Anda di halaman 1dari 25

GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA

DALAM PEMENUHAN AKTIVITAS SEHARI-HARI DI


DESA BALONGAN KECAMATAN BALONGAN
KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2017
Nama : Fika Febriana Suwardi
NIM : R.15.01.025
BAB I
Lanjut usia merupakan suatu anugerah dari tuhan yang
maha Esa. Menjadi tua, dengan segenap keterbatannya, pasti
akan dialami oleh seseorang bila ia panjang umur (Tamher,
2012;1)
Berdasarkan data dari Puskesmas Balongan tahun 2016,
di Desa Balongan diketahui bahwa jumlah lansia usia kurang lebih
60 tahun pada bulan Oktober-November sebanyak 284 lansia
dengan Laki-laki berjumlah 106 lansia dan Perempuan berjumlah
178 lansia. Desa Balongan terbagi menjadi 15 RT, yaitu Balongan
Blok Pesisir sebanyak 5 RT, Balongan II sebanyak 5 RT dan
Balongan Blok Sambi sebanyak 5 RT.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di
Desa Balongan Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu pada
tanggal 16-17 Februari tahun 2017 didapatkan hasil dari 10
lansia, 3 lansia tergolong mandiri dan 7 lansia tergolong
ketergantungan diantaranya 4 lansia dengan ketergantungan
dalam hal mandi, berpakaian rapi, pergi ke toilet, berpindah
tempat, tidak bisa mengontrol BAK atau BAB dan tidak bisa
mengambil makanan sendiri, 2 lansia dengan ketergantungan
dalam hal mandi, berpakaian rapi, pergi ke toilet, dan berpindah
tempat dan 1 lansia dengan ketergantungan dalam hal mandi,
berpakaian rapi, dan pergi ke toilet.
Sedangkan lansia yang pernah mengalami tragedi jatuh
yaitu 4 lansia diantaranya 2 lansia pernah jatuh di tempat tidur
dan 2 lansia lainnya oernah jatuh di kamar mandi pada saat mau
buang air besar dan buang air kecil. 4 lansia tersebut mengalami
cidera ringan tidak sampai cidera berat masih bisa ditangani atau
ditolong.
BAB II
A. Konsep Lanjut Usia dan Proses Menua
1. Definisi : usia lanjut adalah seseorang yang berusia 60 tahun
atau lebih (Maryam, 2010)
2. Klasifikasi Lansia : pra lansia, lansia, lansia resiko tinggi, lansia
potensial, lansia tidak potensial
3. Batasan Lanjut Usia :
Menurut WHO (1999) dalam Azizah (2011)
a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45-59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) antara 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun
4. Karakteristik Lansia :
Menurut Budi Anna Keliat (1999) dalam Maryam (2008), lansia
memiliki karakteristik sebagai berikut
a. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU
No.13 tentang Kesehatan)
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai
sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari
kondisi adaptif hingga kondisi maladatif
c. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi
5. Tipe-tipe Lanjut Usia : tipe arif bijaksana, tipe mandiri, tipe
tidak puas, tipe pasrah, tipe bingung
6. Proses Menua
a. Pengertian :
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi
didalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses
sepanjang hidup, tidak hanya dimulai pada suatu waktu tertentu,
tetapi dimulai sejak pemulaaan kehidupan (Dewi, 2014;11)
b. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia
Perubahan fisik : sistem indra, sistem muskuloskeletal, sistem
kardiovaskuler, pencernaan dan metabolisme, sistem perkemihan,
sistem saraf, sistem reproduksi
c. Masalah fisik yang sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia
1) Mudah Jatuh
2) Mudah Lelah
3) Berat Badan Menurun
4) Sukar Menahan Buang Air Besar
5) Gangguan pada ketajaman penglihatan
d. Risiko jatuh pada lansia
1) Faktor risiko jatuh
2) Akibat jatuh
B. Konsep Tingkat Kemandirian Pada Lansia
1. Pengertian :
Kemandirian berati tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan
pribadi aktif, kecuali secara spesifik akan digambarkan dibawah ini.
Pengkajian ini didasarkan pada kondisi aktual klien dan bukan pada
kemampuan. Artinya, jika klien menolak untuk melakukan suatu fungsi,
dianggap sebagai tidak melakukan fungsi meskipun dia sebenarnya
mampu (Maryam, 2008;178)
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian lansia
a) Kondisi kesehatan
b) Kondisi sosial
c) Kondisi ekonomi
3. Activities Daily Living (ADL)
4. Instrumen pengkajian ADL dengan Indeks Barthel
BAB III
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu uraian dan isualisasi yang berhubungan atau
berkaitan antara konsep satu dengan konsep yang lainnya, atau antara
variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang akan diteliti
(Notoatmodjo, 2012;83)
B. Definisi Operasioanal
Definisi operasional merupakan penjelasan semua variabel dan istilah
yang digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga akhirnya
mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian. Pada
definisi operasional dijelaskan secara padat mengenai unsur penelitian
yang meliputi bagaimana caranya menentukan variabel dalam mengukur
suatu variabel (Setiadi, 2013;122)
BAB IV
1. Rancangan Penelitian
2. Populasi dan Sampel
1. Populasi
2. Sampel
3. Variabel penelitian
4. Tempat dan Waktu Penelitian
5. Etika Penelitian
6. Alat Pengukuran Data Penelitian
7. Prosedur Pengumpulan Data
1. Jenis Data : data primer dan data sekunder
2. Prosedur Pengumpulan Data
8. Rencana Analisa Data
1. Pengolahan Data
2. Analisa Data
BAB V
A. Gambaran Karakteristik Responden
1. Gambaran kemandirian lansia ditinjau dari usia
Berdasarkan hasil menunjukan bahwa nilai rata-rata usia responden
adalah 69,36 tahun dengan standar deviasi 8,478. usia termuda 61
tahun dan tertua 90 tahun. Dengan tingkat kepercayaan 90% dapat
diketahui rentang usia rsponden adalah 67,72-71,01.
2. Gambaran kemandirian lansia ditinjau dari jenis kelamin
Berdasarkan hasil menunjukan bahwa jumlah lansia laki-laki yang
berada di Desa Balongan sebanyak 19 lansia (25,75%) dan jumlah
lansia perempuan yang berada di Desa Balongan sebanyak 55 lansia
(74,3%)
3. Gambaran kemandirian lansia ditinjau dari pendidikan
Berdasarkan data menunjukan bahwa pendidikan lansia di Desa
Balongan Kabupaten Indramayu yang terbanyak adalah tidak sekolah
yaitu sebanyak 51 lansia (68,9%)
4. Gambaran kemandirian lansia ditinjau dari pekerjaan
Berdasarkan hasil menunjukan bahwa pekerjaan lansia di Desa
Balongan Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu terbanyak
adalah tidak bekerja yaitu sebanyak 42 lansia (56,8%)
5. Gambaran kemandirian lansia ditinjau dari lansia yang
mempunyai riwayat cidera akibat jatuh
Berdasarkan hasil menunjukan bahwa data terbanyak lansia yang
mempunyai riwayat cidera akibat jatuh yang terjadi di Desa Balongan
Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu adalah sebanyak 15 lansia
(20,3%) dengan cidera berat dan lansia yang tidak mengalami jatuh
sebanyak 44 lansia (59,5%)
B. Gambaran Kemandirian Lansia
1. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen makan/minum (P1)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
makan/minum dengan menggunakan indeks baerthel dalam observasi yang
terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 57 lansia (77,0%)
2. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen berpindah (P2)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
berpindah dengan menggunakan indeks bearthel dalam observasi yang
terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 55 lansia (74,3%)
3. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen kebersihan diri (P3)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
kebersihan diri dengan menggunakan indeks baerthel dalam observasi yang
terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 55 lansia (74,3%)
4. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen keluar/masuk
kamar mandi (P4)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
keluar/masuk kamar mandi dengan menggunakan indeks bearthel dalam
observasi yang terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 40
lansia (54,1%)
5. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen mandi (P5)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian mandi
dengan menggunakan indeks bearthel dalam observasi yang terbanyak adalah
lansia yang dapat mandiri sebanyak 44 lansia (59,5%)

6. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen berjalan (jalan datar)


(P6)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
berjalan (jalan datar) dengan menggunakan indeks bearthel dalam observasi
yang terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 45 lansia (60,8%)

7. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen naik turun tangga (P7)


Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian naik
turun tangga dengan menggunakan indeks bearthel dalam observasi yang
terbanyak adalah lansia yang membutuhkan bantuan sebanyak 46 lansia (62,2%)
8. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen berpakaian/bersepatu
(P8)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
berpakaian/bersepatu dengan menggunakan indeks bearthel dalam observasi
yang terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 56 lansia (75,7%)

9. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen mengontrol defekasi


(P9)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
mengontrol defekasi dengan menggunakan indeks bearthel dalam observasi
yang terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 58 lansia (78,4%)

10. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen mengontrol berkemih


(P10)
Berdasarkan data menunjukan bahwa nilai dari subvariabel kemandirian
mengontrol berkemih dengan menggunakan indeks bearthel dalam observasi
yang terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri sebanyak 58 lansia (78,4%)
C. Gambaran Tingkat Kemandirian Lansia
1. Gambaran tingkat kemandirian lansia dalam pemenuhan
aktivitas sehari-hari berdasarkan kategori
Berdasarkan data menunjukan bahwa tingkat kemandirian lansia dalam
pemenuhan aktivitas sehari-hari dengan menggunakna indeks barthel
dalam observasi yang terbanyak adalah lansia yang dapat mandiri
sebanyak 28 lansia (37,8%) dan yang terendah adalah lansia yang
mengalami ketergantungan ringan sebanyak 11 lansia (14,9%)
BAB VI
A. Interpretasi dan Pembahasan Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
a. Gambaran tingkat kemandirian lansia ditinjau dari usia
b. Gambaran tingkat kemandirian lansia ditinjau dari jenis kelamin
c. Gambaran tingkat kemandirian lansia ditinjau dari pendidikan
d. Gambaran tingkat kemandirian lansia ditinjau dari pekerjaan
e. Gambaran kemandirian lansia ditinjau dari lansia yang
mempunyai riwayat cidera akibat jatuh
2. Kemandirian Lansia
a. Gambaran kemandirian lansi berdasarkan komponen makan/minum
b. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen berpindah
c. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen kebersihan diri
d. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen keluar/masuk
kamar mandi
e. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen mandi
f. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen berjalan (jalan
datar)
g. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen naik turun
tangga
h. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen
berpakaian/bersepatu
i. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen mengontrol
defekasi
j. Gambaran kemandirian lansia berdasarkan komponen mengontrol
berkemih
3. Tingkat kemandirian Lansia Berdasarkan Kategori
a. Gambaran tingkat kemandirian lansia dalam pemenuhan
aktivitas sehari-hari
B. Keterbatasan Penelitian
C. Implikasi Pelayanan Kesehatan
1. Implikasi Pelayanan Kesehatan
2. Implikasi Pendidikan
3. Implikasi Keperawatan
BAB VII
A. Simpulan
1. Kemandirian lansia berdasarkan karakteristik responden yaitu usia
dengan rata-rata 69,36 tahun dengan usia minimal 61 tahun dan
maksimal 90 tahun, pada jenis kelamin didapatkan jumlah lansia
laki-laki sebanyak 19 lansia (25,7%) dan jumlah lansia perempuan
sebanyak 55 lansia (74,3%), pada pendidikan didapatkan yang
terbanyak adalah tidak bekerja sebanyak 42 lansia (56,8%), dan
riwayat cidera akibat jatuh didapatkan yang terbanyak adalah
lansia yang tidak mengalami jatuh sebanyak 44 lansia (59,5%)
2. Kemandirian lansia dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari yaitu
makna/minum secara mandiri sebanyak 57 lansia (77,0%),
berpindah secara mandiri sebanyak 55 lansia (74,3%). Kebersihan
diri secara mandiri sebanyak 40 lansia (54,1%), mandi secara
mandiri sebanyak 44 lansia (59,5%), berjalan (jalan datar) secara
mandiri sebanyak 45 lansia (60,8%), naik turun tangga dibantu
oleh orang lain sebanyak 46 lansia (62,2%), berpakaian bersepatu
secara mandiri sebanyak 56 lansia (75,7%), mengontrol defekasi
dan berkemih masing-masing secara mandiri sebanyak 58 lansia
(78,4%)
B. Saran
1. Bagi puskesmas
Diharapkan tenaga kesehatan memberikan pengetahuan kesehatan
terhadap kemandirian lansia di puskesmas dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya agar para lansia dapat mengetahui pentingnya aktivitas
kemandirian lansia untuk mengurangi terjadinya ketergantungan orang lain
dan cidera akibat jatuh
2. Bagi keluarga Lansia
Diharapkan penelitian ini dapat lebih mementingkan pengetahuan keluarga
lansia tentang pentingnya aktivitas kemandirian lansia dalam kehidupan
sehari-hari dan dapat menumbuhkan peran keluarga serta dukungan
keluarga terhadap lansia
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat dijadikan data awal untuk penelitian lebih lanjut tentang
permasalahan yang dihadapi lansia dan melanjutkan penelitian ini dengan
jenis penelitian yang berbeda seperti dengan jenis penelitian kualitatif pada
aktivitas kemandirian lansia yang mempunyai riwayat cidera akibat jatuh
Terimaksih