Anda di halaman 1dari 34

KATARAK

HELLO!
» Atika Wahyuni
» Dhea Pranindya Utami
» Dinda Safitri
» Habiburrahman
» Lilyani Meilan Octavia
» Sari Anggrai Ningsih
3

Pokok Bahasan

LP KASUS ASKEP
4

Definisi
Katarak adalah nama yang diberikan untuk
kekeruhan lensa yang mengakibatkan pengurangan
visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di
dalam mata, seperti melihat air terjun.
5

Etiologi
a. Faktor keturunan.
b. Cacat bawaan sejak lahir.
c. Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
d. Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
e. Gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)
f. Gangguan pertumbuhan,
g. Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
h. Rokok dan Alkohol
i. Operasi mata sebelumnya.
j. Trauma (kecelakaan) pada mata.
k. Faktor-faktor lainya yang belum diketahui
6

Patofisiologi

Lensa mata mengandung tiga komponen anatomis: nucleus, korteks dan kapsul.
Nukleus mengalami perubahan warna coklat kekuningan seiring dengan bertambahnya usia.
Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior dan posterior nukleus. Opasitas pada
kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna. Perubahan fisik dan kimia
dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai infulks
air kedalam lensa proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi
sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peranan dalam melindungi lensa
dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien menderita katarak.
7

Manifestasi Klinis
» Gejala umum gangguan katarak meliputi :
1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut
menghalangi objek
2. Peka terhadap sinar atau cahaya
3. Dapat melihat dobel pada satu mata
4. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk
dapat membaca
5. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca
susu
8

Pemeriksaan Diagnostik

» 1. Keratometri
» 2. Pemeriksaan lampu slit
» 3. Oftalmoskopis
» 4. A-scan ultrasound (echography)
» 5. Hitung sel endotel sangat berguna sebagai
alat diagnostik, khususnya bila
dipertimbangkan
akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung
sel endotel 2000 sel/mm3, pasien ini
merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan
fakoemulsifikasi dan implantasi IOL.
9

Penatalaksanaan
» Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan pasien
dapat melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanya
konservatif. Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang
memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun keamanan.

» Atau bila telah menimbulkan penyulit seperi glaukoma dan uveitis.


10

» Ada 2 macam teknik pembedahan ;


» 1. Ekstraksi katarak intrakapsuler Adalah pengangkatan seluruh
lensa sebagai satu kesatuan.
» 2. Ekstraksi katarak ekstrakapsuler Merupakan tehnik yang lebih
disukai dan mencapai sampai
» 98 % pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk
melihat struktur mata selama
» pembedahan.
»
11

Pengobatan
» Satu-satunya adalah dengan cara pembedahan , yaitu lensa yang telah
keruh diangkat dan sekaligus ditanam lensa intraokuler sehingga
pasca operasi tidak perlu lagi memakai kaca mata khusus (kaca mata
aphakia). Setelah operasi harus dijaga jangan sampai terjadi infeksi.
» Teknik yang umum dilakukan adalah ekstraksi katarak ekstrakapsular,
dimana isi lensa dikeluarkan melalui pemecahan atau perobekan
kapsul lensa anterior sehingga korteks dan nukleus lensa dapat
dikeluarkan melalui robekan tersebut.
» Dapat pula dilakukan tekhnik ekstrakapsuler dengan fakoemulsifikasi
yaitu fragmentasi nukleus lensa dengan gelombang ultrasonik,
sehingga hanya diperlukan insisi kecil, dimana komplikasi pasca
operasi lebih sedikit dan rehabilitasi penglihatan pasien meningkat.
12

Komplikasi
» Ambliopia sensori, penyulit
yg terjadi berupa visus tdk
akan mencapai 5/5.
Komplikasi yang terjadi
yaitu nistagmus dan
strabismus.
13

Kasus

Klien bernama Ny.W, berusia 50 tahun dengan nomor rekam medik 15665, jenis kelamin
perempuan, beragama islam, status sudah menikah, pekerjaan pegawai swasta, pendidikan
terakhir SMA, bertempat tinggal di Hibrida 10, sumber informasi dari klien dan status rekam
medik, tanggal masuk rumah sakit 01 januari 2017.
Keluhan utama klien saat dilakukan pengkajian klien mengalami penglihatan kabur , kesulitan
melihat dari jarak jauh atau dekat , keluhan pusing , merasa silau saat melihat cahaya ,
pandangan ganda , susah melihat pada malam hari. Setelah dilakukan pengkajian pupil berwarna
putih dan ada dilatasi pupil. Nucleus pada lensa menjadi coklat kuning , lensa menjadi Opak ,
retina sulit dilihat , terdapat gangguan keseimbangan pada susunan saraf lensa oleh faktor
fisik dan kimiawi sehingga kejernihan lensa berkurang. Klien disarankan oleh dokter untuk
dilakukan kegiatan pembedahan atau dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai
ketitik dimana pasien melakukan aktivitas sehari-hari , klien juga mengalami hipergliklemia
karena penyakit diabetes yang dideritanya. Berat badan klien 50 kg , tinggi badan 155cm ,
hasil pemeriksaan fisik didapatkan data : Tampak gelisah dan bingung , penampilan umum :
bersih dan rapi , Tanda-tanda vital , antara lain : TD : 150/110 mmHg , nadi : 90 x/ menit ,
RR : 22 x/ menit , suhu : 36,5 celcius , kulit tampak kering , turgor kulit berkurang.
14
ANALISA DATA
15

MAPS

Our Office
16
Nomor 1
• Diagnosa : Resiko tinggi cidera berhubungan dengan perdarahan intra okuler
• Tujuan : Setelah dilakukan intervesi selama 3x24 jam diharapkan perdrahan intra okuler dapat segera
diatasi
• Kriteria hasil : Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunka faktor resiko dan untuk
melidungi diri dari cedera.
18

Rencana Keperawatan
Intervensi :
Mandiri :
1. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca dikoreksi tentang nyeri,
pembatasan aktivitas, penampilan dan balutan mata
2. Batasi aktivitas seperti megerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk
mata, membongkok
3. Dorong napas dalam batuk untuk bershan nafas berihan paru
4. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi

5. Minta pasien untuk membedakan antara ketidakyamanan dan nyeri


mata tajam tiba-tiba, selidiki kegelisaan,disorientasi, gangguan balutan
Kolaborasi:
1. berikan obat sesuai indikasi
· antiemetik contoh proklorprazin
· asetazolamid(diomox)
· analgesik contoh empirin dengam kodein, asetaminofen(tynol)
Rasional :
1. Membantu megurangi rasa takut an meningkatkan kerja sama
dalam pembatasan yang diperlukan
2. Menurunkan stres pada area pengikisan/menurunkan TIO
3. Batuk meningkatkan TIO
4. Digunaknuntuk melindungi dari cedera dan menurunkan gerakan
mata
5. Ketidak amanan mungkin karena prosedur pembedahan, nyeri akut
menunjukkan TIO dan atau perdarahan yang terjadi karena regangan
dan atau tak diketahui penyebabnya.
· mual, muntah dapat meningkatkan TIO, memerlukan tindakan
segera untuk mencega cedera okuler
· diberikan untuk menurun TIO bila terjadi peningkatan, membatasi
kerja enzim pada produksi akueus humor
· digunakan untuk ketidak nyamanan ringan, mencega gelisah yang
dapat mempengaruhi TIO
Nomor 2
• Diagnosa : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan bedah pengangkatan
katarak
• Tujuan : Setelah dilakukan intervesi selama 3x24 jam diharapkan factor resiko infeksi
dapat diatasi
• Kriteria hasil : Meningkat kan penyembuhan luka tepat waktu bebas drainase purulen dan
eritema
Rasional :
Menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencega kontaminasi area operasi
2. Tehnik aseptic menurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang
3. Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
4. Infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur dan memerlukan upaya intervensi yang
tepat
· sediakan topical yang digunakan sevara profilaksis, dimana terapi lebih akresif diperlukan
bila terjadi infeksi. Catatan steroid mungkin ditambahkan pada antibiotic topical bila pasien
mengalami implantasi.
· Digunakan untuk menurunkan inflamasi
23

• Nomor 3
• Diagnosa : Gangguan sensori persepsi(penglihatan) berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori/status organ indra penglihatan
• Tujuan : Setelah dilakukan intervesi selama 3x24 jam diharapkan gangguan sensori
persepsi dapat diatasi
• Kriteria hasil : Dapat meningkatkan ketajaman penglihatan batas situasi individu
Memperbaiki potensi bahaya dalam lingkungan
24

» Intervensi : Mandiri
» 1. Tentukann ketajaman penglihatan, catat apakah 1 atau 2 mata
terlibat
» 2. Orientasikan pasien terhadap lingkungan,stap, orang lain di
area nya
» 3. Observasi tanda-tanda dan gejala- gejala disorientasi,
pertahankan pagar tempat tidur sampai benar-benar senbuh dari
anastesia
» 4. Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi , bicara, dan
menyentuh sering, dorong orang terdekat tinggal dengan pasien
» 5. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi
mata
» 6. Ingatkan pasien menggunakan kacamata katarakyang
tujuannya memperbesar kurang lebih 25% penglihatan perifer
hilang dan buta titik mungkin ada.
25

» Rasional :

» 1. kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan


terjadi lambat dan progresif. Bila bilateral tiap mata dapat berlangjut pada laju yang
berbeda tetapi biasa nya hanya 1 mata diperbaiki perprosedur.

» 2. memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan, menurunkan cemas


dab disorientasi pasca operasi

» 3. terbangun dan lingkungan tak dikenal dan mengalami tetbatasan penglihatan


dapat mengakibatkan bingung pada orang tua. Menurunkan resiko jatuh bila pasien
bingung atai tak kenal ukuran tempat tidur

» atau meningkatkan resiko cedera sampai pasien belajar untuk mengkompensasi.


26

» 4. Memberikan rangsangan sensori tepat terhadap isolasi dan


menurunkan bingung

» 5. Gangguan penglihatan atau iritasi dapat berakhir 1-2 jam


setelah diberikan pengobatan tetapi secara bertahap menurunkan
dengan penggunaan.

» Catatan :
» Iritasi local harus dilaporkan ke dokter tetapi jangan hentikan
penggunaan obat sementara

» 6. perubahan ketajaman dan kedalaman persepsi dapat


menyebabkan bingung penglihatan
27

Catatan Keperawatan
28
31