Anda di halaman 1dari 12

EVIDENCE BASED NURSING PRACTICE

MENINGKATKAN SATURASI O2 PADA PASIEN


CIDERA KEPALA RINGAN (CKR) DI RUANG IGD
RSUD KOTA K.R.M.T WONGSONEGORO
LATAR BELAKANG
 Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya
akibat cedera kepala, dan lebih dari 700.000 mengalami
cedera cukup berat yang memerlukan perawatan di rumah
sakit. Pada kelompok ini, antara 50.000 sampai 90.000
orang setiap tahun mengalami penurunan intelektual atau
tingkah laku yang menghambat kembalinya mereka
menuju kehidupan normal
 Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)
tahun 2013, jumlah data yang dianalisis seluruhnya
1.027.758 orang untuk semua umur. Adapun responden
yang pernah mengalami cedera84.774 orang dan tidak
cedera 942.984 orang. Prevalensi cedera secara nasional
adalah 8,2%.
TUJUAN EBNP
Tujuan Umum
 Untuk mengetahui apakah ada hubungan pemberian
terapi nasal untuk peningkatan saturasi pada pasien
CKR (cedera kepala ringan) di ruang IGD RSUD
K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG
Tujuan Khusus
 Untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan
pemberian terapi nasal untuk peningkatan saturasi
pada pasien CKR (cedera kepala ringan) di ruang IGD
RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG
TINJAUAN PUSTAKA
 Cedera kepala adalah cedera yang dapat
mengakibatkan kerusakan otak akibat
perdarahan dan pembengkakan otak
sebagai respon terhadap cedera dan
penyebab peningkatan tekanan intra kranial
(TIK).Trauma atau cedera kepala atau
cedera otak adalah gangguan fungsi normal
otak karena trauma baik trauma tumpul
maupun tajam (Batticaca, 2008).
Berdasarkan Glassgow Coma Scale (GCS)
cedera kepala atau otak dapat di bagi
menjadi 3 gradasi :
1. Cedera kepala ringan (CKR) = GCS 13-15
2. Cedera kepala sedang (CKS) = GCS 9-12
3. Cedera kepala berat (CKB) = GCS ≤ 8

Penyebab cedera dibagi menjadi 2 :


1. Cedera tertutup
2. Cedera terbuka
Manifestasi klinis
1. Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
2. Kebingungan
3. Iritabel
4. Pucat
5. Mual dan muntah akibat peningkatan TIK
6. Pusing kepala
7. Terdapat hematoma.
Hematoma adalah kumpulan darah tidak normal di luar
pembuluh darah.
8. Kecemasan
9. Sukar untuk dibangunkan
10. Bila fraktur, mungkin adanya cairan serbrosfinal yang
keluar dari hidung (rhinorrea) dan telinga (otorhea) bila
fraktur tualng temporal
 KOMPLIKASI
1. Cidera kepala sekunder
2. Edema serebri
3. Peningkatan TIK
4. Herniasai jaringan otak
5. Infeksi
Pengertian saturasi oksigen
 Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan
unsur vital dalam proses metabolisme, untuk
mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel
tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan
cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali
bernapas. Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh
ditentukan oleh interaksi sistem respirasi,
kardiovaskuler, dan keadaan hematologis. Adanya
kekurangan oksigen ditandai dengan keadaan
hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat
menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat
mengancam kehidupan (Anggraini & Hafifah, 2014)
Pengertian Nasal Canul
 Nasal adalah salah satu jenis alat yang digunakan
dalam pemberian oksigen.Alat ini adalah dua lubang
pendek yang menghantar oksigen langsung kedalam
lubang hidung. Manfaat sistem penghantaran tipe ini
meliputi cara pemberian oksigen yang nyaman dan
gampang dengan konsentrasi hingga 44%. Peralatan
ini lebih murah, memudahkan aktivitas/mobilitas
pasien, dan sistem ini praktis untuk pemakaian jangka
lama (Terry & Weaver, 2013).
Mengidentifikasi apakah ada hubungan pemberian terapi nasal
untuk peningkatan saturasi pada pasien CKR (cedera kepala
ringan) di ruang IGD RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO
SEMARANG
 Berdasarkan data diatas saturasi oksigen setelah diberikan
terapi nasal kanul didapat data pasien Ny. H dengan
keadaan klinis normal SaO2 95%-100% pada 30 menit
meningkat dengan saturasi awal 95% menjadi 98%
 Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur
vital dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan
kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal
elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara
ruangan dalam setiap kali bernapas. Penyampaian oksigen
ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi sistem
respirasi, kardiovaskuler, dan keadaan hematologis.
Adanya kekurangan oksigen ditandai dengan keadaan
hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan
kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan
(Anggraini & Hafifah, 2014)
 Pencapaian saturasi oksigen (SpO2) tersebut
karena konsentrasi oksigen yang diberikan.
Disamping itu kondisi pasien juga menentukan,
termasuk kepatenan alat dan konsentrasi oksigen
yang diperlukan. Pencapaian saturasi oksigen
(SpO2) yang optimal 100% karena berbagai faktor,
diantaranya responden masih berusia muda dan
kondisi hemodinamik pasien baik, tanda – tanda
vital dalam batas normal dan hemoglobin dalam
batas normal sehingga transportasi oksigen dapat
adekuat ke seluruh tubuh.
KESIMPULAN
 Berdasarkan hasil analisa dapat diketahui bahwa pada
pasien Ny. H yang datang ke rumah sakit dengan
keadaan hampir hipoksia ringan dengan SaO2 95%.
Setelah pemberian oksigenasi nasal prong selama 30
menit berada dalam kondisi normal dengan saturasi
oksigen 98%. Semakin lama pemberian oksigenasi
nasal prong semakin meningkatkan saturasi oksigen.
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa
terapi oksigenasi nasal prong berpengaruh terhadap
perubahan saturasi oksigen pasien cedera kepala di
Instalasi Gawat Darurat RSUD K.R.M.T
WONGSONEGORO SEMARANG