Anda di halaman 1dari 26

 Fluorosensi dan fosforesensi merupakan

Peristiwa yg mana suatu senyawa obat atau senyawa kimia dapat


dieksitasikan oleh radiasi elektromagnetik dan kemudian
memancarkan kembali sinar yg λ nya sama atau berbeda dg
panjang gelombang semula (λ eksitasi).
 Pada peristiwa fluorosensi, pemancaran kembali sinar oleh
molekul obat yang telah menyerap energi sinar terjadi dalam waktu
yg sangat singkat setelah penyerapan (10 -8 detik).

 Pada fosforesensi, akan terjadi pemancaran kembali sinar oleh


molekul yg telah menyerap energi sinar dalam waktu yg relatif lama
(10 -4 detik).
 Secara umum, fluoresensi dikaitkan dg sistem kromofor/ausokrom
dan struktrur kaku (rigid)
 Sistem ikatan rangkap terkonjugasi memiliki struktur yang planar dan
kaku sehingga akan mampu menyerap secara kuat di daerah 200-
800 nm pd radiasi elektromagnetik.
 Senyawa yg mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi merupakan
kandidat senyawa yg mampu berfluoresensi.
 Modifikasi struktur terhadap senyawa-senyawa dapat menurunkan
atau meningkatkan intensitas fluoresensi tergantung pd sifat dan
letak gugus substituen.
 Kinin merupakan salah satu senyawa obat yg berfluoresensi kuat
sebagaimana diharapkan dari strukturnya yg kaku serta kromofornya
yg diperpanjang
 Kromofor dalam etinilkestradiol hanya satu cincin aromatis, akan
tetapi adanya gugus hidroksil fenolik dihubungkan dg strukrurnya yg
kaku menyebabkan berfluoresensi.
 Spektrum fluoresensi etinilestradiol terlihat pada gambar.

 Ketika spektrum fluoresensi molekul ini discan dg λ 285 nm yg


digunakan untuk eksitasi, maka akan teramati 2 λ maksimal.
 Maksimal di 285 nm disebabkan oleh penghamburan radiasi
pengeksitasi dan maksimal kedua yg intens di 310 nm karena
fluoresensi.

 Sebagaimana etinilestradiol, beberapa senyawa fenolik lain


menunjukan fluoresensi dan serupa dg kasus etinilestradiol. Fluoresensi
ini tergantung pada pH dan terjadi di bawah ketika gugus fenoliknya
mengalami ionisasi.
 Gugus-gugus yg memberikan elektron ( elektron donating group ),
contohnya : gugus hidroksil, amino, metoksi yg terikat secara
langsung pada sistem ikatan Π dapat memfasilitasi terjadinya
proses fluoresensi.

 Gugus penarik elektro ( electron withdrawing group ), contoh :


nitro, bromo, iodo, siano, karboksil cenderung mengurangi
intensitas fluoresensi.
 Penambahan banyaknya ikatan rangkap terkonjugasi dalam sistem
meyebabkan peningkatan fluoresensi utamanya jika dalam
struktur aromatis heterosiklik, yakni suatu struktur aromatis yang
mengandung gugus N,S dan O.

 Intensitas senyawa heterosiklik yang mengandung gugus –NH


seringkali meningkat pd pH asam yang mana gugus nitrogen
mengalami protonisasi.
1. Senyawa yg secara alami mampu berfluoresensi
(intrinsik/natif)
2. Senyawa2 yg dapat berfluoresensi setelah diperlakukan
direaksikan dg reagen ttt.
 Beberapa obat dapat diukur secara langsung dalam berbagai pelarut
 Jenis pengukuran tergantung pada karakteristik fluoresensi suatu
struktur molekul senyawa
 Fluoresensi tergantung juga pada lingkungan pengukuran, pengaruh
pelarut dan suhu
Senyawa Pelarut pH λeksitasi λemisi
Asam folat air 6 317 440
Asam air 10 310 400
salisilat
Estrogen air 13 490 546
Fenobarbital air 13 278 325
Griseofulvin air 7 295,335 450
Insulin air 6 490 520
Kinidin air 1 350 450
Sulfanilamid air 13 315 530
Vitamin E etanol - 295 340
Warfarin metanol - 290,342 395
Propanolol Amil asetat - 293 344
 Jika suatu senyawa tdk berfluoresensi secara intrinsik, maka
senyawa tsb harus diubah menjadi senyawa yg berfluoresen untuk
dpt dianalsis.
 Cara yg dapat dilakukan :
1. Radiasi dg UV
2. Hidrolisis
3. Dehidrasi dg asam kuat
4. Pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat dg
reagen fluorometrik untuk membentuk spesies berfluoresensi yg
disebut dg fluorofor
Senyawa Metode Λ eksitasi Λ emisi

Sulfadiazin Reaksi dg fluoresamin 405 485


Sulfametoks Reaksi dg fluoresamin 405 485
asol
Teofilin Oksidasi dg serium (IV) 325 400
Tetrasiklin Pengkomplekan dg kalsium dan 355 414
asam barbiturat
Gentamisin Reaksi dg dansil klorida 405 485
Glukosa Reaksi dgf 2-sianoasetamid 331 383
Penisilin Pengkoplingan dg 2-metoksi-6- 420 500
kloro-9-β-aminoetilakridin
Progesteron Reaksi dg asam format 419 472
1. Fluorometri lebih peka
- Pada fluorometri pengukuran dilakukan secara langsung terhadap
intensitas sinar fluoresen
- Pengukuran dilakukan tanpa dilakukan perbandingan intensitas sinar
semula

2. Fluorometri lebih selektif


- Karena, hanya sedikit senyawa dpt memancarkan kembali sinar
floresen atau fosforesen. Sementara itu, pada proses absorbsi dpt
dikatakan bahwa hampir semua senyawa organik mampu
melakukannya.
3. Pada fluorometri gangguan spektral dapat dikurangi dg cara
merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi
- Gangguan spektral adalah gangguan yg ditimbulkan oleh senyawa
lain yg melakukan penyerapan dan emisi.
 Prosedur analisis kuantitatif dasarnya sama dg teknik
spektrofotometri
 Kurva baku menyatakan intensitas fluoresensi dg konsentrasi
baku ttt disiapkan
 Besarnya konsentrasi dlm sampel dpt dihitung dg
memasukkan intensitas fluoresensi sampel ke dlm kurva
baku
 Suatu baku griseofulvin disiapkan pada pH 7, intensitas
fluorosensi diukur pada panjang gelombang eksitasi dan
emisi masing2 pada 295 nm dan 450 nm dan memberikan
data sbb :
C (ng/ml) Intensitas fluoresensi
10 20,0
20 42,5
30 63,0
40 85,0
a. Berapa kadar sampel griseofulvin (%) yang mempunyai intensitas
fluoresensi sebesar 64,0; 62,3; 69,0; 70,2 dan 67,0 !

 Jika diketahui :
 Berat serbuk yang digunakan untuk analisis = 10,0 mg
 Volume ekstraksi awal : 250 ml
 Tahap pengenceran = 5,0 ml add 100,0 ml, lalu dari pengenceran
sebelumnya diambil 5,0 ml di add sampai 100,0 ml

b. Hitunglah nilai SD dan CV ! Apakah memenuhi nilai CV yg baik ??


A = -1,25
B = 2,155
R = 0,9997
Y = 2,155x -1,25
X1 = 30,278 ng/ml
 Fluoresensi adalah proses pemancaran radiasi cahaya oleh
suatu materi setelah tereksitasi oleh berkas cahaya berenergi
tinggi. Emisi cahaya terjadi karena proses absorbsi cahaya
oleh atom yang mengakibatkan keadaan atom tereksitasi.
Keadaan atom yang tereksitasi akan kembali keadaan semula
dengan melepaskan energi yang berupa cahaya (de-eksitasi).
Fluoresensi merupakan proses perpindahan tingkat energi dari
keadaan atom tereksitasi (S1 atau S2) menuju ke keadaan
stabil (ground states). Proses fluoresensi berlangsung kurang
lebih 1 nano detik sedangkan proses fosforesensi berlangung
lebih lama, sekitar 1 sampai dengan 1000 mili detik
Prinsip dasar spektrofluorometri adalah sinar
monokromatis penyebab promosi elektron pada
senyawa organik atau atom, yang kemudian
elektron mengalami kehilangan sebagian energi
kinetiknya, dan selanjutnya elektron kembali ke
tingkat dasar dengan mengemisikan sinar dengan
panjang gelombang yang lebih besar. Sinar
monokromatis penyebab promosi elektron
dinamakan sinar eksitasi. Sinar yang diemisikan
oleh elektron dari senyawa disebut sinar emisi
(Rohman dan Gandjar, 2007)
Dari gambar dapat dilihat bahwa
komponen spektrofluorometer hampir
sama dengan komponen spektrofotometer.
Ada perbedaan antara keduanya yakni
Spektrofluorometer memiliki dua
monokromator dimana salah satu
digunakan untuk panjang gelombang
eksitasi dan yang lainnya digunakan untuk
panjang gelombang emisi.