Anda di halaman 1dari 37

SIDANG TUGAS AKHIR

FAKTOR DAN VARIABEL PENENTU


KESIAPAN DAERAH DALAM INVESTASI
INFRASTRUKTUR SOSIAL BERBASIS PINA
OLEH :
SUCHI RAHMADANI
1310921011
PEMBIMBING :
Ir. Akhmad Suraji, Ph.D
Yervi Hesna, MT
TINJAUAN METODOLOGI ANALISA & KESIMPULAN &
PENDAHULUAN
PUSTAKA PENELITIAN PEMBAHASAN SARAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Kebutuhan dana pembangunan infrastruktur di Indonesia


relatif sangat besar

APBN/APBD tidak memadai untuk membiayai


pembangunan infrastruktur
APBN
1000 t

APBD 500 t PERBANKA


N
500 t
Financial
ANGGARAN PEMBIAYAAN
INFRASTRUKTUR gap 4780
triliun

BUMN &
LEMBAGA
SWASTA
TOTAL PEMBIAYAAN
INFRASTRUKTUR
210 t ASURANSI
ANGGARAN & DANA 500 t
Rp. 6.780 T PENSIUN
60 t
FINANCIAL
GAP
KPBU/PINA
“ Setiap daerah di seluruh Indonesia dapat memenuhi kebutuhan Infrastruktur khususnya
infrastruktur sosial dengan mengunakan alternatif pembiayan KPBU/PINA

SUDAH SIAPKAH SETIAP
DAERAH DI INDONESIA
MENJALANKAN
KBPU/PINA ?
faktor
faktor

faktor

KESIAPAN DAERAH DALAM INVESTASI


INFRASTRUKTUR SOSIAL BERBASIS PINA
Tujuan dan Manfaat

TUJUAN MANFAAT
untuk mengklasifikasikan faktor-faktor dan  Hasil penelitian ini diharapkan dapat
variabel penentu kesiapan daerah untuk memberikan informasi mengenai faktor
melakukan investasi infrastruktur sosial yang dan variabel penentu kesiapan daerah di
berbasis investasi non anggaran (PINA). Sumatera Barat dalam pelaksanaan
investasi infrastruktur sosial non anggaran
 Hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai parameter penilaian dalam
kesiapan daerah dalam investasi
infrastruktur sosial berbasis PINA
Batasan Masalah

 Penelitian ini berlokasi di daerah Sumatera Barat


 Penelitian ini dibatasi pembahasannya pada Infrastruktur Sosial
 Objek yang dikaji adalah struktur perangkat penentu kesiapan daerah untuk investasi
infrastruktur sosial
 Penilitian ini dibatasi sampai mengklasifikasikan kesiapan daerah untuk investasi
infrastruktur sosial berbasis PINA
TINJAUAN
PUSTAKA
INFRASTRUKTUR
SOSIAL

Aset yang mendukung kesehatan dan


keahlian masyarakat
PINA

BAPPENAS
mekanisme pembiayaan proyek investasi prioritas yang
dananya bersumber selain dari Anggaran Pemerintah yang
didorong dan difasilitasi oleh Kementerian PPN/Bappenas
METODOLOGI
PENELITIAN
STUDI LITERATUR

Pengumpulan Data Sekunder : RPJMD, PAD, PDRB, Kapasitas Fiskal, PMDN/PMA Sumatera Barat, TKED dan
Purhasing Power Parity

Survey Instansional : Kuisioner

Pengolahan Data

Analisa dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran


ANALISA &
PEMBAHASAN
RPJMD

Regulasi
Kesiapan Pemerintah Daerah Daerah
dalam Regulasi yang Mendorong Tentang PINA
Investasi Infrastruktur Sosial di Bidang
Tersedianya Infrastruktur
Perda Yang Sosial
Mendorong
Investasi.

Kebijakan
Tata Kelola
Ekonomi
Daerah
No Kabupaten/ Kota Belum Diamanatkan
Diamanatkan
1 Kota Sawahlunto √
2 Kota Pariaman √
3 Kota Solok √
4 Kota Padang Panjang √
5 Kota Bukittinggi √
6 Kab. Kepulauan Mentawai √
7 Kota Payakumbuh √

RPJMD 8
9
Kab. Solok Selatan
Kab. Dharmasraya


KABUPATEN/KOTA 10 Kab. Sijunjung √
SUMATERA BARAT 11 Kab. Tanah Datar √
12 Kab. Pasaman Barat √
13 Kota Padang √
14 Kab. Pasaman √
15 Kab. Lima Puluh Kota √
16 Kab. Padang Pariaman √
17 Kab. Pesisir Selatan √
18 Kab. Solok √
19 Kab. Agam √
Sumber : RPJMD Kabupaten/Kota Sumatera Barat
Kesiapan Regulasi PINA Bidang Infrastruktur Sosial
Infrastruktur
Sedang Disusun Sudah Ada
Infrastruktur Fasilitas Perkotaan Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Infrastruktur Fasilitas Pendidikan Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Infrastruktur Fasilitas Sarana dan
Prasarana Olahraga serta Kesenian Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Infrastruktur Kawasan Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Infrastruktur Pariwisata Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Infrastruktur Kesehatan Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Infrastruktur Lembaga Permasyarakatan Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Infrastruktur Perumahan Rakyat Padang, Bukittinggi, Pariaman, Tanah Datar
Sumber : Hasil Kuisioner

“ Regulasi Daerah Tentang Investasi Infrastruktur Sosial



TATA
KELOLA
EKONOMI
DAERAH

Kemudahan Kemudahan
Kemudahan Interkasi
Perizinan Pembabasan Pemda –
Lahan Pelaku Usaha
“Peringkat Kemudahan
Perizinan Usaha”

Aceh Berada pada


peringkat pertama 94,49 %
dan Padang berada
dibawah rata-rata nasional
73,15 %

Sumber : Laporan KPPOD, Jan 2017


“Peringkat Akses dan
Kepastian Hukum atas Lahan”

Palu Berada pada


peringkat pertama 95,13 %
dan Padang 75,30 %

Sumber : Laporan KPPOD, Jan 2017


“Peringkat Interaksi Pemda –
Pelaku Usaha”

Makasar Berada pada


peringkat pertama 98,07 %
dan Padang berada
dibawah rata-rata nasional
35,83%

Sumber : Laporan KPPOD, Jan 2017


KAPASITAS
FISKAL

PAD PDRB
Kesiapan Daerah
dalam Kemajuan
Perekonomian

REALISASI
PURCHASING
INVESTASI
POWER
(PMDN/PMA) PARITY
246,478
Kota Padang berada
diposisi pertama yaitu
246,478 Juta Rupiah dan
Kota Pariaman berada di
posisi terakhir yaitu 15.941
Juta Rupiah
58,335
51,410
51,172
50,549
46,387
43,536
42,502
42,072
38,020
35,510
34,142
33,978
32,788
32,623
30,750
25,933
24,739
15,941
RATA- RATA
PAD SUMATERA BARAT
2010-2015

Sumber : Bapennas 2017


RATA-RATA INDEX KAPASITAS FISKAL
SUMATERA BARAT 2010- 2016

5.95
Kota Sawahlunto berada
diposisi pertama yaitu 5,95
dan Kab. Agam berada di
posisi terakhir yaitu 0,24
2.77
2.73
2.30

1.25
1.13

0.91
0.82

0.69
0.68

0.50
0.48
0.44
0.39

0.35
0.34

0.34
0.33

0.24
RATA- RATA
IKF SUMATERA BARAT
2010-2016

Sumber : Kemenkeu
Rata-Rata Produk Domestik Regional
Bruto Harga Konstan 2010-2016 Kota Padang yaitu sebesar Rp.
31.287.562 juta rupiah
Kabupaten/ Kota dengan PDRB
35,000,000
harga konstan rata-rata
terendah adalah Kota Padang
30,000,000
Panjang yaitu sebesar Rp.
Juta Rupiah

25,000,000
1.848.748 juta rupiah.
20,000,000
15,000,000
10,000,000
5,000,000
0

RATA- RATA
PDRB SUMATERA BARAT
2010-2016

Sumber : BPS Sumatera Barat


Purchasing Power Parity 21 Jawa Barat 25.020 26.145 24.181
No Daerah
2014 2015 2016
1 DKI Jakarta 136.239 142.347 131.447 22 Sulawesi Tengah 24.953 28.717 23.981
2 Kalimantan Timur 129.621 124.075 119.638
23 Aceh 23.553 23.141 23.757
3 Kepulauan Riau 77.160 78.912 75.647
4 Kalimantan Utara 75.248 74.089 71.887 24 Jawa Tengah 22.683 24.009 22.227
5 Riau 71.097 69.572 71.798
25 Lampung 22.825 23.778 21.376
6 Papua Barat 61.033 62.028 51.874
7 Papua 38.954 40.935 33.907 26 D.I Yogyakarta 21.943 23.104 21.131
8 Jambi 36.085 37.325 33.574
27 Kalimantan Barat 22.457 22.894 21.080
9 Jawa Timur 32.739 34.674 31.139
10 Kep Bangka Belitung 32.374 32.995 30.143 28 Bengkulu 19.455 19.640 18.198
11 Sumatera Selatan 31.650 32.438 29.957 29 Sulawesi Barat 19.537 20.519 17.745
12 Sumatera Utara 30.284 31.347 28.624
30 Gorontalo 19.081 20.175 17.682
13 Kalimantan Tengah 30.163 31.895 28.542
14 Banten 29.185 29.636 28.456 31 Maluku Utara 16.532 17.032 16.028
15 BALI 29.239 30.634 27.802
Nusa Tenggara
16 Sulawesi Utara 28.241 29.252 26.879 32 15.211 18.830 14.932
Barat
17 Sulawesi Tenggara 28.223 29.290 26.012
18 Sulawesi Selatan 27.815 29.689 25.962 33 Maluku 14.142 13.911 13.047

19 Kalimantan Selatan 27.397 28.257 25.632 Nusa Tenggara


34 10.716 11.371 10.037
20 Sumatera Barat 25.973 27.005 24.392 Timur
Sumber : Badan Pusat Statistik 2017
Analisis Realisasi Investasi Daerah
No Lokasi Realisasi Investasi No Lokasi Realisasi Investasi

(Rp. Juta) (Rp. Juta)

1 Kota Padang Rp390.800,50


1 Kab. Dharmasraya Rp3.528,20
2 Kab. Pasaman Barat Rp100.387,10
3 Kab. Sijunjung Rp32.605,70
4 PMDN
Kab. Solok Selatan Rp31.053,00 2 Kab. Tanah Datar
PMA Rp1.383,80

5 Kab. Padang Rp6.662,00


3 Kota Padang Rp297,00
Pariaman
6 Kab. Pesisir Selatan Rp6.101,70
4 Kab. Lima Puluh Rp290,00
7 Kab. Lima Puluh Kota Rp2.862,00 Kota
8 Kab. Agam Rp125,00 5 Kab. Solok Rp33,00
Jumlah Rp570.597,00 Jumlah Rp5.532,00

Sumber : www.sumbarprov.go.id
Perangkat Perangkat
Institusional Oprasional
Daerah

Kesiapan
Daerah dalam
Perangkat
Operasional
lainnya

SDM yang
Pengalaman
Memahami
dalam PINA
PINA
KESIMPULAN &
SARAN
KESIMPULAN

FAKTOR-FAKTOR
Kesiapan Kesiapan PENENTU
Pemerintah Kesiapan
Daerah dalam KESIAPAN
Daerah dalam
Daerah Kemajuan
Perangkat DAERAH DALAM
dalam Operasional INVESTASI
Perekonomian INFRASTRUKTUR
Regulasi lainnya
SOSIAL
KESIMPULAN
Kebijakan daerah untuk PINA tertuang di RPJMD

Tersedianya regulasi daerah tentang PINA bidang Infrastruktur


Sosial
Variabel Analisis
Kesiapan Regulasi
dan Kebijakan Kemudahan perizinan investasi
Daerah untuk
Pelaksanaan PINA
Bidang Kemudahan pembebasan lahan
Infrastruktur
Sosial
Kemudahan interaksi pemda dengan pelaku usaha

Tersedianya perda yang mendorong investasi


SARAN

Dalam melaksanakan pembiayaan Faktor dan Variabel penentu dapat


infrastruktur sosial berbasis non-anggaran dijadikan pengukur kesiapan daerah
maka setiap daerah khususnya Sumatera dalam melaksanakan pembiayaan
Barat perlu meningkatkan kemajuan infrastruktur sosial berbasis non-
ekonomi daerah. anggaran.
Terima Kasih
dokumentasi