Anda di halaman 1dari 18

PAPER

TETANUS

Disusun Oleh :
Nurpermata Hati Pardede 102118121
KEPANITRAAN KLINIK SENIOR
Retno Tri Haryati 102118036 SMF ILMU PEDIATRI
Rizke Dwi Noviyanti 102118041 RUMAH SAKIT UMUM HAJI MEDAN
Tirta Genisya Sadini 102118016 FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BATAM
MEDAN
Pembimbing :
2019
Dr. Nurdiani, Sp.A
Defenisi Tetanus

penyakit akut, paralitik spastik yang


disebabkan oleh tetanospasmin,
neurotoksin yang dihasilkan oleh
Clostridium tetani (Nelson, 2012).

Gambar: Tetanus
EPIDEMIOLOGI

• Risiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah


• Angka kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi,
• Tetanus terjadi di seluruh dunia dan endemik pada 90
negara yang berkembang,
• Bentuk yang paling sering tetanus neonatorum (umbilikus),
membunuh sekurang-kurangnya 500.000 bayi setiap tahun
karna ibu tidak terimunisasi. Lebih dari 70% kematian ini
terjadi pada sekitar 10 negara Asia dan Afrika tropis.
ETIOLOGI

Clostridum Tetani

• Basil Gram-positif dengan spora pada


ujungnya Gambar 1. Clostridium tetani, dengan
• Obligat dan dapat bergerak dengan bentukan khas “drumstick”
menggunakan flagella
• Menghasilkan eksotoksin yang kuat
• Mampu membentuk spora (terminal
spore)
Port Tetanolisin
Luka
d’entree Keadaan
Anaerob

Tetanospumin

PATOGENESIS Spasme Diabsortis


pemb. Limfe ke
pemb. Darah &
ke SSP

Aktivitsas pada
Diabsorbsi
Tonus otot Gamma dan
motor and plate melalui ujung
meningkat & motor
hambat saraf perifer
kontraksi neuron tidak pelepasan ke SSP & SS
otot dihambat asetilkolin
perifer

5
6
KEJANG
RANGSANG
& KEJANG
SPONTAN
RISUS
SARDONIS
KUS

TRISMUS

ABDOMINA
L RIGIDITY
Masa inkubasi 5-14 hari,
tetapi bisa lebih pendek OPISTOTO
(1 hari atau lebih lama 3 NUS
atau beberapa minggu)
MULUT
MENCUCU
SPASME
OTOT
LARING
7
Generalize
d tetanus

Localized
tetanus
TETANUS

Cephalic
tetanus

Tetanus
neanoturum

8
Derajat Manifestasi Klinis
I : Ringan Trismus ringan sampai sedang;spastisitas umum tanpa
spasme atau gangguan pernapasan;tanpa disfagia atau
disfagia ringan
II : Sedang Trismus sedang; rigiditas dengan spasme ringan sampai
sedang dalam waktu singkat; laju napas>30x/menit; disfagia
ringan
III : Berat Trismus berat; spastisitas umum; spasmenya lama; laju
napas>40x/menit; laju nadi > 120x/menit, apneic spell,
disfagia berat
IV : Sangat berat (derajat III + gangguan sistem otonom termasuk
berat kardiovaskular) Hipertensi berat dan takikardia yang dapat
diselang-seling dengan hipotensi relatif dan bradikardia, dan
salah satu keadaan tersebut dapat menetap

9
DIAGNOSIS TETANUS

1. Anamnesa 2. Pemeriksaan
klinis
• Trismus
• Riwayat luka • Opistotonus
(trauma), tali pusat • Spasme otot laring
tidak steril, gigi • Risus sardonikus
berlubang, omsk • Abdominal rigidity
• Riwayat Imunisasi • Mulut mencucu
(-) • Uji spatula
10
Diagnosis Banding

• Meningitis,
meningoensefalitis,
ensefalitis.
• Keracunan striknin
• Rabies

11
12
Penatalak
sanaan
Tatalaksana Umum

1. Kebutuhan cairan dan nutrisi


2. Saluran napas tetap bebas
3. Tambahan O2 dengan sungkup
(masker)
4. Mengurangi spasme dan mengatasi
spasme
5. Konsultasi dengan dokter gigi/THT

13
Tatalaksana Khusus

1. Anti serum atau Human Tetanus Immunoglobuline


Penatalak (HTIG)
sanaan • HTIG : 3000-6000 IV/IM
• ATS : 50.000-100.000 ½ IM
½ IV
2. Antibiotik
• Metronidazole 15mg/kgbb selama 1 jam, 7,5
mg/kgbb setiap 6 jam
• Penicilin Prokain 50000 IU/kgbb/12 jam
• Amphicilin 150 mg/kgbb/x beri dalam 4 dosis
• Eritromisin 40-50 mg/kgbb/hari
3. Antikonvulsan
• Diazepam 0,1-0,2 mg/kgbb setiap 3-6 jam IV
bolus 2-6 minggu
4. Rawat luka

14
Mencega
h Imunisasi
terjadinya aktif
luka.

Merawat
luka
secara
adekuat.

PENCEGAHAN
15
Komplikasi
• Pada saluran pernapasan
• Pada kardiovaskular
• Pada tulang dan otot

16
DAFTAR PUSTAKA

• Bleck TP. Clostridium tetani. In: Mandell GL, Bennett JE, Dollin R, eds. Man-dell, Douglas, and Bennett’s
principles and practice of infectious diseases. Philadelphia; Churchill Livingstone, 200: 2537-43.
• Band JD, Bennet JV. Tetanus. In:Hoeprich PD, ed. Infectious disease. Philadelphia: Harper and Row,
1983:1107.
• Current recommendation for treatment of tetanus during humanitarian emergency, WHO technical note,
January 2010.
• Cherry JD, Harrison RE. Tetanus in Textbook of Pediatric Infections Diseases, 5th ed., Vol.2. Sauders.
2004;1766-76
• Declan, T. Wash, 1997. Kapita selekta penyakit dan terapi. Jakarta: EGC
• Guyton, C. Arthur. Hall, E. Jhon., 2007. Buku ajar fisiologi kedokteran, Edisi 11. Jakarta: EGC
• Price, A. Sylvia; Wilson, M. Lorraine., 2005. Patofiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6 Volume
1. Jakarta : EGC
• Pusponegoro HD, Hadinegoro ARS, Firmanda D, Tridjaja AAP, et al. Tetanus. Standar Pelayanan Medis
Kesehatan Anak. Edisi I 2004. hal 99-108.
• Soedarmo S, Garna H. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi 2. Cetakan ke-3. Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Jakarta : Badan Penerbit IDAI ; 2012
• Tolan Jr RW. Tetanus. Available in: www.emedicine.com Last updated Feb 1, 2008. [Tingkat Pembuktian IV].
• Thwaites CL, Farrar JJ. Preventing and treating tetanus. The challenge continues in the face of neglect and
lack of research. BMJ 2003;326: 117-8.
• Tetanus neonatorum. Departemen Kesehatan RI Subdirektoraat Surveilans Epidemiologi Diunduh dari
http://www.surveilans.org/general.php?tpl=en&id=12 tanggal 16 Februari 2009. 17
TERIMAKASIH