Anda di halaman 1dari 13

ZAT WARNA AZO YANG TIDAK LARUT (DISPERSI DAN

BASA)
Kelompok 10
2K3 & 2K4

Aneistasia Meithree Astuti (16020067)


Nabila Maulidiyah ( 16020068)
Nur Azizah Nasution (16020088)
Jumaira (16020092)
Reski Alya Pradifta (16020106)
Muhammad Ridho Baskoro (16020126)
Zat Warna Azo
Disebut zat warna azo karena dalam strukturnya
terdapat kromofor jenis azo (-N=N-) yang berikatan dengan
sistem aromatik.
Zat warna jenis azo dapat berupa monoazo, diazo,
triazo, dan poliazo. Adanya satu atau lebih gugus azo pada
zat warna azo tersebut biasanya berkait erat dengan
karakter zat warnanya. Sifat dan warna zat warna azo juga
bergantung pada jenis auksokrom yang ada pada struktur
zat warna tersebut. Oleh karena itu sebelum membuat zat
warna azo perlu ditetapkan struktur zat warna azo yang
akan dibuat agar zat warna yang dihasilkan mempunyai
sifat dan warna yang dapat diprediksi sesuai yang
diinginkan.
Pembuatan zat warna azo melalui dua tahap, yaitu
proses diazotasi dan proses kopling.
Proses Diazotasi
Proses diazotasi adalah proses pembentukan
garam diazonium yang dibuat dari senyawa amina
aromatik primer. Selanjutnya dilakukan proses
kopling antara garam diazonium dan komponen
kopling sehingga terbentuk zat warna azo.

Proses kopling
Proses kopling adalah proses penggandaan
antara komponen Kopling dengan garam diazonium.
Komponen kopling yang dapat digunakan dalam
pembuatan zat warna azo bermacam macam seperti
asetoasetarilamida, piridon, pirazolon, fenol,
aminofenol, naftol dan naftilamin.
Zat warna azo yang tidak tersulfonasi (tidak
larut)
Zat warna disperse jenis azo
Pada tahun 1923 ditemukan zat warna ionamine
yang dapat digunakan untuk mencelup serat selulosa
asetat. Pada proses pencelupan pasa suasana asam
gugus pelarut semantara tersebut akan terhidrolisis
menjadi gugus amina sehingga zat warna berubah
menjadi tidak larut dan akan terdispersi dalam larutan
celup dan selanjutnya dapat terserap serat selulosa
asetat. Dari hal itu akhirnya para ahli menemukan
bahwa zat warna untuk serat hidrofob tidak perlu
gugus pelarut sementara, sehingga dibuatlah zat
warna dispersi. Kemudian dibutuhkan juga zat
pendispersinya agar dapat mencelup serat hidrofob tsb.
Serat hidrofob strukturnya rapat sehingga
molekul zat warna harus kecil, oleh karna itu umumnya
zat warna dispersi umumnya zat warna monoazo.

CI disperse Yellow 2 adalah struktur zat warna


dispersi monoazo yang dibuat dari komponen kopling
turunan fenol.
Komponen kopling jenis heterosiklik
sangat luas digunakan untuk membuat zat
warna disperse warna kuning, contohnya CI
disperse yellow 8.
Untuk mendapatkan efek batokromatik yang
lebih besar pada struktur zat warna yang kecil dapat
digunakan komponen Kopling NN-dialkilanuilin yang
tersubstitusi, dan menempatkan letak auksokrom NN-
dialkil sebagai gugus pemberi electron kuat tersebut
bersebrangan dengan gugus penarik electron. Seperti
gugus nitro pada ujung komponen diazo, sehingga
resonansi electron pada struktur zat warnanya makin
luas dan makin polar.
Penggunaan komponen diazo berupa
senyawa amina heterosiklik seperti bensotiazo juga
akan memberikan efek batokromik yang besar
sehingga menjadi penting untuk pembuatan zat
warna dispersi warna merah atau biru.
Sebagai contoh, garam diazonium dari
komponen diazo bensotiazol bila dikoplingkan
dengan komponen kopling sederhana saja akan
menghasilkan zat warna dispers warna merah.
Guna mendapatkan zat warna dispersi yang
lebih tahan suhu tinggi dibuat zat warna dispersi
jenis diazo yang sederhana, yang juga secara
ekonomis murah.
Untuk proses pencapan rusak (discharge
printing) dan pencelupan kain campuran ppoliester
kapas dibuat pula zat warma dispersi dari
komponen kopling amina tersier yang mengandung
gugus ester.

Gugus ester pada proses pencuciaan


(suasana alkali) akan terhidrolisis menjadi
karboksilat sehingga zat warna menjadi larut,
akibatnya penghilangan zat warna yang menodai
serat kapas menjadi mudah
Zat warna Basa Jenis Azo
Termasuk dalam jenis zat warna basa jenis azo
yang memiliki kecerahan dan intensitas warnanya
tinggi serta murah. Saat ini pemakaian utama zat
warna basa adalah mewarnai serat akrilat, dari dalam
pengembangannya muatan positif zat warna basa yang
dibuat berupa gugus amonium kuartener.
Ditinjau dari strukturnya, zat warna ini terbagi
menjadi dua kelas, yaitu
• Grup siklamonium: muatan positifnya dalam
kromogen zat warna
• Grup amonium kuartener: muatan positifnya
terpisah dari kromogen zat warna, terhubung ke
kromogen melalui gugus alkil pendek
CI Basic Red 24 punya struktur seperti zat warna dispers
namun komponen koplingnya terdapat gugus amonium kueartener
yang dihubungkan gugus alkil.

Pada CI Basic Orange 24 gugus amonium kuartenernya


terletak pada komponen diazo.
Selain itu ada juga zat warna basa yang
muatan positifnya terletak pada cincin heterosiklik
yang merupakan bagian dari sistem kromogen,
keistimewaannya kecerahan dan intensitas warna
yang tinggi.