Anda di halaman 1dari 20

PERWALIAN

Berdasar BURGERLIJK WETBOEK (BW)


PASAL 127 BW
• Setelah meninggalnya salah seorang dari suami-isteri, maka jika ada
anak-anak belum dewasa yang ditinggalkannya, si suami atau si isteri
yang hidup terlama, dalam waktu selama 3 (tiga) bulan harus
menyelenggarakan pendaftaran akan barang-barang, yang
merupakan harta benda persatuan. Pendaftaran ini boleh
diselenggarakan dibawah tangan, akan tetapi harus dengan
hadirnya Wali Pengawas.
• Dalam hal tak adanya pendaftaran yang demikian, persatuan itu
berjalan terus, akan tetapi atas kebahagiaan si anak-anak belum
dewasa, dan tidaklah sekali-kali atas kerugian mereka.
PASAL 366 BW
• Dalam tiap-tiap perwalian yang diperintahkan di Indonesia, Balai
Harta Peninggalan berwajib melakukan tugas wali-pengawas

Pasal 368 BW
• Segala wali tersebut dalam bagian ketiga bab ini, berwajib, segera
setelah perwalian mulai berjalan, memberitahukan kepada Balai
tentang terjadinya perwalian itu. Dalam hal dilalaikannya itu, mereka
boleh dipecat, dengan tak mengurangi pergantian biaya, rugi dan
bunga
PASAL 362 BW
• Wali berwajib segera setelah perwaliannya mulai berlaku, dibawah
tangan Balai Harta Peninggalan mengangkat sumpah, bahwa ia
akan menunaikan perwalian yang dipercayakan kepadanya dengan
baik dan tulus hati.
• Jika ditempat tingal si wali atau dalam jarak limabelas pal dari itu
tiada Balai Harta Peninggalan, pun tiada suatu perwakilan dari itu
berkedudukan, maka sumpah boleh diangkat didepan Pengadilan
Negeri ataupun dimuka Kepala Pemerintah Daerah tempat tinggal si
wali.
• Tentang Pengangkatan sumpah itu dibuat surat pemberitaan.
PASAL 418 BW
• Balai-balai dan Dewan-dewan tidak boleh dikesampingkan daripada
segala campurtangan yang diperintahkan kepada mereka dalam
ketentuan Undang-undang.
• Segala perbuatan dan perjanjian bertentangan dengan ketentuan di atas
adalah batal, dan tak berharga.
PERWALIAN
PASAL 33

1) Dalam hal orangtua anak tidak cakap melakukan perbuatan hukum, atau tidak diketahui
tempat tinggal atau keberadaannya, maka seseorang atau badan hukum yang
memenuhi persyaratan dapat ditunjuk sebagai wali dari anak yang bersangkutan ;
2) Untuk menjadi Wali anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui
penetapan pengadilan ;
3) Wali yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) agamanya harus sama
dengan agama yang dianut anak ;
4) Untuk kepentingan anak, Wali sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib mengelola
harta milik anak yang bersangkutan ;
5) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penunjukan wali sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
PASAL 34

 Wali yang ditunjuk berdasarkan penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 33, dapat mewakili anak untuk melakukan perbuatan hukum, baik di
dalam maupun di luar pengadilan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak
PASAL 35

1) Dalam hal anak belum mendapat penetapan pengadilan mengenai wali, maka
harta kekayaan anak tersebut dapat diurus oleh Balai Harta Peninggalan atau
lembaga lain yang mempunyai kewenangan untuk itu ;
2) Balai Harta Peninggalan atau lembaga lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
bertindak sebagai Wali Pengawas untuk mewakili kepentingan anak ;
3) Pengurusan harta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) harus
mendapat penetapan
PASAL 36

1) Dalam hal wali yang ditunjuk ternyata di kemudian hari tidak cakap melakukan
perbuatan hukum atau menyalahgunakan kekuasaannya sebagai wali, maka status
perwaliannya dicabut dan ditunjuk orang lain sebagai wali melalui penetapan
pengadilan ;
2) Dalam hal Wali meninggal dunia, ditunjuk orang lain sebagai wali melalui penetapan
pengadilan.
TATA CARA PENUNJUKAN WALI

 Pasal 8
Penunjukan Wali dilakukan berdasarkan permohonan atau wasiat Orang Tua ;
 Pasal 9
(1) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus memenuhi persyaratan
sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini dan disampaikan oleh seseorang atau
badan hukum sebagai calon Wali kepada Pengadilan ;
(2) Permohonan penunjukan Wali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan bersamaan
dengan permohonan pencabutan kuasa asuh ;
(3) Permohonan penunjukan Wali dan permohonan pencabutan kuasa asuh yang telah diterima
oleh Pengadilan ditetapkan melalui persidangan ;
(4) Sesorang atau badan hukum dinyatakan sebagai Wali setelah mendapatkan penetapan dari
Pengadilan.
 LEX POSTERIORI DEROGAT LEGI PRIORI atau LEX POSTERIORI DEROGAT LEGI ANTERIORI :
 “ketentuan peraturan (UU) yang baru mengesampingkan / menghapus berlakunya ketentuan UU yang
lama yang mengatur materi hukum yang sama”
 Jika terjadi pertentangan antara UU yang lama dengan yang baru, maka yang diberlakukan adalah UU
yang baru.
 Contoh: berlakunya UU no 32 tahun 2004, menghapus berlakunya UU no 22 tahun 1999 tentang
peraturan daerah.

 LEX SPECIALIS DEROGAT LEGI GENERALI :


 undang-undang yang khusus didahulukan berlakunya daripada undang-undang yang umum.
 Contoh : pemberlakuan KUHD terhadap KUHPerdata dalam hal perdagangan.

 LEX SUPERIOR DEROGAT LEGI INFERIORI :


 Asas penafsiran hukum yang menyatakan bahwa hukum yang tinggi (lex superior) mengesampingkan
hukum yang rendah (lex inferior). Asas ini biasanya sebagai asas hierarki. “ketentuan peraturan (UU)
yang mempunyai derajat lebih tinggi didahulukan pemanfaatannya/penyebutannya daripada ketentuan
yang mempunyai derajat lebih rendah”
 Jika terjadi pertentangan antara UU yang lebih tinggi dengan yang lebih rendah, maka yang
diberlakukan adalah ketentuan yang lebih tinggi.
PERWALIAN
PASAL 1

1. Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai
orangtua terhadap anak ;
2. Orangtua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau ibu
angkat ;
3. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan ;
4. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas suami istri, atau suami istri dan anaknya,
atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke
bawah sampai derajat ketiga ;
5. Keluarga Anak adalah keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas sampai dengan derajat ketiga ;
6. Saudara adalah kerabat Keluarga laki-laki maupun perempuan menyamping dari kakek/nenek,
bapak/ibu, dan anak ;
7. Pengadilan adalah pengadilan agama bagi yang beragama Islam dan pengadilan negeri bagi lainnya ;
8. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial.
PASAL 11

 Orang atau badan hukum yang akan ditunjuk sebagai Wali harus melampirkan
rekomendasi dari dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
sosial kabupaten/kota setempat pada saat melakukan proses penetapan
Pengadilan ;

 ***Pasal 368 BW : Wali wajib memberitahukan perwalian kepada BHP ;


PASAL 12

1) Rekomendasi dari dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang


sosial kabupaten/kota setempat menjadi bahan pertimbangan dalam penetapan
Wali atau pencabutan kuasa asuh ;
2) Dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial kabupaten/kota
dalam memberikan rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) :
a. menugaskan pekerja sosial profesional untuk melakukan asesmen kepada orang atau badan
hukum yang akan ditunjuk sebagai Wali ; dan
b. dibantu oleh tim pertimbangan penunjukan Wali.

3) Ketentuan mengenai tim pertimbangan penunjukan Wali sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

***Pasal 381 BW : pemecatan Wali atas permohonan Wali Pengawas ;


PASAL 13

 Panitera Pengadilan wajib menyampaikan salinan penetapan/putusan Pengadilan


mengenai penunjukan Wali kepada dinas yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang administrasi kependudukan dan pencatatan sipil
kabupaten/kota setempat, dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang sosial kabupaten/kota setempat, dan instansi pemerintah pusat atau unit
kerja di lingkungan instansi pemerintah pusat yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang harta peninggalan setempat (*BHP ?)

***Pasal 369 BW : Panitera PN harus segera mengirim salinan kpd BHP ;


PASAL 18

1) Penilaian terhadap Orang Tua yang telah mampu untuk melaksanakan kewajibannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf e dilakukan berdasarkan
rekomendasi dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial
kabupaten/kota setempat.
2) Rekomendasi dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial
kabupaten/kota setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat berdasarkan
hasil asesmen yang dilaksanakan oleh pekerja sosial profesional .

***Pasal 373 BW : Wali Pengawas bisa memecat Wali ;


PASAL 25

(1) Pengawasan dilaksanakan terhadap Wali atau terhadap pelaksanaan perwalian Anak
yang dilakukan oleh Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat ;
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk :
a) mencegah terjadinya penyimpangan atau pelanggaran dalam, pelaksanaan perwalian Anak atau
mencegah perwalian Anak yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
b) mengurangi kasus penyimpangan atau pelanggaran perwalian Anak ; dan
c) memantau pelaksanaan perwalian Anak.

***Pasal 366 BW : BHP sebagai Wali Pengawas di Indonesia ;


PASAL 26

1) Pengawasan oleh pemerintah pusat dilaksanakan oleh kementerian yang menyelenggarakan


urusan pemerintahan di bidang sosial ;
2) Pengawasan oleh pemerintah daerah dilaksanakan oleh dinas yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang sosial provinsi dan kabupaten/kota ;
3) Pengawasan oleh masyarakat dilakukan oleh :
a. orang perseorangan ;
b. Keluarga ;
c. organisasi masyarakat ;
d. lembaga pengasuhan anak ; dan
e. lembaga perlindungan anak