Anda di halaman 1dari 21

OM

SWASTYASTU
Kelompok i :

1. I gede putu ada


2. I gede agus kariana
3. I gusti bagus ari wijaya
4. I MADE BAYU RAMA PRATAMA
5. I PUTU PANDE DIKA MUGRAHA
BAB I. BAGAIMANA TUJUAN DAN FUNGSI MKWU
PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM
MEMBANGUNA BASIS KEPRIBADIAN
HUMANIS BAGI MAHASISWA?
A. Menelusuri konsep pentingnya pendidikan
agama Hindu dalam membangun basis
kepribadian humanis bagi mahasiswa.
 Pendidikan Agama Hindu dalam membangun basis
kepribadian humanis bagi mahasiswa, diharapkan
mampu membentuk kemampuan dan kepribadian
diri peserta didik dalam membangun karakternya
untuk menjadi manusia yang cerdas dan bermartabat
serta sraddha dan bhakti (iman dan takwa) kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung
jawab.
 Perlu diketahui bahwa tujuan Agama Hindu
sebagaimana tersurat di dalam Veda adalah
“moksartham jagadhitaya ca iti Dharma”. Yang
mengandung arti bahwa dharma atau agama
adalah bertujuan untuk membina kehidupan yang
sejahtera dan bahagia, atau bahagia secara lahir
dan batin.

B.Menanya alasan mengapa diperlukan


pendidikan agama Hindu dalam membangun
basis kepribadian humanis bagi mahasiswa

 Mengapa Pendidikan agama Hindu sangat


diperlukan dalam membangun kepribadian
humanis bagi mahasiswa ?
 Pendidikan agama Hindu di Indonesia, dipengaruhi
oleh meluasnya hubungan dagang antara Cina
dengan India. Hubungan kerjasama perdagangan
ini membawa pengaruh pada budaya-budaya
yang berkembang di Indonesia.

 Dari bukti-bukti arkeologis, lebih cenderung


pengaruh India Selatan (kebudayaan Ambarawati)
dan India Utara (kebudayaan Gandhara) yang
lebih banyak mempengaruhi kebudayaan di
Indonesia.
C. Menggali landasan historis, sosiologis, politik, dan
filosofis tentang pendidikan agama Hindu di
Indonesia dalam membangun basis kepribadian
humanis bagi mahasiswa.

1. Menggali landasan historis tentang Pendidikan


Agama Hindu di Indonesia dalam membangun
basis kepribadian humanis bagi mahasiswa.

Di dalam dunia pendidikan kita mengenal adanya


pendidikan formal yang diselenggarakan di sekolah,
dan pendidikan non formal yaitu pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat. Sebelum adanya
pelaksanaan pendidikan secara formal di sekolah,
Hindu mengenal pendidikan yang dilakukan secara
non formal yang dikenal dengan istilah Pasraman.
 Pada zaman prasejarah perkembangan pendidikan
agama Hindu di Indonesia, secara organisasi
ditangani oleh tiga lembaga ideal yang popular,
yaitu guru tiga yang dalam tugas dan
kewajibannya, ketiga guru ini merupakan tri
tunggal, di antaranya adalah:
1. Guru Wisesa, yang terdiri dari kelompok raja atau
kepala pemerintahan.
2. Guru Pengajian, adalah guru yang berwenang
memberikan tuntunan dalam kehidupan spiritual,
susila dan acara keagamaan. Untuk wilayah satu
kerajaan dipimpin oleh Bhagavanta.
3. Guru Rupaka, adalah guru yang berwenang
mengarahkan kehidupan dalam pendidikan pada
keluarga.
 Sanghyang Siksakanda Ng Karesian, kita peroleh keterangan
bahwa yang disebut guru tidak harus dari golongan
brahma saja, tetapi lebih mengacu kepada tempat
dimana ia mendapatkan pengetahuan,
 Guru Nista adalah segala perbuatan laknat yang tidak
boleh dijadikan contoh.
 Guru Panggung adalah pengetahuan yang diperoleh
setelah kita menonton wayang atau mendengarkan juru
pantun,
 Guru Wreti adalah pengetahuan yang diperoleh karena
memperhatikan/melihat atau memahami oleh rasa sendiri
terhadap hasil pekerjaan besar seperti ukir-ukiran,
lukisan yang tanpa memperoleh penjelasan dari
pembuatnya.
 Guru Rare adalah mendapatkan ilmu pengetahuan dari
anak muda.
 Guru Kaki adalah pelajaran yang diperoleh dari
kakek/nenek atau seorang yang lebih tua. Guru Kamulan
adalah pengetahuan yang diperoleh dari ayah/ibu.
2. Menggali landasan sosiologis tentang
Pendidikan Agama Hindu di Indonesia dalam
membangun basis kepribadian humanis bagi
mahasiswa.
• Apakah yang dimaksud dengan menggali landasan
sosiologis tentang Pendidikan Agama Hindu di
Indonesia dalam membangun basis kepribadian
humanis bagi mahasiswa?
 Menggali landasan sosiologis dalam
pendidikan agama Hindu, adalah bahwa
pendidikan kepada mahasiswa diarahkan untuk
belajar hidup bersama sebagai anggota
masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan
antara manusia terutama yang terkait dengan
kehidupannya.
3. Menggali landasan politik tentang pendidikan
agama Hindu di Indonesia dalam membangun
basis kepribadian humanis bagi mahasiswa.
• Menurut Kautilya, politik itu sangat berkaitan
dengan tugas suatu Negara dalam menciptakan dan
melindungi kesejahteraan, mendorong kemajuan
ekonomi, dan menegakkan dharma. Semua ini hanya
mungkin jika ketertiban dan stabilitas terjaga.
Stabilitas memungkinkan suatu Negara untuk tidak
hanya adil dalam mendistribusikan kemakmuran,
tetapi termasuk juga dalam melipatgandakan
kemakmurannya tersebut (Radendra, 2007: 15).
Kemakmuran rakyat merupakan tujuan akhir dari
pajak.
• Menurut Baldridge, lembaga-lembaga pendidikan
dipandang sebagai sistem politik mikro, yang
melaksanakan semua fungsi utama sistem politik.

4. Menggali landasan filosofis tentang pendidikan


agama Hindu di Indonesia dalam membangun basis
kepribadian humanis bagi mahasiswa.

 Menggali landasan filosofis tentang pendidikan


Agama Hindu di tingkat pendidikan tinggi dalam
membangun basis kepribadian humanis bagi
mahasiswa, sangat berhubungan dengan hal-
hal yang menyangkut hakikat dan keberadaan
manusia yang esensial.
Secara filosofis, pendidikan agama Hindu sangat
berhubungan dengan landasan sikap moral, atau norma
yang berkembang di masyarakat sebagai implementasi dari
penerapan ajaran agama Hindu sesuai dengan tujuan yang
harus dicapai, baik secara individu maupun dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan. Di dalam menentukan
sikap hidup itu, manusia menetukan apa yang menjadi
pilihan hidupnya. Penentuan itu didasarkan pada nilai apa
yang menjadi tujuan hidup mereka. Pertimbangan tata nilai
yang ikut menentukan sikapnya terutama dilihat dari segi
baik atau buruk, bermanfaat atau tidaknya, benar atau
salahnya penentuan itu. Tata nilai menurut ajaran agama
Hindu adalah tata nilai yang sesuai dengan dharma. Dengan
dharma manusia dapat melihat dengan lebih transparan
hakikat tujuan hidupnya di dunia.
D. Membangun argumen tentang dinamika dan tantangan
Pendidikan AgamaHindu dalam membangun basis kepribadian
humanis bagi mahasiswa.

Diera demo krasi ini tantangan dalam dunia pendidikan sangat


besar,terutama bagi profesi pendidik.Dengan adanya situasi masyarakat
yangl ebih demokratis,sistem pendidikan mengalami perubahan.Model
pendekatanya ng sebelumnya cenderung sangat otoriter, dengan
asumsi bahwa pendidik
Tahu segala-galanya, tampaknya tidak mungkin diberlakukan
lagi.Pendekatan pendidikan dewasa ini diharapkan lebih
demokratis.Pendidikan adalah suatu proses,yaitu proses dalam
membentuk manusia Indonesia yang memiliki kepribadian utuh,yaitu
utuh secara lahir dan batin, atau utuh secara jasmani dan rohani.
Pendidikan sangat berkaitan dengan pembangunan nasional yang
diarahkan kepada terbinanya manusia Indonesia seutuhnya.Acuan
normatif terhadaparah pembangunan ini,menggambarkan cita-cita
yang ingin dicapai bangsa Indonesia melalui pembangunan
nasional yang relevan dengan kerangka budaya dan sistem nilai
bangsa Indonesiayangsangat menjunjungtingginilai-
nilaiKetuhananYang MahaEsa.Bukankah konsep manusia
seutuhnya mengandung pengertian bahwa manusia adalah sosok
makhlukTuhan yangcsenantiasa berinteraksicc dengan alam,
budaya,dannilai-
nilaikemanusiaansertakeyakinanterhadapajaranagama?
Kesadaran akan nilai-nilai keagamaan yang tinggi di
kalangan masyarakat menunjukkan bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa yang religius.
Nilai-nilai keagamaannya itu sedapat mungkin tercermin dalam
sikap dan pola perilaku keagamaannya dalam kehidupan sehari-
hari.Dalam fungsinya,agama memberikan tuntunan terhadap
semua perilaku dan tindakan kita. Sehubungan dengan
pembinaan sumber daya manusia,khususnya terhadap para
generasi muda,melalui pelaksanaan pendidikan ditingkat
pendidikan tinggi ini dapat disampaikan dan ditanamkan pesan
moralserta nilai-nilai yang berharga seperti kejujuran,sopan
santun, kedisiplinan,kerjakeras, kebersamaan, keikhlasan,
kerukunan,persatuan dan kesatuan, nasionalisme, idealisme,
patriotisme, kearifan lingkungan, integrasi bangsa ,harmoniantara
kewajiban dan hak, penegakan hukum yang berkeadilan,
genderdanlainsebagainya.
Karena demikian, pendidikan ini merupakan sebuah
proses pembinaan yang memiliki fungsi penting
dalam upaya mentrans formasikan ilmu pengetahuan
kepada para mahasiswa.Pendidikan merupakan proses
pembelajaran kepada mahasiswa untuk mendewasakan
diri nya dalam menjalankan hidup, dimana dalam hidup
ini banyak kasus-kasus atau permasalahan-
permasalahan yang akan dihadapi. Dengan pendidikan
ini diharapkan paramahasiswa mampu memecahkan
permasalahan yang dihadapinya dengan menggunakan
kemampuan logikayang tersusun seca rasistematis
dalam kerangka berpikir dengan menggunakan analitis,
kreatif, dan inovatif.
Di samping itu pendidikan yang diselenggarakan
ditingkat pendidikan tinggi diharapkan mampu
memainkan peran untuk dapat membentuk
kepribadian manusia yang cerdas, Intelektual,
berbudipekerti yang luhur dan berakhlak muli
aserta memiliki sradha dan bhakti kepada
HyangWidhi (TuhanYang MahaEsa).
Berdasar kanUndang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada Bab II pasal 3,dinyatakan bahwa
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didikagar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada TuhanYang Maha Esa,
berakhlak mulia,sehat berilmu,cakap,kreatif,mandiri,dan
menjadi negara yang demokratis sertaber tanggung
jawab
TERIMA KASIH
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM