Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN HASIL BELAJAR MANDIRI

SKENARIO 3 BLOK TID

Amira Zhafira
1618011086

Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung
2017
Skenario
“Ada Apa Dengan Tn. Cokro?”
Tn. Cokro, laki-laki usia 35 tahun, datang ke Poliklinik
UNILA dengan keluhan utama demam sejak satu minggu lalu.
Demam dirasakan setiap tiap hari. Demam didahului menggigil
dan diakhiri dengan berkeringat banyak. Selain itu juga
terdapat keluhan lain seperti mialgia, tidak nafsu makan, mual,
muntah, lesu, dan sakit kepala. Pasien abru kembali dari
melakukan studi lapangan di Pesawaran Lampung, selama
dua minggu.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38 derajat C,
nadi 100x/menit, RR 22x/menit, TD 100/70 mmHg. Konjungtiva
anemis +/+. Dari hasil pemeriksaan darah lengkap diperoleh
Hb 8 mb/dl. Bilirubin indirek 3 mg/dl. Pada pemeriksaan
apusan darah tebal didapat tropozoid berbentuk cincin.
Pemeriksaan penunjang yang lain belum dilakukan karena
tidak ada fasilitas.
Learning Objective
1. Resep Obat malaria
2. Pencegahan penyakit malaria
3. Faktor risiko malaria
4. Komplikasi malaria
5. Patogenesis (siklus plasmodium sp)
6. Tatalaksana terbaru (algoritma) untuk anak-anak, ibu
hamil, dan dewasa
1. Resep Obat malaria
dr. Amira Zhafira
Praktek Umum
SIP: No. 1 tahun 2017
Alamat: Jalan Sesama I no. 2 Lampung, telp: 07212345
Praktek Senin-Jumat Pukul 15.00-18.00

Bandar Lampung, 9-11-2017

R/
Dehdiroartemisin 40 mg Tab No. XII
S 1 dd tab 4 p.c

R/ Piperakuin 320 mg Tab No. XII


S 1 dd Tab 4 p.c

R/ Primakuin 15 mg Tab No. III


S 1 dd tab 1 p.c

Pro : Tn. Cokro


Umur : 35 tahun
Alamat : Jl. Raya no 1
2. Pencegahan penyakit malaria

Tingkah laku dan Pemilihan obat Obat


intervensi non-obat kemoprofilaksis Kemoprofilaksis
• Meliputi: • Tergantung pada: yang dapat dipakai
• Pengetahuan tentang • Resistensi daerah sebagai obat
transmisi malaria kunjungan pencegahan:
• Pengetahuan tentang • Usia pelancong
• Atovaquone-proguanile
infeksi malaria • Lama kunjungan (malarone) ideal
• Menghindarkan dari • Kehamilan
gigitan nyamuk • Doksisiklin
• Kondisi penyakit • Kloroquine
tertentu
• Mefloquine
• Toleransi obat
• Faktor ekonomi
Kemoprofilaksis untuk Pemakaian sebelum Pemakaian sesudah
pencegahan perjalanan perjalanan
Malarone 1-2 hari 1 minggu
doksisiklin 1-2 hari 4 minggu
Kloroquine 1 minggu 4 minggu
Mefloquine 2-3 minggu 4 minggu

• Primakuin merupakan obat profilaksis namun dapat menyebabkan


hemolisis. Dianjurkan melakukan pemeriksaan enzim G-6-PD
sebelum pemakaian
• Dimulai 1 hari sebelum perjalanan dan berakhir 7 hari setelah
perjalanan (minimal 14 hari)
Vaksinasi terhadap malaria:

Masih dalam tahap pengembangan

Baru ditujukan pembuatan vaksin untuk P. falciparum

Vaksin sporozoit Bentuk intrahepatik

Vaksin untuk Vaksin terhadap


P.falciparum bentuk aseksual

Melawan bentuk
Transmission blocking
gametosit
3. Faktor risiko malaria

Tinggal atau melakukan perjalanan ke daerah endemis malaria

Tidak mengonsumsi obat untuk mencegah malaria sebelum, selama,


dan sesudah perjalanan, atau mengonsumsinya dengan tidak benar

Kebiasaan keluar rumah pada malam hari terutama saat di daerah


endemis

Tidak mengambil langkah pencegahan untuk melindungi diri dari


gigitan nyamuk

Tinggal dekat dengan kandang ternak atau tambak-tambak kosong


4. Komplikasi malaria

Gambaran fisik: Gambaran Laboratorium:

1. Perubahan kesadaran (GCS<11, 1. Hipoglikemi (gula darah <40 mg%)


Blantyre <3) 2. Asidosis metabolik (bikarbonat plasma
2. Kelemahan otot (tak bisa duduk / <15 mmol/L).
berjalan) 3. Anemia berat (Hb <5 gr% untuk
endemis tinggi, <7gr% untuk endemis
3. Kejang berulang-lebih dari dua episode sedang-rendah), pada dewasa,
dalam 24 jam Hb<7gr% atau hematokrit <15%)
4. Distres pernafasan 4. Hiperparasitemia (parasit >2 %
eritrosit atau 100.000 parasit /μL di
5. Gagal sirkulasi atau syok: pengisian daerah endemis rendah atau > 5%
kapiler > 3 detik, tekanan sistolik <80 eritrosit atau 100.0000 parasit /μl di
mm Hg (pada anak: <70 mmHg) daerah endemis tinggi)
6. Jaundice (bilirubin>3mg/dL dan 5. Hiperlaktemia (asam laktat >5 mmol/L)
kepadatan parasit >100.000) 6. Hemoglobinuria
7. Gangguan fungsi ginjal (kreatinin
7. Hemoglobinuria serum >3 mg%)
8. Perdarahan spontan abnormal
9. Edema paru (radiologi, saturasi Oksigen
<92%)
Malaria dengan komplikasi (malaria berat):

1. Malaria serebral (coma)


2. Acidemia/acidosis
3. Anemia berat
4. Gagal ginjal akut
5. Edema paru non-kardiogenik
6. Hipoglikemia
7. Gagal sirkulasi / syok
8. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran cerna, dan /disertai
gangguan laboratorik adanya kealinan koagulasi intravaskular
9. Kejang berulang lebih dari 2 kali/24 jam
10. Makroskopik hemoglobinuri
11. Diagnosa post-mortem ditemukan parasit yang padat pada
pembuluh kapiler pada jaringan otak
5. Patogenesis (siklus plasmodium sp)
Fase Jaringan Fase darah

• Invasi pada eritrosit dimulai dengan


masuknya merozoit ke dalam eritrosit
• Anopheles betina yang • Dalam eritrosit, merozoit membentuk
mengandung sporozoit pada air vakuola, berebentuk cincin, kadang-
liurnya, memasukkan sporozoit kadang ameboid berinti tunggal, disebut
ke hospes melalui probosis trofozoit sampai inti mulai membelah
• Sporozoit masuk ke peredaran • Trofozoit tumbuh sampai intinya
membelah dengan cara mitosis,
darah vakuola berisi ameboid motiliti akan
• ½-1 jam sebagian sporozoit di terhenti, dan akan berubah menjadi
fagosit, sebagian masuk ke skizon matang
hepatosit • Skizon matang pecah, merozoit masuk
• Di hepatosit, inti parasit ke peredaran darah. Sebagian hancur,
membelah membentuk ribuan sebagian lain menginvasi eritrosit yang
lain
merozoit
• Setelah 2-3 generasi erityrositik,
• Skizon pecah, merozoit keluar fenomena ga,etositogenik dimulai.
dan masuk ke peredaran darah Beberapa merozoit intraseluler tidak
membentuk skizon tetapi berkembang
menjadi makrogametosit dan
mikrogametosit
Fase sporogoni
• Nyamuk yang menghisap darah penderita malaria, menghisap seluruh stadium
perkembangan parasit
• Hanya stadium gametosit yang mampu melanjutkan siklus
• Mikrogametosit mengalami pembelahan inti menjadi inti multiple yang matang
dengan exflagellasi
• Makrogametosit berkembang menjadi makrogamet. Intinya bergerak ke
permukaan yang merupakan tempat masuknya mikrogamet ke makrogamet
• Terjadi fertilisasi. Makrogamet yang telah fertilisasi disebut zygot
• ± 20 menit setelah fertilisasi, terbentuk semacam pseudopodi dan terjadi
perubahan bentuk menjadi lebih langsing. Bentuk motil ini dinamakan ookinete
• Ookinete bergerak menembus dinding usus, dan menempel dibagian luarnya.
Ookinete membentuk dinding tipis dan tumbuh menjadi oocyt
• Dalam oocyt terjadi pembelahan inti dan sitoplasma hingga terbentuk ribuan
tropozoit
• Setelah 4-15 hari, oocyt matang, lalu lisis.
• Sporozoit menyebar dalam tubuh nyamuk, sebagian masuk ke air liur nyamuk
• Nyamuk yang infeksius siap mengeluarkan sporozoit bersama dengan air liurnya.
6. Tatalaksana terbaru (algoritma) untuk
anak-anak, ibu hamil, dan dewasa

Standar
Tatalaksana

Standar Standar
Standar Standar
pemantauan tanggung jawab
diagnosis pengobatan
pengobatan kesmas
1
Standar Diagnosis
1. Setiap individu yang tinggal di daerah endemik malaria yang menderita demam/memiliki
riwayat demam dalam 48 jam terakhir/tampak anemi; wajib diduga malaria tanpa
mengesampingkan penyebab demam yang lain
2. Setiap individu yang tinggal di daerah non-endemik malaria yang menderita
demam/riwayat demam dalam 7 hari terakhir dan memiliki risiko tertular malaria; wajib
diduga malaria
3. Setiap penderita yang diduga malaria harus diperiksa darah malaria dengan
mikroskop/RDT
4. Untuk mendapatkan pengobatan yang cepat maka hasil diagnosis malaria harus
didapatkan dalam waktu kurang dari 1 hari terhitung sejak pasien memeriksakan diri.

2
Standar Pengobatan
1. Harus mengikuti kebijakan nasional pengendalian malaria di Indonesia.
2. Pengobatan dengan ACT hanya diberikan pada penderita dengan hasil pemeriksaan
darah malaria (+)
3. Penderita malaria tanpa komplikasi harus diobati dengan ACT
4. Setiap tenaga kesehatan harus memastikan kepatuhan pasien meminum obat sampai
habis
5. Penderita malaria berat harus diobati dengan Artesunate intramuskular/intravena dan
dianjurkan ACT oral + primakuin
6. Jika penderita malaria berat akan dirujuk, sebelum dirujuk harus diberi dosis awal
artesunate IM / IV
3
Standar Pemantuan Pengobatan
1. Evaluasi pengobatan dilakukan dengan pemeriksaan klinis dan mikroskopis
2. Pada penderita rawat jalan, evaluasi pengobatan dilakukan setelah pengobatan selesai
(hari ke-3), hari ke-7, 14, 21, dan 28
3. Pada penderita rawat inap, evaluasi pengobatan dilakukan setiap hari hingga tidak
ditemukan parasit dalam sediaan darah selama 3 hari berturut-turut, dan setelahnya di
evaluasi seperti pada penderita rawat jalan.

4
Standar Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat
1. Petugas kesehatan harus mengetahui tingkat endemisitas malaria di wilayah kerjanya
dengan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat
2. Membangun jejaring layanan dan kemitraan bersama dengan fasilitas layanan lainnya
untuk meningkatkan akses layanan yang bermutu
3. Petugas kesehatan memantau pasien malaria dengan memastikan bahwa dilakukan
penanganan yang sesuai pedoman tatalaksana malaria
4. Petugas harus melaporkan semua kasus malaria yang ditemukan dan hasil
pengobatannya pada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan dan kebijakan
yang berlaku
Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi:

Pengobatan
tanpa
komplikasi

Malaria Malaria vivaks Malaria Infeksi campur


falsiparum Malaria ovale P.falciparum +
yang relaps malariae
dan malaria P.vivax/ovale
vivaks

DHF + Primakuin DHF + Primakuin ACT selama 3 hari


• Primakuin untuk yang diberi dalam + Primakuin yang
falciparum 14 hari diberi dalam 14 hari
diberi dalam 1
hari ACT + Primakuin ACT sekali sehari
• Primakuin untuk dinaikkan dosisnya selama 3 hari,
vivax diberi menjadi 0,5 tanpa primakuin
dalam 14 hari mg/kgBB/hari
Pengobatan Malaria untuk ibu hamil:

Umur Kehamilan Pengobatan

Trimester I - III ACT tablet selama 3 hari


Pengobatan Malaria untuk anak-anak:

Pengobatan Simptomatik Pengobatan Anti-Malaria


• Demam: Paracetamol 15 mg/kgBB/dosis • Lini I:
tiap 4-6 jam  Dehidroartemisin + piperakuin:
• Hiperpireksia: dehidroartemisin 2-4 mg/kgBB dan
• Paracetamol dosis insial 20 16-32 mg/kgBB/dosis tunggal diberi
mg/kgBB/dosis 3 hari
• Dosis rumatan 15 mg/kgBB/dosis  Artesunate + amodiquin: dosis
• Kejang: Diazepam I.V perlahan, dosis artesunate 4 mg/kgBB dan
0,3-0,5 mg/kgBB/dosis. Atau dengan amodiakuin 10 mg-basa/kgBB
diazepam rektal 5 mg (BB< 10 kg) dan 10 selama 3 hari
mg (BB >10 kg) • Lini II:
 Kina: dosis kina 10 mg/kgBB diberi 3
kali sehari selama 7 hari
 Harus dikombinasikan dengan
doksisiklin 2 kali sehari selama 7
hari

Obat anti-malaria harus dikombinasikan dengan primakuin untuk eradikasi.


Dosis: 0,75 mg-basa/kgBB/ dosis tunggal 1 hari (P.falciparum)
0,25 mg-basa/kgBB dosis tunggal 14 hari
Algoritma Tatalaksana Malaria:

Alur
penemuan
malaria
Penderita positif malaria
Tatalaksana
penderita
malaria
Malaria berat
Tanpa komplikasi (algoritme 3)

dapat minum obat Tidak dapat


minum obat

Berikan obat peroral sesuai jenis


plasmodium, pastikan habis Berikan obat
secara IV atau IM
(algoritme 3)
Bila klinis membaik, lakukan
pemeriksaan ulang mikroskopis
darah pada hari ke-3, 7, 14, 21, 28 Bila tidak ada perbaikan/memburuk
dalam 3 hari, kembali ke
RS/puskesmas
Observasi 28 hari

Hasil (-) hingga hari Hasil (+) pada salah satu hari Hasil (+) pada salah satu hari
ke-28 pemeriksaan, tetapi klinis pemeriksaan, dan klinis
tidak memburuk memburuk

sembuh Berikan pengobatan lini ke-2


Tatalaksana
penderita
malaria
berat di
layanan
primer dan
sekunder
Tatalaksana
penderita
malaria
berat di RS
rujukan
Daftar Pustaka
Hayati LH, Hasanudin I, Anwar. 2011. Karakteristik Tempat Perkembangbiakan
Anopheles Sp. Di Wilayah Kerja Puskesmas Bonto Bahari Kabupaten
Bulukumba. Makassar : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanuddin

Mandasari V. 2012. Karakteristik Habitat Potensial Larva Nyamuk Anopheles


Dan Hubungannya Dengan Kejadian Malaria Di Kota Pangkalpinang,
Bangka Belitung. Bogor : Institut Pertanian Bogor

Pujiadji AH, dkk. 2009. Buku Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta : Ikatan
Dokter Anak Indonesia

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2014. Buku Ajar


Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta: interna publishing

Wahyuni S. 2015. Manual Keterampilan Pengambilan Darah Tepi, Membuat


Apusan, Pewarnaan Giemsa Dan Pemeriksaan Mikroskopik
Apusan Darah Tepi. Makassar : Bagian Parasitologi Universitas
Hasanuddin