Anda di halaman 1dari 105

ANALISIS ISU

KONTEMPORER
Oleh:

TIM WIDYAISWARA
BADAN DIKLAT DIY

LATSAR CPNS
NAMA : PANDITA PRATYAKSA
ALAMAT : JL. NGASEM NO. 58

BIODATA
YOGYAKARTA
NO. HP : 0858 788 68135
INSTANSI : Badan Diklat DIY
JABATAN : Widyaiswara Ahli Madya
E-MAIL : pandita.fatiga@gmail.com
ENERGIZING DULU YUK…
DASAR HUKUM PELATIHAN

 UU No. 8 Th 2010 tentang Pencegahan dan


Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

LOGO
TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta mampu memahami
konsepsi perubahan lingkungan
strategis, isu - isu strategis
kontemporer, dan teknik
analisis isu - isu dengan
menggunakan kemampuan
berpikir kritis
POKOK BAHASAN
A. PERUBAHAN LINGKUNGAN
STRATEGIS
B. ISU-ISU STRATEGIS
KONTEMPORER
C. TEKNIK ANALISIS ISU
A. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS
Isu
Kamus Besar Bahasa Indonesia
 masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan
sebagainya).
 kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak
terjamin kebenarannya; kabar angin; desas-desus

Barry Jones & Chase


Isu adalah suatu hal yang terjadi baik di dalam
maupun di luar organisasi yang apabila tidak
ditangani secara baik akan memberikan efek
negatif terhadap organisasi dan berlanjut pada
tahap krisis.
Kontemporer

Sesuatu hal yg modern yg eksis


dan terjadi dan masih berlangsung
sampai sekarang atau segala hal yg
berkaitan dg saat ini.
Konsep Perubahan
PERUBAHAN
Sesuatu yg tidak bisa dihindari dan
menjadi bagian dari perjalanan peradaban
manusia.

“PERUBAHAN ITU MUTLAK DAN KITA


AKAN DITINGGAL JIKA TIDAK SEGERA
MENYADARI DAN BERBUAT DALAM
PERUBAHAN TERSEBUT”
PENDAPAT BEBERAPA AHLI
TENTANG PERUBAHAN
PERUBAHAN LINGKUNGAN
STRATEGIS

Global

Society

Community/ Culture

Family

Individual
MODAL PRIBADI MENGANTISIPASI PERUBAHAN

7. Spiritual

6. Kesehatan 1.Intelektual

5.. Etika/moral 2. Emosional

4. Ketabahan 3. Sosial
MODAL INTELEKTUAL

REFLEKSI
DIRI KEBIASAAN
BERPIKIR
MODAL EMOSIONAL

Self
Awareness

Self MODAL Social


Management EMOSIONAL Awareness

Relationship
Management
MODAL SOSIAL

Kesadaran
Sosial

Modal
Sosial
Kemampuan
Sosial
MODAL ETIKA/MORAL

Integritas

Responsibilitas

Penyayang

Pemaaf
MODAL KESEHATAN

Tenaga Kelincahan Daya


Ketepatan
Kecepatan Tahan

Koordinasi Kekuatan

Keseimbangan

MODAL KESEHATAN
MODAL KETABAHAN (ADVERSITY)

Pantang menyerah,
Kebutuhan aktualisasi diri produktif, visioner
Kebutuhan penghargaan
Kebutuhan kasih sayang

Berusaha menghadapi
Kebutuhan tantangan tetapi tidak
rasa aman mau mengatasi masalah

Tidak mau
menghadapi
tantangan dan
lari dari
masalah
Kebutuhan fisiologis
B. ISU-ISU STRATEGIS KONTEMPORER
ISU GLOBAL YANG MENGANCAM DUNIA

KORUPSI
1. KORUPSI
PENGERTIAN KORUPSI
Kata korupsi dari:
- corruptio/ corruptus (Latin),
- corruption (Inggris/Perancis),
- corruptie/ korruptie (Belanda)
- to corrupt = mencurangi, merugikan

Arti kata korupsi (dari berbg. Kamus)


- keburukan - kelicikan - kejahatan
- kebusukan - kebejatan - ketidakjujuran
- tak bermoral - penyimpangan - kekotoran
- kerakusan - suap - sogok
- menghina - memfitnah - mengancam
PENGERTIAN KORUPSI
PENGERTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI
• Setiap negara mempunyai peraturan yg berbeda terkait
dg TINDAK PIDANA KORUPSI .
• Menurut UU No. 31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7
kelompok tindak pidana korupsi yang terdiri dari :
(1) Kerugian keuangan negara.
(2) Suap-menyuap.
(3) Pemerasan.
(4) Perbuatan Curang.
(5) Penggelapan dalam Jabatan.
(6) Benturan Kepentingan dalam Pengadaan.
(7) Gratifikasi.
DAMPAK KORUPSI

Merugikan dan
Menghancurkan Melemahnya
merusak tatanan
negeri dan
menyengsarakan
ekonomi, sosbud, investasi
politik, dan perusahaan
rakyat
psikologis masy

Menghambat
pembangunan dan Rakyat tdk percaya Ketidak stabilan
perkembangan pemerintah politik
kegiatan usaha

Kualitas Pemborosan
Melemahnya
pelayanan anggaran/dana/
penegakan hukum
publik menurun sumber2 negara
MEMBANGUN SIKAP ANTI KORUPSI

Bersikap jujur dalam kehidupan sehari2 dan


mengajak orang2 untuk bersikap jujur.

Menghindari perilaku merugikan


kepentingan/hak org lain

Mengindari konflik kepentingan dlm hub


kerja, bisnis maupun bertetangga.

Melaporkan kpd penegak hukum apabila


terjadi perbuatan korupsi
2. NARKOBA
PENGERTIAN NARKOBA

Online Etymology Dictionary


Narkotika berasal dari bahasa Yunani yaitu ”Narke” yg berarti
terbius shg tidak merasakan apa2.

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC)


menyebutnya dengan istilah narkotika yg mengandung arti
obat2an jenis narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.

Di kalangan awam maupun kepolisian


dikenal istilah narkoba yang merupakan
singkatan dari Narkotika dan Obat
Berbahaya, serta napza (istilah yang
biasa digunakan oleh Kemenkes) yang
merupakan singkatan dari Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif.
PENGGOLONGAN NARKOTIKA
Golongan I
Golongan ini ditujukan untuk ilmu pengetahuan dan bukan
untuk pengobatan serta sangat berpotensi tinggi
menyebabkan ketergantungan, cth. 1. Opiat: morfin, heroin,
petidin, candu; 2. Ganja atau kanabis, marijuana, hashis; 3.
Kokain: serbuk kokain, pasta kokain, daun koka.
Golongan II
Golongan ini berkhasiat untuk pengobatan dan pelayanan
kesehatan dan berpotensi tinggi menyebabkan
ketergantungan, cth. morfin dan petidin

Golongan III
Golongan ini berkhasiat untuk pengobatan dan pelayanan
kesehatan serta berpotensi ringan mengakibatkan
ketergantungan, cth. kodein
PENGGOLONGAN PSIKOTROPIKA
Golongan I
Golongan ini hanya digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan
dan tidak untuk terapi, serta sangat berpotensi mengakibatkan
ketergantungan, cth. Ekstasi dan LSD.
Golongan II
Golongan ini berkhasiat untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan
serta berpotensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh
amfetamin, shabu, metilfenidat atau ritalin
Golongan III
Golongan ini berkhasiat pengobatan dan pelayanan kesehatan serta
berpotensi sedang mengakibatkan ketergantungan, cth.
Pentobarbital dan flunitrazepam.
Golongan IV
Golongan ini berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan untuk
pelayanan kesehatan serta berpotensi ringan mengakibatkan
ketergantungan, cth. diazepam, bromazepam, fenobarbital,
klonazepam, klordiazepoxide, dan nitrazepam.
PENGGOLONGAN ZAT ADITIF

1. Minuman beralkohol, mengandung etanol etil


alkohol, yg berpengaruh menekan susunan saraf
pusat.

2. Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat


pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik,
yg terdapat pada berbagai barang keperluan
rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin,
yg sering disalahgunakan seperti lem, thinner, cat
kuku, dsb.

3. Tembakau dsb.
MEMBANGUN KESADARAN ANTI NARKOBA
BNN terus-menerus meningkatkan intensitas dan ekstensitas
upaya penyelamatan bangsa dari acaman penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba melalui pelaksanaan Program
Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan
Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yg melibatkan seluruh
komponen masyarakat, bangsa, dan negara.

Upaya tsb dilakukan dg


mengedepankan prinsip
keseimbangan antara
demand reduction dan
supply reduction.
MEMBANGUN KESADARAN ANTI NARKOBA
1. Demand Reduction Side
BNN senantiasa melakukan komunikasi, informasi, dan
edukasi (KIE) P4GN secara masif ke seluruh Indonesia
melalui penggunaan media cetak, elektronik, kesenian
tradisional, tatap muka (penyuluhan, seminar, FGD, workshop,
dan sarasehan), serta media luar ruang.
2. Supply Reduction Side
Pemberantasan peredaran gelap narkotika bertujuan
memutus rantai ketersediaan narkoba ilegal dalam rangka
menekan laju pertumbuhan angka prevalensi.
3. RADIKALISME/TERORISME
PENGERTIAN RADIKALISME

David Jarry, 1991


Radikal berasal dari radices yg berarti a concerted attempt to
change the status quo yg artinya suatu kehendak untuk
mengubah kekuasaan.

Adam Kuper, 2000


Radikalisme diartikan sbg tantangan politik yg bersifat
mendasar atau ekstrem terhadap tatanan yg sudah mapan.

Angel Rabasa (Deradicalizing Islamist Extremist)


Radikal adalah proses mengadopsi sebuah sistem
kepercayaan ekstrim, termasuk kesediaan untuk
menggunakan, mendukung, atau memfasilitasi kekerasan,
sebagai metode untuk menuju kepada perubahan sosial.
POLA DAN RAGAM RADIKALISME
Pola penyebaran radikalisme :
1. Media massa: internet, radio, buku, majalah, dan pamphlet.
2. Komunikasi langsung: dakwah, diskusi, dan pertemanan.
3. Hubungan kekeluargaan: pernikahan, kekerabatan, dan keluarga inti.
4. Lembaga pendidikan: sekolah, pesantren, dan PTN/PTS.
Ragam radikalisme :
1. Radikal Gagasan: Kelompok ini memiliki gagasan radikal, namun tidak
ingin menggunakan kekerasan. Kelompok ini masih mengakui Negara.
2. Radikal Milisi : Kelompok yg terbentuk dalam bentuk milisi/konflik
komunal. Mereka masih mengakui keberadaan Negara.
3. Radikal Separatis : Kelompok yg mengusung misi2 separatisme/
pemberontakan. Mereka melakukan konfrontasi dg pemerintah.
4. Radikal Premanisme : Kelompok ini berupaya melakukan kekerasan
untuk melawan kemaksiatan yg terjadi di lingkungan mereka. Mereka
masih mengakui keberadaan Negara.
5. Radikal Terorisme : Kelompok ini mengusung cara2 kekerasan dan
menimbulkan rasa takut yg luas. Mereka tidak mengakui keberadaan
Negara dan ingin mengganti ideologi negara yg sah dengan ideologi yg
mereka usung.
FAKTOR PENDORONG RADIKALISME
1. Sosial-politik
Konflik yg ditimbulkan oleh kalangan radikal dg seperangkat alat
kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dg kelompok lain
yg berakar pada masalah sosial-politik. Aksi dillakukan dg membawa
bahasa dan simbol serta slogan2 agama, kaum radikalis mencoba
menyentuh emosi keagamaan dan menggalang kekuatan untuk mencapai
tujuan politiknya.
2. Emosi keagamaan
Gerakan radikalisasi yg disebabkan oleh faktor sentimen keagamaan,
termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk membantu
yg tertindas oleh kekuatan ttt.

3. Kultural
Faktor kultural memiliki andil besar terhadap munculnya radikalisasi. Hal ini
karena secara kultural kehidupan sosial selalu diketemukan upaya
melepaskan diri dari infiltrasi kebudayaan ttt yg dianggap tidak
sesuai. Faktor kultural yg dimaksud spesifik terkait dengan anti tesa
terhadap budaya sekularisme yg muncul dari budaya Barat yg dianggap
sebagai musuh yg harus dihilangkan dari muka bumi.
FAKTOR PENDORONG RADIKALISME

4. Ideologis anti westernisme


Westernisme merupakan suatu pemikiran yg memotivasi munculnya
gerakan anti Barat dg alasan keyakinan keagamaan yg dilakukan dg jalan
kekerasan oleh kaum radikalisme. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan
mereka dalam memposisikan diri dalam persaingan budaya dan peradaban
manusia.

5. Kebijakan pemerintah
Ketidakmampuan pemerintahan untuk bertindak memperbaiki situasi atas
berkembangnya frustasi dan kemarahan disebabkan dominasi ideologi,
militer dan ekonomi dari negera2 besar. Dalam hal ini ketidakmampuan
elit2 pemerintah menemukan akar yg menjadi penyebab munculnya
tindak radikalisasi, shg tidak dapat mengatasi problematika sosial yg
dihadapi. Selain itu, faktor media massa yg selalu memojokkan juga
menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan. Propaganda2 lewat
media massa memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk ditangkis.
DAMPAK RADIKALISME

1. Ekonomi
Dampak yg sangat penting tetapi sulit dikuantifikasi adalah
kepercayaan pelaku2 ekonomi di dalam dan di luar negeri.
Perubahan tingkat kepercayaan akan memengaruhi
pengeluaran konsumsi, investasi, ekspor dan impor. Setelah
peristiwa Bom Bali, Country Risk Indonesia sangat meningkat
seperti yg dicerminkan oleh risiko dan biaya transaksi dg Indonesia
(premi asuransi, biaya bunga pinjaman, dsb) yg makin mahal, para
investor ragu2 dan para pembeli luar negeri bimbang membuka
order.
2. Keamanan
Dari segi keamanan, masy tidak lagi merasa aman di negerinya
sendiri. Segala aktivitas masy tidak berjalan karena selalu
dihantui oleh kekhawatiran dan ketakutan terhadap tindakan2
radikal. Setiap org curiga kepada org lain terkait aksi radikal. Hal ini
akan berimplikasi pada persoalan di dalam masy.
DAMPAK RADIKALISME

3. Politik
Dari segi politik, situasi politik dalam negeri tidak akan stabil selama
msh ada persoalan radikalisme. Semua kekuatan politik terkuras
energi dan pikirannya. Pembangunan tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Bahkan, secara politik luar negeri pun sangat merugikan
karena pihak luar negeri menganggap bahwa Indonesia adalah
sarang radikalis dan teroris. Hal ini terbukti dengan banyaknya
negara mengeluarkan travel warning kepada warganya
berkunjung ke Indonesia.

4. Pariwisata
Dari segi pariwisata, Indonesia kehilangan pemasukan devisa yg tinggi.
Hal ini terbukti saat kejadian Bom Bali I dan II, sektor pariwisata khususnya
di Pulau Bali menjadi lesu.
MEMBANGUN KESADARAN ANTI
RADIKALISME/TERORISME
1. Pencegahan
Unsur utama pencegahan aksi teror adalah intelijen. Penguatan intelijen
diperlukan untuk melakukan pencegahan lebih baik. Selain itu sistem
deteksi dini dan peringatan dini atas aksi teror jg perlu dilakukan.
2. Penindakan
Selain pencegahan, pemerintah juga melakukan berbagai upaya untuk
mencegah kasus terorisme di Indonesia. Salah satu upaya pemerintah
dalam pemberantasan terorisme adalah mendirikan lembaga2 penindak
khusus terorisme, seperti: Intelijen dan TNI/Polri.
3. Pemulihan
Untuk pemulihan, Direktorat Deradikalisasi membuat program
deradikalisasi yg berisikan strategi, metode, tujuan dan sasaran yg dalam
pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak, seperti: kementerian dan
lembaga, organisasi kemasy, tokoh agama, tokoh pendidik, tokoh pemuda,
tokoh perempuan hingga mengajak mantan teroris, keluarga dan
jaringannya yg sudah sadar dan kembali ke tengah masyarakat. Program
ini jg diberikan kepada narapidana tindak pidana terorisme selama
menjalani hukuman, shg meminimalisiasi penguatan radikalisasi dari
narapidana lainnya.
4. MONEY LAUNDERING
DEFINISI MONEY LAUNDERING

Dalam Bahasa Indonesia terminologi money laundering sering


dimaknai dg istilah “pemutihan uang” atau “pencucian uang”.
Kata launder dalam Bahasa Inggris berarti “mencuci”. Oleh
karena itu sehari2 dikenal kata “laundry” yg berarti cucian.
Dg demikian uang/harta kekayaan yg diputihkan atau dicuci tsb
adalah uang/harta kekayaan yang berasal dari hasil kejahatan,
shg diharapkan setelah pemutihan/pencucian tsb, uang/harta
kekayaan tadi tidak terdeteksi lagi sbg uang hasil kejahatan
melainkan telah menjadi uang/harta kekayaan yg halal seperti
uang2 bersih/aset2 berupa harta kekayaan bersih lainnya.
DEFINISI MONEY LAUNDERING

Pasal 1 angka (1) UU No. 8 Th 2010 tentang Pencegahan dan


Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang disebutkan bahwa
pencucian uang adalah segala perbuatan yg memenuhi unsur2 tindak
pidana sesuai dg ketentuan dalam undang2 tsb. Dalam pengertian ini,
unsur2 yg dimaksud adalah unsur pelaku, unsur perbuatan melawan
hukum serta unsur merupakan hasil tindak pidana.

Pasal (3), (4), dan (5) UU No. 8 Th 2010, intinya menyebutkan bahwa
tindak pidana pencucian uang merupakan suatu bentuk kejahatan yg
dilakukan baik oleh se2org dan/atau korporasi dg sengaja
menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,
membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri,
mengubah bentuk, menukarkan dg mata uang/surat
berharga/perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau
patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dg tujuan
menyembunyikan/menyamarkan asal usul harta kekayaan itu,
termasuk juga yg menerima dan mengusainya.
SEJARAH MONEY LAUNDERING

Istilah “money laundering” pertama kali muncul Th 1920-an ketika para Mafia
di AS mengakuisisi atau membeli usaha/bisnis jasa Laundromats (mesin
pencuci otomatis). Kala itu Mafioso, Alphonse “The God Father” Capone
memperoleh penghasilan uang dalam jumlah besar dari kegiatan ilegal
seperti: pemerasan, prostitusi, perjudian, penyelundupan, penjualan minuman
beralkohol dan perdagangan narkotika. Mereka menginginkan agar uang yg
mereka peroleh terlihat sbg uang yg sah (legal).

Para mafia ini kemudian membeli perusahaan yg sah dan resmi sbg salah
satu strateginya dg menggabungkan uang haram hasil kejahatan dg uang yg
diperoleh secara sah dari kegiatan usaha mesin pencucian otomatis
(Laundromats) tsb untuk menutupi sumber dananya agar seolah2 berasal dari
sumber yg sah.
PRAKTEK MONEY LAUNDERING SAAT INI

Bebrp waktu lalu dunia dikejutkan oleh pemberitaan Panama


Papers tentang bocornya daftar klien dari Mossack Fonseca.
Jumlahnya ada ribuan, bahkan ada beberapa nama dari
Indonesia. Mossack Fonseca adalah sebuah firma hukum yang
mempunyai banyak klien milyader baik dari lingk pejabat
negara, pengusaha, hingga selebritis yg menyerahkan
pengelolaan harta kekayaannya yi. dg cara mendirikan
perusahaan perekayasa bebas pajak (offshore) di negara surga
pajak (tax heaven country) seperti Panama. Tujuannya untuk
menghindari pajak dari pemerintahnya masing2.
PRAKTEK MONEY LAUNDERING SAAT INI

Belajar dari kasus Panama Papers, Pemerintah Indonesia


memberlakukan tax amnesty (pengampunan pajak) salah satunya
agar para WNI yg menyimpan dananya di luar negeri bersedia
membawa pulang ke Indonesia. Selain masalah pajak, kasus
Panama Papers juga diduga terkait dg praktik money laundering.

Peran dan tanggungjawab Pemerintah Indonesia dalam mencegah


dan memberantas praktik money laundering (tindak pidana
pencucian uang) memberikan kontribusi riil dalam dunia
internasional. Untuk itu, berbagai organisasi internasional dan
regional telah dibentuk untuk memeranginya.
LEMBAGA PENYIDIKAN TIDAK PIDANA
PENCUCIAN UANG (TPPU) DI INDONESIA

Kewenangan untuk melakukan penyidikan TPPU terdapat pada 6


lembaga, yaitu:
1. Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2. Kejaksaan.
3. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
4. Badan Narkotika Nasional (BNN).
5. Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
6. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian
Keuangan Republik Indonesia.
KATEGORI TIDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
(TPPU)
1. Tindak pidana pencucian uang aktif
Setiap org yg menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,
menbayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke LN, mengubah
bentuk, menukarkan dgn uang uang/surat berharga/perbuatan lain atas
Harta Kekayaan yg diketahuinya/patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dg tujuan
menyembunyikan/menyamarkan asal usul Harta Kekayaan. pidana penjara
paling lama 20 th dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (Pasal 3
UU No. 8 Tahun 2010).
2. Tindak pidana pencucian uang pasif
Tindak pidana yg dikenakan kpd setiap org yg menerima/menguasai
penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan,
penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yg diketahuinya/patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1). Hal tsb dianggap juga sama dg melakukan pencucian
uang. Namun, dikecualikan bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan
kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam undang2 ini. Pidana penjara
paling lama 5 th dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (Pasal 5 UU
RI No. 8 Tahun 2010).
KATEGORI TIDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
(TPPU)
3. Tindak pidana pencucian uang aktif
Tindak pidana yg dikenakan pula bagi mereka yg menikmati hasil tindak
pidana pencucian uang yg dikenakan kpd setiap org yg menyembunyikan /
menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak2, atau
kepemilikan yg sebenarnya atas Harta Kekayaan yg diketahuinya / patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1). Hal ini pun dianggap sama dg melakukan pencucian uang.
Pidana penjara paling lama 20 th dan denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (Pasal 4 UU No. 8 Th 2010).
PERAN MASYARAKAT DALAM
TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
Peran masy berupa pemberian data dan informasi kepada Pihak Pelapor
ketika melakukan hubungan usaha dg Pihak Pelapor, sekurang2nya meliputi:
identitas diri, sumber dana dan tujuan transaksi dg mengisi formulir yg
disediakan oleh Pihak Pelapor dan melampirkan dokumen pendukungnya.
Masy juga dapat berperan aktif dalam memberikan informasi kepada aparat
penegak hukum yang berwenang atau Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi (PPATK) apabila mengetahui adanya perbuatan yang berindikasi
pencucian uang.
Pihak Pelapor meliputi penyedia jasa keuangan dan penyedia barang/jasa
lainnya. Penyedia jasa keuangan meliputi: bank, perusahaan pembiayaan,
perusahaan asuransi, perusahaan efek, dsb. Penyedia barang/jasa lainnya
meliputi: perusahaan properti/agen properti; pedagang kendaraan bermotor;
pedagang permata dan perhiasan/logam mulia
PERAN PUSAT PELAPORAN
DAN ANALISIS TRANSAKSI (PPATK)

1. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana


Pencucian Uang.

2. Pengelolaan data dan informasi.

3. Pengawasan kepatuhan Pihak Pelapor.

4. Analisis/pemeriksaan laporan dan informasi Transaksi


Keuangan yang berindikasi TPPU dan TP lain.
MEMBANGUN KESADARAN ANTI
TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

1. Meningkatkan integritas dan stabilitas sistem


keuangan dan perekonomian nasional.

2. Menurunkan angka kriminalitas melalui pendekatan


“follow the money”, dg tujuan dapat mengejar hasil
kejahatan; menghubungkan kejahatan dengan pelaku
intelektual; menembus kerahasiaan bank; menjerat
pihak2 yg terlibat dalam menyembunyikan hasil
kejahatan; dsb.
5. PROXY WAR
PERANG DIMANA
SALAH SATU PIHAK
MENGGUNAKAN
PIHAK KETIGA ATAU
KELOMPOK LAIN
UTK BERPERANG
MELALUI BERBAGAI
ASPEK(IPOLEKSOSBUD)
DANASPEK LAINYA
38 38
SEJARAH PROXY WAR DI INDONESIA

Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya membentang dari Kamboja,


Thailand Selatan, hingga Semenanjung Malaya dimana
menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, Selat Sunda, Laut
Jawa, Selat Karimata bahkan sampai Laut Cina Selatan.
Sedangkan kekuasaan Kerajaan Majapahit membentang dari
Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Papua serta
Timor Timur. Kekuasaan kedua kerajaan tsb sangat dominan di
wilayan Asia Tenggara. Kedua kerajaan tsb runtuh bukan
karena adanya invasi asing, namun karena perebutan
kekuasaan yg berujung pada perpecahan yg berakibat pada
pelemahan.
SEJARAH PROXY WAR DI INDONESIA
Melihat kondisi saat ini, setelah NKRI terbentuk maka negara kita
dihadapkan pada kondisi yg tak jauh berbeda. Ketika perkembangan
teknologi di dunia melaju sangat cepat, kemudian ketersediaan SDA
mulai menipis, serta adanya tuntutan kepentingan kelompok telah
menciptakan perang jenis baru, diantaranya adalah proxy war.
Di era globalisasi ini hanya negara2 adikuasa yg mampu menjadi
peran utamanya dg memanfaatkan negara2 kecil sbg obyek
permainan dunia (proxy war) dg mengeksploitasi SDA-nya bahkan
sampai dg ideologinya dg menanamkan paham radikalisme,
liberalisme, globalisme, dsb.
Dalam kasus lepasnya provinsi Timor Timur lewat referendum,
Indonesia sebelumnya sudah diserang secara diplomatik dg
berbagai isu pelanggaran HAM oleh berbagai lembaga non-
pemerintah internasional, serta sekutu2nya di dalam negeri.
Berbagai pemberitaan media asing sangat memojokkan posisi
Indonesia.
MEMBANGUN KESADARAN ANTI PROXY WAR

Membangun Kesadaran Anti-Proxy dg mengedepankan


Kesadaran Bela Negara melalui pengamalan nilai Pancasila,
yaitu: Nilai Ketuhanan, Toleransi, Gotong Royong,
Demokratis, dan Keadilan.
6. MASS COMMUNICATION CRIME
(CYBER CRIME, HATE SPEECH, DAN HOAX)
CYBER CRIME

Cyber crime merupakan bentuk kejahatan yg terjadi dan


beroperasi di dunia maya dg menggunakan komputer, jaringan
komputer dan internet. Pelakunya pada umumnya menguasai
teknik komputer, algoritma, pemrograman dsb, shg mereka
mampu menganalisa sebuah sistem dan mencari celah agar
bisa masuk, merusak atau mencuri data atau aktivitas
kejahatan lainnya. Jenis2 cyber crime: Unauthorized Access,
Illegal Contents, Penyebaran virus, Cyber Espionage,
Sabotage, Carding, Hacking dan Cracker, dsb.
HATE SPEECH

Hate speech atau ujaran kebencian dalam bentuk provokasi,


hinaan/hasutan yg disampaikan oleh individu/kelompok di muka
umum/di ruang publik merupakan salah satu bentuk kejahatan
dalam komunikasi massa.

Sasaran hate speech mengarah pada isu2 sempit seperti: suku


bangsa, ras, agama, etnik, orientasi seksual, hingga gender.
HATE SPEECH

Hoax adalah berita atau pesan yg isinya tidak dapat


dipertangung jawabkan/bohong/palsu, baik dari segi sumber
maupun isi. Sifatnya lebih banyak mengadu domba kelompok2
yg menjadi sasaran dg isi pemberitaan yg tidak benar. Pelaku
hoax dapat dikategorikan 2 jenis, yi pelaku aktif dan pasif.
Pelaku aktif melalukan atau menyebarkan berita palsu secara
aktif membuat berita palsu dan sengaja menyebarkan informasi
yang salah mengenai suatu hal kepada publik. Sedangkan
pelaku pasif adalah individu/kelompok yg secara tidak sengaja
menyebarkan berita palsu tanpa memahami isi/terlibat dalam
pembuatannya.
C. TEKNIK ANALISIS ISU
BEBERAPA TEKNIK ANALISIS ISU
 Memilih masalah prioritas al.
 AKPK
 USG
 Menganalisis penyebab masalah al.
 Fishbone diagram
 Causal map.
 Pohon masalah.
 Identifikasi alternatif pemecahan masalah al.
 Analisis Medan kekuatan
 Pohon Alternatif
 SWOT Analisis
 Pemilihan alternatif al.
 Cost Benefit Analysis.
 Teori Tapisan.
PENGENALAN TENTANG ISU

ISU ISU BERASAL DARI


SUBSTANSI DAN
IMPLIKASINYA BERKAITAN
DENGAN TEMA YANG
TERJADI, SEDANG DALAM
MASALAH YANG PROSES, SEDANG HANGAT
DIKEDEPANKAN. DIBICARAKAN DI
MASYARAKAT ATAU
DIPERKIRAKAN AKAN
MUNCUL DALAM WAKTU
DEKAT
RUMUSAN ISU AKTUAL

 MERUPAKAN KONDISI NEGATIF/ PERNYATAAN


NEGATIF
 TERDIRI DARI FOKUS/ SUBYEK DAN
KETERANGAN
 TERDIRI DARI KATA BENDA DANKATA SIFAT
ATAU YANG MENERANGKAN DAN YANG
DITERANGKAN
TINGGINYA MASIH RENDAHNYA BELUM EFEKTIFNYA
PEMANFAATAN PENGELOLAAN
TINGKAT
PELABUHAN PETI POTENSI WISATA
KERUSAKAN KEMAS UNTUK
LINGKUNGAN DI ALAM OLEH DINAS
BONGKAR MUAT
KAB. GN. KIDUL PARIWISATA KAB.
BARANG OLEH
PENGUSAHA DI KAB. KULON PROGO
BANTUL

CONTOH CONTOH CONTOH


1) TEKNIK ANALISIS ISU UNTUK MEMILIH
PRIORITAS
AKPK
 Aktual artinya isu tersebut benar-benar terjadi dan sedang
hangat dibicarakan dalam masyarakat. Problematik dimensi
masalah yang kompleks, sehingga perlu dicarikan segera
solusinya secara

 Kekhalayakan artinya Isu tersebut menyangkut hajat hidup


orang banyak.

 Problematik artinya Isu tersebut memilikikomperehensif, dan

 Kelayakan artinya Isu tersebut masuk akal, realistis, relevan,


dan dapat dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.
KRITERIA ISU AKTUAL
SEDANG TERJADI, DALAM PROSES,
AKTUAL/ TERJADI/AKAN TERJADI SEDANG HANGAT DIBICARAKAN, AKAN TERJADI
DALAM WAKTU DEKAT

KEKHALAYAKAN MENYANGKUT ORANG BANYAK/


PELANGGAN / MASYARAKAT

MENYIMPANG DARI HARAPAN/


PROBLEMATIK
KETENTUAN/ STANDAR DAN HARUS DICARI
PENYEBAB DAN PEMECAHANNYA

LOGIS, PANTAS, REALISTIK, SESUAI DENGAN


KELAYAKAN TUGAS, HAK, KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB
ANALISIS AKPK

NO ISU - ISU ANALISIS TN


A K P K
1
2
3

Menggunakan teknik tapisan dengan menetapkan rentang


penilaian (1-5) pada kriteria; Aktual, Kekhalayakan,
Problematik, dan Kelayakan
USG

N ISU AKTUAL U S G TN
O
1
2
3

Indek Skala LIKERT: 1-5;


Sangat Penting, Penting, Cukup, Kurang, Sangat Kurang.
Atau;
Sangat besar, besar, sedang, kecil, sangat kecil
USG
Kriteria
Masalah
U (GW) S (DS) G (TB) Jml
1 Masalah I
2 Masalah II
dst Masalah III

Keterangan
• U = Urgency (GW = Kegawatan): besarnya dampak yang timbul atas
keselamatan jiwa manusia, uang, produksi, reputasi.
• S = Seriousness (DS = Mendesak): banyaknya waktu yg tersedia untuk
penanganan suatu masalah
• G = Growth = TB = Pertumbuhan): kecenderungan meningkat atau menurun

 Ukuran: kualitatif/kuantitatif

• Kualitatif : T ; S ; R • Kuantitatif (skala/skor): 1 - 5


2) TEKNIK ANALISIS ISU UNTUK
MENGANALISIS PENYEBAB MASALAH
MIND MAPING
Mind mapping adalah
teknik pemanfaatan
keseluruhan otak dengan
menggunakan citra visual
dan prasarana grafis
lainnya untuk membentuk
kesan
(DePorter, 2009: 153).
Mind mapping merupakan
cara mencatat yang
mengakomodir cara kerja
otak secara natural
MANFAAT MIND MAPING
1. Fleksibel Anda dapat dengan mudah menambahkan catatan-catatan
baru di tempat yang sesuai dalam peta pikiran tanpa harus kebingungan
dan takut akan merusak catatan yang sudah rapi.
2. Dapat Memusatkan Perhatian Dengan peta pikiran, Anda tidak
perlu berpikir untuk menangkap setiap kata atau hubungan, sehingga
Anda dapat berkonsentrasi pada gagasan-gagasan intinya.
3. Meningkatkan Pemahaman Dengan peta pikiran, Anda dapat lebih
mudah mengingat materi pelajaran sekaligus dapat meningkatkan
pemahaman terhadap materi pelajaran tersebut. Karena melalui peta
pikiran, Anda dapat melihat kaitan-kaitan antar setiap gagasan.
4. Menyenangkan Imajinasi dan kreativitas Anda tidak terbatas
sehingga menjadikan pembuatan dan pembacaan ulang catatan menjadi
lebih menyenangkan.
7 LANGKAH MIND MAPING
1. Mulai dari Bagian Tengah
2. Menggunakan Gambar atau Foto
3. Menggunakan Warna
4. Menghubungkan Cabang-cabang
Utama ke Gambar Pusat
5. Membuat Garis Hubung yang
Melengkung
6. Menggunakan Satu Kata Kunci untuk
Setiap Garis
7. Menggunakan Gambar
Diagram Tulang Ikan (Fishbone)

MP2 MP1
MP4 MP3

AKIBAT
Isu Prioritas (HASIL)

MS4 MS3 MS2 MS1


Diagram Tulang Ikan (Fishbone)

BARANG/BAHAN PERALATAN UKURAN

Kualitas rendah Boros Tidak normal

Terlambat Sudah tua Jarang dipakai


AKIBAT
RENDAHNYA KAPABILITAS PEGAWAI (HASIL)

Gelap Kurang Disiplin Biaya tdk pasti

Kurang nyaman Banyak absen Prosedur panjang

Panas Tidak terampil Kurang data/info

Tidak ada diklat

LINGKUNGAN SUMBER DAYA MANUSIA METODA


4
Akibat

Sebab
a b c d

a b c d

Narasi semua item di atas dengan dukungan data kualitatif/kuantitatif


(Pernyataan negatif)

Kualitas hasil diklat


blm optimal

Program diklat
blm efektif

Sarana blm Kualitas wi Kurikulum Lingkungan


memadai rendah blm sesuai diklat krg
mendukung

Penguasaan Kemampuan Perenc. Motivasi Wi


materi pengelolaan Mengajar kurang
kurang kls kurang kurang
Sebab 1 MODEL
CAUSAL MAP

Sebab 1 Sebab 1

ISU
PRIORITAS

Sebab 1

Sebab 2 Sebab 2

Sebab 2
Sebab 2
Sebab 1 MODEL
KURANGNYA
SARANA CAUSAL MAP
PENDUKUNG UNTUK
RIKSUS
Sebab 1 Sebab 1
ADANYA BELUM
BELUM ADANYA
PERBEDAAN OPTIMALNYA
PROSEDUR KERJA
PERSEPSI ANTARA PENANGANAN
YG BAKU UNTUK
BPKP DENGAN SEMUA SURAT
TIM SATGAS
KEJAKSAAN PENGADUAN
RIKSUS
DARI MASY.

Sebab 1
BELUM
ADANYA TENAGA TERBATASNYA
STANDAR PEMERIKSA TENAGA
WAKTU KURANG PEMERIKSA
MENDUKUNG KHUSUS
Sebab 2
Sebab 2
SEBAGIAN
KURANGNYA MINAT
PEMERIKSA BELUM
PEMERIKSA UNTUK
MENDAPAT DIKLAT
MELAKSANAKAN
Sebab 2 PENYELIDIKAN
RIKSUS Sebab 2
3) TEKNIK ANALISIS ISU UNTUK
MENGIDENTIFIKASI ALTERNATIF
PEMECAHAN MASALAH
 SWOT, digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengelompokkan faktor-faktor lingkungan
strategis ke dalam strengths (kekuatan),
weaknesses (kelemahan), Opportunities
(peluang), dan Threats (ancaman)
Identifikasi Faktor internal & Eksternal
Internal Eksternal
Kekuatan/Strength Peluang/Opportunity
(+) 1. ……………………………. 1. ……………………………….
2. ……………………………. 2. ……………………………….
(+) 3. ……………………………. 3. ………………………………..
4. ……………………………. 4. ………………………………..
(+) 5. ……………………………. 5. ………………………………..

Kelemahan/Weakness Ancaman/Threat
(-) 1. …………………………….. 1. …………………………………
2. …………………………….. 2. …………………………………
(-) 3. …………….………………. 3. …………………………………
4. …………………………….. 4. …………………………………
(-) 5. …………………………….. 5. …………………………………
Bagian TU Bapesital

Identifikasi Faktor internal & Eksternal


Internal Eksternal
Kekuatan/Strength Peluang/Opportunity
(+) 1. Tersedia tenaga pelatih 1. Ada peg. Berbagai unit siap
yang profesional latihan SIM
(+) 2. Ada program pelatihan 2. Banyak tawaran Diklat TI.
yang pratis 3. Ada keinginan berbagai unit
(+) 3. Tersedia workshop untuk membangun SIM
Kelemahan/Weakness Ancaman/Threat
(-) 1. Tugas Sitel kurang 1. Adaptasi perkembangan TI
menarik lambat
(-) 2. Peg. Berpendidikan TI 2. Tawaran swasta lebih
terbatas menarik
(-) 3. Budaya TI belum mantap 3. Konsep social engineering
belum mantap
Matriks SWOT

Kekuatan Kelemahan
Faktor Internal Susun daftar (ranking) Susun daftar (ranking)
1. ……………………… 1. …………………………
2. ……………………… 2. …………………………
3. ……………………… 3. …………………………
Faktor Eksternal
Peluang Asumsi Stratejik SO Asumsi Stratejik WO
Susun daftar (ranking) Pakai kekuatan untuk Tanggulangi kelemahan dgn
1. ……………………… manfaatkan peluang memanfaatkan peluang
2. ……………………… 1. ………………………… 1.………………………………
3. ……………………… 2. ………………………… 2.………………………………
3. ………………………… 3.………………………………
Ancaman Asumsi Stratejik ST Asumsi Stratejik WT
Susun daftar (ranking) Pakai kekuatan untuk Perkecil kelemahan & hindari
1. ……………………… menghadapi tantangan tantangan
2. ……………………… 1.…………………………… 1. ………………………………
3. ……………………… 2.…………………………… 2. ………………………………
3.…………………………… 3. ………………………………
Matriks SWOT

Kekuatan Kelemahan
Faktor Internal Susun daftar (ranking) Susun daftar (ranking)
1. Ada program pelatihan 1. Tugas Sitel kurang menarik
TI yg praktis 2. Peg. berpendidikan TI
2. Tersedia workshop TI terbatas
Faktor Eksternal
Peluang Stratejik SO Stratejik WO
Susun daftar (ranking) 1. Kembangkan Prog. SIM 1. Susun jabatan fungs.
1.Ada keinginan bersama 2. Kembangkan kompetensi Pranata komputer
membangun SIM SIM terpadu 2. Tingkatkan keterampilan TI
2.Banyak tawaran Diklat
TI
Ancaman Stratejik ST Stratejik WT
Susun daftar (ranking) 1. Bentuk gugus inovasi 1.Tingkatkan formum kajian
1. Adaptasi perkem- prog. TI terapan TI
bangan TI terlambat. 2. Kembangkan social 2.Mantapkan budaya TI
2. Konsep social engi engineering.
neering belum mantap
KEKUATAN PENDORONG DAN PENGHAMBAT

No Faktor Pendorong No Faktor Penghambat


Kekuatan Kelemahan
D1 H1
D2 H2
D3 H3
Peluang Tantangan
D4 H4
D5 H5
D6 H6
KEKUATAN PENDORONG DAN PENGHAMBAT
Peningkatan pelayanan angkutan bus
No Faktor Pendorong No Faktor Penghambat

Kekuatan Kelemahan
D1 Ada kewenangan kendali H1 Sarana operasional terbatas
kan bus di terminal & jalan
D2 Lampu LL berfungai H2 Pengendalian Terminal lemah

D3 Pengatur LL cukup H3 Petugas LLJ kurangkonsisten


Peluang Tantangan

D4 Pengguna jasa angkutan bus H4 Disilin pengguna jalan rendah


tinggi
D5 Ankutan bus cukup banyak H5 Jalan dipakai PKL

D6 Trayek LL bertambah H6 Banyak titik rawan macet


4) TEKNIK ANALISIS ISU UNTUK MEMILIH
ALTERNATIF
Prioritas Alternatif Kegiatan
Tabel: Matriks Teori Tapisan
TAPISAN
Alternatif Efektivitas Kemudahan Biaya Total
Alternatif A
Alternatif B
Alternatif C

Prioritas Alternatif Kegiatan

Jangka pendek, jangka Menengah, Jangka Panjang


Ngerjakan tugas yang
diminta Pak Pandita
dulu yuk…
TUGAS KELOMPOK

• PESERTA BEKERJA BERKELOMPOK.

• SEBUTKAN 3 ISU UTAMA YANG DISERTAKAN BUKTI


PENDUKUNG (DATA/ FOTO/PERNYATAAN
PROFESIONAL).
• PILIH SALAH SATU DAR TIGA ISU UTAMA DENGAN
MENGGUNAKAN AKPK/USG.
• URAIKAN PENYEBAB MASALAH DARI ISU UTAMA
YANG TERPILIH DENGAN MENGGUNAKAN
FISHBONE/MIND MAP/POHON MASALAH.

Anda mungkin juga menyukai