Anda di halaman 1dari 39

FRAKTUR TULANG PANJANG

PADA ANAK

Penyaji
Rahwanda Surya
DEFINISI

 Fraktur adalah hilangnya kontinuitas


tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis, baik yang bersifat total
maupun yang parsial.
• Fraktur pada anak mempunyai
keistimewaan dibanding dengan dewasa,
proses penyembuhannya dapat
berlangsung lebih singkat dengan
remodeling yang sangat baik,hal ini
disebabkan karena adanya perbedaan
anatomi, biomekanik serta fisiologi
tulang anak yang berbeda dengan tulang
orang dewasa
 Perbedaan Anatomi
 Anatomi tulang pada anak-anak
terdapat lempeng epifisis yang
merupakan tulang rawan
pertumbuhan. Periosteum sangat
tebal dan kuat, serta menghasilkan
kalus yang cepat dan lebih besar
daripada orang dewasa.
 Perbedaan Biomekanik
Perbedaan biomekanik terdiri atas :
• Biomekanik tulang
Tulang anak-anak sangat porous, korteks
berlubang-lubang dan sangat mudah
dipotong oleh karena kanalis Haversian
menduduki sebagian besar tulang. Faktor ini
menyebabkan tulang anak-anak dapat
menerima toleransi yang besar terhadap
deformitas tulang dibandingkan orang
dewasa.
 • Biomekanik lempeng pertumbuhan
 Lempeng pertumbuhan merupakan tulang
rawan yang melekat erat pada metafisis yang
bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang
bagian dalamnya oleh prosesus mamilaris.
Untuk memisahkan metafisis dan epifisis
diperlukan kekuatan yang besar.
Tulang rawan lempeng epifisis mempunyai
konsistensi seperti karet yang keras
• Biomekanik periosteum
Periosteum pada anak-anak sangat
kuat dan tebal dan tidak mudah
mengalami robekan dibandingkan
orang dewasa
 Perbedaan Fisiologis
Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan
dasar terjadinya remodelling yang lebih
besar dibandingkan pada orang dewasa.
• Pertumbuhan berlebihan (over growth)
Pertumbuhan diafisis tulang panjang akan
memberikan stimulasi pada pertumbuhan
panjang, karena tulang rawan lempeng
epifisis mengalami hiperemi pada waktu
penyembuhan tulang.
 • Deformitas yang progresif
Kerusakan permanen lempeng epifisis
menyebabkan pemendekkan atau deformitas
anguler pada epifisis.
• Fraktur total
Pada anak-anak, fraktur total jarang bersifat
kominutif karena tulangnya lebih fleksibel
dibandingkan orang dewasa.
 Fraktur Humerus
 Dapat terjadi pada :
 1. Fraktur epifisis humerus
 Adalah fraktur lempeng epifisis tipe II (Salter-Harris)
 Mekanisme Trauma
 Biasanya terjadi pada anak-anak yang jatuh dalam posisi
hiper-ekstensi, misalnya jatuh pada saat mengendarai sepeda
atau kuda.
 Klasifikasi fraktur menurut Neer-Horowits :
 • Grade I : Pergeseran fraktur kurang dari 5 mm.
 • Grade II : Pergeseran epifisis 1/3 terhadap fragmen distal.
 • Grade III : Pergeseran 2/3
 • Grade IV : Pergeseran melebihi 2/3
 Pengobatan
 Fraktur yang masih baru terutama grade I tidak
memerlukan reposisi. Pada grade II reposisi dapat
dilakukan dengan mudah dengan pembiusan umum dan
setelah itu dipasang mitela.
 Pada fraktur humerus grade III dan IV harus dilakukan
reposisi dengan pembiusan umum dan apabila tidak
berhasil dilakukan operasi terbuka dengan fiksasi interna.
 2. Fraktur metafisis humerus
 Fraktur metafisis biasanya tidak mengalami pergeseran
pada keadaan ini terapi konservatif merupakan pilihan
pengobatan.
 Fraktur metafisis dengan pergeseran yang jauh biasanya
bagian distal menembus ke arah muskulus deltoid sampai
subkutan. Pada keadaan ini biasanya perlu dilakukan
tindakan operasi untuk melepaskan fragmen
 3. Fraktur diafisis humerus
 Terjadi karena adanya trauma pada daerah humerus.
 Gambaran Klinis
 Terdapat pembengkakan dan nyeri pada daerah
humerus. Harus diperhatikan apakah fraktur humerus ini
disertai kelumpuhan nervus radialis (jarang ditemukan
pada anak-anak).
 Pengobatan
 Pengobatan dengan pemasangan gips sirkuler atau gips
bentuk U, dipertahankann selama beberapa minggu.
 Fraktur suprakkondiler humeri
 Mekanisme Trauma
 Tipe ekstensi biasanya terjadi pada saat sendi siku berada
dalam posisi hiperekstensi atau sedikit fleksi serta
pergelangan tangan dalam posisi dorso fleksi. Sedangkan
tipe fleksi terjadi bila penderita jatuh dan terjadi trauma
langsung sendi siku pada distal humeri.
Klasifikasi
• Tipe I : Terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan
hanya berupa retak yang berupa garis. Pengobatan
dengan mitela selama 10hari – 2minggu
• Tipe II : Tidak ada pergeseran fragmen, hanya terjadi
perubahan sudut antara humerus dan kondilus lateralis
(normal 40°). Pengobatan dengan reposisi tertutup
• Tipe III : Terdapat pergeseran fragmen tetapi korteks
posterior masih utuh serta masih ada kontak antara kedua
fragmen.
• Tipe IV : Pergeseran kedua fragmen dan tidak ada
kontak sama sekali.
Pengobatan tipe III dan IV dengan dilakukan reduksi
tertutup atau ORIF
Radius
Fraktur kaput radius (fraktur epifisis) dan fraktur leher radius
Mekanisme terjadinya fraktur adalah tangan dalam keadaan
out-stretched, sendi siku dalam posisi ekstensi dan lengan
bawah dalam posisi supinasi.
Fraktur ini dibagi dalam tiga tipe :
- Tipe 1 : pergeseran 0-30°
- Tipe 2 : pergeseran 30-60°
- Tipe 3 : pergeseran 61-90°
Pulled Elbow
Adalah suatu kelainan yang paling sering ditemukan pada
anak-anak terutama di bawah umur 4 tahun. Lebih sering
pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
Mekanisme Trauma
Biasanya disebabkan oleh adanya traksi longitudinal yang
mendadak sewaktu sendi siku dalam posisi ekstensi dan
lengan bawah dalam keadaan pronasi.
Diagnosis
Segera setelah terjadi trauma, anak merasa nyeri pada
daerah sendi siku. Mungkin terdengar adanya bunyi klik.
Terdapat nyeri tekan pada daerah radius proksimal.
Pemeriksaan radiologis biasanya normal.
Pengobatan
 Biasanya terjadi reduksi spontan. Apabila masih
terdapat subluksasi, dapat dilakukan reposisi
dengan atau tanpa pembiusan. Kemudian dapat
dilakukan mobilisasi dengan mitela selama satu
minggu.
Ulna
Fraktur 1/3 proksimal ulna (Fraktur Monteggia)
Fraktur 1/3 proksimal ulna disertai dengan dislokasi radius
proksimal disebut sebagai fraktur Monteggia. Leboh sering
ditemukan pada anak-anak daripada orang dewawa (2:1).
Fraktur dapat bersifat terbuka atau tertutup. Biasanya
ditemukan pada umur termuda 4 tahun, laki-laki 5 kali lebih
sering daripada perempuan.
Mekanisme Trauma
Fraktur dapat terjadi akibat trauma langsung atau terjadi
karena hiperpronasi dengan tangan dalam keadaan out-
stretched.
Klasifikasi
Menurut Bado (1962) :
Tipe 1 : Dislokasi kaput radius ke depan disertai angulasi
ulna ke arah yang sama. Insidensnya sebanyak 60-65%
(tipe ekstensi).
- Tipe 2 : Dislokasi kaput radius ke belakang disertai
angulasi ulna ke arah yang sama, insidensnya sebanyak
15% (tipe fleksi).
- Tipe 3 : Dislokasi ke samping kaput radius disertai
angulasi ulna ke arah yang sama, dengan fraktur ulna tepat
di distal prosesus koronoid, insidensnya sebanyak 20%.
- Tipe 4 : Dislokasi kaput radius ke depan disertai angulasi
ulna ke arah yang sama dengan tipe 1, bersama-sama
fraktur radius di sebelah distal tuberositas bisipitalis.
Insidens sebanyak 5%.
 Gambaran Klinis
Penderita biasanya mengeluh nyeri dan bengkak pada
lengan bawah dan datang dengan tangan dalam posisi fleksi
dan pronasi.
Pengobatan
Pada fraktur terbuka sebaiknya segera dilakukan tindakan
operasi disertai dengan fiksasi ulna. Pengobatan fraktur
tertutup pada anak-anak dicoba dengan reposisi tertutup
karena angka keberhasilannya sebesar 50%.
1. Fraktur green stick Terjadi apabila ada robekan
periosteum dan korteks pada derah konveks dari deformitas.
Fraktur dapat mengenai salah satu tulang baik radius atau
ulna saja, tetapi kebanyakan pada kedua tulang.
Mekanisme Trauma
Terjadi karena kompresi longitudinal dan torsional. Ada dua
jenis fraktur green stick yaitu :
a. Angulasi volar, lebih sering ditemukan.
b. Angulasi ke dorsal, lebih jarang ditemukan.
Tidak semua fraktur green stick perlu dilakukan reduksi
tertutup terutama bagian distal dekat sendi. Pada umumnya
angulasi kurang 20° pada usia 10-12 tahun tidak
memerlukan reduksi dan hanya pemasangan gips di atas
siku dengan posisi pronasi selama 3-4 minggu, karena dapat
terjadi koreksi angulasi secara spontan.
 2. Fraktur epifisis
 Fraktur epifisis radius distal paling sering ditemukan
terutama pada anak umur 6-12 tahun. Pada umumnya
adalah tipe I atau II (Salter-Harris) dan sangat jarang
ditemukan tipe III dan tipa IV (Salter-Harris). Fraktur
epifisis ulna jarang ditemukan.
Pengobatan
Reposisi tertutup sangat mudah dilakukan dan
diimmobilisasi dengan gips sirkuler di bawah siku selama 3
minggu. Operasi dilakukan apabila fraktur sudah terjadi
beberapa hari dan terdapat pergeseran yang hebat.
3. Fraktur torus
Disebut juga fraktur buckle terjadi pada korteks di daerah
metafisis 2-3 cm di atas lempeng epifisis.
Pengobatan
Pemasangan gips sirkuler di bawah siku selama 3 minggu.
 Fraktur Leher Femur
 Fraktur leher femur pada anak-anak jarang ditemukan.
Lebih sering pada anak laki-laki daripada anak perempuan
(3:2). Insidens tersering usia 11-12 tahun.
 Mekanisme Trauma
 Trauma biasanya terjadi karena kecelakaan, jatuh dari
ketinggian atau jatuh dari sepeda dan biasanya disertai
trauma pada tempat lain.
 Klasifikasi
 Fraktur leher femur pada anak-anak diklasifikasikan
sesuai dengan lokasi anatomis dan dibagi dalam 4 tipe :
 - Tipe I
 Tipe ini disebut juga transepifisial
 - Tipe II
 Tipe ini disebut juga transervikal; Fraktur melalui bagian
tengah leher femur.
 - Tipe III
 Tipe ini disebut juga servikotrokanterik; fraktur melalui
basis leher femur.
 - Tipe IV
 Tipe ini disebut juga pertrokanterik; fraktur antara basis
leher femur dan trokanter minor.
 Gambaran Klinis
 Fraktur leher femur biasanya disertai trauma hebat dan
nyeri di daerah panggul sehingga penderita tidak dapat
berjalan. Pada pemeriksaan ditemukan adanya rigiditas
dan gangguan pergerakan sendi panggul. Bila fraktur
disertai pergeseran, maka penderita tidak dapat
menggerakkan sendi panggulnya. Selain itu, ditemukan
pula nyeri tekan di daerah panggul.
 Pengobatan
 1. Konservatif :
 - Traksi kulit
 - Spika panggul
 Dilakukan pada penderita dengan fraktur yang
pergeserannya sangat minimal.
 2. Tindakan operasi
 Operasi dilakukan apabila terjadi pergeseran
fraktur.
Fraktur Diafisis Femur
Fraktur Diafisis Femur sering ditemukan pada anak-anak dan
harus dianggap sebagai suatu fraktur yang dapat
menimbulkan perdarahan dan syok.
Mekanisme Traume
Fraktur terjadi karena suatu trauma hebat dan lokalisasi
yang palling sering aadalah pada 1/3 tengah diafisis femur.
Klasifikasi
- Subtrokanterik - Abduksi
- Adduksi - Klasik
Posisi fraktur terjadi karena tarikan dan lokalisasi fraktur.
Pada frktur femur 1/3 proksimal, fragmen proksimal tertarik
dalam posisi fleksi karena tarikan m. Iliopsoas, abduksi oleh
m. Gluteus medius dan minimus, serta rotasi eksterna oleh
otot rotator pendek dan m. Gluteus maksimus. Fraktur dapat
bersifat oblik, transversal dan jarang bersifat kominutif.
Gambaran Klinis
Penderita biasanya datang dengan gejala trauma hebat
disertai pembengkakan pada daerah tungkai atas dan tidak
dapat menggerakan tungkai. Terdapat deformitas,
pemendekkan anggota gerak, dan krepitasi. Pemeriksaan
harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menambah
perdarahan.
Pengobatan
1. Konservatif
- anak usia 0-2 tahun: traksi kulit menurut Bryant (Gallow).
- anak usia 2 tahun ke atas; traksi kulit menurut Hamilton-
Russel.
- Anak yang lebih besar dapat dilakukan traksi tulang
melalui kondilus femoralis dengan menggunakan bidai dari
Thomas dan penyangga Pearson.
2. Operatif
Terapi operatif dilakukan dengan menggunakan K-nail atau
plate yang kecil terutama pada anak yang lebih besar
dengan indikasi tertentu.
- Fraktur Epifisis Distal Tibia
Klasifikasi salter haris untuk patah tulang yang mengenai lempeng
epifisis distal tibia dibagi menjadi lima tipe
Tipe I
Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya
masih utuh. Pengobatan dengan reduksi tertutup mudah oleh karena
masih ada perlekatan periosteum yang utuh dan intak. Prognosis
biasanya baik bila direposisi dengan cepat.
Tipe II
Garis fraktur melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke
metafisis dan akan membentuk suatu fragmen metafisis yang
berbentuk segitiga disebut tanda Thurston-Holland. Pengobatan
dengan reposisi secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi
terlambat harus dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya baik,
tergantung kerusakan pembuluh darah.
 Tipe III
Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng
epifisis kemudian sepanjang garis lempeng epifisis. Jenis
fraktur ini bersifat intra-artikuler dan biasanya ditemukan
pada epifisis tibia distal. Oleh karena fraktur ini bersifat
intra-artikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka
sebaiknya dilakukan operasi terbuka dan fiksasi interna
Tipe IV
Merupakan fraktur intra-intraartikuler yang melalui
permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan
lempeng epifisis dan berlanjut pada sebagian metafisis.
Pengobatan dengan operasi terbuka dan fiksasi interna
karena fraktur tidak stabil akibat tarikan otot. Prognosis jelek
bila reduksi tidak dilakukan dengan baik.
Tipe V
Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang
menyebabkan kematian dari sebagian cakram tersebut.
Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan sebagian
atau seluruh lempeng pertumbuhan.