Anda di halaman 1dari 33

PEMERIKSAAN

KEDOKTERAN NUKLIR
TIROIDOLOGI
1. Sidik Kelenjar Gondok ( Thyroid scintigraphy )
2. Uji Tangkap Tiroid ( Thyroid Uptake Test )
3. Uji Pelepasan Perchlorate ( Percholarate Discharge Test )

KARDIOLOGI
1. Sidik Lintas Pertama (Cardiac First Pass Study)
2. Ventrikulografi Radionuklida ( Multigated / MUGA )
3. Sidik Perfusi Miokardial dengan 99m Tc
4. Sidik Perfusi Miokardial dengan Tl 201
5. Sidik Infark Miokard Akut
6. Uji Beban dengan Ergocycle
7. Uji Beban Farmakologik.
Vaskuler
1. Flebografi (Radionuclide phlebography)
2.Venografi (Radionuclide venography)

SUSUNAN SYARAF PUSAT


1. Sidik Otak ( Brain Scintigraphy )
2. Sisternography ( Radionuclide Cysternography)

GASTRO ENTERLOGI
1. Uji Pengosongan Lambung (Gastric emptying test)
2. Studi Motalitas Esofagus (Oesophageal Motility Study)
3. Studi Refluks Esofageal ( Oesophageal Refluk Study)
4. Deteksi Divertikulum Meckel (Detection of Mechel’ s Diverticle)
5. Deteksi Lokasi Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah
(Detection of bleeding site of lower digestive tract)
HEPATOBILIAR
1. Sidik Hati dan Limpa (Liver and Spleen Scintigraphy)
2. Sidik Puling Darah Hati ( Liver blood pool Scan)
3. Sidik Sistem Hepatobiliaris (Hepatobiliary Scintigraphy)

PULMONOLOGI
1. Sidik Ventilasi dan perfusi paru ( Pulmonary ventilation and per
fusion scan )

NEFRO UROLOGI
1. Sidik gnjal (Renal scintigraphy)
2. Renografi Konvensional
3. Renografi Kaptropil
4. Aliran plasma ginjal ( Effective renal plasma flow )
5. Laju filtrasi glomerulus (Glomerular filtration rate)
6. Sistogafi (Radionuclide cystography
ONKOLOGI
1. Sidik Tulang (Bone Scintigraphy)
2. Skintimamografi
3. Sidik Seluruh Tubuh dengan 131 I
4. Sidik Seluruh Tubuh dengan Sesamibi

LAIN LAIN
1. Dakrosistography
2. Sidik Infeksi dengan Tc infecton
3. Sidik Testis

TERAPI
1. Pengobatan hipertiroid
2. Pengobatan karsinoma tiroid
3. Pengobatan Paliatif pada nyeri tulang.
PEMRIKSAAN
SIDIK KELENJAR GONDOK ( SKG)

INDIKASI
1. Nodul Tiroid
2. Pembesaran kelenjar tiroid tanpa nodol yang jelas
3. Jaringan tiroid ektopik atau sisa pasca operai

RADIOFARMAKA
1. 131 I Na, dosis 300 uCi, diberikan per oral
2. 123 I Na, dosis 500 uCi, diberikan per oral
3. 99m Tc, dosis 2 - 5 mCi diberikan melalui i. v.

PERSIAPAN
1. Bila menggunakan 131 I Na atau 123 I Na puasa selama 6 jam
2. Bila menggunakan 99m Tc, obat 2 an yang mengandung Iodium
atau hormon tiroid dihentikan
PERALATAN
1. Kamera Gama dengan kolimator pinhole (kalau ada)
2. Gunakan kolimator LEHR untuk 99m Tc
3. Gunakan kolimator HEHR untuk 131 I Na atau 123 I Na

TATA LAKSANA
1. Pencitraan dilakukan 10-15 menit setelah penyuntikan 99m Tc
2. Pencitraan dilakukan 6 jam setelah minum 123 I Na
3. Pencitraan dilakukan 24 jam setelah minum 131 I Na
4. Pasien tidur terlentang dibawah kamera gama dengan leher
extensi
5. Diberi tanda Cartilago (CT) dan Jugulum (Jug).
6. Matrik 256 x 256.
7. Pencitraan dilakukan selama 10 – 15 menit
PENILAIAN
Bila dalam keadaan normal tampak gambaran seperti kupu 2
Distribusi radioaktifitas dikedua lobus merata disebut struma di
fusam, Bila ada nodul disebut struma nodusa atau struma
multi
nodusa, nodul yang menagkap radioaktivitas lebih tinggi dari ja
ringan sekitarnya disebut nodul panas ( hot nodul ) dan nodul
yang kurang atau tidak menangkap radioaktivitas disebut nodul
dingin ( cold nodul ) sedangkan yang menangkap rdioaktivitas
sama disebut juga ( warm nodul ).
CONTOH HASIL GAMBAR PEMERIKSAAN.

CT
CT

JUG

JUG
PEMERIKSAAN
UJI TANGKAP TIROID (THYROID UP TAKE TEST)

INDIKASI
1. Penilaian fungsi tiroid, khususnya untuk membedakan low dari
hi gh up take
2. Menentukan besarnya 131 I Na yang diberikan untuk terapi
RADIOFARMAKA
1. 131 I Na, dosis 30-50 uCi diberikan per oral
2. 123 I Na, dosis 500 uCi diberikan per oral
3. 99m Tc, dosis 2-5 mCi diberikan i.v.

TATALAKSANA
1. Dosis radiofarmaka yang akan diberikan diukur dulu dengan
alat kamera gama selama 1 menit ( Full Syringe).
2. Pasien disuntikan i.v.
3. Bekas suntikan pasien diukur kembali dengan alat kamera gama
selama 1 menit ( Empty Syringe).
4. Setelah 5 menit pasca penyuntikan pasien dilakukan scaning
dikamera
5. Pasien tidur terlentang dengan leher dalam keadaan ekstensi
6. Pencitraan dilakukan selama 10 menit
PENILAIAN
Nilai normal uji tangkap bervariasi
Nilai normal di Bag/SMF Kedokteran Nuklir RSHS
1. Angka penangkapan Iodium 2 jam : 2 - 15 %
2. Angka penangkapan Iodium 24 jan : 20 – 45 %
3. Angka penangkapan Tc : 0,5 – 5,0 %

CONTOH HASIL PEMERIKSAAN


PEMERIKSAAN
RENOGRAFI KONVENSIONAL
INDIKASI
1. Evaluasi perfusi dan fungsi ginjal
2. Uji saring hiperyensi renovaskuler
3. Deteksi dan evaluasi obstruksi sistm koleksi ginjal
4. Evaluasi trauma ginjal

RADIOFARMAKA
5mCi 99m Tc DTPA disuntikan intravena di vena mediana cubiti se
cara bolus

PERSIAPAN
1. Penderita harus banyak minum 500 ml
2. Kandung kemih diusahakan dalam keadaan kosong
TATA LAKSANA
1. Posisi pasien terlentang
2. Kamera dari arah posterior
3. Matri 128 x 128
4. Frame/ time : 120 frame/ 30 menit

PENILAIAN
Pencitraan kedua ginjal untuk melihat kemampuan ginjal
mengekstraksi radiofarmaka
Penilaian kurva ada 3 fase
Fase pertama : Terjadi peningkatan secara cepat setelah pe
nyuntikan radiofarmaka yang menunjukan kecepatan
injeksi dan aliran darah vaskuler kedalam ginjal . Ini me
nunjukan bolus atau tidak, fase ini terjadi kurang dari 2
menit.
Fase kedua : Menunjukan kenaikan yang lebih lamban dan
meningkat secara bertahap, ini menunjukan penangkapan
radiofarmaka di dalam ginjal. Dalam keadaan normal fase ini
mencapai puncak dalam waktu 2 - 5 menit.
Fase ketiga : tampak kurva menurun dengan cepat setelah
mencapai puncak yang menunjukan keseimbangan anta
ra radioaktivitas yang masuk dan yang meninggalkan
ginjal. Bila ginjal tidak berfungsi penangkapan radioak
tivitasakan minim atau tidak ada sama sekali. Pada
obstruksi total, kandung kemih tidak tampak dan fase
kedua akan tampak naik terus dan tidak terlihat adanya
fase ketiga.
PEMERIKSAAN
SIDIK TULANG (BONE SCINTIGRAFI)

INDIKASI
1. Metase pada tulang
2. Tumor tulang primer
3. Osteomilitis
4. Nekrosis aseptik
5. Trauma
6. Kelainan sendi
7. Penyakit metabolik pada tulang

RADIOFARMAK
15 – 20 mCi 99m Tc MDP disuntikan secara intravena pada vena medi
ana cubiti

PERSIAPAN
Tidak diperlukan persiapan khusus
TATALAKSANA
Pencitraan dengan metode 3 fase
1. Fase pertama (Vaskuler)
Penderita tidur terlentang ditempat sedemikian rupa sehingga
bagian tubuh yang akan diperiksa berada di atas lapang pandang d
detekor. Ini merupakan pemeriksaan dinamik dengan matrik 128 x
128 dengan waktu 3 detik/ frame selama 2 menit
2. Fase kedua
Dilakukann segera setelah fase pertama selesai. Ini merupakan
pencitraan statik dengan matrik 256 x 256 sebanyak 700 Kcount
3. Fase ketiga
Merupakan pemeriksaan statik dilakukan 3 jam setelah penyuntik
an.
4. Sebelum dilakukan pemeriksaan penderitan harus buang air kecil
terlebih dahulu
5. Pemeriksaan dilakukan seluruh tubuh (whole body scan) dari posi
si anterior dan posterior
6. Setelah itu dilakukan pemeriksan spot pada bagian yang mencuri
gakan dengan matrik 256 x 256 sebanyak 700 kcont.
CONTOH HASIL PEMERIKAAN
PEMERIKSAAN

DAKRIOSISTOGRAFI (RADIONUCLIDE DACRYOCYSTOGRAPHY)

INDIKASI
Obstruksi saluran nasolakrimalis

RADIOFARMAKA
99m Tc sebanyak 100 uCi

PERSIAPAN : Tidak ada persiapan


TATALAKSANA
1. Posisi pasien duduk dengan muka tegak lurus menghadap kamera
2. Radiofarmaka diteteskan masing masing satu tetes pada kedua
mata, jaringan sampai keluar dari kelopak mata
3. Protokol akusisi serial sampai menit ke 30 dengan matrix 256 x 256
1 menit/ frame
4. Waktu pemeriksaan , 1, 3, 5, 10, 15, 20, 25, 30 menit

PENILAIAN
Perhatikan aliran radiofarmaka dari arah cranial ke caudal di sepanjang
saluran nasolakrimalis, jika ada hambatan aliran menunjukan adanya
obstruksi
PEMERIKSAAN
SIDIK PERFUSI MIOKARDIAL (SPM)

INDIKASI
1. Penyakit jantung korener
2. Infark miokard
3. Diagnosis danevaluasi hiperrofi ventrikel kiri konsentris
4. Hipertropfi septum asimetrik
5. Hipertrofi ventrikel kanan
6. Deteksi penyakit jantung koroner
7. Stratifikasi resiko dan progonosa penyakit jantung koroner
8. Penentuan Viabilitas miokard

Radiofarmaka
1. 99m Sestamibi
2. 99m Tetrofosmin
3. Dosis radiofarmaka pada puncak beban adalah 8 mCi
4. Dosis pada saat istirahat 15 mCi
5. Disuntikan intravena melalui three way connector dan wing nedle
PERSIAPAN
1. Obat 2 an golongan penyekat beta dihentikan 24 -48 jam
2. Dianjurkan menggunakan pakaian olah raga
3. Atau menggunakan pakaian yang kancingnya didepan

TATALAKSANA
1. Penderita menjalani latihan fisik menggunakan ergocycle
atau dengan beban fisik farmakologik
2. Radiofarmaka disuntikan pada puncak beban latihan fisik,
dipertahankan sampai 1- 2 menit kemudian diupayakan
pasien dapat mencapai sekurangnya 85 %
3. Beban fisik dihentikan bila pasien sudah mencapai 85 % atau
apabila pasien mengeluh nyeri dad, keluhan pusing, berkeri
ngat dingin atau tidak sanggup melakukan latihan beban
4. Pencitraan dilakukan 30 – 45 setelah latihan fisik
5. Posisi pasien terlentang dengan kedua lengan ditempatkan di atas
kepala
6. Kedua detektor ditempatkan sedemikian rupa membentuk sudut
90 0 sedekat mungkin dengan dinding thorax dan jantung berada
pada bagian tengah lapang detektor
7. 3 jam setelah latihan beban dilakukan pencitraan kembali
8. Sebelum pencitraan disuntik dengan 99m Tc sestamibi
dengan dosis 10 – 15 mCi
9. Setelah disuntikan, 30 – 45 menit baru dilakukan pencitraan
10. Sebelum dilakukan pemeriksaan pasien harus minum sege
las susu

PENILAIAN
Dalam keadaan normal distribusi radioaktivitas pada miokardi
um merata, penilaian sidik perfusi miokard diarahkan untuk
mencari daerah dengan penangkapan radioaktivitas kurang
(defek perfusi) pada citra dengan beban istirahat. Defek perfusi
yang menetap/irrevesibel (matching defect) disebabkan ada
nya proses nekrosis atau jaringan parut pada miokardium.
Sedangkan jika ditemukan mismatch defect yaitu defek perfusi
pada pencitraan dengan beban dan normal atau menjadi lebih
baik pada pencitraan saat istirahat menunjukan adanya iskemi mio
kard yang reversibel. Mismacth defect yang terbalik (reverse redistri
bution) yaitu penangkapan radioaktivitas dengan beban lebih baik di
bandingkan dengan saat istirahat dapat disebabkan oleh penyakit jan
tung koroner yang berat disertai dengan kolateralisasi yang baik.
CONTOH HASIL PEMERIKSAAN
CONTOH HASIL PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN
VENTRIKULOGAFI RADIONUKLIDA
(Multigated Heart Blood Pool Scan /MUGA)

INDIKASI
1. Penentuan fungsi jantung pada berbagai penyakit jantung
2. Sebagai dasar untuk menentukan tindak lanjut pada prognosa pas
ca infark miokard dan kardiomiopati
3. Deteksi gangguan kontraktilitas ventrikel termasuk aneurisma ven
trikel
4. Evaluasi fungsi jantung akibat pemberian obat obatan kardiotoksik

RADIFARMAKA
1. 2 – 4 mg stannous pyrophosphate disuntikan melalui vena media
na cubiti kiri
2. 20 – 30 menit kemudian disuntikan 99m Tc melalui vena mediana
na cubiti kanan
3. Pencitraan dilakukan 15 – 20 menit setelah penyuntikan
PERSIAPAN
Tidk ada persiapan khusus

TATALAKSANA
1. Posisi pasien : tidur telenteng dengan tangan kiri diatas kepala
detektor ditempatkan pada posisi oblik kiri anterior (LAO) 40 0 –
70 0 sedemikian rupa sehingga ventrikel kiri terlihat jelas terpisah
dari ventrikel kanan
2. Lead EKG dipasang untuk lead standar yang sesuai yaitu pada
bagian atas kedua sisi dada dan kedua sisi perut bagian bawah.
3. Lama pemeriksaan 15- 20 menit atau 3000 kcount

PENILAIAN
Penilaian fungsi ventrikel kiri dilakukan secara visual dengan meli
hat pergerakan dinding jantung. Dinding jantung normal bergerak
sinkron dan konsentris
PERALATAN

1. Ergocycle
2. Monitor EKG
3. Tensimeter
4. Three way connector dan wing needle
5. Semprit 10 cc dengan bilasan heparin

ALAT DAN OBAT OBAT (untuk keadaan darurat)


1. Defribrilator
2. Cedocard
3. Adrenalin
4. Oksigen

TATALAKSANA
1. Pasang elektroda 12 lead EKG pada tempatnya
2. Pasang wing needle di vena mediana cubiti kanan dengan three way
connenctor yang salah satunya dihubungkan dengan semprit yang te
lah diablasi heparin dan berisi NaCl
3. Pada lengan kiri atas dipasang kuf tekanan darah
4. Segera sebelum latihan dimulai dibuat rekaman EKG
. Pasien melaksanakan latihan fisik dengan ergocycle menggunakan
5

protokol sebagai berikut :


- beban : awal 25 watt, dinaikkan 25 watt setiap 3 menit, dengan be
ban pemulihan 10 watt
- kecepatan putaran > 80 rpm
- tekanan darah dan denyut jantung dipantau selama latihan fisik ber
langsung
- latihan fisik dihentikan bila :
- telah tercapai beban maksimal berdasarkan denyut jantung
85 % dari denyut jantung maksimal tersebut
- adanya keluhan nyeri dada, sesak nafas, hipotensi atau peruba
han yang signifikan pada rekaman EKG
- pasien kelelahan atau tidak sanggup lagi meneruskan latihan
(bila dihentikan sebelum mencapai beban puncak, dicatat pada
stage atau menit keberapa, berapa % dari denyut jantung maksi
mum dan apa alasannya
6. Adenosin diberikan melalui pompa infus dengan dosis 140 mg/kg
BB selama 6 menit
7. Protokol pemeriksaan seperti protokol studi perfusi miokardium
8. Tekanan darah dan denyut nadi serta EKG dipantau sebelum pengujian
dilaksanakan, kemudian setiap 5 menit selama 45 menit bila diberikan
per oral.
PEMERIKSAAN

SIDIK TESTIS

INDIKASI
Deteksi torsio testis, epididymitis, hydrocele, varicocele, hernia ingui
nal dan tumor testis

RADIOFARMAKA
99m Tc DTPA sebanyak 15 mCi, disuntikan intravena secara bolus

PERSIAPAN : Tidak ada persiapan khusus


TATALAKSANA
1. Posisi pasien tidur dengan kaki agak terbuka
2. Penis ditempelkan kearah pubis dengan menggunakan plester agar
pancaran sinar gamma tidak terhalang
3. Posisi detektor anterior ditempatkan sedemikian rupa sehingga
penis dan skrotum berada dalam lapang pandang detector

PROTOKOL
1. Pencitraan dilakukan dinamik : 20 frame/3 detik pada matrik 128x128
2. Pencitraan statik dengan cacahan 700 kcount matrik 256x256
PENILAIAN
1. Dalam keadaan normal, pencitraan dinamik tidak tampak pening
katan radioaktivitas yang bermakna pada area skrotum. Pada pen
citraan statik tampak distribusi radioaktivitas diskrotum homogen
Pada torsio akut perfusi normal tapi didapatkan area fotopenik pa
da testis yang terkena.
Pada Epididymitis tampak aliran yang meningkat menuju sperma
tic cord, dan penangkapan yang meningkat pada jaringan sekitar
nya
Pada torto testis nilai diagnostik yang tinggi pada pemeriksaan 24
jam pertama, apabila lebih dari 24 jam akan terjadi reaksi jaringan
sekitar yang dapat menutupi gambaran tortio
CONTOH HASIL PEMERIKSAAN