Anda di halaman 1dari 17

JOURNAL READING

Delirium, Dementia, and Amnesia in Emergency


Medicine

Wulan Permatasari
14 17 777 14 266

PEMBIMBING
dr. Faridnan, Sp.An
Latar Belakang
Delirium, demensia, amnesia (Dan perubahan tertentu lainnya terkait kognisi,
penilaian, dan / atau memori) --> gangguan fungsi otak yang bersifat organis.

Penyebab: Metabolik, end


okrin, intoksikasi obat, ggn
struktural (misal: trauma, s
trok, gangguan perubahan
demensia kronis), iskemia
otak, stressor fisiologik ber
at.
Epidemiologi
• USA --> Acute Care --> Delirium sebanyak 10-15%
• Delirium --> post OP besar, trauma atau long term ICU care
• Delirium di ICU --> 31,8%
• Prevalensi demensia berlipat/5 thn pada umur 50-90 thn
• 1% pada usia 60-64 thn s/d 30-50% dari yang berusia di atas 85 tahun.
• 60% dari tempat tidur panti jompo --> Pasien Demensia
• Pasien Alzheimer demensia >55tahun (50-90% dari semua kasus)
• 10-15%Pasien dengan gangguan kognitif ringan, keadaan transisi anta
ra fungsi normal dan demensia, berkembang menjadi AD setiap tahun.
Mortalitas dan Morbiditas

Beberapa penyebab delirium (misalnya: delirium tremens, hipoglikemia berat, infeksi


SSP, sengatan panas/heat stroke, tyroide strome) dapat berakibat fatal atau mengak
ibatkan morbiditas parah jika tidak dikenali/tidak bisa diidentifikasi dan tidak diobati.
Dengan beberapa pengecualian (seperti overdosis dengan antidepresan trisiklik), ke
racunan obat; umumnya sembuh sepenuhnya dengan perawatan suportif saja.
Patofiologi
Mekanisme dari bentuk perubahan status mental yang berbasis organik  perubahan fungsi
otak kortikal, kadang dengan kelainan struktur dalam otak

Kondisi di hasilkan dari  1. gangguan eksogen atau proses intrinsik yang mempengaruhi
fungsi neurokimia otak dan/atau 2. kerusakan fisik atau struktural pada korteks, subkorteks,
atau ke struktur yang lebih dalam yang terlibat dengan memori. Beberapa etiologi termasuk
trauma, lesi massa/tumor, hidrosefalus, stroke (yaitu: demensia multi-infark), atrofi, infeksi,
toksin, atau proses demensia.

Hasil dari gangguan  gangguan kognisi yang mempengaruhi beberapa atau semua hal
berikut ini: kewaspadaan, orientasi, emosi, perilaku, ingatan, persepsi, bahasa, pemecahan
masalah, penilaian, dan aktivitas psikomotorik.
Gejala Klinis
DELIRIUM
• akut gangguan kesadaran
• mudah distraksi
• kebingungan
• gangguan persepsi (misalnya: ilusi, DEMENSIA
misinterpretasi, atau halusinasi visual)
• disorientasi waktu dan tempat • penurunan kronis yang stabil
• Tingkat kewaspadaan dapat berkisar dari dan singkat dalam memori
sangat waspada dan hingga gelisah jangka panjang
• Bicara mungkin tidak koheren, tertekan, • penurunan daya pikir,daya
tidak masuk akal, bertahan, atau mengoceh ingat, keampuan belajar
• kesulitan mempertahankan perhatian • kesulitan dalam hubungan
dan/atau mengubah fokus perhatian sosial, pekerjaan, dan aktivitas
mereka. kehidupan sehari-hari.
• pola aktivitas psikomotorik: hipoaktif atau • tidak ada gangguan kesadaran
hiperaktif
Pemeriksaan

Labaoratorium:
1. Kadar vitamin, uji Venereal Disease Laboratory (VDL), dan fungsi tiroid.
2. Sat.O2, Sat.CO2.
3. CBC, elektrolit, glukosa darah, BUN dan kreatinin.
4. Pada pasien yang lebih tua, periksa vit. B-12 + folat. Pertimbangkan Ca, Mg, tes fu
ngsi hati (LFT), amonia serum + PT.

5. Pertimbangkan tes VDRL dan/atau antibodi treponemal fluoresen (FTA-ABS) untuk


membantu menyingkirkan neurosifilis di CSF.
6. Urinalisis juga diindikasikan.
Radiologi
CT scan kepala tanpa kontras intravena (IV) harus diperoleh jika diduga infeksi CNS,
trauma, atau kecelakaan pembuluh darah otak (CVA). CT scan sangat baik untuk
mendeteksi hematoma akut dan sebagian besar perdarahan subarakhnoid (SAH).

MRI --> membedakan antara penyakit Alzheimer & demensia vaskular. MRI melihat --> tanda
-tanda halus stroke yang tidak terlihat pada CT & merupakan modalitas pencitraan pilihan
untuk MS.

Foto polos abdomen --> bungkusan tertelan yang mengandung obat-obat terlarang pada
penderita penyalahgunaan obat ("body packing") atau zat lain yang bersifat radioopak seperti
tablet Fe.
Pemeriksaan

EKG dapat dilakukan untuk mencari infark miokard atau atrial fibrilasi dengan respons ventrikel
yang cepat. Tegangan rendah, seperti terlihat pada hipotiroidisme dan efusi perikardial, dapat m
emberikan petunjuk etiologi. Cari takikardia, kompleks QRS yang melebar, atau interval QT yan
g memanjang, yang menunjukkan overdosis trisiklik. Pemeriksaan otak postmortem saat ini adal
ah satu-satunya cara untuk secara positif mendiagnosis berbagai penyakit delirium akut.
Diagnosis Banding
• Acute Hypoglycemia
• Acute Subdural Hematoma in the ED
• Emergent Management of Lead Toxicity
• Amphetamine Toxicity
• Emergent Management of Subarachnoid H
• Anticholinergic Toxicity
emorrhage
• Antidepressant Toxicity
• Emergent Treatment of Schizophrenia
• Antihistamine Toxicity
• Encephalitis
• Brain Abscess in Emergency Medicine
• Epidural Infections (Spinal Epidural Absces
• Brain Neoplasma
s) and Subdural Infections (Subdural Empy
• Cardiac Glycoside Plant Poisoning
ema)
• Cocaine Toxicity
• Hallucinogen Toxicity
• Conversion Disorder in Emergency Medici
• Hallucinogenic Mushroom Toxicity
ne
• Heat Stroke
• Delirium Tremens (DTs)
• Herpes Simplex Encephalitis
• Depression and Suicide
• Herpes Simplex Virus (HSV) in Emergency
• Diabetic Ketoacidosis (DKA)
Medicine
• Digitalis Toxicity
• Hypercalcemia in Emergency Medicine
• Hypercarbia
Tatalaksana
Pre Hospital
Petugas perawatan yang terlibat dalam evakuasi pasien yang sangat bingung,
agresif, atau mengigau harus memastikan keselamatan pasien dan staf.
Gunakan pengekangan fisik (imobilisasi) yang paling tidak membatasi jika perlu
untuk transportasi yang aman.

UGD
Berikan O2 tambahan kecuali sat.O2 di >93% di suhu kamar.
Ketika diduga keracunan CO, abaikan sat.O2, dapatkan kadar
karboksihemoglobin (HbCO), dan berikan O2 100%.
Farmakologi
• Lorazepam (Ativan)
Dengan meningkatkan aksi GABA, neurotransmitter penghambat utama di otak, dapat menekan
semua level SSP, termasuk pembentukan limbik dan retikular. Ketika pasien perlu dibius selama
lebih dari 24 jam, obat ini sangat baik. Memiliki efek SSP yang lebih lama daripada diazepam dan
lebih disukai untuk kontrol kejang.
• Midazolam
Benzodiazepine dengan onset aksi yang cepat, efektif untuk agitasi akut. Pilihan
yang sangat baik untuk menenangkan pasien yang agresif/gelisah dengan serang
an cepat dan durasi tindakan yang relatif singkat.

• Neuroleptik
Memiliki efek menenangkan yang lebih kuat daripada benzodiazepin pada pasien yang sangat
gelisah.
• Halopuridol (Haldol)
Beberapa dokter percaya, obat ini adalah DOC (drug of choice) untuk agitasi parah, psikosis akut,
dan delirium parah ketika tidak ada kontraindikasi. Bentuk sediaan parenteral dapat dicampur
dalam jarum suntik yang sama dengan 2 mg lorazepam untuk efek ansiolitik yang lebih baik.
Lanjutan..
• Droperidol
Untuk mengendalikan pasien yang sangat terganggu dan/atau berpotensi menyerang. Obat ini
agak lebih cepat berkerja dan lebih menenangkan daripada haloperidol, tetapi lebih cenderung m
enyebabkan hipotensi.
• Naloxone (Narcan, Evzio)
Mencegah atau membalikkan efek opioid (hipotensi, depresi pernapasan, sedasi),

Konsultasi
Kasus spesifik mungkin memerlukan konsultasi dengan bedah saraf, neurologi, atau subspesialis
asi (misalnya: penyakit menular, endokrinologi, nefrologi, gastroenterologi, toksikologi, dan psikiat
ri). Dalam kasus trauma atau darurat bedah saraf, beri tahu ahli bedah di awal pemeriksaan untuk
keadaan darurat bedah yang mungkin berkontribusi pada delirium pasien.
Prognosis

Satu penelitian kohort prospektif pada orang dewasa lanjut usia yang mendapat perawatan akut di
rumah sakit mengamati bahwa delirium terjadi pada 47% pasien rawat inap. Satu dari tiga pasien
ini mengalami kematian selama rawat inap, dengan angka kematian kumulatif sebesar 52% dalam
12 bulan. Meskipun delirium hipoaktif biasanya digambarkan berpotensi lebih parah daripada
bentuk lain.
KESIMPULAN
Delirium, demensia, amnesia (Dan perubahan tertentu
lainnya terkait kognisi, penilaian, dan / atau memori)
dikelompokkan sebagai gangguan fungsi otak yang
bersifat organis.

Penyebab kondisi ini termasuk gangguan kondisi


metabolik, gangguan endokrin, intoksikasi obat,
gangguan struktural (misal: trauma, strok, gangguan
perubahan demensia kronis), iskemia otak, stressor
fisiologik berat.