Anda di halaman 1dari 31

1.

Konsep dasar dan tujuan


pengendalian
2. Indikator mutu asuhan
keperawatan
3. Jenis pengendalian ruang
rawat
4. Proses menjaga mutu asuhan
keperawatan di ruang rawat
Konsep Dasar
Peningkatan mutu pelayanan adalah derajat
memberikan pelayanan secara efisien dan efektif
sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan
yang dilaksanakan secara menyeluruh sesuai
dengan kebutuhan pasien, memanfaatkan
teknologi tepat guna dan hasil penelitian dalam
pengembangan pelayanan kesehatan/
keperawatan sehingga tercapai derajat kesehatan
yang optimal
Tujuan Pengendalian
Pengendalian adalah fungsi yang terus menerus dari
manajemen keperawatan yang terjadi selama
perencanaan, pengorganisasian, ketenagaan, pengarahan
(Swanburg, 2000), sedangkan menurut Huber (2006)
pengendalian adalah pemantauan dan penyesuaian
rencana, proses, dan sumber daya yang secara efektif
mencapai tujuan yang telah ditetapkan suatu isnstitusi.
Selama fase pengendalian, kinerja diukur menggunakan
standar yang telah ditentukan dan tindakan diambil untuk
mengoreksi ketidakcocokan antara standar dan kinerja
(Marquis dan Huston, 2010)
Upaya Peningkatan Mutu
Peningkatan mutu dilakukan dalam berbagai macam cara yang
akan dijelasakan
sebagai berikut.
1. Mengembangkan akreditasi dalam meningkatkan mutu
rumah sakit dengan indikator pemenuhan standar
pelayanan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI.
2. ISO 9001:2000 yaitu suatu standar internasional untuk
sistem manajemen kualitas yang bertujuan menjamin
kesesuaian proses pelayanan terhadap kebutuhan
persyaratan yang dispesifikasikan oleh pelanggan dan
rumah sakit.
3. Memperbarui keilmuan untuk menjamin bahwa tindakan
medis/keperawatan yang dilakukan telah didukung oleh
bukti ilmiah yang mutakhir.
4. Good corporate governance yang mengatur aspek institusional
dan aspek bisnis dalam penyelenggaraan sarana pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan transparansi dan
akuntabilitas sehingga tercapai manajemen yang efisien dan
efektif.
5. Clinical governance merupakan bagian dari corporate
governance, yaitu sebuah kerangka kerja organisasi pelayanan
kesehatan yang bertanggung jawab atas peningkatan mutu
secara berkesinambungan dengan tujuan agar tetap menjaga
standar pelayanan yang tinggi dengan menciptakan lingkungan
yang kondusif. Clinical governance menjelaskan hal hal penting
yang harus dilakukan seorang tenaga kesehatan dalam
menangani konsumennya (pasien dan keluarga).
6. Membangun aliansi strategis dengan rumah sakit
lain baik di dalam atau luar negeri. Kerja sama
lintas sektor dan lintas fungsi harus menjadi
bagian dari budaya rumah sakit seperti halnya
kerja sama tim yang baik. Budaya dikotomi
pemerintah dengan swasta harus diubah menjadi
falsafah “bauran pemerintah-swasta (public-
private mix) yang saling mengisi dan konstruktif.
7. Melakukan evaluasi terhadap strategi
pembiayaan, sehingga tarif pelayanan bisa
bersaing secara global, misalnya outsourcing
investasi, contracting out untuk fungsi tertentu
seperti cleaning service, gizi, laundry, perparkiran.
8. Orientasi pelayanan. Sering terjadi benturan nilai, di satu pihak
masih kuatnya nilai masyarakat secara umum bahwa rumah sakit
adalah institusi yang mengutamakan fungsi sosial. Sementara itu
di pihak lain, etos para pemodal/investor dalam dan luar negeri
yang menganggap rumah sakit adalah industri dan bisnis jasa,
sehingga orientasi mencari laba merupakan sesuatu yang absah.
9. Orientasi bisnis dapat besar dampak positifnya bila potensial
negatif dapat dikendalikan. Misalnya, tindakan medis yang
berlebihan dan sebenarnya tidak bermanfaat bagi pasien
menciptakan peluang terjadinya manipulasi pasien demi
keuntungan finansial bagi pemberi layanan kesehatan. Perlu
mekanisme pembinaan etis yang mengimbangi dua sistem nilai
yang dapat bertentangan, yaitu antara fungsi sosial dan fungsi
bisnis.
Indikator Mutu Asuhan Keperawatan
Indikator keperawatan dapat mengambarkan keselamatan,
efektifitas dan perhatian dalam pelayanan keperawatan,
(Griffiths et.al.,2008) yaitu:
1. Safety: kegagalan penyelamatan (kematian pada pasien
dengan komplikasi pengobatan); Jatuh; Hospital acquired
infections; Hospital acquired pneumonia; Dekubitus.
2. Effectiveness: Pola dan level perawat; Kepuasan
perawat; Persepsi perawat terhadap lingkungan kerja.
3. Compassion: pengalaman pasien selama dirawat;
Pengalaman pasien dalam komunikasi.
Standar Nasional American Nurses Association (ANA) dalam
mengukur mutu perawatan telah menyepakati indikator-indikator
mutu keperawatan yaitu :
Kategori Ukuran
Ukuran berfokus 1 Anga kematian pasien karena komplikasi operasi
outcomes pasien 2 Angka dekubitus
3 Angka pasien jatuh
4 Angka psien jatuh dengan cidera
5 Angka restrain
6 ISK karena pemasangan cateter di ICU
7 Blood stream infection karena pemasangan cateter line central di ICU
dan HDNC
8 VAP di ICU dn HDNC
Ukuran berfokus 9 Konseling berhenti merokok pada kasus AMI
pada intervensi 10 Konseling berhenti merokok pada kasus Gagal jantung
perawat 11 Konseling berhenti merokok pada kasus Peneumonia
Ukuran berfokus 12 Perbandingan antara RN, LVN/LPN, UAP dan kontrak
pada sistem 13 Jam perawatan pasien per hari oleh RN,LPN/LPN dan UAP
14 Practice Environment Scale—Nursing Work Index
"Standar Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit". menurut
Departemen Kesehatan melalui SK Direktur Jenderal
Pelayanan Medik, (No.YM.00.03.2.6.7637 tahun 1993)
meliputi enam standar yaitu:

1. Pengkajian keperawatan
2. Diagnosa keperawatan
3. Perencanaan keperawatan
4. Intervensi keperawatan
5. Evaluasi keperawatan
6. Catatan asuhan keperawatan
Dalam melaksanakan intervensi keperawatan terdapat 14
kebutuhan pasien yang harus mendapat perhatian perawat
yaitu:
1.Memenuhi kebutuhan oksigen
2.Memenuhi kebutuhan nutrisi dan keseimbangan cairan serta elektrolit
3.Memenuhi kebutuhan eliminasi
4.Memenuhi kebutuhan keamanan
5.Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan
6.Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
7.Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani
8.Memenuhi kebutuhan spiritual
9.Memenuhi kebutuhan emosional
10.Memenuhi kebutuhan komunikasi
11.Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis
12.Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan
13.Memenuhi kebutuhan penyuluhan
14.Memenuhi kebutuhan rehabilitasi.
Jenis Pengendalian Ruang Rawat
Proses menjaga Mutu Asuhan Keperawatan di
Ruang Rawat