Anda di halaman 1dari 82

INTERAKSI OBAT

Interaksi Obat
• Interaksi obat adalah perubahan efek obat
ketika dikonsumsi bersamaan dengan obat
lain atau dengan makanan dan minuman
tertentu.
• Interaksi obat dapat menyebabkan obat
menjadi kurang efektif, meningkatkan reaksi
kandungan obat, atau menyebabkan efek
samping yang tidak terduga. Pada keadaan
tertentu, efek interaksi obat bahkan dapat
membahayakan nyawa
INTERAKSI OBAT : efek farmakoterapi yang timbul akibat terjadinya
reaksi obat dengan substansi lain ( obat, makanan dll
).

MERUGIKAN / KEGAGALAN
FARMAKOTERAPI

MENGUNTUNGKAN
FARMAKOTERAPI

2
PENDAHULUAN
• Interaksi antar obat (obat resep maupun obat
bebas, makanan or alkohol)
• Akibat interaksi :
- Menguntungkan
Ex. 1.Penisilin - probenesidprobenesid
hambat sekresi penisilin di tubuli ginjal
2.Kombinasi obat antihipertensi,anti
kanker efektivitas& (-) efek samping
3.Kombinasi OATmperlambat
resistensi kuman
4.Efek toksik obat >< antidotnya
- Merugikan
• Polifarmasi  memudahkan interaksi obat 
efek samping
• Insiden sukar diperkirakan, karena :
• Akibat penting interaksi scr klinik:
- toksisitas Safety margin
- efektivitas obat sempit/indeks terapi rendah

Ex.Glikosida jantung, antikoagulan & obat2


sitostatik

Next
1. Dokumentasi (-)
2. Penget. Dokter (-) :
toksisitas  krn reaksi idiosinkrasi ?
efektivitas  krn penyakit b(+) parah?
Tll banyak obat yg b’interaksisulit ingat !
3. Keparahan/ kejadian interaksi dipengaruhi o/
variasi individu (lansia, peny. parah, ggl ginjal
or peny. hati parah, dosis besar, obat ditelan
bersama,dll)

Back
Faktor risiko
• 1) Pasien lanjut usia
• 2) Pasien yang minum lebih dari satu
macam obat
• 3) Pasien yang mempunyai ganguan fungsi
hati dan ginjal
• 4) Pasien dengan penyakit akut
• 5) Pasien dengan penyakit yang tidak stabil
6) Pasien yang mempunyai karakteristik
genetik tertentu
• 7) Pasien yang dirawat lebih dari satu dokter
• Suatu survey yang di laporkan pada tahun
1997 mengenai Polifarmasi pada penderita
yang dirawat di rumah sakit menunjukkan
bahwa insidens efek samping pada penderita
yang mendapat 0-5 macam obat adalah
3,5%, sedangkan yang mendapat 16-20
macam obat adalah 54%. Peningkatan
insidens efek samping yang jauh melebihi
Peningkatan jumlah obat yang di berikan
bersama ini diperkirakan akibat terjadinya
interaksi obat yang juga makin Meningkat
(Setiawati, 2003).
• Beberapa obat statin untuk menurunkan kolesterol, seperti Zocor
(simvastatin), Lipitor (atorvastatin), lovastatin, dan Pravachol
(pravastatin)
• Beberapa obat penurun tekanan darah, seperti Nifediac dan Afeditab
(keduanya termasuk kelas nifedipine); felodipine, nimodipine, dan
nisoldipine
• Beberapa obat penolakan transplantasi organ, seperti Sandimmune dan
Neoral (keduanya termasuk kelas siklosporin)
• Beberapa obat anti-kecemasan dan anti-depresi, seperti BuSpar
(buspirone) atau benzodiazepine, diazepam (Valium), alprazolam (Xanax)
• Beberapa obat anti-aritmia, seperti Cordarone dan Nexterone (keduanya
termasuk kelas amiodarone)
• Beberapa amfetamin, seperti dextroamphetamine dan levoamphetamine
(Dexedrine, Adderall)
• Beberapa antihistamin, seperti fexofenadine
• Obat untuk mengatasi disfungsi ereksi, seperti Viagra (sildenafil)
• Obat penghilang rasa sakit, seperti oxycodone dan acetaminophen
(paracetamol)
Tugas minggu depan
Carilah masing-masing 5 jurnal tetntang
interaksi obat dengan grapefruit!
*Jelaskan apa jenis obatnya!
*mekanisme terjadinya efek samping!
*Dampak akibat efek samping tersebut!
kerjakan pada selembar kertas
MEKANISME INTERAKSI

Inkompatibilitas/INTERAKSI
FARMASETIK

Interaksi Farmakokinetik

Interaksi Farmakodinamik

Next
Mekanisme Interaksi
Obat
A Mempengaruhi
Efek B

Interaksi Interaksi Interaksi


Farmasetika Farmakodinamik Farmakokinetika
ksi ini terjadi diluar tubuh (
Modifikasi efek Farmakologi obat Mempengaruhi konsentrasi
um obat di berikan) antara B tanpa mempengaruhi obat B yang mencapai situs
yang tidak bisa di campur
konsentrasinya di cairan jaringan aksi
(inkompatibel).
INTERAKSI FARMASETIK
• Tjd di luar tubuh (sblm obat diberikan) antara
obat yg tdk dpt dcampur  inaktivasi obat
Ex.
- Interaksi antar obat suntik
- Interaksi obat suntik-cairan infus

Jangan dicampur

Ex. Gentamisin (inaktif) + karbenisilin


Penisilin G (inaktif) + vit. C
Amfoterisin B + larutan ringerm’endap

Back
INTERAKSIOBATDANMAKANAN
Interaksi obat dan makanan terjadi bila makanan
mempengaruhi bahan dalam obat yang diminum
sehingga obat tidak dapat bekerja sebagimana
mestinya.
Interaksi ini dapat menyebakan efek yang berbeda-
beda, dari mulai peningkatan atau penurunan
efektifitas obat sampai efek samping.
Makanan dapat menunda, mengurangi atau
meningkatkan penyerapan obat.
Penyebab dapat terjadinya interaksi obat dengan maknan adalah
:
• Perubahan motilitas lambung dan usus,terutama
kecepatan pengosongan lambung dari saat masuknya makanan.
• Perubahan ph, sekresi asam serta produksi empedu.
• Perubahan suplai darah di daerah dimukosa salurancerna
• Dipengaruhinya proses transport aktif obat oleh makanan.
• Perubahan biotransformasi dan eliminasi
INTERAKSI FARMAKODINAMIK
 Interaksi pd obat yg bkerja pd sstm reseptor
samaefek aditif, sinergistik or antagonistik
 Interaksi penting di klinik, dpt dprediksi &
dhindarkanmekanisme & logika
1. Interaksi pd reseptor
2. Interaksi fisiologik
3. P’ubahan dlm keseimbangan cairan dan
elektrolit
4. Gangguan mekanisme uptake amin di
ujung saraf adrenergik
5. Interaksi dgn MAOI
INTERAKSI PADA RESEPTOR
• Antagonisme antara agonis dan antagonis/
bloker dr reseptor bsangkutan.
• Ex.
Reseptor opioid: morfin, petidin><
nalokson, nalorfin
R H2: histamin >< ranitidin, simetidin
Serotoninergik: serotonin >< fenotiazin,
siproheptadin
INTERAKSI FISIOLOGIK

interaksi pd sstm fisiologik yg sm or


respon (potensial atau antagonisme)
Ex.
Antihipertensi + diuretik  efek AH
Hipnotik/sedatif+antihistamin,antipsikotik,
antidepresidepresi SSP
P’UBAHAN KSEIMBANGAN…
m’ubah efek obat, tut. yg bkerja pd jantung,
transmisi neuromuskular dan ginjal
Ex.
Digitalis+diuretik  hipokalemia o/diuretik,
toksisitas digitalis
Antiaritmia (lidokain, fenitoin, kuinidin,
prokainamid) + diuretik  hipokalemia
o/diuretik, efek antiaritmia
• Gangguan uptake amin
Ex.antagonisasi efek hipotensif β bloker o/ obat
flu (efedrin, pseudoefedrin)
• Interaksi dgn MAOI
MAOI mhslkn akumulasi norepinefrin ∑ bsr di
ujung saraf adrenergik
MAOI+ amin simpatomimetik (ex. Efedrin,
pseudoefedrin), reserpin, metildopakrisis HT,
sakit kepala bdenyut hebat, kdg pdarahan
serebral

Back
INTERAKSIFARMAKODINAMIK
•Obat yang bekerja pada sistem
reseptor, tempat kerja atau sistem
fisiologik yang sama sehingga
terjadi efek yang aditif, sinergistik,
atau antagonistik, tanpa ada
perubahan kadar plasma ataupun
profil farmakokinetik lainnya.
INTERAKSI YANG MENYEBABKAN
EFEK YANG BERLWANAN
(ANTAGONIS)
Contoh interaksi obat pada reseptor yang
bersifat antagonistik misalnya: interaksi antara
β-bloker dengan agonis-β2 pada penderita
asma; interaksi
antara penghambat reseptor dopamin
(haloperidol, metoclo-pramid) dengan e
pada pasien Parkinson. levodop
a
INTERAKSIYANGMENYEBABKANEFEKADITIF
Interaksi Aditif adalah jumlah efek 2obat.
Kedua obat tersebut bisa bekerja pada reseptor yang sama atau reseptor yang
berbeda.

Contoh : Efek depresi SSPaditif disebabkan karena pemberian sedative, hypnotic,


dan opioid, bersama dengan konsumsi ethanol.
INTERAKSIYANGMENYEBABKANSINERGISTIK
Interaksi supra-aditif (sinergistik), yaitu hasil interaksi lebih besar daripada
jumlah kedua obat.

Contoh : Kombinasi antibiotik sulfonamide dengan dihydrofolic acid


reductase inhibitor berupa trimethoprim
POTENSIASI
Potensiasi, adalah efek obat yang ditingkatkan oleh obat kedua yang
tidak mempunyai efek.

The best example of this type of interaction is the therapeutic interaction of


β- lactamase inhibitors such as clavulanic acid with β-lactamase
susceptible penicillins. Clavulanic acid with amoxicillin in order to
overcome bacterial resistance to the antibiotic.
Interaksi
Farmakodinamika
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat-obat yang
mempunyai khasiat atau efek samping yang berlawanan. Interaksi
ini disebabkan oleh kompetisi pada reseptor yang sama, atau
terjadiantara obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologik yang
sama

 Efek Aditif
Efek
Obat A
=1
Efek
Obat
Efek
AB = 2
Obat B
=1
Interaksi
Farmakodinamika
 Efek Potensiasi
Efek
Obat A
=0
Efek
Obat
Efek
AB = 2
Obat B
=1
Interaksi
Farmakodinamika
 Efek Sinergisme
Efek Interaksi
Obat A
=1 farmakodinamik yang
Efek paling umum terjadi
Obat adalah sinergisme
Efek
AB = 3 antara dua obat yang
Obat B bekerja pada sistem,
=1
organ, sel atau enzim
yang sama dengan
efek farmakologi
yang sama.
Interaksi
Farmakodinamika
 Efek Antagonisme
Efek
Obat A
=1
Efek
Obat
Efek
AB = 0
Obat B
=1

Interaksi terjadi bila obat yang berinteraksi memiliki efek


farmakologi yang berlawanan sehingga mengakibatkan
pengurangan hasil yang diinginkan dari satu atau lebih obat.
Mekanisme Interaksi
Obat
• Interaksi ini penting karena secara klinis karena :

Indeks terapi obat B yang sempit (misalnya : pengurangan sedikit


saja efek akan menyebabkan kehilangan efikasi dan atau
peningkatan sedikit saja efek akan menyebabkan toksisitas)

Kurva dosis - respon curam (sehingga perubahan sedikit saja


konsentrasi plasma menyebabkan efek yang substansial)

Obat-obat yang mempunyai Indeks Terapi yang sempit (obat


antiepilepsi, obat-obat imunosupresan, obat anti trombotik) akan
menjadi masalah utama
Interaksi
Farmakokinetika

Absorpsi

Interaksi
Distribus
Metabolisme Farmakokinetik i

Ekskresi
INTERAKSI FARMAKOKINETIK

1. Interaksi dalam absorpsi di saluran


cerna
2. Interaksi dalam distribusi
3. Interaksi dalam metabolisme
4. Interaksi dalam ekskresi
INTERAKSIFARMAKOKINETIK
Interaksi dalam proses
farmakokinetik, yaitu absorpsi,
distribusi, metabolisme dan
ekskresi (ADME) dapat
meningkatkan ataupun
menurunkan kadar plasma obat.
(Pharmacotherapy a pathophysiology approach, 1997)
Pharmacokinetic drug interactions
1. Drug absorption 2. Drug distribution
Gastric motility Ratio of Blood flow to tissue
Gastric pH mass Competition of Protein
First Pass binding Body mass index
metabolism Adiposity
Hepatic blood flow

3. Drug metabolism
Induction of drug metabolism enzymes 4. Drug excretion
Inhibition of drug metabolism enzymes
Enhanced or diminished
diuresis Altered urinary pH

Handbook of Drug
Interaction, A.Wayne
Jones,2012)
• Interaksi Absorpsi
Interaksi dlm absorpsi di sal. cerna
1. Interaksi langsungobat diberikan dg
jarak waktu min. 2 jam
Ex. Tetrasiklin + ion Ca, Mg, Al dlm antasid
+ ion Ca dlm susu
+ ion Fe dlm preparat besi
 tbtk kelat yg tdk diabsorpsi ∑ absorpsi
tetrasiklin
2. Perubahan pH cairan sal. Cerna
Alkalis (ex. krn antasid) :
 kelarutan obat yang bersifat asam (ex.
aspirin)  mpcepat absorpsi
 m(-) klarutan obat basa (ex.tetrasiklin)
 m(-) pengrusakan obat yg tdk tahan asam
 bioavailabilitas(penisilin G&eritromisin)
 m(-) absorpsi Fe (diabsorsi plg baik jk cairan
lambung sangat asam)
3. P’ubahan waktu pengosongan lambung &
wkt. transit dalam usus (motilitas sal cerna)
• Usus halus t4 absorpsi utama, >cpt dr 1qws
lambung
• Wkt pengosongan
• lambung<<<(metoklopramid) kecepatan
absrps obat lain
• Jg sebaliknya (antikolinergik, antidepresi
trisiklik, AH, antasid, analgesik
narkotik)kecepatan absrps obat lain
Hny m’ubah wkt kdr puncak, bkn
bioavailabilitas, kec. levodopa&klorpromazin
• Waktu transit dlm ususbioavailabilitas or
• P’ubahan flora usus AB efektivitas anti
koagulan oral, efektivitas kontrasepsi oral
• Efek toksik pd sal. Cernath/ kronik dg as.
Mef, neomisin, kolkisin sindrom malabsorbsi
Interaksi
Farmakokinetika
• Ditandai dengan perubahan :

Kadar plasma darah

Area dibawah kurva (AUC)

Waktu Paro dan Onset Aksi


PROFIL FARMAKOKINETKA OBAT
Interaksi
Farmakokinetika
INTERAKSI PADA
PROSES ABSORPSI

ABSORPSI
OBAT : FARMASETIKA : bentuk sediaan; dll.
FISIKOKIMIA : pH; besar molekul; dll.

PASIEN : tempat terjadinya absorpsi : luas;


vaskularisasi dll.

CEPAT / KADAR MENINGKAT

OBAT + SUBST. lain ABSORPSI

LAMBAT / KADAR RENDAH

NUTRIENT
ABSORPSI CEPAT / KADAR MENINGKAT

MENGUNTUNGKAN : EFEK CEPAT TERLIHAT

MERUGIKAN : KADAR TINGGI DAPAT TOKSIS

ABSORPSI LAMBAT KADAR DLM


DARAH (Cmax, t max)

MERUGIKAN : EFEK TIDAK TAMPAK


KEGAGALAN FARMAKOTERAPI
MEKANISME INTERAKSI
ABSORBSI
GASTROINTESTINAL
Mekanisme interaksi yang melibatkan absorpsi
gastrointestinal dapat terjadi melalui beberapa cara:
(1)secara langsung, sebelum absorpsi;
(2)terjadi perubahan pH cairan gastrointestinal;
(3)penghambatan transport aktif gastrointestinal;
(4)adanya perubahan flora usus dan
(5)efek makanan
 Perubahan pH cairan gastrointestinal, misalny
peningkata pH karena adanya a
penghambat-H2,
n ataupun penghambat antasidpompa-
proton akan menurunkan absorpsi basa-basa a,
lemah (ex: ketokonazol, itrakonazol) dan akan
meningkatkan absorpsi obat-obat asam lemah
(ex: glibenklamid, glipizid, tolbutamid).
 Peningkat pH gastrointestinal
an cair a
an kan
menurunk absorpsi antibiotika
an golo
ngan
Penggunaan antibiotika berspektrum luas yang
mensupresi flora usus dapat menyebabkan
menurunnya konversi obat menjadi komponen aktif.

Makanan juga dapat menurunkan metabolisme


lintas pertama dari propranolol, metoprolol, dan
hidralazine sehingga bioavailabilitas obat-obat
tersebut meningkat, dan makanan dan
danazoberlemak meningkatkan absorpsi obat-obat
yang sukar larut dalam air seperti griseovulvin
INTERAKSI DLM DISTRIBUSI

1. Interaksi dlm ikatan protein plasma  tut.


pd px hipoalbuminemia, ggl ginjal, peny. hati
berat
2. Interaksi dlm ikatan jaringan
Ex. Digoksin berkompetisi dgn kuinidin
kadar plasma digoksin
Ex. Fenitoin-valproattoksisitas fenitoin
Warfarin-salisilat/as.mef/fenitoinpdarahan
DISTRIBUSI
Distribusi obat dipengaruhi oleh obat lain yang berkompetisi terhadap ikatan
dengan protein plasma. Misalnya, antibiotik sulfonamide dapat menggeser
methotrexate, phenytoin, sulfonylurea, dan warfarin dari ikatannya dengan
albumin. Sulfonamide, chloral hydrate, trichloracetic acid (metabolit chloral
hydrate), mengikat erat plasma albumin.
DISTRIBUSI
distribusi terjadi karena pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang
melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika:
(1) obat memiliki ikatan dengan protein plasma sebesar > 85%, volume
distribusi (Vd) yang kecil dan memiliki batas keamanan sempit; (2) obat
presipitan berikatan dengan albumin pada tempat ikatan (finding site) yang
sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk menempati dan
menjenuhkan binding-site nya [9]. Contohnya, fenilbutazon dapat menggeser
warfarin (ikatan protein 99%; Vd = 0,14 I/kg) dan tolbutamid (ikatan protein
96%, Vd = 0,12 I/kg) sehingga kadar plasma warfarin dan tolbutamid bebas
meningkat. Selain itu, fenilbutazon juga menghambat metabolisme warfarin
dan tolbutamid.
INTERAKSI
PROTEIN PLASMA
Obat yang bersifat asam terikat pada albumin plasma
Obat yang bersifat basa terikat pada asam alfa1-glikoprotein

Jumlah protein plasma terbatas  terjadi kompetisi obat yang bersifat basa
maupun asam untuk berikatan dengan protein yang sama.
Sehingga suatu obat dapat digeser dari ikatannya dengan protein oleh obat
lain 
peningkatan kadar obat bebas.
Obat-obat yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menggeser obat lain dari
ikatan dengan protein adalah asam salisilat, fenilbutazon, sulfonamid dan anti-
inflamasi nonsteroid.
KRITERIA OBAT PENDESAK (DISPLACER)

 Asam organik
 Afinitas terhadap albumin sangat kuat
 Harga Vd kecil (mendekati volume plasma)
 Kadar terapi dalam darah = 150mg/ml, BM:250
 Kadar dalam plasma mendekati atau lebih besar dari 0.06 mM
INTERAKSI DLM METABOLISME

1. Metabolisme obat dipercepatobat larut


lemak m’induksi sintesis enzim mikrosom
hati: fenobarbital, fenitoin, rifampisin,
karbamazepin, dll.
2. Metabolisme obat dihambateritromisin,
ketokonazol, kloramfenikol, simetidin
kadar plasma
3. Perubahan alir darah hepar (QH)obat yg
dimetab di hepar dg kapasitas tinggi,
clearance heparnya sgt dipengaruhi o/
p’ubahan QH
INTERAKSIMETABOLISME
Mekanisme interaksi dapat berupa
(1) penghambatan (inhibisi) metabolisme,
(2) induksi metabolisme,
(3) perubahan aliran darah hepatik.
Hambatan ataupun induksi enzim pada proses metabolisme obat
terutama berlaku terhadap obat-obat atau zat-zat yang merupakan
substrat enzim mikrosom hati sitokrom P450 (CYP). Beberapa
isoenzim CYP yang penting dalam metabolisme obat, antara lain:
CYP2D6 yang dikenal juga sebagai debrisoquin hidroksilase dan
merupakan isoenzim CYP pertama yang diketahui,
aktivitasnya dihambat oleh obat-obat seperti kuinidin, paroxetine,
terbinafine;
CYP3A merupakan enzim yang memetabolisme lebih dari 50% obat-
obat yang banyak digunakan dan terdapat selain di hati juga di usus
halus dan ginjal, antara lain dihambat oleh ketokonazol, itrakonazol,
eritromisin, klaritromisin, diltiazem, nefazodon;
CYP1A2 merupakan ezim pemetabolis penting di hati untuk teofilin,
kofein, klozapin dan R-warfarin, dihambat oleh obat-obat seperti
siprofloksasin, fluvoksamin
Interaksi inhibitor CYP dengan substratnya akan menyebabkan peningkatan
kadar plasma atau peningkatan bioavailabilitas sehingga memungkinkan
aktivitas substrat meningkat sampai terjadinya efek samping yang tidak
dikehendaki
Ex : Interaksi terfenadin, astemizol, cisapride (substrat CYP3A4/5) dengan
ketokonazol, itrakonazol, etitromisin, atau klaritromisin (inhibitor poten
CYP3A4/5) akan meningkatkan kadar substrat, yang menyebabkan toksisitas
berupa perpanjangan interval QT yang berakibat terjadinya aritmia ventrikel
(torsades de pointes) yang fatal (cardiac infarct).
Induktor enzim pemetabolis (CYP) akan meningkatkan sistensis enzim tersebut.
Interaksi induktor CYP dengan substratnya menyebabkan laju kecepatan
metabolisme obat (substrat) meningkat sehingga kadarnya menurun dan efikasi obat
akan menurun; atau sebaliknya, induksi CYP menyebabkan meningkatnya
pembentukan metabolit yang bersifat reaktif sehingga memungkinkan timbulnya
risiko toksik

Ex : Kontraseptik oral (hormon estradiol) dengan adanya induktor enzim


seperti rifampisin, deksametason, menyebabkan kadar estradiol menurun
sehingga efikasi kontraseptik oral menurun
Interaksi pada
proses METABOLISME

Peran metabolisme obat pada dasarnya obat aktif yang larut


dalam lemak diubah menjadi tidak aktif sehingga mudah
dikeluarkan dari tubuh.

Pegang peran : enzym cytochrome P-450.

Obat atau makanan/substansi lain :

-memacu kerja enzym ( enzym inducer )

-menghambat kerja enzym ( enzym inhibitor )


Makanan yang masuk golongan

Enzym inducer :

- Charbroiled food ( cyp 1A2 )


-Cigarette smoke ( cyp 1A2 )
-Ethanol ( cyp 2C9 ; cyp 2E1 )

Enzym inhibitor :

- grape fruit juice ( cyp 1A2 ; cyp 3A4 )


beberapa contoh
interaksi pada proses METABOLISME :

enzym inducer:
-asetaminofen (parasetamol) + charbroiled food
kadar asetaminofen dalam darah rendah.
- demikian juga pada perokok .

enzym inhibitor:
- Nifedipin + grapefruit juice kadar nifedipine
dalam darah tetap tinggi dan efeknya jauh lebih lama.
INTERAKSI DLM EKSKRESI
1. Ekskresi mll empedu & sirkulasi
enterohepatik
2. Sekresi tubuli ginjal : kompetisi obat-
metabolit obat u/ sstm transport aktif yg sama,
tut. obat asam&metabolit yg bsifat asam
obat A mhambat sekresi obat B ke tub.
ginjal clearance B , toksisitas
Ex. Probenesid + penisilin
3. Perubahan pH urin  p’ubahan clearance
ginjalth/ keracunan (salisilat/ fenobarbital-
antasid)
Back
Interaksi pada
proses ELIMINASI/ EKRESI.

Proses yang terjadi :


- transport aktif pada membran sel
- suasana pH diginjal.

Dampak : obat akan cepat diekresikan atau


akan diperlama ekresinya.

28
EKSKRESI
Mekanisme interaksi obat dapat terjadi pada proses ekskresi melalui empedu
dan pada sirkulasi enterohepatik, sekresi tubuli ginjal, dan karena terjadinya
perubahan pH urin.

Gangguan dalam ekskresi melalui empedu terjadi akibat kompetisi antara obat
dan metabolit obat untuk sistem transport yang sama, contohnya kuinidin
menurunkan ekskresi empedu digoksin, probenesid menurunkan ekskresi
empedu rifampisin. Obat- obat tersebut memiliki sistem transporter protein
yang sama, yaitu Pglikoprotein.
Penghambatan sekresi ditubuli ginjal akibat
kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk
sistem transport yang sama, terutama system
transport untuk obat bersifat asam dan
metabolit yang juga bersifat asam.
Contoh:
fenilbutazon dan indometasin menghambat
sekresi ke tubuli ginjal obat-obat diuretik tiazid
dan furosemid, sehingga efek diuretiknya
menurun.