Anda di halaman 1dari 36

Asuhan Keperawatan pada

Pasien dengan Systemic Lupus


Erythematosus

Kelompok 9:
Febi Ambar K. N.
Na’mah Sholihah M.
Refa Nur Islamiati
Widya Mayang Sari

2 Regular C
Anatomi Fisiologi Sistem Imun
Sistem Imun adalah sel – sel dan molekul yang
terlihat dalam perlindungan.

Fungsi Sistem Imun untuk melindungi tubuh dari


invasi penyebab penyakit; menghancurkan dan
menghilangkan mikroorganisme atau substansi
asing ( bakteri, parasit, jamur, virus serta tumor )
yang masuk ke dalam tubuh, menghilangkan
jaringan atau sel yang mati atau rusak ( debris sel )
untuk perbaikan jaringan, mengenali dan
menghilangkan sel yang abnormal.
SLE adalah penyakit yang ditandai dengan
produksi antibodi yang berlebihan terhadap
komponen inti sel dan menimbulkan
berbagai macam manifestasi klinis pada
organ.
Pada kondisi SLE, antibodi tersebut kehilangan
kemampuan untuk membedakan antara benda
asing dan jaringan tubuh sendiri.
Etiologi
Faktor genetik

Faktor humoral
Infeksi
Zat kimia dan racun
Faktor lingkungan Merokok
Sinar matahari

Trauma psikis
Manifestasi Klinis
Patofisiologi

Kerusakan jaringan

Nyeri
Pemeriksaan Diagnostik
• Penghitungan sel darah
Penderita lupus dapat mengalami anemia sehingga
dapat diketahui melalui pemeriksaan sel darah
lengkap.

• Analisis urine.
Urine pada penderita lupus dapat mengalami
kenaikan kandungan protein dan sel darah merah
Lanjutan
• Pemeriksaan ANA (antinuclear antibody).
digunakan untuk memeriksa keberadaan sel
antibodi tertentu dalam darah dimana kebanyakan
pengidap SLE memilikinya

• Tes komplemen C3 dan C4.


Komplemen adalah senyawa dalam darah yang
membentuk sebagian sistem kekebalan tubuh

• Pemeriksaan imunologi.
Penatalaksanaan Medis
1. Terapi terdiri dari terapi suportif yaitu diet tinggi
kalori tinggi protein dan pemberian vitamin
2. Obat-obatan:
a. Nonsteroid anti inflamatori drugs {NSAIDS}
b. Korticosteroid
c. Antimalaria
Komplikasi
• Ginjal
Terjadi gagal ginjal sehingga penderita perlu menjalani
dialisa atau pencangkokkan ginjal.

• Sistem Saraf
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah
disfungsi mental yang sifatnya ringan, kejang, sindroma
otak organic dan sakit kepala.

• Penggumpalan Darah
Bisa terbentuk bekuan darah di dalam vena
maupun arteri, yang bisa menyebabkan stroke dan
emboli paru.
• Kardiovaskuler
Nyeri dada dan aritmia bisa terjadi sebagai akibat dari
keadaan tersebut.

• Paru-paru
Pada lupus bisa terjadi pleuritis dan efusi pleura

• Otot dan kerangka tubuh


Kematian jaringan pada tulang panggul dan bahu
sering merupakan penyebab dari nyeri di daerah jari
tangan, tangan, pergelangantangan dan lutut.

• Kulit
Ruam ini biasanya akan semakin memburuk jika terkena
sinar matahari.
Konsep Asuhan Keperawatan Pada
Pasien dengan SLE
Konsep asuhan keperawatan
• Pengkajian
1. Riwayat atau adanya faktor risiko. Meskipun SLE bukan
herediter, insiden kadang-kadang lebih tinggi di antara
individu dengan riwayat keluarga positif.

2. Kaji terhadap faktor yang mencetuskan eksaserbasi:


Kelelahan berlebihan , Pemajanan lama pada sinar
ultraviolet (sinar matahari lansgung), Pembedahan,
Obat tertentu seperti penicilin , sulfonamid, dan
kontrasepsi oral

3. Kaji perasaan pasien tentang kondisi dan dampak gaya


hidup
4. Pemeriksaan fisik
a. Ruam malar-ruam bentuk kupu-kupu melintang di
hidung dan pipi; mungkin unilateral atau bilateral
b. Pleuritis atau perikarditis
c. Peliartritis-sendi nyeri inflamasi yang migrasi dan
jarang mengakibatkan deformitas sendi
d. fotosensitif-terjadi ruam bila terpajan pada sinar
matahari terus menerus
e. Ruam diskoid-bercak merah, ruam kering pada area
yang terpajan pada matahari
f. Perubahan sistem saraf pusat seperti kejang atau
psikosis
g. Ulserasi membran mukosa (mulut, hidung, dan
vagina)
h. Abnormalitas hematologis (anemia, trombositopenia,
leukopenia)
i. VDRI positif palsu (tes serologis untuk sifilis)
j. Peningkatan antibodi antinuklear (ANA)
k. Proteinuria, serpihan seluler, atau pus tanpa
bakteriuria ditunjukan oleh urinalisis
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi sendi sekunder
terhadap SLE.
2. Gangguan konsep diri berhubungan dengan
perubahan gambaran diri sekunder terhadap efek
samping steroid dan ruam sekunder terhadap lupus.
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan komplikasi
sekunder terhadap SLE : anemia, pleuritis, perikarditis.
4. Resiko tinggi terhadap perubahan penatalaksanaan
pemeliharaan di rumah berhubungan dengan
pengetahuan tentang kondisi, rencana tindakan,
dan perawatan diri pencegahan dan aktifitas
pemeliharaan.
Intervensi Keperawatan

• Diagnosa Keperawatan I: Nyeri


• Tujuan: Pasien dapat mendemonstrasikan hilang
dari ketidaknyamanan
• Kriteria Hasil :
Menyangkal nyeri melakukan aktivitas tambah
merintih atau wajah meringis.
Intervensi Rasional

1. Kaji Keluhan Nyeri: Pencetus, catat lokasi, 1. Nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya
karakteristik, dan intensitas (skala nyeri 1-10). keterlibatan jaringan/kerusakan tetapi, biasanya paling
2. Tutup luka sesegera mungkin kecuali perawatan luka berat selama penggantian balutan dan debridemen.
bakar metode pemajanan pada udara terbuka. 2. Suhu berubah dan gerakan udara dapat menyebabkan
3. Pertahankan suhu lingkungan nyaman, berikan lampu nyeri hebat pada pemajanan ujung saraf.
penghangat, penutup tubuh hangat. 3. Pengaturan suhu dapat hilang karena luka bakar mayor.
4. Lakukan penggantian balutan dan debridemen setelah Sumber panas eksternal perlu untuk mencegah
pasien di beri obat dan/atau pada hidroterapi. menggigil.
5. Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri. 4. Pengaturan suhu dapat hilang karena luka bakar mayor.
6. Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contoh Sumber panas eksternal perlu untuk mencegah
relaksasi progresif, napas dalam, bimbingan imajinasi menggigil.
dan visualisasi. 5. Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan
7. Berikan aktivitas terapeutik tepat untuk usia/kondisi dapat meningkatkan mekanisme koping.
8. Berikan analgesic sesuai indikasi. 6. Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan
relaksasi dan meningkatkan rasa control, yang dapat
menurunkan ketergantungan farmakologis.
7. Membantu mengurangi konsentrasi nyeri yang di alami
dan memfokuskan kembali perhatian.
8. Membantu mengurangi nyeri.
• Diagnosa Keperawatan II: Gangguan konsep diri
• Tujuan: Pasien dapat mendemonstrasikan
penerimaan diri pada situasi ini.
• Kriteria hasil:
Mengungkapkan penerimaan diri,
Rencana realistis untuk menerima keterbatasan
karena kondisi
Intervensi Rasional

1. Izinkan pasien mengungkapkan perasaan. Bila 1. Mengekspresikan perasaan membantu


masalah yang diekspresikan tentang efek samping memudahkan koping. Mengetahui apa yang
steroid, biarkan pasien mengetahui bahwa diperkirakan dari tindakan yang di programkan
penampilan moonface dan alopecia membantu mengurangi ansietas.
diminimalkan dengan penilaian dosis oleh dokter. 2. Sinar matahari menambahkan lesi diskoid
Juga biarkan pasien mengetahui perubahan ini
tidak permanen dan berkurang setelah obat
dihentikan.

2. Berikan instruksi untuk meminimalkan lesi kulit:


a. Hindari pemajanan lama pada sinar matahari
langsung diantara pk 10 dan pk 16 (sinar UV paling
kuat selama waktu ini)
b. Gunakan lengan panjang dan topi lebar bila
terpajan sinar matahari
c. Gunakan losion tabir surya dengan perlindungan
tinggi direntang dari 15 sampai lebih.
Memungkinkan 30 menit untuk losion terabsorbsi
sebelum berenang. Ulangi setelah berenang
• Diagnosa Keperawatan III: Intoleransi aktivitas
• Tujuan: Mendemonstrasikan peningkat toleransi
terhadap aktivitas
• Kriteria hasil:
– Keluhan kelelahan dan sesak nafas berkurang
pada aktivitas
– Tidak ada anemia dalam pemeriksaan
laboratorium
– Paru bersih
Intervensi Rasional

1. Evaluasi rutinitas harian pasien. Bantu 1. Istirahat membantu menyimpan energi tubuh.
perencanaan jadwal setiap hari untuk aktivitas Keseimbangan aktivitas fisik pada istirahat
yang meliputi periode istirahat sering membantu mengontrol kelelahan dan
peningkatan ketahanan.
2. Anjurkan pasien untuk menggunakan obat
yang diresepkan untuk anemia dan 2. Ketidakadekuatan suplai SDM menambah
menyimpan perjanjian evaluasi untuk anemia dan kelelahan. JDL secara periodik
pemeriksaan darah untuk memonitor efek dilakukan untuk mengevaluasi keefektifan
terapeutik dari obat obat.

3. Anjurkan pasien untuk memonitor masukan 3. Makanan tinggi pada besi diperlukan karena
diet tipe makanan dan kuantitas yang besi penting untuk eritropoesis. Penyuluhan
dikonsumsi. Mungkinkan pasien mencatat kesehatan memainkan peran penting dalam
berat badan setiap minggu. Bila masukan diet membantu mengembangkan kepatuhan
tidak adekuat, rujuk pasien pada ahli diet pasien.
untuk bantuan rencana makan untuk
mengatasi anemia.
• Diagnosa Keperawatan IV: Risiko tinggi terhadap
perubahan penatalaksanaan pemeliharaan di
rumah
• Tujuan: Mendemonstrasikan keinginan memenuhi
tindakan pemeliharaan dan pencegahan
perawatan diri
• Kriteria hasil:
Mengungkapkan rencana realistis untuk melakukan
tindakan pencegahan dan pemeliharaan ke
dalam gaya hidup yang baru
Intervensi Rasional

1. Berikan informasi tentang sifat kondisi tekanan 1. Kepatuhan pada tindakan yang
tindakan dan pengobatan untuk SLE dan diprogramkan ditingkatkan bila pasien
bahwa tindakan medis ditujukan pada memahami hubungan antara kondisi dan
pengontrolan ketidaknyamanan dan program tindakan
perbaikan fungsi sendi
2. Informasi tentang semua aspek SLE didapat
2. Rujuk pasien dan orang terdekat pada dari kelompok pendukung
organisasi kelompok penderita yang
berhubungan 3. Instruksi verbal dapat dengan mudah
dilupakan
3. Berikan instruksi tertulis untuk perawatan diri
dan informasi tentang obat yang diresepkan
termasuk nama, dosis, jadwal, tujuan, dan efek
samping yang memerlukan perhatian medis
Kasus:
Seorang perempuan bernama Ny. Y usia 35 tahun
datang ke UGD dengan keluhan merasa tidak
nyaman dengan kulit memerah pada daerah pipi
dan leher, awalnya kecil namun setelah satu
minggu ukuran tersebut bertambah lebar, demam,
nyeri, dan terasa kaku seluruh persendian terutama
pagi hari dan kurang nafsu makan. Pada
pemeriksaan fisik diperoleh ruam pada pipi dengan
batas tegas, peradangan pada siku, lesi pada
daerah leher, malaise. Klien mengatakan terdapat
beberapa sariawan pada mukosa mulut. Klien
ketika bertemu dengan orang lain selalu menunduk
dan menutupi wajahnya dengan masker. Tekanan
darah 110/80 mmHg, RR 20x/menit, nadi 90x/menit,
suhu 38,5ºC. Hb 11gr/dl, WBC 15.000/mm3.
Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Ny. Y
Usia : 35 tahun
Alamat : Surabaya
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Status : menikah

2. Keluhan utama
Klien mengeluhkan nyeri pada sendi serta kekakuan kaki
dan tangan, saat beraktivitas klien merasa mudah lelah,
klien merasa demam. Pipi dan leher memerah serta
nyeri pada bagian yang memerah.
3. Riwayat penyakit 4. Riwayat penyakit dahulu
sekarang Tidak ada
Klien datang ke UGD 5. Riwayat penyakit keluarga
dengan keluhan merasa Tidak ada
tidak nyaman dengan
kulit memerah pada
daerah pipi dan leher, 6. Pemeriksaan fisik
awalnya lebarnya kecil TTV : TD : 110/80 mmHg
namun setelah satu RR : 20x/menit
minggu lebarnya S : 38,5
bertambah besar, N : 90x/menit
demam, nyeri dan terasa
kaku seluruh persendian
utamanya pada pagi Pemeriksaan fisik per sistem
hari dan berkurang nafsu • B1 (Breath)
makan karena ada RR 20x/menit, napas
sariawan. dalam terlihat seperti
menahan nyeri
• B2 (Blood) • B4 (Bladder)
TD 110/80 mmHg Tidak ada
Inflamasi pada arteriole
terminalis yang menimbulkan
lesi papuler, eritematous dan • B5 (Bowel)
purpura di ujung jari kaki, Ulkus oral dapat
tangan, siku serta permukaan mengenai mukosa pipi
ekstensor lengan bawah atau atau palatum durum.
sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
• B6 (Bone)
• B3 (Brain)
Pembengkakan sendi,
nyeri tekan dan rasa nyeri
Gangguan psikologis. Klien
ketika bertemu dengan ketika bergerak, rasa kaku
orang lain selalu menunduk pada pagi hari. Lesi akut
dan menutupi wajahnya pada kulit yang terdiri
dengan masker. Terlihat atas ruam berbentuk
bahwa pasien merasa kupu-kupu yang
rendah diri akan melintang pangkal
keadaannya. hidung serta pipi.

7. Pemeriksaan penunjang
a. Tes fluorensi untuk menentukan antinuclear
antobodi (ANA), positif dengan titer tinggi pada
98% penderita SLE.
b. Pemeriksaan DMA double stranded lebih spesifik
untuk menentukan SLE.
c. Bila titer antidobel stranded tinggi, spesifik untuk
diagnose SLE.
d. Tes sifilis bisa positif paslu pada pemeriksaan SLE.
e. Pemeriksaan zat antifosfolipid antigen (seperti
antikardiolipin antibody) berhubungan untuk
mennetukan adanya thrombosis pada pembuluh
arteri atau pembuluh vena atau pada abortus
spontan, bayi meninggal dalam kandungan, dan
trombositopeni.
Analisis Data
Data Etiologi Masalah Keperawatan

Ds: Genetic, lingkungan, Nyeri


Nyeri pada sendi dan hormone, obat tertentu
bagian yang mengalami ↓
kemerahan Produksi autoimun
Do: berlebih
Klien terlihat menahan ↓
nyeri Autoimun menyerang
TD 110/80 mmHg organ tubuh
RR 20x/menit ↓
S 38,5 SLE
N 90x/menit ↓
Kerusakan jaringan

Nyeri kronis
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketidakmampuan
fisik-psikososial kronis (metastase kanker, injuri neurologis,
arthritis)
2. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
inflamasi
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
kronis pada sendi
4. Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik yang
buruk karena suatu penyakit
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan deficit
imunologi
6. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
pada sendi
7. Gangguan body image berhubungan dengan
penyakit kronis
Intervensi Kep.
Dx: Nyeri kronis berhubungan dengan ketidakmampuan fisik-psikososial kronis
(metastase kanker, injuri neurologis, arthritis)

NOC NIC

1. Comfort level Pain management


2. Pain control 1.Monitor kapuasan pasien terhadap
3. Pain level manajemen nyeri
Kriteria hasil: 2.Tingkatkan istirahat dan tidur yang
1. Tidak ada gangguan tidur adekuat
2. Tidak ada gangguan konsetrasi 3.Kelola antianalgesik
3. Tiadak ada gangguan hubungan 4.Jelaskan pada klien penyebab nyeri
interpersonal 5.Lakukan tehnik nonfarmakologis
4. Tidak ada ekspresi menahan nyeri dan (relaksasi, massage punggung)
ungkapan secara verbal
5. Tidak ada tegangan otot
SELAMAT MENYAKSIKAN