Anda di halaman 1dari 25

1.

PENGERTIAN KOMPLEKSOMETRI
2. PENGERTIAN KOMPLEKSON
3. PENJELASAN SINGKAT EDTA
4. PENGARUH PH
5. METODA TITRASI EDTA
6. PENJELASAN INDIKATOR
7. PENJELASAN LARUTAN STANDAR DAN BAHAN BAKU
8. PENENTUAN KESADAHAN AIR
Kompleksometri
Kompleksometri adalah analisis volumetri berdasarkan
pembentukan senyawaan rangkai (kompleks) dengan
menggunakan lrutan standar berupa senyawa poly amino
karboksilat (Etilen Diamin Tetra Acetic Acid).
Komplekson
Komplekson adalah zat-zat yang dapat membentuk senyawa kompleks kelat
dengan ion logam. Sejimlah golongan Amina tresier yang mengandung gugusan
karboksilat akan membentuk senyawaan kompleks dan macam-macam ion logam.
Beberapa komplekson:
1. Asam nitrolo Asetat
Asam ini sukar larut dalam air, yang banyak dipakai adalah garam
dinatriumnya. Nama lain: complexon I, NITA atau NTA (NITRILO TRI ACETIC ACID).

2. Asam 1,2 Diamino sikloheksana tetra asetat


Zat ini membentuk senyawaan kompleks lebih lambat dibandingkan
dengan EDTA sehingga menyulitkan pengamatan pada titik akhir.
3. EDTA
EDTA adalah singkatan dari Etilen Diamin Tetra Acetic Acid. EDTA
merupakan asam lemah dan sukar larut dalam air sehingga jarang dipakai
sebagai larutan standar.
Rumus bangun EDTA

HOOCH2C CH2COOH

N - CH2 - CH2 - N

HOOCH2C CH2COOH
Nama lain untuk EDTA yaitu : complexon II ,titriplex II, versene acid, dan
sequestric acid.
EDTA merupakan asam lemah yang sukar larut dalam air, arena itu jarang
digunakan sebagai larutan standar.
EDTA yang digunakan sebgaia larutan standar yaitu garam dinatrium EDTA
Na2H2Y. Garam ini mudah didapat dalam keadaan murni. Complexon III, Versen,
Titriplex III, Sesquesterne

HOOCH2C CH2COO-

N - CH2 - CH2 - N 2 Na+.2H2O

-
OOCH2C CH2COOH
PENGARUH pH
Kesempurnaan reaksi EDTA tergantung dari pH larutan contoh. pH semakin tinggi
semakin baik, pada suatu pH tertentu terdapat batas pH yang berarti. Maka
larutan contoh pada titrasi EDTA harus diberi buffer agar dapat memenuhi pH
yang baik.
Selain itu Buffer perlu untuk menyerap ion-ion hidrogen yang dihsilkan dalam reaksi
titrasi . Bila tidak , ion hidrogen akan semakin banyak dan dapat mengganggu
jalannya titrasi.
Pengetahuan tentang ph minimum ini sangat penting sebab selain
menentukan apakah titrasi dapat berjalan sempurna, pemakaian pH
yang terlalu tinggi mengandung bahaya hidrolisa ion logam atau
bahkan dapat menyebabkan terbentuknya endapan logam tersebut,
hal ini dapat menggagalkan titrasi. Karena itu ketergantungan pada
pH ini biasanya pada penitaran EDTA selalu dipakai larutan buffer
sehingga didapatkan pH yang tetap.
PENGARUH PENGKOMPLEKS YANG LAIN
Penitaran ion logam dengan EDTA kadang-kadang bukan saja diperlukan
buffer tetapi juga penambahan komplekson lain yang digunakan untuk
menjaga agar ion-ion logam tetap dalam larutan lain dan tidak mengendap
sebagai hidroksida oksida basa atau garam basa.
METODE PENGERJAAN TITRASI EDTA
1. Titrasi langsung
cara ini digunakan untuk kation yang bereaksi cepat dengan EDTA. Larutan
ion logam yang akan di tetapkan dibubuhi larutan dapar dengan pH yang diinginkan,
kemudian dititar langsung dengan larutan EDTA.
pada cara ini, bahan pengkompleks seperti sitrat dan tartrat sering
ditambahkan untuk mencegah pengendapan hidrolisis logam dari contoh yang
dianalisis .
2. Titrasi kembali

Titrasi ini digunakan untuk kation yang bereaksi lambat dengan EDTA atau
bila indikator yang tersedia tidak cocok. Kation harus membentuk kelat EDTA yang
sangat kuat dalam hal ini , contoh diberi larutan standar EDTA berlebih, lalu dibubuhi
larutan dapar atau buffer yang pHnya sesuai. Selanjutnya kelebihan EDTA dititar
kembali dengan larutan standar ion logam. Sebagai larutan standar dapat digunakan
ZnCl2 , ZnSO4 , MgCl2 dan MgSO4 .
3. Titrasi substitusi atau penggantian
cara ini baik digunakan untuk kation yang membentuk kelat EDTA
lebih kuat dari Mg-EDTA atau Zn-EDTA.
Ion logam M n+ yang akan ditetapkan dibubuhi kompleks EDTA-magnesium
atau EDTA-Zeng sehingga terjadi reaksi:
M n+ + MgY 2− MY (n−4) + Mg 2+
Jumlah Mg 2+ yang setara dengan ion logam kemudian dititar dengan EDTA.
Cara ini dapat digunakan jika tidak ada indikator yang baik untuk kation
yang akan dianalisis.
4. Titrasi Alkalimetri
Apabila larutan ion logam dititar dengan EDTA, maka akan terbentuk
kompleks dan dibebaskan ion H +
M n+ + H2 Y 2− MY (n−4) + 2H +
Ion H + yang dibebaskan dapat dititar dengan larutan standar basa
menggunakan indikator asam-basa dengan alat potensiometer.
Larutan yang akan dititar sebelumnya harus dinetralkan, hal ini sering
mengalami kesulitan karena terbentuknya hidrolisis dari garam.
INDIKATOR
Indikator untuk titrasi kelatometri merupakan basa atau asam lemah organik yang
dapat membentuk kelat dengan ion logam dan warna kelat tersebut berbeda
dengan warna indikator bebas. Indikator ini disebut indikator metalokromik.

Dalam penitaran asidi-alkalimetri indikator harus peka terhadap pH sedangkan


dalam komplesometri, indikator harus peka terhadap ion logam (pM)
Syarat suatu indikator logam agar dapat digunakan untuk menetapkan TA.
1. Reaksi warna harus spesifik dan selektif artinya dapat memberikan
perubahan warna yang jelas pada TA.

2. Kompleks indikator logam harus mempunyai kemantapan atau kestabilan


yang cukup sebab bila berdisosiasi tidak akan diperoleh perubahan warna
yang tajam atau nyata. Kompleks indikator logam harus kurang mantap
dibandingkan kompleks logam EDTA, agar pada titik ekivalen EDTA dapat
mengambil ion logam dari kompleks indikator logam. Perubahan
kesetimbangan dari kompleks indikator logam ke kompleks logam EDTA harus
tajam dan jelas.
3. Perbedaan warna antara indikator bebas dan kompleks indikator logam harus
diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (pM) agar perubahan
warna terjadi sedapat mungkin dekat dengan titik ekivalen.

Pemilihan indikator jauh lebih rumit daripada dalam titrasi asidi alkalimetri, karena
perubahan warna disini menyangkut kekuatan kelat logam EDTA. Kelat logam
indikator maupun pH, disamping itu harus diperhatikan jenis warna indikator bebas
pada ph titrasi dibandingkan dengan warna kelat
Eriochrome Black-T (EBT)
Senyawa ini merupakan salah satu indikator methalokromik yang
pertama ditemukan dan yang paling banyak digunakan.
EBT juga bersifat indikator asam basa, berubah warna bila pH lingkungan
berubah. Indikator ini umumnya dipakai pada pH 8-12dengan perubahan
warna : Biru Merah

Indikator methalokromik yang lain adalah calmagite, murexid, xylenol orange,


dan calcon.
LARUTAN STANDAR DAN BAHAN BAKU
Larutan standar
Na2 H2 Y. 2H2 O dapat dipakai sebagai bahan baku untuk membuat larutan
standar EDTA.
Untuk pembuatan larutan standar EDTA sebaiknya digunakan air bebas
ion/mineral (demineralized water) untuk menghindari adanya kation yang
yang dapat memblok indikator yang digunakan. Larutan EDTA perlu disimpan
dalam botol polietilen, karena bila disimpan dalam botol gelas, ion –ion dari
gelas kemungkinan akan bereaksi dengan EDTA.
BAHAN BAKU

Larutan standar EDTA dapat distandarisasi dengan bahan baku


CaCO3 murni. CaCO3 dilarutkan dengan sedikit HCl, kemudiam
ditambahkan buffer pH10.
mmol EDTA = mmol CaCO3
ml X M EDTA = mg/Mr CaCO3
mg CaCO3
M EDTA =
ml X Mr CaCO3
PENENTUAN KESADAHAN AIR

Metode titrasi dengan menggunakan larutan standar EDTA dapat digunakan


untuk penetuan kesadahan air.

Air sadah adalah air yang mengandung garam Mg dan/atau Ca. kesadahan
ialah besarnya kadar Mg dan/atau Ca dalam air.

Air sadah juga menyebabkan sabun tidak berbuih dan mengendap. Karena
itu, air industri selalu ditentukan kesadahannya agar usaha untuk “ melunakkannya “
dapat dilakukan seefisien mungkin.
2+ - - +
Mg + HIn (biru) MgIn (Merah) + H
- 2- 2- 2- +
MgIn (merah) + H2Y MgY + HIn (biru) + H

fp x V x M x 24,3
Kadar Mg = x 100 %
mg contoh
Ni2+ + HIn2-(merah) NiIn- (biru) + H+

NiIn-(biru) + H2Y2- NiY2- + HIn2-(merah) + H+

fp x ((V1 x M1)-(V2 x M2)) x 58,7


Kadar Ni = x 100%
mg contoh
Ca2- + H2Y2- CaY2- + 2H+

Mg2+ + H2Y2- MgY2-+ 2H+

MgIn- (merah) + H2Y2- MgY2- (biru)+ HIn2- + H+

Kesadahan = V x 1ºD
V (EDTA std.) x M (EDTA std.)
V=
M (EDTA 0,02 M)