Anda di halaman 1dari 13

HAKEKAT IBADAH

KELOMPOK 1 :
 KHAIRUNNISA NANDA AULIA (1808010068)
 FATHONI AHMAD (1808010073)
 WIDYA AGUSTINA (1808010079)
 RAODATUL JANNAH (1808010092)
 FITRIANA ADELIA PUTRI (1808010112)
PENGERTIAN

Kata hakikat (Haqiqat) merupakan kata benda yang berasal dari bahasa Arab
yaitu dari kata “Al-Haqq”, dalam bahasa indonesia menjadi kata pokok yaitu
kata “hak“ yang berarti milik (ke¬punyaan), kebenaran, atau yang benar-
¬benar ada. Adapun kata Ibadah adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa
Arab ‘Ibadah yang memiliki makna perbuatan atau pernyataan bakti terhadap
Allah atau Tuhan yang didasari oleh peraturan agama. Maka dari itu, dapat
ditarik kesimpulan bahwa hakekat ibadah adalah suatu dasar umat muslim
dalam melakukan perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah SWT.
Adapun hakekat ibadah dalam islam yaitu:

• Ibadah adalah tujuan hidup ummat muslim.


• Melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridhai dengan penuh
ketundukan dan perendahan diri kepada Allah SWT
• Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan
meninggalkan larangannya.
• Cinta, maksudnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, atas yang lainnya.
Contohnya yaitu, mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
• Jihad dijalan Allah.
• Takut, maksudnya tidak merasakan sedikitpun ketakutan kepada selain
Allah melebihi ketakutannya kepada Allah SWT.
KONSEP IBADAH

Dalam konsep ajaran islam, manusia diciptakan tak lain dan tak bukan untuk beribadah kepada Allah. Dengan kata
lain untuk menyembah Allah dalam berbagai bentuk dan manifestasinya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengertian ibadah secara bahasa, kata ibadah adalah bentuk dasar (mashdar) dari fi’il (kata kerja) ‘abada-ya’budu yang
berarti: taat, tunduk, hina, dan pengabdian. Berangkat dari arti ibadah secara bahasa, Ibnu Taymiyah mengertikan ibadah
sebagai puncak ketaatan dan kedudukan yang didalamya terdapat unsur cinta (al-hubb). Seseorang belum dikatakan beribadah
kepada Allah kecuali bila ia mencintai Allah lebih dari cintanya kepada apapun dan siapapun juga. Adapun definisi ibadah
menurut Muhammadiyah adalah “mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya serta mengamalkan apa saja yang diperkenankan oleh-Nya. (Himpunan Putusan Tarjih, 278)

Prinsip - prisip ibadah untuk memberikan pedoman ibadah yang bersifat final Islam memberikan beberapa prinsip – prinsip
ibadah yaitu hanya menyembah kepada Allah SWT semata sebagai wujud hanya mengesakan Allah SWT (QS. Al-Fatihah 1:5),
tanpa perantara (QS. Al-Hadid 57:4 ), harus ikhlas yakni murni hanya mengharap ridha Allah SWT ( QS. Al-Bayyinah 98:5), harus
sesuai dengan tuntunan (QS. Al-Khafi 18:110), seimbang antara unsur jasmani dan rohani (QS. Al-Baqarah 2:201) , mudah dan
meringankan (QS. Al-Baqarah 2:286) (Syakir. 2010).
JENIS- JENIS IBADAH

1. Ibadah Mahdhah

Ibadah mahdhah adalah bentuk ibadah langsung kepada Allah yang tata cara pelaksanaannya telah
diatur dan ditetapkan oleh Allah atau dicontohkan oleh Rasulullah (Departemen Agama RI. 2001).
Kaidah ibadah mahdhoh menyatakan bahwa seluruh ibadah pada asalnya boleh kecuali ada dalil yang
mengharamkannya. Pada jenis ibadah ini diharamkan melakukan kreativitas karena ibadah ini hanya Allah yang
memiliki otoritas penuh dalam memberikan perintah dan mengatur tata caranya. Manusia tidak punya pilihan
lain kecuali tunduk dan patuh pada ketetapan hukum yang telah diatur secara terperinci. Contohnya yaitu;
wudhu, tayammum, mandi hadats, adzan, iqamat, shalat, membaca Al-Qur’an, I’tikaf, puasa, haji, umrah, dan
lain-lain.
Ibadah mahdhah memiliki 4 prinsip yaitu:
• Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah
• Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasulullah
• Bersifat supra rasional
• Azasnya “taat”
2. Ibadah Ghairu Mahdhoh
Ibadah ghairu mahdhoh adalah bentuk hubungan manusia dengan manusia
atau manusia dengan alam yang memiliki makna ibadah (Departemen Agama RI.
2001).
Maka pengertian ibadah ini berlakunya kaidah muamalah yang mmenyatakan
bahwa seluruh ibadah muamalah pada asalnya boleh kecuali ada dalil yang
mengharamkannya. Dengan demikian dalam masalah ibadah ini terbuka peluang
akal untuk melakukan kreativitas dalam menetapkan suatu hukum. Contohnya:
sedekah, tolong menolong, dakwah, belajar, bekerja, dan lain-lain.

Ibadah ghairu mahdhoh memiliki prinsip yaitu:


• Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang
• Tatacaranya tidak perlu berpola kepada contoh rasul
• Bersifat rasional
• Azasnya “Manfaat”
FUNGSI IBADAH

Ada tiga aspek fungsi ibadah dalam Islam:

a. Mewujudkan hubungan antara hamba dengan Tuhannya.


Mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya dapat dilakukan melalui
“muqorobah” dan “khudlu”. Orang yang beriman dirinya akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Ia
akan selalu berupaya menyesuaikan segala perilakunya dengan ketentuan Allah SWT. Dengan sikap
itu seseorang muslim tidak akan melupakan kewajibannya untuk beribadah, bertaubat, serta
menyandarkan segala kebutuhannya pada pertolongan Allah SWT. Demikianlah ikrar seorang
muslim seperti tertera dalam Al- Qur’an surat Al-Fatihah ayat 5
“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta
pertolongan.”Atas landasan itulah manusia akan terbebas dari penghambaanterhadap manusia,
harta benda dan hawa nafsu.
b. Mendidik mental dan menjadikan manusia ingat akan
kewajibannya

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya
shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat ini Al-Qur'an menjelaskan bahwa fungsi sholat adalah mencegah dari perbuatan keji dan
mungkar.Perbuatan keji dan mungkar adalah suatu perbuatan merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka dengan sholat
diharapakan manusia dapat mencegah dirinya dari perbuatan yang merugikan tersebut. Ketika Al-Qur'an berbicara
tentang zakat,

Al-Qur'an juga menjelaskan fungsinya:


“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan
Mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha
mendengar lagi Maha mengetahui.”Dan masih banyak ibadah-ibadah lain yang tujuannya tidak hanya baik bagi diri
pelakunya tetapi juga membawa dapak sosial yang baik bagi masyarakatnya. Karena itu Allah tidak akan menerima semua
bentuk ibadah, kecuali ibadah tersebut membawa kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda :
“Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar, maka dia hanya akan bertambah
jauh dari Allah” (HR. Thabrani)
C. Melatih diri untuk berdisiplin

Adalah suatu kenyataan bahwa segala bentuk ibadah menuntut kita untuk berdisiplin.
Kenyataan itu dapat dilihat dengajn jelas dalam pelaksanaan sholat, mulai dari wudhu, ketentuan
waktunya, berdiri, ruku, sujud dan aturan-aturan lainnya, mengajarkan kita untuk berdisiplin. Apabila
kita menganiaya sesama muslim, menyakiti manusia baik dengan perkataan maupun perbuatan, tidak
mau membantu kesulitan sesama manusia, menumpuk harta dan tidak menyalurkannya kepada yang
berhak. Tidak mau melakukan “amar ma'ruf nahi munkar”, maka ibadahnya tidak bermanfaat dan tidak
bisa menyelamatkannya dari siksa Allah SWT.
HIKMAH IBADAH

1. Tidak syirik.
Seorang hamba yang sudah berketetapan hati untuk senantiasa beribadah menyembah kepada Nya, maka ia
harus meninggalkan segala bentuk syirik. Ia telah mengetahui segala sifat-sifat yang dimiliki Nya adalah lebih bedar dari
segala yang ada, sehingga tidak ada wujud lain yang dapat mengungguli-Nya.

2. Memiliki ketakwaan.
Ketakwaan yang di landasi cinta timbul karena ibadah yang di lakukan manusia setelah merasakan kemurahan
dan keindahan Nya munculah dorongan untuk beribadah kepada Nya. Sedangkan ketakwaan yang dilandasi rasa takut
timbul karena manusia menjalankan ibadah dianggap sebagai suatu kewajiban bukan sebagai kebutuhan. Ketika manusia
menjalankan ibadah sebagai suatu kewajiban ada kalanya muncul ketidak ikhlasan, terpaksa dan ketakutan akan balasan
dari pelanggaran karena tidak menajalankan kewajiban.

3. Terhindar dari kemaksiatan.


Ibadah memiliki daya pensucian yang kuat sehingga dapat menjadi tameng dari pengaruh kemaksiatan, tetapi
keadaan ini hanya bisa dikuasai jika ibadah yang di lakukan berkualitas. Ibadah ibarat sebuah baju yang harus selalu dipakai
dimanapun manusia berada.
4. Berjiwa sosial.
Artinya ibadah menjadikan seorang hamba menjadi lebih peka dengan keadaan lingkungan sekitarnya,
karena dia mendapat pengalaman langsung dari ibadah yang dikerjakannya. Sebagaimana ketika melalukan
ibadah puasa, ia merasakan rasanya lapar yang biasa dirasakan oleh orang-orang yang kekurangan. Sehingga
mendorong hamba tersebut lebih memperhatikan orang lain.

5. Tidak kikir.
Harta yang dimiliki manusia pada dasarnya bukan miliknya tetapi milik Allah SWT yang seharusnya
diperuntukan untuk kemaslihatan umat. Tetapi karena kecintaan manusia yang begitu besar terhadap
keduniawian menjadikan dia lupa dan kikir akan hartanya. Berbeda dengan hamba yang mencintai Allah SWT,
senantiasa dawam menafkahi hartanya di jalan Allah SWT. Ia menyadari bahwa miliknya adalah bukan haknya
tetapi ia hanya memanfaatkan untuk keperluannya semata-mata sebagai bekal di akhirat yang di wujudkan dalan
bentuk pengorbanan harta untuk keperluan umat.
Makna Spiritual Ibadah bagi Kehidupan
Sosial

Semua ibadah dalam Islam berkaitan erat dengan hubungan sosial atau
hubungan dengan sesama manusia. Di dalam Islam, ibadah sosial lebih dikenal dengan
istilah muamalah atau hubungan antara seorang muslim dengan lingkungan sekitarnya.
Seorang muslim yang baik, dalam melakukan hubungan muamalah juga tetap mengacu
kepada ketentuan syari’ah agamanya. Perbedaannya hanyalah kepada objek ia
melakukan ibadah. Ibadah sosial menyangkut hubungan antara manusia dengan
manusia dalam rangka mencari keridhaan dari Allah SWT. Melalui interaksi hubungan
antara sesama manusia tersebut, seorang hamba berharap bisa mendapatkan pahala
dari amal ibadah sosial yang telah dilakukannya.
KESIMPULAN

• Hakekat ibadah adalah suatu dasar umat muslim dalam melakukan perbuatan atau pernyataan
bakti terhadap Allah SWT.
• Ibadah artinya penghambaan diri kita sebagai makhluk dan Allah sebagai Tuhan kita atau dengan
kata lain segala sesuatu yang kita kerjakan dalam rangka mentaati perintah-perintah-Nya adalah
ibadah.
• Ibadah terdiri dari ibadah mahdhah dan ibadah ghoiru mahdhoh
• Fungsi ibadah yaitu; mewujudkan hubungan antara hamba dengan Allah SWT, mendidik mental
dan menjadikan manusia ingat akan kewajibannya, dan melatih diri untuk berdisiplin.
• Hikmah ibadah yaitu; tidak syirik, memiliki ketakwaan, terhindar dari kemaksiatan, berjiwa social,
dan tidak kikir.
• Pengertian ibadah dalam kehidupan masyarakat ialah pengabdian kepada Allah dalam bentuk
shalat, puasa, zakat, haji dzikir dan membaca Al-Quran. Semua ibadah dalam Islam berkaitan erat
dengan hubungan sosial atau hubungan dengan sesama manusia.