Anda di halaman 1dari 39

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN PENGGUNAAN NAPZA

OLEH Kelompok
FG 8:
 Ika Sri W.
 Nurfitri
 Rana Jumana
 Tika Muthia
KONSEP METAMFETAMIN, EFEK DAN FAKTOR
YANG
MEMPENGARUHI PENGGUNAAN KEMBALI
(RELAPS)
Konsep Metamfetamin

• Metamfetamin adalah sejenis obat psikostimulan yang bersifat sangat adiktif


dan bekerja secara aktif dalam sistem saraf pusat (Stuart, 2016).
• Pertama kali disintesa di Jepang pada tahun 1893 untuk pengobatan asma,
narcolepsy, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan obesitas dengan
penggunaan terbatas.
• Berdasarkan infodatin (2017), dalam 5 tahun terkahir terdapat 3.481 kasus
narkotika, metamfetamin atau shabu sebanyak 3.059 kasus
• Narkotika Golongan I, hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi
Konsep Metamfetamin
• Metamfetamin berbentuk kristal di jalanan dikenal dengan nama ice,
crystal meth, shabu, glass dan quartz.
• Struktur dasar feniletilamin yang memiliki sebuah cincin benzen
dengan dua rantai karbon (α dan β) dan sebuah gugus amino
• Tambahan gugus metil menyebabkan shabu sangat mudah larut dalam
lemak sehingga mudah menembus sawar otak dan memberikan efek
sentral yang kuat
• Jumlah dopamin yang dilepaskan ke sinapsis oleh metamfetamin
hingga 12 kali lipat dari makanan atau seks. Seks melepaskan 100
hingga 200 unit dopamin; kokain melepaskan 350 unit; dan
metamfetamin melepaskan 1.250 unit (Stuart, 2016)
Fase Akut (Short-term Use)
meningkatkan tenaga,

mood, motivasi,

kewaspadaan,

aktivitas lokomotor,

relaksasi atau ketenangan

euforia.
Fase konsolidasi (Long-term Use)
Komplikasi pada jantung proliferatif glomerulonephritis

peningkatan tekanan darah


kesulitan dalam bernafas
penyakit jantung koroner
Sensasi digigit serangga dan rasa gatal
perikarditis yang tak tertahankan pada kulit

kardiomiopati Lesi ini pada wajah, lengan, dada dan kaki

Stroke
Karies
Kehilangan ingatan

Kematian kelainan mukosa oral.


Efek terhadap Psikis
Psikosis

Ansietas

depresi

tindakan kriminal

prilaku kekerasan

bunuh diri
Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan
Kembali (Relaps)
bentuk reaksi melarikan diri dari masalah dan konflik yang dialami
(Rahmawati, 2010).

adanya triggers memunculkan keinginan untuk melakukan displacement


(pengalihan) (Rahmawati, 2010).

ekonomi menengah keatas lebih rentan untuk menggunakan kembali Shabu


(Habibi., dkk, 2015).

Faktor keharmonisan dan dukungan keluarga,

Faktor pertemanan (Monitasari, 2018).

Tingkat spiritual/ religius, (Monitasari, 2018).


RENTANG RESPON KIMIA
PENGGUNAAN ZAT
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
KETERGANTUNGAN NAPZA

Kasus:

Leni (mahasiswa FIK UI) memberikan asuhan keperawatan pada klien pengguna
NAPZA di sebuah rumah sakit ketergantungan obat. Klien C berusia 25 tahun dan
saat ini merupakan perawatan yang ketiga (klien menggunakan shabu). Klien sudah
berkeluarga dan mempunyai seorang anak yang masih berusia 1 tahun. Klien bekerja
di sebuah café dan sering pulang larut malam. Leni memperoleh data bahwa klien
menggunakan NAPZA sejak berusia 17 tahun, keluarga klien (orangtua dan istri)
sudah sering menasihati klien.
PENGKAJIAN

Menurut Stuart (2016), ada beberapa


langkah pengkajian pada pengguna
NAPZA yaitu :
1. Lakukan penapisan penyalahgunaan
zat

a. B-DAST. Brief Drug Abuse Screening


Test
adalah alat penapisan penyalahgunaan
narkoba tercepat. Ada 20 pertanyaan ya
dan tidak, setiap item memiliki nilai 1
poin. Skor 6 atau lebih menunjukkan
masalah penyalahgunaan narkoba yang
signifikan.
Stuart, 2016
2. Kaji perilaku penyalahgunaan dan ketergantungan pada klien

Tanda & Gejala Intoksikasi


Opiat Ganja Sedatif - Hipnotik Alkohol Amfetamin
 Euforia  Euforia  Pengendalian diri  Mata merah  Selalu
 Mengantuk  Mata merah berkurang  Bicara cadel terdorong
 Bicara cadel  Mulut kering  Jalan  Jalan untuk
 Konstipasi  Banyak sempoyongan sempoyongan bergerak
 Penurunan bicara &  Mengantuk  Perubahan  Berkeringa
kesadaran tertawa  Memperpanjang persepsi t
 Nafsu tidur  Penurunan  Gemetar
makan  Hilang kesadaran kemampuan  Cemas
meningkat menilai  Depresi
 Gangguan  Paranoid
persepsi
Nurhalimah, 2016
2. Kaji perilaku penyalahgunaan dan ketergantungan pada klien

Tanda & Gejala Putus Zat


Opiat Ganja Sedatif-hipnotik Alkohol Amfetamin

 Nyeri  Jarang  Cemas  Cemas  Cemas


 Mata dan ditemukan  Tangan gemetar  Depresi  Depresi
hidung  Perubahan  Muka merah  Kelelahan
berair persepsi  Mudah marah  Energi
 Perasaan  Gangguan daya  Tangan gemetar berkurang
panas dingin ingat  Mual muntah  Kebutuhan
 Diare  Tidak bisa tidur  Tidak bisa tidur tidur
 Gelisah meningkat
 Tidak bisa
tidur

Nurhalimah, 2016
DIAGNOSA
KEPERAWATAN

1. Ketidakmampuan koping keluarga (D.0093)


2. Koping defensif (D.0094)
3. Koping tidak efektif (D.0096)
4. Penurunan koping keluarga (D. 0097)
5. Penyangkalan tidak efektif (D.0098)
6. Perilaku kesehatan cenderung beresiko (D. 0099)
7. Resiko harga diri rendah kronis (D.0101)
8. Resiko harga diri rendah situasional (D. 0102)

PPNI, 2017
Kasus

Leni (mahasiswa FIK UI) memberikan asuhan


keperawatan pada klien pengguna NAPZA di sebuah
rumah sakit ketergantungan obat. Klien C berusia 25
tahun dan saat ini merupakan perawatan yang ketiga
(klien menggunakan shabu). Klien sudah berkeluarga
dan mempunyai seorang anak yang masih berusia 1
tahun. Klien bekerja di sebuah café dan sering pulang
larut malam. Leni memperoleh data bahwa klien
menggunakan NAPZA sejak berusia 17 tahun, keluarga
klien (orangtua dan istri) sudah sering menasihati klien.
PENGKAJIAN

Identitas klien: Keluhan utama: -


Nama: Tn. C Pemeriksaan Fisik
Umur: 25 tahun Tanda-tanda vital
Jenis kelamin: Laki-laki •Tekanan darah : 130 / 80 mmHg
Alamat : Tangerang •Nadi : 88x/menit
Status: menikah •Suhu badan : 36.5 0C
Agama : islam •Respirasi : 18 x/menit
Suku :Jawa Kepala : tidak ada luka, rambut ikal
Pekerjaan : pekerja cafe berwarna hitam, lingkaran hitam
dibawah mata, mata sayu, wajah
lelah, gigi tampak karies
PENGKAJIAN

b. Faktor psikologi
Pola asuh keluarga pada klien
sejak anak-anak dan remaja
terlalu otoriter, kepribadian
Faktor predisposisi klien mudah marah, pendiam
a.Faktor biologis dan tertutup. Hubungan anak
Klien usia 25 tahun, dengan orang tua dan istri
menggunakan napsa sejak tidak terlalu akrab. Klien
usai 17 tahun, pekerjaan di merasa tidak nyaman di rumah
cafe dan sering pulang larut karena orang tua dan istri
malam.Data tambahan: selalu ngomel-ngomel,
dalam keluarga tidak ada sehingga mencari teman-
riwayat ketergantungan zat. teman yang bisa mengerti
dirinya.
PENGKAJIAN

b. Faktor psikologi
Klien mengatakan
sebenarnya ingin berhenti Klien mengatakan mengetahui
tetapi sulit, klien dampak penggunaan napza
mengatakan tidak yakin dapat menghancurkan
apakah bisa berhenti keluarganya buktinya sekarang
menggunakan napsa atau istrinya minta cerai. Klien
tidak setelah keluar dari RS. mengatakan berat kalau harus
Klien mengatakan sudah berpisah dengan anaknya.
mencoba berhenti namun
selalu gagal.
PENGKAJIAN

c. Faktor Sosiokultural

Klien bekerja di cafe dan Klien mengatakan lingkungan


sering pulang malam. Klien kerjanya memungkinkan klien
mengatakan kembali mudah untuk mendapatkan
menggunakan napza karena napza. Klien menggunakan
pressure pekerjaan yang napza sejak SMA karena ikut-
menuntut untuk kuat ikutan teman-teman.
bergadang di waktu malam
PENGKAJIAN

Faktor Presipitasi Penilaian terhadap stressor


Klien mengatakan a. Kognitif
munculnya gejala putus zat Klien mengatakan tahu cara
sehingga menimbulkan berhenti menggunakan napza
keinginan yang kuat untuk namun susah untuk lepas dari
menggunakannya lagi. napza
Gejala yang timbul adalah b. Afektif
depresi, cemas, kelelahan, Merasa capek dengan
nafsu makan menurun dan kondisinya, perasaan bersalah
mengantuk terus. Klien dan cemas
mengatakan bahwa ini
adalah perawatan ketiga
PENGKAJIAN

Sumber koping
Keluarga (orang tua dan istri)
selalu mengingatkan dan klien
c.Fisiologis sudah memiliki 1 anak, data
Terdapat peningkatan tekanan tambahan : Klien mempunyai
darah, tubuh lemas dan muka keahlian melukis, klien
tegang. mempunyai teman-teman di
d.Perilaku. sekitar rumah yang memberi
Klien tampak pasif dan tidak dukungan.
bersemangat Mekanisme koping
e.Sosial Mekanisme koping destruktif
Enggan berinteraksi dengan dengan menggunakan napza
orang lain. sebagai pelarian untuk
mengalihkan masalah.
PENGKAJIAN

Pemeriksaan kesehatan jiwa Pemeriksaan kesehatan jiwa


Deskripsi umum Status emosional
a.Penampilan a. Suasana hati
Ekspresi wajah tidak bersemangat, Klien tampak tidak mood
klien tampak cemas, lesu dan kurang b.Afek
bersemangat, rambut acak-acakan, Respon emosi klien sesuai dengan isi
usia tampak lebih tua dari perkataan
sebenarnya, di tangan, kaki dan leher Pengalaman
tampak lesi bekas garukan. Persepsi : tidak ada halusinasi dan
b.Cara bicara ilusi
tempo bicara lambat, volume pelan, Pikiran
tanpa tekanan bicara a.Isi fikiran
c.Kegiatan motorik tidak ada fobia, waham dan obsesi
Klien malas beraktifitas di rumah b.Proses fikir
sakit, lebih banyak tidur. Perkataan dan pikiran berhubungan
d.Interaksi selama wawancara dan relevan dengan pertanyaan
Klien kooperatif, kontak mata kurang
PENGKAJIAN

Pemeriksaan kesehatan jiwa


Sensori dan kognisi
Pemeriksaan kesehatan jiwa
a.Tingkat kesadaran
Sensori dan kognisi
berfungsi baik (klien bisa
d.Informasi dan kecerdasan
menyebutkan nama,tempat dan
Konsentrasi kurang dan kalkulasi
waktu)
menghitung dengan lambat
b.Daya ingat
e.Penghayatan
Mampu meningingat kejadian,
Klien menyadari bahwa tindakannya
informasi dan orang dimasa lalu dan
sebagai pecandu narkoba adalah tidak
sudah lama
benar, tetapi klien merasa sulit untuk
c.Konsentrasi dan kalkulasi
berhenti
Konsentrasi kurang dan kalkulasi
menghitung dengan lambat
Pohon masalah
Analisa data

No. Data Diagnosa Keperawatan

1 DS: Koping tidak efektif.


• Klien mengatakan menggunakan
shabu karena tuntutun pekerjaan
yang sering kerja sampai malam.
• Klien mengatakan tidak nyaman di
rumah karena keluarga selalu
mengomel sehingga mencari
teman-teman yang mengerti dirinya
yang mereka adalah pengguna
shabu.
• Klien mengatakan dengan shabu
dapat meningkatkan stamina dan
semangat
DO:
• Klien mengalami relaps untuk ke 3
kalinya
• Klien menggunakan mekanisme
koping yang tidak sesuai
Analisa data

No. Data Diagnosa Keperawatan


2 DS: Ketidakberdayaan.
• Klien mengatakan tahu
cara berhenti dari napza
tapi sulit dilakukan.
• Klien mengatakan sering
muncul gejala cemas,
depresi, lelah dan tidak
nafsu makan bila putus
obat sehingga memicu
untuk memakai lagi.
• Klien mengatakan tidak
yakin apakah bisa berhenti
menggunakan napsa atau
tidak setelah keluar dari
RS.
Analisa data

No. Data Diagnosa Keperawatan


2 • Klien mengatakan sudah Ketidakberdayaan.
mencoba berhenti namun
selalu gagal.
• Klien mengatakan
mengetahui dampak
ketergantungan napsa
akan menghancurkan
keluarganya, sekarang
istrinya akan mengajukan
cerai.
DO:
• ekspresi wajah tidak
bersemangat.
• Tempo bicara lambat
Analisa data

No. Data Diagnosa Keperawatan


3 DS: Gangguan integritas kulit.
Klien mengatakan gatal-gatal
di kulit
DO:
-Klien tampak mengaruk-
garuk
-Di tangan, kaki dan leher
tampak lesi bekas garukan
Analisa data

No. Data Diagnosa Keperawatan


4 DS: Disfungsi Proses keluarga
• klien mengatakan kesal
karena orang tua dan istri
selalu mengomel.
• Klien mengatakan riwayat
pola asuh keluarga yang
otoriter.
DO:
• Ekspresi wajah klien
tampak kesal
• Klien berulang kali
menarik napas panjang
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Koping individu tidak efektif


2. Ketidakberdayaan
3 Gangguan integritas kulit.
4. Disfungsi proses keluarga
INTERVENSI

1. Koping tidak efektif 2. Ketidakberdayaan.


- Bina hubungan saling percaya dengan • Bantu klien mengidentifikasi faktor-
menggunakan prinsip komunikasi faktor yang menyebabkan
terapeutik ketidakberdayaan. ( pekerjaan,
- Bantu klien mengidentifikasi perilaku tanggung jawab peran.
penyalahgunaan zat dan akibatnya • Diskusikan dengan klien pilihan yang
- Libatkan klien mendiskripsikan situasi yang
realistis dalam perawatan, berikan
menyebabkan perilaku menyalahgunakan
penjelasan terhadap pilihan tersebut.
zat.
- Tawarkan dukungan dan harapan bahwa
• Libatkan klien dalam pengambilan
klien akan kuat mengatasi keputusan tentang rutinitas terapi
- Bantu klien mengidentifikasi dan • Diskusikan dan ajarkan cara melakukan
mengadopsi respon koping yang lebih manipulasi menghadapi kondisi yang
sehat sulit dikendalikan.misalnya afirmasi
- Identifikasi dan kaji sistem dukungan sosial • Bantu klien mengidentifikasi faktor
yang tersedia untuk klien. pendukung, kekuatan diri (kekuatan
- Libatkan keluarga dalam menemukan berasal dari diri sendiri, keluarga dan
koping yang sesuai teman).
- Jadwalkan klien untuk terapi kelompok dan • Anjurkan untuk menghindari lingkungan
BCT yang tidak sehat
- Kolaborasi jika ada gejala putus zat
- Njurkan untuk meningkatkan aktivitas
spiritual
INTERVENSI

4. Disfungsi proses keluarga


3. Gangguan integritas kulit.
• Identifikasi respon emosional
terhadap kondisi saat ini.
• Identifikasi penyebab gangguan
• Identifikasi sumber daya yang
integritas kulit.
tersedia.
• Anjurkan untuk tidak
• Pertahankan interaksi yang
menggaruk kulit berkelanjutan dengan anggota
• Anjurkan untuk memakai keluarga.
pelembab. (lotion). • Mendukung membuat
• Anjurkan untuk potong kuku keputusan
seminggu sekali • Menetapkan tujuan bersama
• Anjurkan meningkatkan asupan • Dengarkan masalah, perasaan
nutrisi. dan pertanyan keluarga
• Anjurkan untuk menghindari • Pertimbangkan perasaan
paparan suhu ekstrim. keluarga terhadap situasi yang
• Anjurkan untuk menjaga dihadapi.
kebersihan tubuh • Identifikasi mekanisme koping
keluarga
IMPLEMENTASI • Membantu klien mengidentifikasi
perilaku penyalahgunaan zat dan
akibatnya dengan menanyakan
Implementasi keperawatan pertama
kesiapan klien untuk bercerita.
yang di lakukan pada diagnosa utama • perawat menanyakan sejak kapan
Koping individu tidak efektif adalah klien menggunakan zat,
membina hubungan saling percaya • perilaku apa saja yang timbul dari
dengan cara mengucapkan salam penyalahgunaan zat dan
dengan ramah, gunakan bahasa yang • apa akibatnya dalam kehidupan
pelan namun jelas, tidak menggurui, klien.
berjabat tangan, memperkenalkan diri, • Perawat memberikan
menanyakan nama panggilan yang reinforcement positif bila klien
disuka dan melakukan kontrak waktu dapat mengidentifikasi perilaku
dan tempat, menjelaskan tujuan penyalahgunaan zat dan
interaksi, menjelaskankan bahwa akibatnya. Dorong klien untuk
perawat akan membantu klien dan mengingat dan memikirkan ulang
perawat akan menjaga kerahasiaan masalah yang terjadi selama ini.
informasi, serta mendengarkan dengan Hal ini diharapkan dapat
antusias apa yang diungkapkan klien meningkatkan motivasi klien
untuk berubah.
IMPLEMENTASI

- melibatkan klien - menganjurkan klien untuk patuh


mendiskripsikan situasi yang terhadap program terapi yang
menyebabkan perilaku diberikan. Dan selanjutnya
menyalahgunakan zat. Perawat membuat kontrak untuk pertemuan
menanyakan faktor predisposisi berikutnya untuk mengidentifikasi
dan presipitasi penyalahgunaan respon koping yang lebih sehat.
zat. Dengarkan dengan antusias - Menganjurkan keluarga dalam
mengidentifikasi kekeuatan
dan empati
keluarga
- memberikan dukungan dan
- Menganjurkan klien untuk
harapan bahwa klien akan bisa
meningkatkan aktivitas spiritual
mengatasi masalahnya.
- Menjadwalkan klien dalam
Terapi kelompok atau BCT
EVALUASI

Evaluasi berdasarkan tujuan khusus yang


ingin dicapai berdasarkan kasus dengan
koping individu tidak efektif adalah pasien
dapat membina hubungan saling percaya
dengan perawat, klien dapat mengidentifikasi
penyalahgunaan zat dan masalah yang
ditimbulkan, klien dapat menyebutkan faktor
faktor yang menyebabkan perilaku
penyalahgunaan zat, klien menyatakan akan
patuh terhadap program terapi dan klien
bersedia untuk melakukan petemuan
selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G.M. (2013). Nursing intervention


Classification. United Kingdom: Elshevier
Nanda-I. (2018). Diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2018-2020. Jakarta: EGC
PPNI. (2018). Standar intervensi keperawatan
indonesia. Jakarta: DPPPNI
Stuart, G. W. (2013) Principles and practice of
psychiatric nursing, 10th Ed. Missouri: Elsevier
Habibi., Basri, S., Ramadhani, F. (2015). Faktor-Faktor
yang Berhubungan dengan Kekambuhan Pengguna
Narkoba pada Pasien Rehabilitasi di Balai Rehabilitasi
Badan Narkotika Nasional Baddoka Makassar Tahun
2015. Public Health Science Journal. V1-11 Al-Shihah :
Makasar
DAFTAR PUSTAKA

Infodatin. (2017). Anti Narkoba Sedunia. ISSN 2442-7659.


Kementrian Kesehatan RI : Jakarta
Iskandar. (2010). Hubungan penggunaan Metamfetamin dengan
penurunan kadar ion Kalsium Saliva. Universitas Sumatera
Utara : Medan
Kuswardani. (2010). Analisis Pengotor Dan Karakterisasi
Metamfetamin Yang Beredar Ilegal Secara Kromatografi Gas
Dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Universitas Indonesia :
Depok
Rahmawati, Siti. (2010). Relaps (Kambuh) Pada Mantan
Pengguna Napza (Sebuah Studi Fenomenologi). Universitas
Islam Negeri Sultan Syarif Kasim : Riau
BkkbN. (2016). Strategi Sederhana Pencegahan Penggunaan Narkoba
Melalui Keluarga. Diunduh dari
https://www.bkkbn.go.id/detailpost/strategi-sederhana-
pencegahan-penggunaan-narkoba- melalui-keluarga
Doenges, M. E. (2018). Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman
asuhan klien anak-dewasa, edisi 9. Jakarta : EGC
Naegle, Madeline A, PhD,R.N., F.A.A.N. (1996). Alcohol and other drug
abuse: IDENTIFICATION AND INTERVENTION. AAOHN Journal, 44(9),
454-66; quiz 467-8. Retrieved from https://remote-
lib.ui.ac.id:2076/docview/1012767378?accountid=17242
Nurhalimah. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan:
Keperawatan Jiwa. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI
Yusuf, A., Fitryasari, R., & Nihayati, H. E. (2015). Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika