sering adalah melalui peredaran darah
dan sistem limfatik.
Kadang-kadang ada yang melalui jalur saraf (contoh:
virus rabies, HSV, VZV)
5. Menyebabkan kerusakan jaringan
Ada 4 pola infeksi virus :
A. Infeksi litik  virus bereplikasi dan segera membunuh
sel pejamu. Virion baru dilepaskan.
B. Infeksi persisten  virus tinggal di sel pejamu dan
melepaskan virion dalam jumlah kecil untuk periode
waktu yang lama.
Patogenesis Penyakit Virus
C. Infeksi laten  virus menetap di sel pejamu tetapi
tidak memproduksi virion (tidak bereplikasi).
Beberapa waktu kemudian, virus tersebut dapat
diaktifkan kembali dan terjadi infeksi litik.
D. Beberapa virus dapat mentransformasi sel pejamu
menjadi sel kanker yang akan menjadi ‘focal point’
untuk tumor.
6. Timbul respon imun dari pejamu
7. Virus dibersihkan dari tubuh pejamu
(menimbulkan infeksi persisten), atau
membunuh pejamu
Patogenesis Penyakit Virus
8. Dilepaskan kembali ke lingkungan
Biasanya terjadi dari permukaan tubuh yang
sama untuk tempat masuk virus.
Pada beberapa infeksi virus, seperti infeksi
rabies, manusia adalah ‘dead-end host’
karena tidak terjadi pelepasan virus (virus
shedding).
Mekanisme virus masuk ke sel pejamu

1. Translokasi (virus telanjang) 3. Fusi membran (virus envelope)

2. Insersi genom (virus telanjang)

4. Endositosis dan endosom


(virus dengan envelope)
REPLIKASI VIRUS
1. Penempelan ( attachment ) 8. Pembebasan partikel virus dr sel

7. Perakitan virion (assembly)

2. Penetrasi

6. Replikasi DNA
Virus telanjang: Virus dgn
envelope:
Translokasi
Fusi membran 5. Translasi RNA
Insersi genom
Endositosis
PROTEIN

3. Uncoating
Pelepasan asam nukleat dr selubung
Luar 4. Transkripsi DNA
Sifat Penyakit Viral
Penyakit Masa inkubasi Penularan Masa penularan Insiden
(hari) Subklinik
Influenza 1-2 Pernafasan Sebentar Sedang
Common cold 1-3 Pernafasan Sebentar Sedang
DBD 5-8 Inokulasi Sebentar Sedang
Poliomielitis 5-2 Per oral Lama Tinggi
Morbili 9-12 Pernafasan Sedang Rendah
Variola 12-14 Pernafasan Sedang Rendah
Varicella 13-17 Pernafasan Sedang Sedang
Parotitis 16-20 Pernafasan Sedang Sedang
Rubella 17-20 Pernafasan Sedang Sedang
Mononukleosis 30-50 Per oral Lama Tinggi
Hepatitis A 15-40 Per oral Lama Tingi
Hepatitis B 50-150 Inokulasi Sangat lama Tinggi
Veruca vulgaris 50-150 Inokulasi Lama Rendah
Rabies 30-100 Inokulasi Tidak Tidak
Patogenesis dan Imunopatogenesis

Kemampuan virus untuk bertahan lama, dapat dibedakan dalam


3 tipe:
1. Keadaan Carrier
Orang2 yang dapat membawa virus penginfeksi dalam
waktu lama dalam tubuhnya, co: Hepatitis C
2. Infeksi laten
Infeksi ini sifatnya tersembunyi dan dapat teraktivasi
kembali pd saat tertentu, co: infeksi virus Herpes
Simpleks.
3. Infeksi virus secar perlahan-lahan
Mengarah kepada penyakit2 yang lama masa
inkubasinya, bisa bertahun2, co: infeksi virus yg dapat
menyebabkan leukoencelopathy.
Sumber Infeksi
1. Infeksi Iatrogenik, merupakan penyakit akibat
tindakan klinis
2. Hewan Reservoir
• Hewan Carrier = hewan dari infeksi yang tidak terlihat
• Hewan sebagai host intermediate = tempat
berkembang biak
• Vector
• Hewan sebagai amplyfing host, berperan dalam
meningkatkan kondisi yang menguntungkan untuk
suatu penyakit
Transmission
• Person-to-Person Spread
• Food-Borne Infections
• Waterborne Infections
• Airborne Infections
• Soil
• Hospital Acquired Infections (HAIs)
PORTAL MASUK CARA INFEKSI VIRUS PENYAKIT
Influenza, rhinovirus, syncytial Influenza, demam secara
Traktus respiratori Inhalasi respiratori, epstein-barr, umum, bronchiolitis, infectious
herpes simplex tipe 1, mononukleosis, chickenpox,
sitomegalovirus, measles, herpes labialis, sindrom
mumps, rubella, hantavirus, mononucleosis, measles,
adenovirus mumps, rubella, pneumonia,
pneumonia

Hepatitis A, poliovirus, Hepatitis A, poliomyelitis, diare


Traktus makanan rotavirus
gastrointestinal
Rabies, yellow fever, dengue, Rabies, demam kuning,
Kulit Trauma human papillomavirus dengue, papilloma (warts  a
small hard lump that grows on
your skin and that is caused by
a virus )

Human papillomavirus, papilloma (warts  a small


Traktus genital Sexual hepatitis B, human hard lump that grows on your
Transmission immunodeficiency, herpes skin and that is caused by a
simplex tipe 2 virus ), hepatitis B, AIDS,
herpes genital & herpes
neonatal

Hepatitis B, hepatitis C, Hepatitis B, hepatitis C,


Darah Jarum suntik hepatitis D, human T-cell hepatitis D, leukemia, AIDS,
lymphotropic, human sindrom
immunodeficiency, mononucleosis/pneumonia
sitomegalovirus
sitomegalovirus, , rubella Abnormalitas kongenital,
Transplacental Virenia Abnormalitas kongenital
LO 3

MEKANISME RESPON IMUN PADA


VIRUS
Sekresi M’hambat
IgA
respirator multiplikasi virus
Imunitas M’hambat
IgM Darah
humoral masuknya virus ke
sirkuler dalam sel
IgG

IMUNITAS thd
VIRUS

CD4+ Produksi Sitokin

Imunitas M’bunuh sel yang


CD8+ t’infeksi
Selular
Melindungi sel dari
IFN
infeksi
Peran: Modifikasi sel yg Suhu tubuh Febris
terinfeksi
Respon imun non spesifik humoral dan selular
terhadap virus
IFN1
Virus masuk ke Sel ekskresi Interferon berikatan
sel interferon dengan reseptor di sel
yang belum terinfeksi

Sel yang belum terinfeksi


Mengaktifkan menghasilkan enzin-enzim inaktif
makrofag yang mampu memutuskan RNA
messenger virus dan
menghambat sintesis protein

Mengaktifkan sel NK Enzim


penghambat
virus diaktifkan

Virus tidak
mampu
membelah diri di
sel-sel yang baru
MEKANISME KERJA INTERFERON DALAM dimasukinya
MENCEGAH REPLIKASI VIRUS
Mekanisme Virus Menghindari
Respons Imun
1. Mengubah variasi antigen  virus dpt menjadi lebih
resisten terhadap respons imun yg ditimbulkan oleh
infeksi terdahulu
2. Beberapa virus menghambat presentasi antigen protein
sitosolik yg berhubungan dgn molekul MCH-1  sel
terinfeksi virus tdk dpt dikenal & dibunuh sel CD8+/CTL
3. Beberapa jenis virus memproduksi molekul yg mencegah
imunitas nonspesifik & spesifik
4. Virus dpt menginfeksi, membunuh, / mengaktifkan sel
imunokompeten
5. HIV dpt tetap hidup dgn menginfeksi & mengeliminasi sel
T CD4+ (sel kunci regulator respons imun terhadap
antigen protein)
Faktor-faktor yang berperan
Komplemen
• Komplemen  menghancurkan envelop virion,
prosesnya disebut dengan virolisis, dan beberapa virus
dapat langsung mengaktifkan jalur klasik dan alternatif
komplemen.

• Aktivasi komplemen  ↑ meningkatkan fagositosis &


mungkin juga menghancurkan virus dengan envelop
lipid secara langsung.

• Tetapi komplemen tidak memegang peran besar dalam


melawan virus.
Interferon
• Terdapat 2 kelompok besar IFN, yaitu:
• IFN tipe I
– IFNα (IFN leukosit): diatur dalam 13 gen di kromosom 9;
diproduksi bersamaan dengan virus yang menginfeksi sel.
– IFNβ (IFN fibroblas): diatur dalam 1 gen di kromosom 9;
diproduksi bersamaan dengan virus yang menginfeksi sel.
– IFN‫ﺡ‬/ε (IFN trofoblas)
– IFNλ
– IFNκ
• IFN tipe II (IFNγ): diatur dalam 1 gen di kromosom 12;
hanya diproduksi bersamaan dengan stimulasi
antigenik/ mitogenik dari sel T dan sel NK.
Fungsi Interferon
• IFNγ dan IFNα/β  ↑ efisiensi respon imun
spesifik (aktivitas sel T) dgn menstimulasi
peningkatan ekspresi MHC kelas I dan II.
• IFN  mengaktifkan makrofag dan sel NK
• IFN tipe I  mencegah replikasi virus
Mekanisme Kerja Interferon
Interferon
Induksi
SEL + VIRUS +
Interferon
Reseptor perm. Sel ≠ terinf.

SEL + VIRUS Antiviral Protein


BARU

Hambat translasi m-
RNA
Sel Natural Killer
• Sel natural killer adalah sel-sel mirip-limfosit yang secara
nonspesifik menghancurkan sel yang terinfeksi virus dan sel
kanker secara langsung melisiskan membran sel-sel tersebut
pada saat pertama kali berjumpa
• Cara kerja sel ini dan sasaran utama serupa dengan sel T
(tetapi sel T sitotoksik hanya dapat mematikan sel-sel
terinfeksi virus atau sel kanker jenis tertentu yang pernah
dijumpai oleh sel tersebut, memerlukan periode pematangan
sebelum mampu melancarkan serangan yang mematikan)
• Sel natural killer membentuk pertahanan yang bersifat
segera dan nonspesifik terhadap sel yang terinfeksi virus dan
sel kanker sebelum sel T sitotoksik yang lebih spesifik dan
lebih banyak berfungsi
Fungsi Efektor NK cell
• NK cell diinisiasi Ab-dependent (CD16)
ataupun Ab-independent (berdasarkan
reseptor)  eliminasi oleh NK cell
• Eliminasi NK cell: efek granula, induksi
apoptosis
IFN-y-dependent NK cell-macrophage reaction
• NK cell diaktivasi oleh IL-12, IL15
• NK cell  IFN-y  aktivasi makrofag
Fungsi Efektor NK cell
• Perforin: terdapat dalam granula NK cell & CTL. NK cell
teraktivasi  reorganisasi sitoskeleton  perpindahan
perforin ke permukaan sel  perforin mempolimerisasi
membentuk pori pada sel target  air, garam, perforin
dapat masuk  memberikan granzyme akses untuk masuk

• Granzyme : mampu mendegradasi protein sel,


mengaktivasikan sistem enzim caspase  berujung pada
apoptosis

• Fas Ligand: protein penginduksi apoptosis


Makrofag
• Makrofag bertindak pada 3 tingkatan untuk menghancurkan
virus dan sel yang terinfeksi virus, yaitu:
 Fagositosis virus dan sel yang terinfeksi virus
 Membunuh sel yang terinfeksi virus
 Memproduksi molekul antivirus seperti TNFα, nitric oxide,
dan IFNα.
• Nitric oxide memiliki efek kuat terhadap infeksi Herpesvirus
dan Poxvirus.
Spesifik
Jenis Sel Efektor Aktivitas
Respon
Humoral Antibodi Menghambat ikatan virus pada sel
(terutama IgA pejamu, sehingga mencegah infeksi /
sekretori) reinfeksi
Antibodi IgG, Menghambat fusi envelop virus
IgM, & Ig A dengan membran plasma sel pejamu

Antibodi IgG & Memacu fagositosis partikel virus


IgM (opsonisasi)
Antibodi IgM Aglutinasi partikel virus
Komplemen yang Mediator opsonisasi oleh C3b dan lisis
diaktifkan oleh partikel envelop virus oleh MAC
IgG dan IgM
Jenis Molekul atau sel Efektor Aktivitas
Respons
Seluler IFN-γ yang disekresi Th atau Tc Aktivitas antiviral
direk

CTL Memusnahkan sel


self yang terinfeksi
virus

Sel NK dan Makrofag Memusnahkan sel


terinfeksi virus
melalui ADCC
LO 4

FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI REAKSI IMUN
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Infeksi Virus
Usia
Genetik
Jenis Kelamin Jumlah
Sistem Imun Virulensi

HOST AGENT

ENVIRONM
ENT

Vektor
Cara Penularan
Faktor Host
• Umur
• Jenis kelamin
• Jumlah anggota keluarga
• Status perkawinan
• Jenis pekerjaan
• Ras
• Kebiasaaan hidup
• Daya tahan tubuh
Faktor Agent
• Pathogenicity
kemampuan menimbulkan reaksi pada jaringan tubuh
• Virulensi
- derajat kerusakan yang ditimbulkan kuman
- ukuran keganasan kuman
• Antigenicity
kemampuan merangsang mekanisme pertahanan tubuh
penjamu
• Infectivity
kemampuan mengadakan invasi, adaptasi, & berkembang biak
dalam tubuh penjamu
Faktor Environment
• Lingkungan Fisik
• Lingkungan Biologi
• Lingkungan Sosial-Ekonomi
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertahanan tubuh :
1. Usia
Contoh:
- influenza lebih parah diderita pada older people dari
pada young adults
- infeksi herpes simplex virus lebih parah diderita pada
neonatus dari pada orang dewasa
2. Kortikosteroid
Peningkatan kortikosteroid merupakan faktor
predisposisi infeksi beberapa virus
Contoh:
- varicella zoster virus, penggunaan topikal kortisone
pada penyakit herpetic keratitis

3. Malnutrisi
malnutrisi menyebabkan penurunan produksi
imunoglobulin
LO 5

PROSEDUR DIAGNOSTIK
Diagnosa virus
• Ada beberapa cara untuk mendiagnosa suatu penyakit,
antara lain:
– isolasiagent penyebab penyakit tersebut dan analisa
morfologinya,
– deteksi antibodi yang dihasilkan dari infeksi dengan
teknikenzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), dan
– deteksi gen dariagent pembawa penyakit tersebut
dengan Polymerase Chain Reaction(PCR).
– Sampel dapat disiapkan dalam awetan alkohol 70% dalam
potongan kecil (0,5cm), untuk PCR dan penggunaan formalin
10% untuk pemeriksaan histopatologi.

– Teknik yang banyak dan lazim dipakai saat ini adalah teknik PCR
Pemeriksaan Lab Virus
• Serologi:
menemukan Ab spesifik:
– ELISA
– Fiksasi komplemen
– Hambatan hemaglutinasi
– Imunofluoressen
– Netralisasi
– Imunoblot
menemukan Ag virus dalam lesi dengan menggunakan Ab: ELISA, IF, PCR.
menemukan genom virus: PCR, Hibridasi.

• Partikel virus komplit: dgn mikroskop elektron atau imun mikroskop


elektron.

• Pemeriksaan histologik jaringan


Diagnosis Lab
• Identifikasi dalam Kultur Sel
- Keberadaan virus dalam spesimen pasien dapat dideteksi
dengan adanya CPE (Cytophatic Effect) dalam kultur sel
- CPE  perubahan wujud dari sel yang terinfeksi virus, baik
ukuran, bentuk & fusi dari sel untuk membentuk sel raksasa
multinuklear (syncytia)  manifestasi dari sel yang terinfeksi
virus yang sekarat / mati
- Jika virus tidak memproduksi CPE, keberadaannya dapat
dideteksi dengan :
• Hemadsorption  menggabungkan eritrosit pada permukaan sel
yang terinfeksi virus. Teknik ini terbatas pada virus dengan dengan
protein hemaglutinin pada envelopnya (seperti pada gondong,
prainfluenza, & influenza
• Mencampur dengan formasi CPE dan virus ke2
cth : virus Rubella  tidak menyebabkan CPE  dapat dideteksi
dengan mencampur dengan formasi CPE dari enterovirus tertentu
Diagnosis Lab

• Penurunan produksi asam oleh sel terinfeksi yang sekarat 


dideteksi secara visual dengan perubahan warna dalam phenol red
(indikator pH) dalam media kultur. Indikator menjadi merah jika
ada sel yang terinfeksi dan kuning apabila tidak (untuk deteksi
enterovirus)
– Identifikasi spesifik virus dapat dibuat dengan menggunakan
Antibodi yang sudah diketahui dalam 1 atau beberapa tes :
• Fiksasi Komplemen
Jika Ag (virus yang tidak diketahui dalam cairan kultur) & Ab yang
diketahui homolog, C akan diikat pada kompleks Ag-Ab  hal ini
membuat ketidakmampuan untuk melisiskan indikator sistem,
yang dikomposisikan dengan sel darah merah yang sudah
disensitisasi.
Diagnosis Lab

• Hemaglutination Inhibition
Jika virus & Ab homolog  virus akan diblok dari serangan
kepada eritrosit  tidak hemaglutinasi. (Hanya virus yang
mengaglutinasi sel darah merah yang dapat diidentifikasi
dengan metode ini)
• Netralisasi
Jika virus & Ab homolog  Ab terikat pada permukaan virus 
memblok masuknya virus ke dalam sel.
• Fluorescent Ab assay
Jika sel yang terinfeksi virus & Ab yang sudah difluororesensi
homolog  akan terlihat warna hijau apel dari flourescent dalam
sel (menggunakan mikroskop UV)
Diagnosis Lab
• Radioimmunoassay
Jika virus & Ab homolog  lebih sedikit Ab yang terikat
pada virus yang diketahui dan diradioaktif
• ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)
Dalam ELISA  Ab yang diketahui diikat pada
permukaan. Jika virus ada dalam spesimen pasien 
akan terikat pada Ab.
• Imunoelectron Microscopy
Jika Ab dan virus homolog  agregat dari kompleks
virus-Ab terlihat dalam mikroskop elektron
Diagnosis Lab
• Identifikasi mikroskopik
– Virus bisa dideteksi dan diidentifikasi dengan pemeriksaan
mikroskopik langsung dari spesimen klinik seperti materi biopsi
atau lesi kulit
– Prosedur:
• Mikroskop cahaya
mengungkap badan inklusi atau sel raksasa multinuklear
contoh: pewarnaan Tzanck  menunjukan virus herpes, menginduksi sel
raksasa multinuklear dalam lesi kulit vesikular
• Mikroskop UV
pewarnaan fluorescent Antibodi dari sel yang terinfeksi virus
• Mikroskop elektron
deteksi partikel virus yang bisa diketahui dari ukuran dan morfologinya
Diagnosis Lab
• Serologis procedures
– Peningkatan titer Ab untuk virus bisa digunakan untuk
mendiagnosis infeksi tertentu
– Sampel diambil segera setelah penyebab virus diduga (fase
akut) dan sampel kedua diambil 10-14 hari kemudian (fase
convalescent). Jika titer pada fase convalescent min 4x titer
sampel fase akut  pasien dipertimbangkan terinfeksi
– Titer Ab pada sampel tunggal tidak bisa membedakan
infeksi sebelumnya dan infeksi sekarang
– Pada beberapa penyakit virus, keberadaan Ab IgM
digunakan untuk diagnosis infeksi saat ini
Diagnosis Lab
• Detection of viral Ag
– Ag virus bisa dideteksi dalam darah pasien atau cairan
tubuh dengan beberapa test, tapi yang tersering ELISA
(contoh: Ag p24  HIV)
• Detection of viral nucleid acids
– Asam nukleat virus, gen virus, atau mRNA virus bisa
dideteksi dalam darah pasien atau jaringan dengan
complementary DNA atau RNA (cDNA atau cRNA)
– Jika hanya sejumlah kecil asam nukleat virus yang ada
dalam pasien  PCR bisa digunakan untuk memperbesar
asam nukleat virus
– Pemeriksaan untuk RNA dari darah pasien HIV (viral load)
biasa digunakan untuk memonitor penyebab penyakit dan
mengevaluasi prognosis pasien
LO 6

PENATALAKSANAAN
Penggolongan Obat Antivirus
Blocked by
Blocked by
Enfuvirtide (HIV)
Amantadine
Maraqviroc (HIV)
Rimatadine
Viral Docosanol (HBV)
(influenza)
attachment Palivizumab (RSV)
and entry
Penetration Uncoating

Blocked by
Blocked by NRTIs(HIV)
Early protein syntase
Interferon- NNRTIS(HIV)
(HBV, HCV) Foscarnet
(CMV)
Blocked by
Nucleid acid synthesis Entecavir (HBV)
Neuraminidase
inhibitors
(influenza)
Packaging Late protein Blocked by
and synthesis and Protease inhibitor
assembly processing (HIV)

Viral release
Senyawa Mekanisme Kerja Spektrum Antivirus
Yg telah disetujui1 Kemungkinan2
Asiklovir Dimetabolisme  Herpes simpleks, Epstein-Barr, herpes B
asiklovir trifosfat  varicella-zozter, (herpes simiac)
menghambat DNA sitomegalovirus
polimerase virus

Valasiklovir Sama dgn asiklovir Herpes simpleks,


varicella-zozter,
sitomegalovirus

Gansiklovir Dimetabolisme  Sitomegalovirus Herpes simpleks,


gansiklovir trifosfat  varicella-zozter,
menghambat DNA Epstein-Barr, human
polimerase virus herpesvirus 8, herpes
B

Pensiklovir Dimetabolisme  Herpes simpleks


pensiklovir trifosfat 
menghambat DNA
polimerase virus
Senyawa Mekanisme Kerja Spektrum Antivirus
Yg telah disetujui1 Kemungkinan2
Famsiklovir Sama dgn pensiklovir Herpes simpleks,
varicella-zozter
Foskamet Menghambat DNA Sitomegalovirus, Human herpesvirus 8,
polimerase virus & herpes simpleks, & HIV-1
reverse transcriptase varicella-zozter yg
pd tempat ikatan resisten terhadap
pirofosfat asiklovir
Ribavirin Mengganggu mRNA Demam Lassa, Parainfluenza,
virus hantavirus, influenza A & B, cacar
Respiratory Synctytial air, hantavirus
Virus (RSV), hepatitis
C (pd kasus kronik dlm
kombinasi dgn IFN-α)
Lamivudin Hambatan DNA Hepatitis B (kronik),
polimerase & reverse HIV-1
transcriptase virus
Amantadin Hambatan kanal ion Influenza A
protein M2 &
modulasi pH intrasel
Senyawa Mekanisme Kerja Spektrum Antivirus
Yg telah disetujui1 Kemungkinan2
Rimantadin Hambatan kanal ion Influenza A
protein M2 &
modulasi pH intrasel
IFN-α Induksi enzim seluler Hepatitis B & C, Hepatitis D
yg mengganggu human herpesvirus 8,
sintesis protein virus papillomavirus

NRTI Menghentikan HIV (& retrovirus lain)


perpanjangan rantai
DNA virus, dgn cara
bergabung pd ujung 3’
rantai DNA virus

NNRTI Menghambat HIV-1 HIV-1


reverse transcriptase
melalui interaksi dgn
allosteric pocket site

1 Efikasi & keamanan telah tercatat pd studi klinis terkontrol


2 Efikasi tercatat dlm data klinis tanpa kontrol / pd studi in vitro
• Primer : semua upaya untuk menghindarkan terjadinya sakit atau
kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita
cedera atau cacat.
– Vaksin untuk melemahkan varicella direkomendasikan untuk semua
anak-anak >1 tahun ( sampai 12 tahun) yang tidak terinfeksi
chickenpox dan untuk orang tua dikenal sebagai seronegatif untuk
VZV.

• Sekunder : apabila dengan deteksi dini, diketahui adanya


penyimpangan kesehatan seorang bayi atau anak sehingga
intervensi atau pengobatan perlu segera diberikan untuk koreksi
secepatnya.
– Varicella-zoster immunoglobulin (VZIG) diberikan kepada individu yang
rentan terhadap resiko tinggi komplikasi varicella. Produk ini harus
diberikan dalam waktu 96 jam.
• Tersier : membatasi berlanjutnya suatu penyakit
atau kecacatan dengan upaya pemulihan seorang
yang telah menderita agar ia dapat hidup tanpa
bantuan orang lain atau hidup mandiri
– terapi antiviral bisa diberikan sebagai profilaksis pada
individu yang beresiko tinggi yang tidak bisa di vaksin
atau lebih dari 96 jam setelah kontak langsung. Dapat
menggunakan asiklovir, valasiklovir atau famsiklovir.
Terapi dilakukan 7 hari setelah pembukaan yang
hebat. Pada saat ini, host berada pada periode
inkubasi.
LO 7

PENCEGAHAN INFEKSI VIRUS


Imunisasi
• Imunisasi adalah prosedur untuk meningkatkan
derajat imunitas, memberikan imunitas protektif
dgn menginduksi respons memori terhadap
patogen tertentu/toksin dgn menggunakan
preparat antigen nonvirulen/nontoksik

• Imunisasi merupakan kemajuan yang besar dlm


usaha imunoprofilaksis serta menurunkan
prevalensi penyakit
Imunisasi
Imunisasi

Alamiah Buatan

Pasif: Pasif: Aktif:


Antibodi via Aktif: antitoksin Toksoid
plasenta dan infeksi anitbodi vaksinasi
kolostrum
• Imunisasi pasif
• Terjadi bila seseorang menerima antibodi dari org lain
yg telah mendapat imunisasi aktif.

• Transfer sel yang kompeten imun kepada pejamu yg


sebelumnya imun inkompeten disebut transfer adoptif.
• Imunisasi aktif
• Menginduksi respon imun
• Dapat diberikan vaksin hidup/dilemahkan atau yg
dimatikan.
Vaksinasi
 Merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja
memeberikan paparan pada suatu antigen
berasal dari suatu patogen.
 Antigen yang diberikan telah dibuat sedemikian
rupa sehinga tidak menimbulkan sakit namun
memproduksi limfosit yang peka, antibodi dan sel
memori.
 Cara ini merupakan infeksi alamiah yang tidak
menimbulkan sakit namun cukup memberikan
kekebalan.
Tujuan Vaksinasi
• Memberikan “infeksi ringan” yang tidak
berbahaya namun cukup untuk menyiapkan
respon imun sehingga apabila terjangkit
penyakit yang sesungguhnya dikemudian hari,
anak tidak menjadi sakit karena tubuh dengan
cepat membentuk antibodi dan mematikan
antigen / penyakit yang masuk tersebut.
Vaksin hidup
• Dibuat dalam pejamu, dapat menimbulkan penyakit ringan,
dan menimbulkan respons imun seperti yang terjadi pada
infeksi alamiah

Vaksin mati
• Merupakan bahan (seluruh sel atau komponen spesifik)
asal patogen seperti toksoid yang diinaktifkan tetapi
imunogen

Imunogen adalah bahan yang dapat menginduksi respon imun


Jenis Imunisasi
VACCINE BACTERIAL VIRAL
Whole cell : Whole virus :
BCG measles, mumps, rubella,
ATTENUATED
varicella, OPV, rotavirus, yellow
fever
Whole cell : Whole virus :
Pertussis, typhoid, cholera Influenza, IPV, rabies, hepatitis A

Toxoid : Recombinant surface Ag :


Tetanus, diptheria, pertussis Hepatitis B
INACTIVATED Surface Ag :
A-cellular pertusis
Polysaccharide : Sub unit :
Meningococcus, pneumococcus Hepatitis B, influenza
Conjugate polysaccharide :
Haemophilus influenza type b
LO 8

PENYEBAB PEMBESARAN KELENJAR


LIMFE