Anda di halaman 1dari 9

PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM Pasal 1754 – 1769 KUHPdt

(VERBRUIKLENING)
DEFINISI
Pinjam meminjam (pinjam pakai habis) adalah suatu perjanjian dengan mana
pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang –
barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang
terakhir ini akan megembalikan sejumlah yang sama dari jenis dan mutu yang sama
pula (vide pasal 1754)
Bedanya pinjam pakai dengan pinjam meminjam adalah apakah barang yang
dipinjamkan itu menghabis karena pemakaian atau tidak.
Berdasarkan perjanjian pinjam – meminjam itu, pihak yang
menerima menjadi pemilik dari barang yang dipinjam; dan jika
barang itu musnah, dengan cara bagaimanapun, maka
kemusnahan itu adalah atas tanggungannya. (vide pasal 1755)
Dalam hubungan menetapkan jumlah uang yangdibayar oleh si
berutang dalam perjanjian – perjanjian sebelum Perang Dunia II,
terdapat harus suatu yurisprudensi MA yang terkenal, yang
mengambil dasar untuk penilaian kembali jumlah yang terutang itu:
harga emas sebelum perang dibandingkan dengan harga emas
sekarang, namun risiko tentang kemorosotan nilai mata uang itu
dipikul oleh masing – masing pihak separoh. Yurisprudensi tersebut
mencerminkan satu pengetrapan asas itikad baik yang harus
diindahkan dalam hal pelaksanaan suatu perjanjian, seperti
terkandung dalam pasal 1338 (3) BW.
KEWAJIBAN – KEWAJIBAN ORANG YANG
MEMINJAM
1. Orang yang meminjamkan tidak boleh minta kembali apa yang telah
dipinjamkannya sebelum waktu yag ditentukan.
2. Jika tidak ditetapkan waktu maka hakim berkuasa memberikan kelonggaran
kepada si peminjam apabila orang yang meminjamkan menuntut pengembalian
pinjamannya
 Kelonggaran yang dimaksudkan yaitu:
a. Menghukum si peminjam untuk membayar pinjamannya dengan menetapkan suatu tanggal dilakukannya pembayaran itu.
b. Membayar bunga moratoir
c. Jika perjanjian uang dibuat dengan akta otentik dan diminta oleh penggugat maka hakim harus menyatakan putusannya
dapat dijalankan lebih dahulu meskipun ada permohonan banding atau kasasi.

Contoh barang yang menghabis karena pemakaian:


Uang, beras, gandum, gula, bensin, dll.
KEWAJIBAN – KEWAJIBAN SI PEMINJAM
Peminjam diwajibkan mengembalikan dalam jumlah dan keadaan yang sama pada waktu
ditentukan (pasal 1763 KUHPdt)
Bila tidak ditetapkan waktu, hakim dapat memberi kelonggaran (pasal 1760 KUHPdt)
Jika si peminjam tidak mengembalikan barang yang dipinjam, maka diwajibkan membayar
harganya dengan memperhatikan waktu dan tempat barangnya.
Jika waktu dan tempat tidak ditetapkan, harus diambil harga barang waktu pinjaman terjadi
(pasal 1764 KUHPdt).
Barang pinjaman harus dikembalikan ditempat pinjaman terjadi.
Maka pasal 1764 KUHPdt menetapkan tidak terdapat penunjukan tempat pengembalian,
harus diambil tempat tejadi pinjaman dan harga barang yang dipinjam.
MEMINJAM DENGAN BUNGA
Menurut pasal 1765 KUHPdt, boleh memperjanjikan bunga atas peminjaman uang
atau barang habis.
Bunga yang tidak diperjanjikan, artnya peminjam yang membayar bunga yang tidak
diperjanjikan tidak boleh menuntut kembali.
Pembayaran bunga yang tidak diperjanjikan tidak mewajibkan si berutang untuk
membayar seterusnya.
Bunga yang diperjanjikan harus dibayar seterusnya; jika diperjanjikan bunga, maka
bunga harus dibayar.
Bunga menurut undang – undang artinya besarnya bunga yang diperjanjikan dalam
perjanjian harus ditetapkan secara tertulis (pasal 1767 KUHPdt). Besar bunga per
tahun yaitu 6% setahun. Bunga ini disebut bunga moratoit (kelalaian)
Woekerordonantie, artinya pembatasan terhadap bunga yang terlampau tinggi
Dalam staatsblad (L.N. 1938 No. 524), menetapkan antara kewajiban timbal balik
kedua belah pihak dan jika satu pihak berbuat kesalahan maka si berutang dapat
meminta pada hakim menurunkan bunga yang diperjanjikan dari utang.
Yurisprudensi MA
Dalam hukum adat yang menetapkan besarnya suku bunga pinjaman adalah
sebagaimana yang diperjanjikan Bersama (Kep MA tanggal 22 Juli 1972 No
289/K/SIP/1972)
Jika orang yang meminjamkan telah memperjanjikan bunga tidak menetapkan jumlah
bunga maka peminjam membayar bunga menurut UU.
Menurut pasal 1769 KUHPdt, apabila kreditor memberikan tanda pelunasan uang
pokok maka bunga terutang sudah dibayar apabila sebaliknya beban pembuktian
ada pada kreditor.