Anda di halaman 1dari 20

Case Based Discussion

DISHIDROTIK EKSEMA

Oleh :
Maimunah Faizin

Pembimbing :
dr. Meidyta Sinantryana W., Sp.KK

Departemen / SMF Dermatologi dan Venereologi


Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
RSI Jemur Sari Surabaya
2019
1
PENDAHULUAN
• Dishidrotik eksema atau lebih dikenal dengan pomfoliks merupakan
dermatitis tipe vesikular pada jari, telapak tangan dan kaki.
• Insidensi puncak penyakit ini terjadi pada pasien usia 20-40 tahun,
lebih sering terkena pada wanita dibandingkan pria dengan
perbandingan 2 : 1.
• Faktor-faktor eksogen seperti: kontak terhadap nikel, balsam,
kobalt, sensitivitas terhadap besi yang teringesti, infeksi oleh
dermatofita dan infeksi bakteri juga dapat memicu dishidrotik
eksema
2
DEFINISI
• Dermatitis dishidrotik adalah bentuk dermatitis tangan dan kaki
yang ditandai dengan akumulasi cairan berupa vesikel atau bula.
• Dapat terjadi secara akut, kronik, atau rekuren di telapak tangan
(palmar) dan telapak kaki (plantar), berupa mendadak timbul
vesikelvesikel “tapioca-like” yang gatal selanjutnya membentuk
fisura dan likenifikasi
• Istilah dyshidrotic karena awalnya diduga akibat gangguan kelenjar
keringat, tetapi saat ini beberapa sumber menyatakan tidak ada
hubungan kausatif.
• Kata pompholyx diambil dari istilah Yunani yang berarti “bubble”
sesuai gambaran klinis
3
ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
1. Atopi
Sebanyak 50% pasien dengan dermatitis dishidrotik mempunyai atopi diatesis (eczema, asma, hay fever,
rinitis alergi)
2. Bahan iritan, seperti minyak pelarut.
3. Kontak secara langsung ke telapak tangan bahan kimia atau metal (misalnya nikel, kromium,
benzoisothiazolones, isopropyl paraphenylenediamine, kobalt, parfum, dan balsam Peru).
4. Tertelan alergen, seperti nikel, kromium, kobalt, neomisin.
5. Alergen sepatu
Alergi terhadap karet diduga memicu erupsi vesikel pada telapak kaki.
6. Infeksi jamur (dermatofit)
7. Infeksi bakteri
8. Obat-obatan, seperti aspirin, kontrasepsi oral, merokok
4
9. Lainnya: psoriasis pustular
PATOGENESIS
Terdapat beberapa hipotesis patogenesis, hipotesis paling
awal menyebutkan bahwa vesikel-vesikel dermatitis dishidrotik
disebabkan oleh disfungsi kelenjar keringat. Namun, ternyata
pada pemeriksaan histologi saluran kelenjar keringat tidak
abnormal. Walaupun demikian, hiperhidrosis (keringat
berlebihan) didapatkan pada hampir sepertiga penderita
dermatitis dishidrosis

5
MANIFESTASI KLINIS
• Mendadak muncul vesikel yang gatal, gatal dapat mendahului
erupsi vesikel. Vesikel dapat berkelompok lalu membentuk
bula besar.
• (-) eritema, (+) panas/tajam
• 80% mengenai telapak tangan dan bagian lateral jari-jari,
hanya 10% yang mengenai telapak kaki
• Pada keadaan lanjut dapat ditemukan fisura dan likenifikasi

6
Diagnosis dan Diagnosis Banding
Diagnosis Diagnosis Banding
• Anamnesis • Dermatitis Kontak Alergi
• Gambaran Klinis • Tinea Pedis Bulosa
• Scabies

7
Tatalaksana
• Kompres dingin untuk mengeringkan vesikel dan bulla
• Kortikosteroid topikal potensi tinggi (clobetasol propionate)
• Kortikosteroid sistemik (Metilprednisolon)
• Imunosupresan (Metotreksat)
• Pimecrolimus (gagal dengan pengobatan awal)
• Antibitik (jika ada infeksi sekunder)

8
STUDI KASUS

9
IDENTITAS
• Nama : Ny. Titik
• Umur : 36 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Pekerjaan : Pedagang
• Agama : Islam
• Alamat : Purwodadi, kec. Barat, Magetan
• No. RM : 317617
• Tanggal Pemeriksaan : 08 April 2019

10
Anamnesis
Autoanamnesa kepada pasien di Poli Kulit dan Kelamin RSI Jemursari Surabaya.
Keluhan Utama
Bintil berair di kaki kanan dan kiri sejak 1,5 bulan yang lalu, terasa gatal dan sebagian
pecah menjadi luka
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan bintil berair di kaki kanan dan kiri. Bintil berair timbul
sejak 1,5 bulan yang lalu. Pasien mengatakan bintil berair terasa gatal, rasa gatal timbul secara
tiba-tiba, tidak dipengaruhi oleh keringat maupun saat malam hari. Pasien mengatakan sering
menggaruk di daerah bintil berair karena tidak tahan dengan rasa gatal nya. Bintil berair yang
tergaruk menjadi pecah, setelah itu timbul rasa pedih dan panas dan menjadi luka. Bintil berair
yang pecah menjadi luka mengering dan terasa nyeri. Pasien mengira bintil berair disebabkan
oleh pekerjaannya sebagai produksi tahu yang sehari-harinya riwayat kontak dengan limbah
tahu. Namun saat pasien istirahat dari pekerjaan untuk sementara waktu, bintil berair masih
tetap timbul dan terasa gatal. Pasien mengaku sudah pernah diobati di puskesmas dan bidan,
diberi obat minum dan salep, namun pasien lupa nama obat nya. Bintil berair dan luka yang
kering sembuh setelah dilakukan pengobatan tapi sering muncul lagi. Pasien mengaku
sebelumnya tidak ada alergi terhadap makanan, obat dan debu.
11
Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Alergi Obat / Makanan
• Diabetes Mellitus (-) • Alergi Obat disangkal
• Hipertensi (-) • Alergi Makanan disangkal
• Tidak pernah mengalami hal serupa • Alergi debu dan lainnya disangkal
sebelumnya Riwayat kebiasaan sosial
• Riwayat gigitan serangga sebelumnya • Pasien tidak tahan gatal dan sering kali
disangkal. menggaruk pada daerah yang gatal.
Riwayat Penyakit Keluarga • Pasien bekerja sebagai produksi tahu
• Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan
serupa
Riwayat Penggunaan Obat
Pasien mengaku lupa nama obat saat
melakukan pengobatan di puskesmas dan
bidan untuk mengurangi bintil berair.

12
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Fisik
A. Status Generalis
– Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
– Kesadaran : Compos mentis.
– Tanda vital :
• Tekanan Darah : 120/80mmHg.
• Nadi : 88 x/menit.
• Suhu : 36,50 C.
• Frekuensi Pernapasan : 20 x/menit.

13
Status Generalis
• Kepala : Normosephal
• Mata : Anemis – /–, Ikterik – /–, injeksi konjungtiva – /–,
Hidung : PCH (–)
Mulut : Dalam Batas Normal
• Leher : Perbesaran kelenjar getah bening (–)
• Thoraks : Cor S1 S2 reguler, murmur (–), gallop (–),
Pulmo Vesikuler kanan kiri, Ro – /–, Wheezing – /–
• Abdomen : Dalam batas normal
• Ekstremitas : CTR< 2 detik, Akral hangat, kering, merah (+)

14
STATUS DERMATOLOGIS
• Regio : Pedis dekstra et sinistra
• Efloresensi : Tampak vesikel-bula disertai ekskoriasi dan
skuama multiple, bilateral bentuk bulat batas tegas ukuran
lentikuler-milier, Didapatkan erosi serta fisura bentuk ireguler
batas tidak tegas.

15
Pedis Dekstra

Pedis Sinistra

16
• DIAGNOSIS BANDING
– Tine Pedis
– Scabies
– Dermatitis atopik
– Dermatitis kontak alergen
• DIAGNOSIS KERJA (ASSESMENT)
– Dishidrotik Eksema

17
TATALAKSANA
FARMAKOLOGIS

Sistemik:
• Tablet Loratadin satu kali sehari (pagi)
• Metilprednisolon 8 mg (1-1-0)
Topikal:
• Krim Atopiclair (Pelembab saat malam)
• Kompres solusio NaCl 0,9% dua kali sehari
• Asam Fusidat krim 2% dua kali sehari
• Desoximetasone krim 0,25% dua kali sehari
18
EDUKASI
• Ganti sabun yang non antiseptic (ex: Dove, Lux, Sabun Bayi, dll).
• Hindari menggaruk pada daerah yang gatal.
• Cairan di dalam lepuh yang besar harus dikeluarkan, tetapi lepuh tidak boleh
dipecahkan.
• Mengontrol stress dan emosional.
• Menjaga pola makan dan istirahat yang cukup
• Penggunaan obat sesuai dengan instruksi dokter.

PROGNOSIS
• Quo Ad vitam : Dubia ad bonam
• Quo Ad functional : Dubia ad bonam
19
TERIMA KASIH 

20