Anda di halaman 1dari 15

TITRASI

KOMPLEKSOMETRI
ANGGOTA KELOMPOK
DWI PUSPA MEILENI
KURNIA ERDIYANTI SAPUTRI
NUR ASNI
YUNITA KURNIAWATI
PENGERTIAN
KOMPLEKSOMETRI

Kompleksometri adalah analisis volumetri


berdasarkan pembentukan senyawaan rangkai
(kompleks) dengan menggunakan larutan
standar berupa senyawa poly amino
karboksilat (Etilen Diamin Tetra Acetic Acid).
PENGERTIAN TITRASI
KOMPLEKSOMETRI
• Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan
pembetukan senyawa kompleks antara kation
dengan zat pembentuk kompleks.
• Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak
digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah
garam dinatrium etil diamina tetra asetat
(dinatrium EDTA)
PENJELASAN EDTA

EDTA adalah singkatan dari Etilen Diamin


Tetra Acetic Acid. EDTA merupakan asam lemah
dan sukar larut dalam air sehingga jarang dipakai
sebagai larutan standar.
Nama lain untuk EDTA yaitu : complexon II
,titriplex II, versene acid, dan sequestric acid. EDTA
yang digunakan sebgaia larutan standar yaitu garam
dinatrium EDTA Na2H2Y
RUMUS BANGUN EDTA

HOOCH2C CH2COOH

N - CH2 - CH2 - N

HOOCH2C CH2COOH
PENGARUH pH
Kesempurnaan reaksi EDTA tergantung dari pH larutan
contoh. semakin tinggi PH semakin baik. Maka larutan contoh
pada titrasi EDTA harus diberi buffer agar dapat memenuhi
pH yang baik.

Selain itu Buffer perlu untuk menyerap ion-ion hidrogen yang


dihsilkan dalam reaksi titrasi . Bila tidak , ion hidrogen akan
semakin banyak dan dapat mengganggu jalannya titrasi.
MENGAPA PERLU MENGETAHUI PH
PADA EDTA?

Pengetahuan tentang ph minimum ini sangat penting sebab selain


menentukan apakah titrasi dapat berjalan sempurna, pemakaian pH yang
terlalu tinggi mengandung bahaya hidrolisa ion logam atau bahkan dapat
menyebabkan terbentuknya endapan logam tersebut, hal ini dapat
menggagalkan titrasi. Karena itu ketergantungan pada pH ini biasanya
pada penitaran EDTA selalu dipakai larutan buffer sehingga didapatkan
pH yang tetap.
PENGARUH PENGKOMPLEKS YANG
LAIN

Penambahan komplekson lain yang digunakan untuk


menjaga agar ion-ion logam tetap dalam larutan lain dan
tidak mengendap sebagai hidroksida oksida basa atau
garam basa.
MACAM-MACAM TITRASI
KOMPLEKSOMETRI

1. Titrasi langsung
cara ini digunakan untuk kation yang bereaksi cepat
dengan EDTA. Larutan ion logam yang akan di tetapkan
dibubuhi larutan dapar dengan pH yang diinginkan, kemudian
dititar langsung dengan larutan EDTA.
2. Titrasi kembali

Titrasi ini digunakan untuk kation yang bereaksi lambat dengan EDTA
atau bila indikator yang tersedia tidak cocok. Kation harus membentuk kelat
EDTA yang sangat kuat, contoh diberi larutan standar EDTA berlebih, lalu
dibubuhi larutan dapar atau buffer yang pHnya sesuai. Selanjutnya kelebihan
EDTA dititar kembali dengan larutan standar ion logam. Sebagai larutan
standar dapat digunakan ZnCl2 , ZnSO4 , MgCl2 dan MgSO4 .
3. Titrasi substitusi atau penggantian
cara ini baik digunakan untuk kation yang membentuk kelat
EDTA lebih kuat dari Mg-EDTA atau Zn-EDTA.
Ion logam Mn+ yang akan ditetapkan dibubuhi kompleks EDTA-
magnesium atau EDTA-Zeng sehingga terjadi reaksi:
M n+ + MgY 2− MY (n−4) + Mg 2+
Jumlah Mg 2+ yang setara dengan ion logam kemudian dititar dengan
EDTA.
Cara ini dapat digunakan jika tidak ada indikator yang baik untuk kation
yang akan dianalisis.
INDIKATOR
Indikator untuk titrasi kompleksometri merupakan basa
atau asam lemah organik yang dapat membentuk kelat dengan
ion logam dan warna kelat tersebut berbeda dengan warna
indikator bebas. Indikator ini disebut indikator metalokromik.
Dalam penitaran asidi-alkalimetri indikator harus peka
terhadap pH sedangkan dalam komplesometri, indikator harus
peka terhadap ion logam (pM)
Syarat suatu indikator logam agar dapat digunakan untuk
menetapkan TA(TITIK AKHIR):
1. Reaksi warna harus spesifik dan selektif artinya dapat memberikan
perubahan warna yang jelas pada TA.
2. Kompleks indikator logam harus mempunyai kemantapan atau kestabilan
yang cukup sebab bila berdisosiasi tidak akan diperoleh perubahan warna
yang tajam atau nyata.
3. Perbedaan warna antara indikator bebas dan kompleks indikator logam
harus diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (pM) agar
perubahan warna terjadi sedapat mungkin dekat dengan titik ekivalen.