Anda di halaman 1dari 25

Hydrodinamika

dan Penerapan dalam


pelayanan kebidanan

By :
Helmy Adriansyah, SKM, M.Kes.
Penerapan Hydrodinamika dalam
pelayanan kebidanan
Pengertian Hydrodinamika
Contoh-contoh alat yang digunakan
dalam pelayanan kesehatan atau
kebidanan yang berkaitan dengan
Hydrodinamika
Kata hidrodinamika  pertama dikenalkan oleh
Daniel Bernoulli (1700-1783)  mengenalkan dua
ilmu hidrostatik dan hidraulik  teori Bernoulli.
Euler (1707-1783)  teori matematis persamaan
gerak fluida ideal  Lagrange  (1736-1813)
Navier (1785-1836)  persamaan gerak fluida
berviskositas berdasarkan interaksi molekul
Stokes (1819-1903)  persamaan gerak fluida
berviskositas  teori modern hidrodinamika
Hidro  cairan, fluida dinamik  gerakan
Fluida  zat alir atau zat yang memiliki sifat
mengalir  zat cair dan gas
Hidrodinamika  salah satu cabang ilmu
pengetahuan yang mempelajari gerak liquid atau
gerak fluida cair khususnya gerak air
Fluida  mengalir dan tak mengalir
Fluida tak mengalir  Hidrostatika
Fluida mengalir  Hidrodinamika
Studi mekanika fluida  secara teoritis
berdasarkan konsep massa elemen fluida
Ruang lingkup  mengkaji gerak partikel air  kajian
skala makroskopik  air terdiri dari partikel-partikel
fluida  skala terkecil air  atom bukan partikel
Hidrodinamika  aplikasikan persamaan matematika 
perlakuan matematik persamaan2 dasar fluida kontinyu 
berbasis hukum2 newton  objek utama fluida newton
Karakteristik fluida cair dan gas berbeda
Fluida gas  molekul penyusunnya bebas bertumbukan
 sumber dari tekanan  tidak pernah tegak lurus
terhadap bidang tekan
Fluida cair  molekul yang lebih terikat longgar  gaya
adhesi dan kohesi
Tekanan fluida cair  akibat gravitas  selalu tegak lurus
terhadap bidang tekan
Fluida Gas Pada Respirasi

Gas  bahan baku proses respirasi


Pendapat  gas yang dihirup saat inspirasi berbeda
dengan gas yang keluar saat ekspirasi  dipatahkan
Dalton  2 hukum penting :
1. Tekanan udara  kumulatif tekanan parsial
komponen gas penyusunnya
2. Komponen tekanan parsial O2 > CO2 baik saat
inspirasi maupun ekspirasi
Inspirasi  gas masuk paru  saluran napas atas yang
berdiameter besar hingga saluran napas bawah yang
berdiameter kecil  gas kaya O2 ditukar dengan CO2
yang dibawa darah  hanya di alveolus  komposisi
gas saluran napas lain hampir tidak berubah 
tekanan dan presentase O2 saat ekspirasi tetap >
Hukum  prosedur pemberian napas buatan aman
dilakukan dan sangat bermanfaat  gas ekspirasi
bahan baku pemberian napas buatan
Alveolus  unit fungsional sistem respirasi  harus
terus mengembang / tidak boleh kolaps, dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu :
1. Tegangan permukaan dinding alveolus 
dipertahankan oleh surfaktan yang melapisi dinding
alveolus  kadar surfaktan menentukan
pengembangan paru pertama kali bayi baru lahir
2. Sisa udara ekspirasi yang tertinggal (residual
volume) di alveolus
Tekanan di dalam alveolus berbanding lurus dengan
besar tegangan permukaan, berbanding terbalik
dengan besar jejari atau volume alveolus
Hukum /persamaan Laplace
P =‫ل‬4 ‫لل‬
R
P : tekanan intra alveolus;
‫ لل ل‬: tegangan permukaan; R : jejari
Laplace  alveolus tetap terkembang tanpa meletus
 adanya penyekat antar alveolus  menjaga antar
alveolus tidak saling berhubungan  tidak kolaps
Penyekat alveolus  jaringan ikat  menghasilkan
gaya recoil seperti otot  elastisitas paru tinggi,
membatasi paru untuk terus mengembang saat
inspirasi
Jaringan ikat penyekat paru tidak bertambah banyak
 berkurang karena degenerasi  gaya recoil
melemah  hilang elastisitas dan melar
inspirasi  volume udara yang mengisi paru
meningkat melebihi batas normal
ekspirasi  volume udara yang besar dikeluarkan
bersamaan melalui jalan napas yang mengecil saat
ekspirasi  sesak
Sikatriks Paru Emficema
 Aliran udara masuk dan keluar paru tidak mudah bebas 
resistensi sepanjang jalan napas  berbanding lurus dengan
besar tekanan udara di dalam jalan napas  berbanding
terbalik dengan kecepatan alir udara yang lewat jalan napas
persamaan Ohm melalui
Rg = Δ P
Δv
Rg: resistensi, P : tekanan, v = kecepatan alir
Sesak napas  peningkatan tekanan udara yang melalui jalan
napas  emfisema  tekanan udara besar di dalam paru
melalui saluran napas yang menyempit saat ekspirasi
Penurunan kecepatan alir udara insprasi  resistensi besar
terutama pada saluran napas atas  obstruksi  parsial
maupun total
Volume udara paru sulit dapat diketahui secara langsung
 kantong Douglas  membahayakan obyek 
pengukuran volume udara respirasi  cara tidak langsung
 spirometer  mencatat volume udara saat inspirasi
maupun ekspirasi  grafik mengikuti gerakan napas 
kelemahan tidak mampu mengukur volume residu  hasil
belum menggambarkan kondisi sebenarnya.
Volume paru sebenarnya  konversi melalui aplikasi
hukum Boyle Gay Lussac  hasil kali dari tekanan dan
volume akan tetap selamanya konstan sehingga bila
tekanan dan volume diukur pada dua kondisi berbeda,
hasil kalinya tetap akan sama.
Kondisi berbeda  tekanan,volume dan suhu alat
spirometer serta tekanan, volume dan suhu tubuh.
P1.V1 = P2.V2
T1 T2
P1 : Patm – Palt pd suhu T1 (alt)
P2 : Patm – Ptbh pd suhu T2 (tbh)
T1 : suhu alat dalam K
T2 : suhu tubuh dalam K
V1 : hasil pengukuran spirometer
V2 : volume paru sesungguhnya
Fluida Darah Pada Sirkulasi

Fluida cair pembuluh darah  darah


Faktor kecepatan alir darah  luas penampang
pembuluh darah, perubahan tekanan, panjang
pembuluh darah dan viskositas
Hukum Kontinuitas  volume cairan per satuan
waktu (Q) yang keluar sama dengan yang masuk 
makin kecil luas penampang pembuluh darah 
makin cepat laju alir darah  membuktikan luas
penampang mempengaruhi kecepatan alir darah
Bernauli  memperbaiki kelemahan hukum kontinuitas t idak
memperhitungkan faktor massa jenis dan beda ketinggian  energi
dari sebuah fluida cair adalah konstan  hukuk kekekalan energi
Tekanan darah yang mengalir di dalam pembuluh darah 
menentukan sifat aliran  laminar dan tubulen. –
laminar  sejajar bidang pembuluh darah yang dilalui dan bersifat
tenang
turbulen berputar dan tidak terkendali
Massa jenis dan viskositas yang tetap  perubahan daril aminar
menjadi turbulen  akibat peningkatan tekanan (P) dan kecepatan
(v).
Perubahan aliran darah  diprediksikan melalui pengukuran
bilangan Reynould  >2000  potensi aliran turbulensi pada
pembuluh darah  indikasi peningkatan tekanan  faktor internal
atau eksternal  faktor internal adalah atherosklerosis
Pengukuran tekanan darah  prinsip perubahan aliran
laminar menjadi turbulen
Udara dipompa ke manset  tekanan eksternal
bertambah  berubah laminar menjadi turbulen 
tekanan terus ditambah  pembuluh darah tertutup total
 bising semula kuat terdengar menghilang  pengunci
manset dibuka perlahan  tekanan berkurang 
obstruksi menjadi parsial  retensi  mengalir turbulen
 bising mulai terdengar beberapa saat kemudian
menghilang  penurunan tekanan manset  Bising
pertama sistolik  bising terakhir terdengar  perubahan
aliran dari turbulen menjadi laminar  diastolik
Rerata tekanan darah normal  sistolik 120 mmHg dan
diastolik 80 mmHg
Bilangan Reynould
2 ρvr
ή
Bilangan reynould < 2000  laminar
Bilangan reynould > 2000  turbulen
Faktor kecepatan alir darah  viskositas
Viskositas  kekentalan yang diukur dari kecepatan endap
dua buah benda pipih yang dimasukan ke dalam zat cair. 
dipengaruhi resultan gaya, luas bidang benda di dalam zat alir,
kecepatan benda mengendap dan perubahan jarak tempuh.
Kekentalan darah diwakili  parameter hematokrit atau PCV
pada pemeriksaan laboratorium, Viskositas :
ή = F/A
v/r
F : gaya yang bekerja
A : luas bidang
v : kecepatan piring yang diatas
r : jarak antar piring
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai