Anda di halaman 1dari 54

ETIKA DAN DISIPLIN APOTEKER

INDONESIA
OUTLINE

• PROFESI
• SUMPAH APOTEKER
• KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
• PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER INDONESIA
• MEDAI
PENGERTIAN PROFESI

• Etimologi : profesi, profession (English), profecus (Latin), artinya ;


mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu atau ahli dalam
melakukan suatu pekerjaan.
• Terminologi : profesi berarti ; Suatu pekerjaan yang mempersyaratkan
pendidikan bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental,
yaitu ; adanya persyaratan pengetahuan teoritis sbg instrumen untuk
melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual.
KARAKTERISTIK PROFESI

• Keterampilan berdasarkan ilmu pengetahuan


• Adanya asosiasi professional : IAI
• Pendidikan yang ekstensif : lama & berjenjang
• Adanya uji kompentensi : UKAI
• Pelatihan institusional
• Lisensi : STRA
• Otonomi kerja
• Adanya kode etik profesi : KEAI
• Mandiri tanpa campur tangan pemerintah
• Layanan publik & altruisme (mementingkan kebutuhan publik)
• Status & imbalan yang tinggi
SUMPAH APOTEKER (PP NO.20/1962)
• Butir 1 : “Demi ALLAH”
• Catatan: setiap melaksanakan pekerjaan dimulai dengan DOA serta meminta
perlindungan dan berserah diri kepada-NYA
• “Allah yang menciptakan segala sesuatu dan DIA-lah Yang Maha Esa lagi
Maha Kuasa”. (QS.Ar ra’du {13]: 16).
• “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. (Ar ra’du
{13} : 28).
• Butir 2 : Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan
perikemanusian terutama dalam bidang kesehatan.
• Catatan : Setiap Apoteker harus ikhlas dalam melaksanakan pekerjaannya.
Kesembuhan dan keselamatan pasien adalah tujuan utama kita bersama.
• Butir 3 : Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan
pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan
hokum perikemanusiaan.
• Contoh kasus : Seorang Apoteker yang bekerja di PBF diancam oleh Kacab
PBF ybs untuk bersedia menjual obat prekursor ke jalur tidak resmi spt;
warung/toko kelontong/perorangan yang tidak berhak.
• Butir 4 : Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar
dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh
pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik
kepartaian, atau kedudukan sosial.
• Catatan: dalam pelaksanaan praktik kefarmasian harus bersikap netral,
pelayanan sama untuk siapa saja.
• Butir 5 : Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-
baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian.
• Catatan : profesi Apoteker adalah profesi yang mulia, harus menjaga
kehormatan profesi. Tidak boleh berbuat tercela.
PENGERTIAN ETIKA

• Etika : ethod (Yunani), berarti : karakter, watak kesusilaan atau adat


• Etika berkaitan dgn konsep yang dimiliki individu ataupun kelompok
utk menilai apakah tindakan yang telah dikerjakan itu salah atau
benar, buruk atau baik.
• Etika adalah self control karena sesuatunya dibuat dan ditetapkan
dari dan untuk kepentingan kelompok itu sendiri.
• Etika adalah filsafat moral.
PERANAN ETIKA DALAM PROFESI

• Nilai-nilai Etika mempengaruhi Perilaku profesi seseorang


• Dengan ber-Etika seseorang akan bekerja lebih profesional
• Masyarakat/pasien akan lebih nyaman dilayani oleh profesi yang ber-
etika.
• Penghargaan & Kepercayaan masyarakat/pasien akan lebih besar
kepada profesi yang ber-etika.
ETIKA BERKOMUNIKASI

• Gunakan teknik 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun)


• Tunjukkan rasa hormat/perilaku yang baik/sopan ketika berkomunikasi
saat baru kenal, apalagi ketika kita membutuhkan pertolongan orang
lain.
• Jangan langsung menele[on atau WA ketika anda belum kenal orang
ybs. Sebaiknya temui langsung. Setelah akrab baru boleh
menelpon/WA dgn kalimat yang sopan.
• Jika keadaan memaksa karena faktor jarak jauh, silahkan menelpon
atau WA dengan menggunakan kalimat sehalus dan seramah
mungkin.
CONTOH-CONTOH PELANGGARAN ETIK

• Kurang mendengarkan pasien/berkomunikasi


• Menakut-nakuti pasien
• Menarik bayaran tidak wajar, termasuk ke TS
• Bertengkar dengan pasien, ingin menolak pasien
• Informed consent tidak dilakukan
• Tidak menyimpan rahasia pasien secara baik
• Menjual obat/alat dengan cara MLM
• Kompetensi kurang memadai
• Menggunjingkan kekurangan TS didepan pasien (“celetukan beracun”)
• Memakai gelar yang bukan haknya
• Pelecehan seksual
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA

• Terdiri dari : 5 BAB dan 15 pasal


• Mengatur 6 hal ;
• Mukadimah
• Kewajiban Umum
• Kewajiban Apoteker terhadap pasien
• Kewajiban Apoteker terhadap teman sejawat
• Kewajiban Apoteker terhadap sejawat petugas kesehatan lainnya
• Penutup.
MUKADIMAH KEAI

• Bahwa seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya


serta dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa
mengharapkan bimbingan dan keridhaan Tuhan YME, serta
berpegang teguh pada Sumpah/janji Apoteker.
• Catatan : Selalu berdoa & mengingat Sumpah Apoteker sebelum melaksanakan
praktik kefarmasian
• Ada sebuah niat luhur untuk membantu kepentingan makhluk hidup
lain.
• Catatan : Dari hati nurani yang terdalam berniat menolong orang lain
• Kode Etik Apoteker sebagai Pedoman & Petunjuk serta standar
perilaku dalam bertindak & mengambil keputusan.
• Catatan : KEAI sebagai standar kerja
KEWAJIBAN UMUM

• PASAL 1 : Setiap Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan


mengamalkan “Sumpah Apoteker Indonesia”’.
• Catatan : Sumpah Apoteker Indonesia sebagai fondasi utama dalam setiap
gerak langkah pelaksanaan praktik kefarmasian.
• Sumpah Apoteker dijadikan landasan moral dalam setiap tindakan
dan perilaku
• Contoh kasus : melaksanakan asuhan kefarmasian, merahasiakan kondisi pasien
dan “Medication Record” untuk pasien, melaksanakan praktik profesi sesuai
kaidah ilmu, hukum dan etik.
• PASAL 2 : Setiap Apoteker harus berusaha dan sungguh-sungguh
menghayati dan mengamalkan KEAI.
• Contoh kasus : Apoteker tidak hadir melaksanakan praktik di sarana
pelayanan, berarti tidak mengamalkan KEAI.
• PASAL 3 : Setiap Apoteker harus senantiasa menjalankan
profesinya sesuai Standar Kompentensi Apoteker Indonesia (SKAI)
serta mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip
kemanusiaan dalam menjalankan kewajibannya.
• Contoh kasus : Pasien menanyakan ttg cara penggunaan obat, Apoteker
tidak bisa menjawab dengan benar.
• PASAL 4 : Setiap Apoteker harus selalu aktif mengikuti
perkembangan di bidang kesehatan pada umumnya dan bidang
farmasi pada khususnya.
• Contoh kasus : penggunaan obat golongan Statin (Simvastain, Atorvastatin,
dll). Kalau dulu selalu dianjurkan di minum menjelang tidur, tetapi sekarang
justru lebih baik di minum diantara pagi sp siang karena HMG CoA-reduktase
(zat pembentuk lipid) mencapai puncaknya di siang hari dan juga sekaligus
untuk mengurangi rhabdomyelisis (nyeri otot).
• PASAL 5 : Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker harus
menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan diri semata yang
bertentangan dgn martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.
• Contoh kasus : Menyerahkan obat ke pasien dengan mendapatkan
keuntungan yang tidak wajar atau menjual obat dalam jumlah besar secara
langsung ke Tenaga Kesehatan lainnya (Apotek Panel), dengan tujuan
mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.
• PASAL 6 : Seorang Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi
contoh yang baik bagi orang lain.
• Contoh kasus : Apoteker yang berprestasi di dalam penemuan obat baru
atau khasiat baru. Atau Apoteker teladan yang dikenal ramah dalam
melayani pasien.
• PASAL 7 : Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai
dengan profesinya.
• Contoh kasus : Sering terjadi pertanyaan ttg obat dari tenaga kesehatan
lainnya (dokter, perawat, bidan, dll), khususnya yang bekerja di RS. Apoteker
harus bisa menjawab pertanyaan2 tsb berdasarkan Evidence Based Medicine
terkini.
• PASAL 8 : Seorang Apoteker harus aktif mengikuti perkembangan
peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan pada
umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.
• Contoh kasus 1 : berdasarkan PMK no.31/2016, seorang Apoteker bisa praktik
di 3 tempat pelayanan kefarmasian, padahal dulu hanya 1 tempat.
• Contoh kasus 2 : PMK no.26/2018 : pelaku Usaha Apotik adalah Apoteker.
Tidak ada lagi kata-kata PSA.
• Contoh kasus 3 : SPO harus dibuat agar terhindar dari masalah hukum
KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN

• PASAL 9 : Seorang Apoteker dalam melakukan praktik kefarmasian


harus mengutamakan kepentingan masyarakat, menghormati hak
azasi pasien dan melindungi mahkluk hidup insani.
• Contoh kasus : Apoteker yang bekerja di pelayanan (RS/Puskesmas/Klinik/Apotek)
harus peduli dan menjaga kerahasiaan/medical record pasien.
KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

• PASAL 10 : Seorang Apoteker harus memperlakukan teman


sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.
• Contoh kasus : Kalau kita ingin diperlakukan baik maka kita harus berbuat baik
kepada orang lain.
• PASAL 11 : Sesama Apoteker harus selalu saling mengingatkan dan
saling menasehati untuk mematuhi ketentuan-ketentuan kode etik.
• Contoh kasus : kita harus dengan iklas membantu teman yang salah jalan
dengan cara yang baik.
• PASAL 12 : Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap
kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang baik sesama
Apoteker di dalam memelihara keluhuran martabat jabatan
kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai di dalam
menunaikan tugasnya.
• Contoh kasus : jika ada TS mendapat masalah/kesulitan atau terjerumus dalam
suatu kesalahan dalam berpraktik maka kita wajib membantu agar martabat
Apoteker terpelihara dgn baik.
KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP SEJAWAT
PETUGAS KESEHATAN LAINNYA.
• PASAL 13 : Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap
kesempatan utk membangun dan meningkatkan hubungan profesi,
saling mempercayai, menghargai, dan menghormati sejawat petugas
kesehatan lainnya.
• Contoh kasus : kolaborasi dalam membahas kasus/case review.
• PASAL 14 : Seorang Apoteker hendaknya menjauhkan diri dari
tindakan atau perbuatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya
atau hilangnya kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas
kesehatan lainnya.
• Contoh kasus : pergunjingan bisa berakibat fatal.
BAB PENUTUP KEAI

• Setiap Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan


mengamalkan KEAI dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-
hari.
• Catatan : kesungguhan menjadi kata kunci dalam keberhasilan praktik dengan
KEAI.
• Jika seorang Apoteker baik dengan sengaja maupun tak sengaja
melanggar atau tidak mematuhi KEAI, maka dia wajib mengakui dan
menerima sanksi dari pemerintah, organisasi profesi farmasi yang
menanganinya (IAI) dan mempertanggung-jawabkannya kepada
Tuhan YME.
• Catatan : Pelanggaran TS di bahas dan dipertanggungjawabkan di mahkamah
profesi yaitu : MEDAI daerah.
SANKSI PELANGGARAN ETIKA

• Apabila Apoteker melakukan pelanggaran KEAI, ybs dikenakan sanksi


organisasi.
• Sanksi dapat berupa ; Pembinaan, Peringatan, Pencabutan
keanggotaan sementara, atau pencabutan keanggotaan tetap.
• Kriteria pelanggaran kode etik diatur dalam PO dan sanksi ditetapkan
setelah melalui kajian yang mendalam dari MEDAI Daerah.
• Hasil telaah MEDAI Daerah disampaikan ke Pengurus Daerah dan
Pengurus Cabang.
DISIPLIN APOTEKER
INDONESIA
PENGERTIAN DISIPLIN (DISCIPLINE)

• Etimologi : disiplin = tata tertib (wojowasito & poerwadarminta)


• Terminologi : Disiplin adalah ketaatan terhadap tata tertib pekerjaan
yang seharusnya dijalankan oleh suatu profesi dalam melaksanakan
praktik profesinya,
• Disiplin Apoteker : Kesanggupan Apoteker untuk mentaati
kewajibannya dan menghindari larangan yang ditentukan dalam
peraturan per-Undang-undangan dan/atau peraturan praktik yang
apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.
DISIPLIN PEKERJAAN KEFARMASIAN

• Mematuhi aturan nilai dasar Apoteker : Sumpah Apoteker, Kode Etik


Apoteker Indonesia, Pedoman Disiplin Apoteker indonesia.
• Mematuhi semua peraturan di bidang kefarmasian : UU, PP, PMK,
AD/ART IAI, PO IAI, dll.
• Mematuhi semua SPO yang berkaitan dengan lingkungan pekerjaan
sehari-hari.
• Pertanggung-jawaban dan Evaluasi terhadap pekerjaan kefarmasian.
PELANGGARAN DISIPLIN

Pelanggaran disiplin dapat dibagi 3 kelompok :


1. Melaksanakan praktik Apoteker dengan tidak kompeten
2. Tugas & tanggung-jawab professional pada pasien tidak
dilaksanakan dengan baik,
3. Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan
Apoteker
Pelanggaran disiplin bisa berupa : setiap ucapan, tulisan, atau
perbuatan yang tidak mentaati kewajiban dan/atau ketentuan disiplin
Apoteker Indonesia. (PO : 004/1418/VII/2014, SK PP IAI).
BENTUK PELANGGARAN DISIPLIN APOTEKER
• Butir 1 : Melakukan praktik kefarmasian dengan tidak kompeten.
• Contoh kasus : Seorang Apoteker yang bekerja di sarana pelayanan tetapi tidak
mempunyai sertifikat kompetensi (Serkom) dan/atau masa berlaku serkomnya
sudah habis.
• Butir 2 : Membiarkan berlangsungnya praktik kefarmasian yang menjadi
tanggung-jawabnya, tanpa kehadirannya ataupun tanpa Apoteker
pengganti dan/atau Apoteker pendamping yang sah.
• Contoh kasus : Apotek dibuka tanpa kehadiran Apoteker.
• Sabda Rasulullah : “Apabila amanat di sia-siakan, maka tunggulah
kehancurannya”. (HR Bukhari).
• Butir 3 : Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu
dan/atau tenaga lainnya yang tidak memiliki kompetensi untuk
melaksanakan pekerjaan itu.
• Contoh kasus : Apoteker tidak hadir di Apotek, didelegasikan ke TTK dan/atau
tenaga lain bukan Tenaga Kefarmasian.
• “Apabila dikerjakan sesuatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya, maka
tunggulah kehancurannya”. (HR Bukhari).
• Butir 4 : Membuat keputusan profesional yang tidak berpihak
kepada kepentingan pasien/masyarakat.
• Contoh kasus : mengganti obat pasien dengn obat lain yang kurang sesuai.
• Butir 5 : Tidak memberikan informasi yang sesuai, relevan dan “UP
TO DATE” dengan cara yang mudah dimengerti oleh
pasien/masyarakat, sehingga berpotensi berpotensi menimbulkan
kerusakan dan/atau kerugian pasien.
• Contoh kasus : Menyerahkan obat ke pasien tanpa informasi yang jelas,
lengkap dan rinci.
• Contoh Informasi yang lengkap : Captopril harus diminum pada saat perut
kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan), karena kalau
diminum pada saat perut isi, maka absorpsinya berkurang 25%.
• Butir 6 : Tidak membuat dan/atau tidak melaksanakan SPO
sebagai pedoman kerja bagi seluruh personil di sarana
pekerjaan/pelayanan kefarmasian, sesuai dengan
kewenangannya.
• Contoh kasus : Apoteker tidak membuat SPO ttg pelayanan R/ & non R/,
penyimpanan, pelayanan obat narkotika/psikotropika/OOT, dll, di
Apotek/IFRS/Puskesmas/Klinik.
• Butir 7 : Memberikan sediaan farmasi yang tidak terjamin “Mutu”,
“Keamanan”, dan “Khasiat/Manfaat” kepada pasien.
• Contoh kasus : Apoteker memberikan obat yang sudah ED ke pasien.
• Butir 8 : Melakukan pengadaan obat dan/atau bahan baku obat,
tanpa prosedur yang berlaku sehingga berpotensi menimbulkan
tidak terjaminnya mutu, khasiat obat.
• Contoh kasus : memesan obat ke PBF tidak resmi/tidak berizin.
• Butir 9 : Tidak menghitung dengan benar dosis obat, sehingga
dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian kepada pasien.
• Contoh kasus : Pemberian Obat Ciprofoxacin tabler yang seharusnya
diberikan 2 kali perhari, tetapi diberikan 3 kali perhari. Pemberian obat untuk
anak-anak dan/atau bayi seharusnya dihitung dengan BB, tetapi ternyata
tidak diperhitungan.
• Butir 10 : Melakukan penataan, penyimpanan obat tidak sesuai
standar, sehingga berpotensi menimbulkan penurunan kualitas
obat.
• Contoh kasus : obat-obat di Apotek yang seharusnya disimpan di suhu kamar
tetapi tidak dilakukan atau ada obat-obat tertentu seperti ; vaccin, serum, dll,
yang seharusnya disimpan di suhu 2 – 8 C tetapi disimpan di suhu biasa.
• Butir 11 : Menjalankan praktik kefarmasian dalam kondisi tingkat
kesehatan fisik ataupun mental yang sedang terganggu sehingga
merugikan kualitas pelayanan profesi.
• Contoh kasus : Apoteker yang sedang mengalami stress mental atau
terganggu jiwanya sehingga tidak bisa berpikir normal.
• Butir 12 : Dalam penatalaksanaan praktik kefarmasian, melakukan
yang seharusnya dilakukan atau tidak melakukan yang seharusnya
dilakukan, sesuai dengan tanggung-jawab professionalnya, tanpa
alasan pembenar yang sah, sehingga dapat membahayakan
pasien.
• Contoh kasus : Apoteker memberikan obat tidak sesuai dengan yang diminta
dokter berdasakan R/ dan atau memberikan pengganti obat yang
khasiatnya jauh berbeda.
• Butir 13 : Melakukan pemeriksaan atau pengobatan dalam
pelaksanaan praktik pengobatan sendiri (self medication), yang
tidak sesuai kaidah pelayanan kefarmasian.
• Contoh kasus : mendiagnosa penyakit yang bukan wewenang Apoteker
disertai pemberian obat keras tanpa R/.
• Butir 14 : Memberikan penjelasan yang tidak jujur, dan/atau tidak
etis, dan/atau tidak objektif kepada yang membutuhkan.
• Contoh kasus : memberikan informasi obat yang salah kepada pasien atau
tidak ada dasar ilmiahnya (EBM).
• Butir 15 : Menolak atau menghentikan pelayanan kefarmasian
terhadap pasien tanpa alasan yang layak dan sah.
• Contoh kasus : Menolak R/ yang persediaannya masih ada di Apotek tanpa
alasan yang jelas.
• Butir 16 : Membuka rahasia kefarmasian kepada yang tidak
berhak.
• Contoh kasus : memberikan informasi kepada para penjahat/preman ttg efek
obat yang bisa bikin mabuk/teler.
• Butir 17 : Menyalahgunakan kompetensi Apotekernya,
• Contoh kasus : Seorang Apoteker yang bekerja di pabrik obat tradisional
mencampur obat herbalnya dengan bahan kimia obat.
• Butir 18 : membuat catatan dan/atau pelaporan sediaan farmasi
yang tidak baik dan tidak benar.
• Contoh kasus : Seorang Apoteker yang bekerja di Apotek tidak membuat
kartu stock obat dan/atau kartu stock tidak selalu diisi walaupun ada transaksi
obat.
• Butir 19 : Berpraktik dengan menggunakan STRA atau SIPA
dan/atau Sertifikat Kompetensi yang tidak sah.
• Contoh kasus : Seorang Apoteker memalsukan SIPA dengan cara meng-Scan
SIPA orang lain dan dirubah nama, alamat, dll, sesuai dgn identitas dirinya.
SANKSI PELANGGARAN DISIPLIN

• Pemberian peringatan tertulis


• Pembekuan rekomendasi dan/atau pencabutan STRA atau SIPA,
sementara atau selama-lamanya 1 tahun atau pencabutan tetap
untuk selamanya dan/atau
• Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi Pendidikan
Apoteker se-kurang-kurangnya 3 bulan dan paling lama 1 tahun.
MAJELIS YANG MENANGANI PELANGGARAN ETIK
DAN DISIPLIN APOTEKER
• Majelis Etik Dan Disiplin Apoteker Indonesia (MEDAI)
• MEDAI Pusat : PP IAI (Jakarta)
• MEDAI Daerah : PD IAI di setiap Propinsi.
TUGAS MEDAI DAERAH

• Menyusun dan melaksanakan program kerja tahunan


• Melakukan internalisasi dan pendidikan Kode Etik dan Disiplin Apoteker
Indonesia kepada Apoteker di Tingkat cabang dan daerah.
• Membina, mengawasi, dan menilai pelaksanaan KEAI oleh anggota
• Membuat putusan terkait permasalahan etik dan disiplin Apoteker oleh
anggota untuk ditindaklanjuti oleh Ketua ikatan sesuai AD/ART IAI.
• Menegakkan kode Etik dan Disiplin Apoteker Indonesia.
• Bekerjasama dengan PTF dalam Pendidikan KodeEtik dan Disiplin
Apoteker indonesia kepada calon Apoteker.
• Meminta pertimbangan dari tenaga ahli dalam kasus khusus.
• Melakukan dokumentasi dan pelaporan.
PENGADUAN

• Semua Pengaduan disalurkan melalui Ketua PD IAI Jateng c.q.


Sekretariat PD IAI Jateng, Jl.Abimanyu Raya no.17, Semarang.
• Ketua PD IAI Jateng melakukan seleksi dan menelaah seluruh
pengaduan, apakah menyangkut pelanggaran organisasi atau
pelanggaran etik.
• Jika kasus tsb menyangkut pelanggaran Etik & Disiplin, maka kasus tsb
dilimpahkan ke MEDAI Jateng. Sedangkan kasus yang menyangkut
pelanggaran organisasi, maka langsung ditangani oleh Bidang
organisasi PD IAI Jateng.
• Pengaduan dapat berasal dari : Ketua PC, anggota, atau dari BBPOM
(ada MOU antara BBPOM dgn PD IAI Jateng)
PERSIDANGAN

• Sebelum dilakukan sidang, semua berkas pengaduan yang diterima


sekretaris MEDAI Jateng, disebarkan ke seluruh anggota MEDAI
Jateng untuk dipelajari dan ditelaah lebih dalam.
• Sebelum persidangan, MEDAI Jateng melakukan rapat koordinasi
untuk menelaah kasus secara bersama-sama atau melakukan gelar
perkara.
• Persidangan dilakukan secara terbuka, dengan mengundang semua
Apoteker yang terkena kasus.
• Masing-masing Apoteker yang terkena kasus, diberi waktu dan
dipersilahkan untuk menjelaskan masalahnya secara terbuka didepan
semua anggota MEDAI Jateng.
• Setelah semua Apoteker yang berkasus selesai berbicara, maka
masing-masin anggota MEDAI Jateng diberikan kesempatan untuk
melakukan Tanya-jawab dengan semua Apoteker yang
bermasalah.
• Pada kesempatan tsb juga ditanyakan secara tegas, apakah ybs
mengakui kesalahannya atau bukan.
• Jika ybs sudah mengakui kesalahannya maka dilanjutkan dengan
Pembinaan Umum serta Pembinaan khusus.
• Tetapi jika ybs tidak mengakui kesalahannya, maka dilakukan
persidangan lanjutan dilain waktu. MEDAI Jateng akan mencari
bukti & saksi nyata serta menelaah kasus tsb lebih lanjut.
KEPUTUSAN SIDANG DAN SANKSI

• Keputusan sidang dilakukan di dalam rapat khusus anggota MEDAI


Jateng. Keputusan dianggap sah jika dihadiri minimal 4 orang
anggota MEDAI Jateng
• Untuk Katagori kasus berat, sanksi yang disepakati : Peringatan keras
tertulis s/d pencabutan rekomendasi praktik maksimal 2 tahun dan
Pembinaan Komprehensif serta membuat surat pernyataan
bermaterai, untuk tidak mengulangi kesalahan lagi.
• Untuk Katagori kasus Sedang, sanksi yang disepakati : Peringatan
keras tertulis s/d pencabutan surat rekomendasi praktik maksimal 6
bulan dan pembinaan komprehensif serta membuat surat pernyataan
bermaterai untuk tidak mengulangi kesalahan lagi.
• Untuk katagori kasus ringan, sanksi yang disepakati ; Peringat
tertulis dan pembinaan serta membuat surat pernyataan
bermaterai untuk tidak membuat kesalahan lagi.
• Hasil keputusan sidang MEDAI Jateng, dikirimkan ke Ketua PD IAI
Jateng yang berupa Rekomendasi hasil keputusan MEDAI Jateng
untuk diterbitkan sebagai Surat Keputusan PD IAI Jateng ttg kasus
tsb, dengan tembusan ke MEDAI Jateng dan Ketua PC IAI terkait.
CONTOH KASUS NYATA 1

• Ada sesorang Apoteker bisa mendirikan Apotek tanpa rekomendasi


PC IAI setempat. Masalah mulai muncul ketika SIPA dan/atau
Serkomnya habis masa berlakunya karena untuk memperpanjangnya
harus ada rekomendasi PC IAI setempat.
CONTOH KASUS NYATA 2

• Ada seorang Apoteker yang sudah bekerja di Industri farmasi di Jabar,


memalsukan surat mutasi/lolos butuh yang dulu di dapatnya dari PD
IAI Jateng, untuk bekerja di Apotek di berbagai kota di Jateng, di
kota A, B, C, dan D
CONTOH KASUS NYATA 3

• Seorang Apoteker di Kota U, ingin mendirikan Apotek, jarak Apotek


terdekat lebih kurang 1 Km, milik salah satu pengurus PC IAI setempat.
Ybs tidak diberikan rekomendasi oleh PC IAI setempat, dianjurkan
untuk mendirikan Apotek di daerah lain. Kedua belah pihak sama-
sama mengadukan masalahnya ke PD IAI dan MEDAI Daerah jateng.
CONTOH KASUS NYATA 4

• Seorang Apoteker yang sudah bekerja di RS swasta di Kota K,


memalsukan SIPA milik orang lain untuk dijadikan SIPA miliknya utk
praktik di RS swasta tsb. Dan juga memalsukan surat mutasil/lolos
butuh, untuk bisa bekerja di ApoteK di KOTA M.
CONTOH KASUS NYATA 5

• Seorang Apoteker yang bekerja di Apotek, membeli obat dalam


jumlah besar ke PBF, kemudian dijual dalam jumlah besar juga secara
langsung ke dokter, perawat, dan bidan.
CONTOH KASUS NYATA 6

• Seorang Apoteker yang baru lulus mengurus surat mutasi/lolos butuh


di PD IAI Jateng untuk tujuan PD IAI DKA Jakarta. Surat Mutasi tsb tidak
langsung diberikan ke PD IAI DKI Jakarta, didiamkan dirumah. Setelah
beberapa bualan baru dilihat lagi, ternyata surat mutasi/ lolos
butuhnya sudah ED.
KESIMPULAN

• Pelaksanaan Kode Etik Dan Disiplin Apoteker sangat tergantung pada


kemauan, kesadaran dan hati nurani masing-masing Apoteker.
• Profesi Apoteker akan diakui dan dipercaya oleh masyarakat/pasien
jika bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi
masyarakat/pasien.
• Setiap Apoteker harus mengetahui dan memahami semua peraturan
di bidang kefarmasian, mulai dari ; Sumpah Apoteker, Kode Etik &
Disiplin Apoteker Indonesia, AD/ART IAI, PO IAI, PMK, dsbnya.
• Pada pelaksanaan praktik Apoteker perlu diniatkan dalam rangka
ber-ibadah kepada-NYA.
RENUNGAN

HIDUP INI SANGAT SINGKAT,


JANGAN SIA-SIAKAN WAKTU,
BERLOMBA-LOMBLAH BERBUAT KEBAIKAN,
DAN JADILAH ORANG YANG BERMANFAAT
BAGI ORANG LAIN.
RENUNGAN

Kita akan memetik hasilnya tergantung dari apa


yang kita tanam, sebagaimana Firman Allah :
“Jika kamu berbuat kebaikan (berarti) kamu
berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu
berbuat kejahatan, maka (akibatnya) bagi
dirimu sendiri”. (QS. Al-Israa’{17}:7).
“TERIMA KASIH”