Anda di halaman 1dari 7

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ESA UNGGUL


PERTEMUAN 10
Tes Laboratorium dilakukan dengan alasan berikut
:
 Membantu diagnosa infark miokard akut (angina
pectoris, yaitu nyeri dada akibat kekurangan
suplai darah ke jantung, tidak dapat ditegakkan
dengan pemeriksaan darah maupun urin)
 Mengukur abnormalitas kimia darah yang dapat
mempengaruhi prognosis pasien jantung
 Mengkaji derajat proses radang

 Skrining factor risiko yang berhubungan dengan


adanya penyakit arteri koronaria aterosklerotik
 Menentukan nilai dasar sebelum intervensi
terapeutik
 Mengkaji kadar serum obat
 Mengkaji efek pengobatan (mis. Efek
diuretika pada kadar kalium serum)
 Skrining terhadap setiap abnormalitas.
Karena terdapat berbagai metode
pengukuran yang berbeda, maka nilai normal
dapat berbeda antara satu tes laboratorium
dengan tes lainnya.
 Kreatinin Kinase (CK) dan isoenzimnya (CK-
MB) adalah enzim paling spesifik yang
dianalisa untuk mendiagnosa infark jantung
akut, dan merupakan enzim pertama yang
meningkat. Laktat dehidrogenase (LDH) dan
isoenzimnya juga perlu diperiksa pada pasien
yang datang terlambat berobat, karena
kadarnya baru meningkat dan mencapai
puncaknya pada 2 sampai 3 hari, jauh lebih
lambat dibanding CK.
 Profil Lemak
 Kolesterol serum total yang meningkat di atas 200 mg/ml
merupakan predictor peningkatan risiko penyakit jantung
koroner (CAD). Lipoprotein yang mengangkut kolesterol
dalam darah, dapat di analisa melalui elektroforesis.
Lipoprotein densitas tinggi (HDL), yang membawa
kolesterol dari sel perifer dan mengangkutnya ke hepar,
bersifat protektif. Sebaliknya, lipoprotein densitas rendah
(LDL) mengangkut kolesterol ke sel perifer.
 Elektrolit Serum
 Elektrolit serum dapat mempengaruhi prognosis dengan
infark miokard akut atau setiap kondisi jantung. Natrium
Serum mencerminkan keseimbangan cairan relatif.
Kalsium sangat penting untuk koagulasi darah dan
aktivitas neuromuscular.
 Kalium serum
 Dipengaruhi oleh fungsi ginjal dan dapat menurun akibat
bahan diuretika yang sering digunakan untuk merawat
gagal jantung kongestif.
 Nitrogen Urea Darah
 Peningkatan BUN dapat mencerminkan penurunan perfusi
ginjal (akibat penurunan curah jantung) atau kekurangan
volume cairan intravaskuler (akibat terapi diuretika)
 Glukosa
 Glukosa serum harus dipantau karena kebanyakan pasien
jantung juga menderita diabetes mellitus. Glukosa serum
sedikit meningkat pada keadaan stress akibat mobilisasi
epinefrin endogen yang menyebabkan konversi glikogen
hepar menjadi glukosa.
 Pemeriksaan sinar-x dilakukan untuk
melakukan ukuran, kontur dan posisi
jantung. Pemeriksaan fluoroskopi dapat
memberikan gambaran visual jantung pada
luminescent x-ray screen.