Anda di halaman 1dari 31

PPOK

Ns. Andika Sulistiawan, M.Kep


PENDAHULUAN
Amerika Serikat
 Insiden lebih kurang 15 juta orang menderita PPOK
 Penyebab kematian ke 4
 1,5 juta kasus baru pertahun

Indonesia
Asma, bronkitis kronik dan emfisema
menduduki peringkat ke-6 dari 10
penyebab kematian
Jumlah kasus PPOK meningkat seiring dengan;
~ Peningkatan usia harapan hidup
~ Prevalensi merokok yang tinggi
~ Peningkatan industri ( polusi udara )
DEFINISI PPOK

PPOK adalah penyakit paru kronik yang


ditandai dengan hambatan aliran udara
di saluran nafas yang bersifat
progresif non reversibel atau
reversibel parsial. PPOK terdiri dari
bronkitis kronis dan emfisema atau
gabungan keduanya
Faktor resiko PPOK

Faktor host

 Gen
 Defisiensi 1 antitripsin
 Peran gen lainnya belum teridentifikasi
 Hipereaktiviti bronkus
FAKTOR RESIKO
Faktor pajanan (Exposures)
 Kebiasaan merokok
 80%-90% PPOK disebabkan
oleh Merokok
 1 dari 5 orang dilaporkan meninggal
Karena PPOK (merokok)
 Debu & bahan kimia dari lingkungan
kerja
 Polusi udara
 Infeksi berulang waktu kecil
 Status sosial ekonomi
Patofisiologi
POLUSI UDARA
Outdoor air pollution (luar ruangan)
Kebakaran hutan,gunung berapi, sampah,
kendaraan,industri,dll

Indoor air pollution (dalam ruangan)


Rokok, memasak, AC, insektisida,dll
PATOGENESIS
PPOK Inhalasi bahan
berbahaya

Inflamasi
kronis

Kerusakan jaringan

Penyempitan saluran
nafas dan fibrosis Destruksi Hipersekresi mukus
parenkim

Ireversibel/
Reversibel parsial
GEJALA KLINIS PPOK

 Batuk-batuk produktif
 Sesak terutama bila beraktivitas
 Sesak makin lama makin bertambah
berat/progresif
 Kasusnya sering meningkat/timbul pada usia 40
>
 Sangat erat hubungan dengan perokok
berat/gas beracun
 Jika timbul sejak kecil kemungkinan terjadi
akibat defisiensi -1 antitripsin
KLASIFIKASI PPOK

Derajat Klinis Faal paru

Derajat 0 Batuk lama Normal


Berisiko Sesak -

Derajat 1 Batuk lama VEP1/KVP<75%


PPOK ringan Sesak saat VEP1>80% pred
aktivitas
Derajat Klinis Faal paru

Derajat II Batuk lama VEP1/KVP<75%


PPOK sedang Sesak aktivitas 30%>VEP1<80%
pred

Derajat III Batuk lama VEP1/KVP<75%


PPOK berat Sesak saat VEP1<30% pred
aktivitas
Gagal nafas
CPC
COPD
DIAGNOSTIC STUDIES

Chest x-rays early in the disease may


not show abnormalities
History and physical exam
Pulmonary function studies
reduced FEV1/FVC and  residual
volume and total lung capacity
 Analisa gas darah
 Normal pH 7.35-7.45, PCO2 35-45, PO2 > 80 mmhg
 Tanda gagal nafas kronik ( pH normal, PCO2
meningkat, bicnat meningkat > 30 mmol, BE > 4 mmol
)
 Gagal nafas akut pH < 7.35 (asidosis), PCO2 > 45
 1-antitripsin
 Rendah pada emfisema herediter, jarang di Indonesia
 EKG
 Tanpa ada komplikasi EKG normal
 Jika telah ada komplikasi pada jantung kanan akan ada
tanda CPC ( P pulmonal)
Pemeriksaan fisik
 Inspeksi >Otot bantu pernpasan, sesak
 Palpasi
 Fremitus melemah
 Perkusi
 Hipersonor
 Batas jantung mengecil
 Letak diapragma lebih rendah dari normal
 Normal kiri sela iga 10-11 dan kanan 9-10
 Auskultasi
 Mengi/ whizing, ekspirasi memanjang
 Bunyi jantung melemah

 Catatan;kelainan yang ditemukan pada


pemeriksaan fisis akan lebih jelas kalau
kelainan tambah berat
COPD
DIAGNOSTIC STUDIES
ABGs
 PaO2
 PaCO2 (especially in chronic bronchitis)
 pH (especially in chronic bronchitis)
Bicarbonate level found in late stages
COPD
COPD
COLLABORATIVE CARE

Smoking cessation
Most significant factor in slowing
the progression of the disease
COPD
COLLABORATIVE CARE: DRUG THERAPY

 Bronchodilators – as maintenance therapy


 -adrenergic agonists (e.g. Ventolin)

MDI or nebulizer preferred


 Anticholinergics (e.g. Atrovent)
COPD
COLLABORATIVE CARE:
OXYGEN THERAPY

O2 therapy
 Raises PO2 in inspired air
 Treats hypoxemia
 Titrate to lowest effective dose
COPD
COLLABORATIVE CARE:
RESPIRATORY THERAPY
 Breathing retraining
 Chest physiotherapy – to bring secretions
into larger, more central airways
 Postural drainage
 Percussion

 Vibration
Positions for Postural Drainage

POSITIONS FOR POSTURAL


DRAINAGE

Fig. 28-16
COPD
COLLABORATIVE CARE
Surgical Therapy
Lung volume reduction surgery
Lung transplant
COPD
COLLABORATIVE CARE

 Nutritional therapy

 Full
stomachs press on diaphragm causing
dyspnea and discomfort
 Difficulty
eating and breathing at the
same time leads to inadequate amounts
being eaten
COPD
COLLABORATIVE CARE

Nutritional therapy
 Untuk mengurangi dyspnea dan menghemat energi
 Istirahat minimal 30 menit sebelum makan
 Gunakan bronchodilator sebelum makan
 Pilih makanan yang bisa disiapkan terlebih dahulu
 5-6 makanan kecil untuk menghindari kembung
 Hindari makanan yang membutuhkan banyak mengunyah
 Hindari latihan dan perawatan 1 jam sebelum dan sesudah
makan
COPD
COLLABORATIVE CARE

 Hindari makanan pembentuk gas


 Diet
tinggi kalori dan diet tinggi protein
dianjurkan
 Suplemen

 Hindari
diet tinggi karbohidrat untuk
mencegah naiknya CO2
NURSING MANAGEMENT
NURSING DIAGNOSES

 Ineffective airway clearance


 Impaired gas exchange
 Imbalanced nutrition: less than body
requirements
 Disturbed sleep pattern
 Risk for infection
NURSING MANAGEMENT
NURSING IMPLEMENTATION

Health Promotion
 BERHENTI MEROKOK!!!
 Menghindariatau mengendalikan paparan
terhadap polutan dan iritasi akibat kerja dan
lingkungan
 Diagnosis awal infeksi saluran pernafasan
NURSING MANAGEMENT
NURSING IMPLEMENTATION
Ambulatory and Home Care
 Ajarkan pasien agar dapat memenuhi ADL
dengan maksimal
 Terapi fisik
 Terapi nutrisi
 Penyuluhan Kesehatan
Aktifitas dan latihan
 Exlatihan ringan atau gerakan ekstremitas untuk
memperbaiki fungsi pernapasan dan mengurangi
dispneu
TERIMAKASIH