Anda di halaman 1dari 37

PUBLIC HEALTH ASPECT OF

MUSCULOSCELETAL
DISORDERS

dr. Idawati Trisno, Mkes


FK UNDANA, Oktober 2017
Definisi
Muskuloskeletal disorder (MSD)
adalah gangguan pada sistim otot
skeletal mempengaruhi gerakan
tubuh seseorang (biasanya berupa
kelainan pada sendi, ligamen,
tendon, otot, dll).
Penyebab MSD –
paparan terhadap faktor risiko
• MSD terbanyak berkaitan dengan pekerjaan .
• Ketika seseorang terpapar faktor risiko, pada
awalnya terjadi kelelahan sistim muskuloskeletal.
• Ketika kelelahan yang terjadi melebihi
kemampuan sistim recovery tubuh, terjadilah
ketidakseimbangan muskuloskeletal.
• Jika tidak diatasi, akan terus terjadi
ketidakseimbangan yang akhirnya menyebabkan
terjadinya MSD.
Faktor Risiko MSD
Dikelompokkan menjadi:
1. Faktor Risiko Ergonomik
2. Faktor Risiko Individual
Faktor Risiko Ergonomik
• Adalah faktor risiko yang berhubungan dengan
pekerjaan seseorang.
• Desain tempat kerja berperan penting terhadap
kejadian MSD.
• Ketika pekerja dituntut melakukan pekerjaan
yang diluar batas kemampuan tubuhnya, maka
sistim muskuloskeletalnya sedang dalam risiko,
inilah yang disebut faktor risiko ergonomik
• Adanya faktor risiko ergonomik menyebabkan
pekerja berisiko mengalami ketidakseimbangan
muskuloskeletal yang berujung pada MSD.
3 faktor risiko ergonomik
utama (Peter Vi, 2001)
1. High task repetition / Aktivitas Berulang
• Adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus
menerus, seperti mencangkul, membelah
kayu, mengangkat barang. Dll.
• Banyak pekerjaan yang merupakan aktivitas
berulang, dan seringkali ditentukan oleh target
produksi harian atau per jam
• Suatu pekerjaan dianggap highly repetitive jika
siklusnya kurang atau sama dengan 30 detik.
Faktor Risiko Ergonomik
2. Forceful exertions (Peregangan otot yang
berlebihan/ dipaksakan)
• Banyak pekerjaan yang menuntut beban yang
berlebihan terhadap tubuh manusia.
• Otot akan mengalami peregangan berlebihan
sebagai respons tuntutan tersebut, meningkatkan
kelelahan yang dapat berkembang menjadi MSD.
• Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya
dikeluhkan oleh pekerja dimana aktivitas kerjanya
menuntut pengerahan yang besar, seperti aktivitas
mengangkat, mendorong, menarik, menahan beban
yang berat.
Faktor Risiko Ergonomik
3. Sikap Kerja tidak Alamiah
• Adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi
bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi
ilmiah, misalnya pergerakan tangan terangkat,
punggung terlalu membungkuk dan sebagainya.
• Persendian paling efisien jika pergerakan terjadi
paling dekat dengan posisi ilmiah.
• Risiko MSD akan meningkat jika tubuh bergerak
menjauhi posisi ilmiah secara berulang dalam
jangka waktu yang lama tanpa adanya waktu
pemulihan yang cukup
Faktor Risiko Ergonomik
4. Faktor Penyebab Sekunder
• Bisa berupa tekanan , getaran , atau pengaruh iklim
• Yang dimaksud tekanan adalah tekanan langsung pada
jaringan otot yang lunak
• Getaran dengan frekuensi yang tinggi akan menyebabkan
kontraksi otot bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan
peredaran darah tidak lancar, penimbunan asam laktat
meningkat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot.
• Paparan suhu dingin yang berlebihan dapat menurunkan
kelincahan, kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga
pergerakan pekerja menjadi lamban, sulit bergerak disertai
dengan menurunnya kekuatan otot.
Faktor Risiko Individu
1. Poor work practices / Sikap tubuh yang salah
dalam bekerja
• Pekerja yang melakukan pekerjaan dengan sikap
tubuh atau teknik mengangkat barang yang
salah, akan meningkatkan faktor risiko MSD.
• Sikap tubuh yang salah juga menimbulkan stres
yang tidak perlu pada tubuh yang bisa
meningkatkan kelelahan dan mengurangi
kemampuan tubuh untuk memulihkan diri.
Faktor Risiko Individu
2. Poor overall health habits/ kebiasaan berperilaku
tidak sehat
• Rokok, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, dan
berbagai perilaku tidak sehat lainnya meningkatkan
risiko kejadian MSD, tetapi juga risiko penyakit kronis
lainnya.
• Kebiasaan merokok: Semakin lama dan semakin
tinggi tingkat frekuensi merokok, semakin tinggi pula
keluhan otot yang dirasakan.
Faktor Risiko Individu
3. Tidak cukup beristirahat
• MSD timbul jika kelelahan melebihi sistim recovery tubuh
sehingga menimbulkan ketidakseimbangan. Individu yang
tidak cukup berisitirahat mempunyai risiko lebih tinggi terkena
MSD.
4. Nutrisi dan kesegaran jasmani.
• Tingkat kesegaran tubuh yang rendah akan mempertinggi
resiko terjadinya keluhan otot.
• Malnutrisi maupun obesitas bisa menyebabkan masalah
kesehatan kronik, yang juga bisa menyebabkan kejadian
MSD.
Faktor Risiko Individu
5. Penyebab kombinasi
• Umur: Prevalensi sebagian besar gangguan
tersebut meningkat dengan usia
• Jenis kelamin: Prevalensi sebagian besar
gangguan tersebut meningkat dan lebih
menonjol pada wanita dibandingkan pria (3:1).
Faktor Risiko MSD
Gejala MSD
Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan
menjadi 2, yaitu:
1. Keluhan sementara (reversible)
• Yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot
menerima beban statis namun demikian keluhan
tersebut akan segera hilang bila pembebanan
dihentikan.

2. Keluhan menetap (persistent)


• Yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun
pembebanan kerja dihentikan, namun rasa sakit
pada otot masih terus berlanjut.
Gejala MSD
• bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot
rangka (skeletal) yang meliputi otot leher, bahu,
lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan
otot-otot bagian bawah.
MSD yang sering ditemukan
• Carpal Tunnel Syndrome
• Tendonitis
• Muscle / Tendon strain
• Ligament Sprain
• Tension Neck Syndrome
• Thoracic Outlet Compression
• Rotator Cuff Tendonitis
• Epicondylitis
• Radial Tunnel Syndrome
• Digital Neuritis Trigger Finger / Thumb
• DeQuervain’s Syndrome
• Mechanical Back Syndrome
• Degenerative Disc Disease
• Ruptured / Herniated Disc,
Low Back Pain
• LBP / Nyeri punggung bagian bawah, adalah salah satu
musculoskeletal disorder yang paling sering mempengaruhi
kadang-kadang hingga 80 persen dalam hidup manusia.
• Umumnya, rasa sakit di punggung bawah pada satu atau
kedua belah bagian, kadang-kadang memperluas ke bokong
atau paha.
• Orang yang beresiko tinggi berusian antara 20-40 thn, yang
pekerjaannya melibatkan tenaga fisik yang berat terutama
mengangkat, mendorong, atau menarik benda berat, atau
memutar selama mengangkat.
• Faktor risiko lain adalah merokok, dan kebugaran fisik yang
buruk
Rematik jaringan lunak otot
• MSD yang paling sering ditemukan adalah yang
menyebabkan rasa sakit di daerah otot atau
tendon tetapi tidak dalam sendi.
• Gangguan ini secara kolektif disebut "gangguan
jaringan lunak" dan mencakup berbagai bentuk
lokal dari tendinitis dan bursitis , serta gangguan
nyeri yang lebih umum.
• Gangguan ini adalah penyebab umum sakit di
bahu, siku, pinggul, leher, dan kaki.
Carpal Tunnel Syndrom
• Bisa terjadi karena bekerja dengan komputer yang terus
menerus dengan posisi yang tidak tepat.
• Untuk meminimalkan trauma yang mungkin terjadi pada
tangan dan lengan, jangan mengetik dengan terlalu keras.
• Posisikan layar komputer dengan tepat. Penempatan yang
tidak tepat dapat menyebabkan sikap kerja yang tidak
alamiah yang akhirnya menimbulkan nyeri
Tips Bekerja dengan Komputer
1. Tempatkan komputer pada lokasi yang mengurangi
paparan cahaya yang menyilaukan pada layar, jauhkan dari
jendela atau sinar lampu yang menyilaukan.
• Pantulan cahaya dari layar komputer bisa menyebabkan kelelahan
mata, dan juga bisa menyebabkan kita mengambil sikap tubuh
yang salah untuk menyesuaikan dengan kondisi tsb.
• Cahaya terang yang langsung dari belakang layar bisa
menyebabkan kelelahan mata juga. Jika tidak bisa memindahkan
komputer, tutuplah tirai jendela atau matikan lampu yang ada di
belakang layar.
2. Tempatkan komputer tepat di depan anda.
• Hal ini dapat mencegah kita untuk memutar kepala dan leher
untuk melihat layar.
Tips Bekerja dengan Komputer
3. Batas paling atas layar komputer sekitar 0-30 derajat dari
sudut mata.
• Jika kita dalam posisi duduk yang nyaman, mata kita harus sejajar
dengan layar sekitar 2-3 inch dari batas atas monitor komputer.
• Duduklah bersandar dengan sudut sekitar 100-110 derajat dan
ulurkan tangan anda ke depan sampai jari tengah anda hampir
menyentuh di tengah2 layar.
• Riset menunjukkan bahwa titik tengah monitor seharusnya 17-18
derajat dibawah garis horizontal agar bisa melihat dengan
optimal, dan posisi ini bisa dicapai dengan cara diatas.
• Jika layar terlalu rendah kita akan menjulurkan leher ke depan.
Sebaliknya jika terlalu tinggi kita akan memiringkan kepala ke
belakang. Hal ini bisa menyebabkan nyeri pada leher dan bahu.
(Dr. Alan Hedge - Prof ergonomik)
Tips Bekerja dengan Komputer
4. Monitor sedikitnya berjarak seukuran satu lengan
jauhnya dari kita.
• Dengan jarak ini kita bisa melihat seluruh layar tanpa
harus terlalu banyak memutar leher dan kepala.

5. Atur layar agar kita bisa membaca dengan jelas tanpa


harus membengkokkan kepala, leher atau badan.
• Jadi intinya adalah aturlah posisi komputer anda agar
bisa mengurangi sikap tubuh yang tidak alamiah.
Tempatkan komputer pada posisi yang benar dan
kepala dan bahu anda akan berterimakasih.
Sprain/Strain
• Sprain adalah cedera pada ligamen, orang awam biasa
menyebut dengan keseleo. Jika terjadi sprain, satu atau lebih
ligamen mengalami peregangan atau robek tergantung dari
derajatnya.

• Strain adalah cedera pada otot atau tendon, biasa dikenal


dengan tension atau kram. Pada kasus ini otot atau tendon
yang mengalami peregangan atau bahkan robekan.

• Sprain dan strain dapat terjadi tiba-tiba atau baru timbul


setelah beberapa hari, minggu bahkan bulan. Jika seseorang
terpapar faktor risiko, sangat mungkin akan mengalami kedua
kejadian tsb.
• Sprain dan strain termasuk kategori cedera yang tersering
ditemukan di lingkungan pabrik.
Strain/ Sprain berdasarkan bagian tubuh yang terkena
Pencegahan
Ada 2 jenis pencegahan yang utama,
1. Ergonomic Control: pencegahan di
tempat kerja untuk mengurangi faktor
risiko ergonomik
2. Individual control untuk mengurangi atau
menghilangkan faktor risiko individu.
Ergonomic Control
1. Rekayasa Teknik : Mengurangi sikap tubuh yang tidak
alamiah dengan modifikasi ergonomik
2. Rekayasa Administratif : termasuk rotasi pekerjaan dan
memberdayakan waktu stretching pada saat istirahat
Rekayasa Teknik
• Eliminasi, yaitu dengan menghilangkan sumber
bahaya yang ada.
• Substitusi, yaitu mengganti alat atau bahan lama
dengan alat atau bahan baru yang aman,
menyempurnakan proses produksi dan
menyempurnakan prosedur penggunaan
peralatan
• Partisi, yaitu pemisahan sumber bahaya dengan
pekerja
• Ventilasi, yaitu dengan menambah ventilasi
untuk mengurasi resiko sakit.
Rekayasa Manajemen
• Pendidikan dan pelatihan.
• Pengaturan waktu kerja dan istirahat
seimbang.
• Pengawasan yang intensif.
Pencegahan Individu
• Edukasi dan Pelatihan: Employees should be trained on all
aspects of human performance, including ergonomics, MSD
prevention principles and individual health and wellness.
Formal classroom training and one-on-one follow up ensures
the message is getting through.
• Early Intervention Process: The early warning signs of future
injuries are present in your workforce today. Early
intervention is a proactive strategy designed to discover early
warning signs of MSDs and prevent the early warning signs
from developing into an injury. These one-on-one
consultations with individual workers are often the last line of
defense between risk factors present and an injury.
Tugas
Jelaskan epidemiologi MSD, terkait insidens, prevalensi, faktor
risiko utama, kelompok populasi yang paling berisiko, upaya
pencegahan dan prognosisinya.

1. LBP
2. Osteoarthritis
3. CTS
4. Tendinitis & Bursitis
5. Ligament Sprain
Pencegahan Aktivitas Berulang
• Engineering Controls – Eliminating excessive force and awkward
posture requirements will reduce worker fatigue and allow high
repetition tasks to be performed without a significant increase in
MSD risk for most workers.
• Work Practice Controls – Providing safe & effective procedures for
completing work tasks can reduce MSD risk. In addition, workers
should be trained on proper work technique and encouraged to
accept their responsibilities for MSD prevention.
• Job Rotation – Job task enlargement is a way to reduce duration,
frequency and severity of MSD risk factors. Workers can rotate
between workstations and tasks to avoid prolonged periods of
performing a single task, thereby reducing fatigue that can lead to
MSD.
• Counteractive Stretch Breaks – Implement rest or stretch breaks to
provide an opportunity for increased circulation needed for
recovery.
Forceful Excertion
• Engineering Controls – Eliminating excessive force
requirements will reduce worker fatigue and the risk of MSD
formation in most workers. Using mechanical assists, counter
balance systems, adjustable height lift tables and
workstations, powered equipment and ergonomic tools will
reduce work effort and muscle exertions.
• Work Practice Controls – Work process improvements such as
using carts and dollies to reduce lifting and carrying demands,
sliding objects instead of carrying or lifting, and eliminating
any reaching obstruction to reduce the lever arm required to
lift the object.
• Proper Body Mechanics – Workers should be trained to use
proper lifting and work techniques to reduce force
requirements.
Repetitive/ Sustained
Awkward Position
• Engineering Controls – Eliminate or reduce awkward postures with
ergonomic modifications that seek to maintain joint range of motion
to accomplish work tasks within the mid-range of motion positions
for vulnerable joints. Proper ergonomic tools should be utilized that
allow workers to maintain optimal joint positions.
• Work Practice Controls – Work procedures that consider and reduce
awkward postures should be implemented. In addition, workers
should be trained on proper work technique and encouraged to
accept their responsibility to use their body properly and to avoid
awkward postures whenever possible.
• Job Rotation – Job rotation and job task enlargement is a way to
reduce repeated and sustained awkward postures that can lead to
MSD.
• Counteractive Stretch Breaks – Implement rest or stretch breaks to
provide an opportunity to counteract any repeated or sustained
awkward postures and allow for adequate recovery time.